Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Sepenggal Hidup

20.32 8 Comments
bang Ijal motret
Kali ini aku mau mengawali dengan sebuah cerita. Cerita yang aku dapat hasil menonton sebuah film Bollywood. Aku memang penonton segala macam genre film berikut asalnya. Jadi tidak ada unsur lain selain mengambil pelajaran dari sana.

Judulnya Ta ra ram pam


Radhika, menikah dengan RV seorang pembalap yang namanya sedang bersinar. Langganan menang di setiap turnamen. Dari perlombaan itu RV meraup banyak sekali materi. Kaya, tampan dan terkenal. Paket lengkap untuk memikat wanita. Sehingga penggemar wanitanya pun tidak kalah dengan actor Hollywood.

Sayangnya segudang prestasi itu tidak membuat Ayah Radhika memberikan restu. Radhika dibesarkan oleh pebisnis sukses yang berasal dari India. Selain itu Radhika juga sedang menyelesaikan sekolah musiknya.

Tapi cinta selalu keluar sebagai pemenang. Maka menikahlah Radhika dengan RV meski orang tua Radhika tidak menyukai. Pernikahan itu pun berlangsung harmonis sampai bertahun-tahun. Hingga kedua anak mereka tumbuh besar. kalau di Indonesia mungkin sudah kelas 4 dan 1 SD.

Suatu ketika, RV mengalami kecelakaan saat mengikuti turnamen. Kecelakaan yang membuatnya harus berhenti sementara selama 1 tahun untuk proses penyembuhan. Setahun berlalu, RV pun kembali ke arena. Sayangnya kecelakaan itu menyisakan trauma bagi RV sehingga menurunkan performanya ketika mengendarai mobil balap.

Karena tidak satu pun kejuaraan di menangkan, RV pun dikeluarkan dari tim. Jatuh tertimpa tangga, itulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan kkondisi keluarga Radhika. Selama RV menjalani pengobatan hingga pemulihan, tidak ada satu sen pun yang masuk. Tabungan pun semakin lama semakin menipis. Singkatnya mereka bangkrut.

Keterpurukan keuangan keluarga memaksa keduanya harus bekerja serabutan demi bertahan hidup.

Radhika bekerja sebagai seorang pemain piano di salah satu restoran. Dalam suatu kesempatan, Radhika bertemu dengan ayahnya. Mengetahui keadaan Radhika yang kesulitan, Ayahnya pun berniat membantu dengan memberikan uang dan tawaran pekerjaan untuk RV. Namun, tawaran itu rupanya diikuti dengan cemoohan atas nasib yang Radhika alami. Andai Radhika mendengarkan Ayahnya untuk tidak menikah dengan RV maka nasibnya tidak akan seperti ini.

Tidak rela suaminya dihina sedemikian rendahnya, Radhika menolak bantuan ayahnya. Bahkan cek sebesar 50.000 dolar yang diberikan ayahnya pun di robek.

Best husband, best father, and the best racer. He can take care of me and my children. We don’t want anybody’s help. Thank you.”

Kurang lebih begitulah potongan dialog yang Radhika ucapkan pada ayahnya.

Sepenggal Kisah

Film ini menjadi salah satu film yang selalu memporak-porandakan hati aku dan suami. ada beberapa adegan bahkan situasi yang kebetulan sama dengan kami.

Dan potongan cerita itu tadi sering kali menjadi pegangan ketika masa-masa sulit yang pernah, sedang dan akan kami hadapi.

Ya, kami yakin satu kesulitan terlewati maka aka nada kesulitan lain yang menanti. Entah salah satu atau bahkan kami berdua yang mengalaminya.

Ketika titik itu tiba tidak ada orang lain lagi yang lebih memahami selain pasangan kita.

Sepenggal Makna

Keadaan yang dialami Radhika sekeluarga itu sangat nyata. semua keluarga pasti pernah mengalaminya. Yang bisa kita adaptasi dari perjalan hidup mereka adalah saling percaya dan mendukung keputusan serta usaha pasangan.

Orang bilang, kesetiaan wanita diuji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa.

Tidak selalu benar, karena banyak juga laki-laki yang memilih lari dari pada memikul beban bersama.

Tapi, ketika suami berusaha hingga mengerahkan seluruh energi yang dimiliki maka beban berat itu akan sedikit ringan ketika ada istri yang bersedia mengusap peluh yang menetes, memberika bahunya yang lemah sebagai tempat suaminya beristirahat sejenak.

Suami hanya memerlukan dukungan, kepercayaan serta apresiasi dari istrinya. seberapa kecil pun hasil yang diperoleh mari kita hargai. Bahkan kita dukung, berikan semangat agar esok bisa lebih baik lagi. dan yakinkan bahwa kerja keras akan memberikan hasil yang sepandan.

Radhika melakukannya. Tidak peduli beratnya pekerjaan yang dijalaninya atau bantuan ayahnya yang menghina suaminya, Radhika tetap yakin bahwa suaminya tidak akan membiarkan keluarganya menderita selamanya.

Kadang aku mengutip dialog Radhika, sekedar untuk guyonan serius ketika Mr. GPP merasa lemah. Meski sejujurnya kalimat itu lebih ditujukan kepada diriku sendiri untuk terus yakin bahwa seberapapun menderitanya hidup kita selalu ada suami yang akan berusaha membuatnya lebih baik.

Selasa, 24 September 2019

SETIAP MOMOENT ITU BERHARGA

14.26 0 Comments
Abang,
Tahu enggak? Di grup lagi ramai ngobrolin kakak tingkat kita yang meninggal. Ndis nggak kenal sih. Cuma rasanya Ndul yang kenal. Ndis bahkan sampe browsing untuk memastikan wajahnya. Dan beneran dia. Sayang ndul nggak ingat. Coba ingat. Kadar kekerenan Ndis bisa mencapai maksimal. Ndis tahu seseorang yang kenal ndul sebelum kita kenal, bahkan menyadari kita ada didunia ini (lebay deh…).
Tapi dari pencarian tadi, Ndis justru menemukan foto lama Ndul. Sebagian besar hasil postingan Ndis dan sangat sedikit postingan Ndul. Wah… transformasi Ndul benar-benar beda banget dari tahun ke tahun. Ndis nggak nyebut soal perut ya … (hehehe)
Kalau lihat foto-foto dulu tuh, Ndis jadi pengen masuk ke lorong waktu. Kembali sejenak ke masa kita yang hanya tahu what should we do right now. Nggak ada mikir sebab akibat. Rasanya benar-benar bebas meski setelahnya kebingungan lain tiba-tiba muncul bersamaan. Tugas yang belum selesai, belum belajar buat ujian, bahkan kehabisan uang.
Ndis nggak pernah menyangka pernah bertahan dikondisi seperti itu dan menikmatinya.
Ingat nggak? Kita pernah malam-malam pergi ke puncak bareng 2 temen kita (Resi dan Yasser) cuma buat makan mi rebus. Rasanya mereka sering banget muncul di hidup kita ya? Seperti Sersan Seo dan Letnan Yoon. Sementara kapten Yoo dan Dr. Kang itu kita (hahaha Halu tingkat tinggi tapi serius)
Ndis lupa awalnya gimana. Yang jelas waktu itu Ndul lagi ada mobil sewaan yang baru balik (ingat banget Ndis, kita pernah hidup dari hasil kerja Ndul nyewain mobil). Padahal masih ada sisa waktu sebelum waktu sewa habis. 10 jam. Bayangkan bisa ngapain aja coba waktu segitu. Mana malam lagi. jalanan pasti lengang.
Sebenarnya nggak ke puncak juga sih tujuannya. Cuma muter-muter Bogor aja. Cuma semua rencana selalu berubah saat dijalani.
Ingat banget Ndis, waktu itu kita masuk ke Bogor Nirwana Residence (BNR) komplek perumahan elit milik Bakri Grup yang masih dalam tahap pembangunan. Rumahnya gede-gede banget. Dibandingin sama Taman Yasmin yang sering Ndul datangan kalau ngajar les mah jauh.  Kita sampe ngebayangin punya satu unit disana. Halu banget kan?
Ya namanya anak kuliahan, halu itu wajar. Harus malah. Bagaimana pun juga semua hal berawal dari sebuh mimpi. Entah mimpi yang mana yang membawa kita hingga di titik ini. Dan ada banyak sekali titik yang harus kita hinggapi nanti. Jadi marilah kita bermimpi seperti saat masih menjadi seorang manusia diawal 20-an. Yang bebas tanpa perlu memikirkan kejadian setelahnya.
Malam itu Ndis muntah dimobil. Ingat banget Ndis rasanya dan baunya. Iihhh its yucky. Lupa dijalan mana tapi bisa jadi masih dikomplek perumahan itu. Ya … waktu itu Ndis masih mabok kendaraan sih sesekali. Pas udah lulus kuliah dan tiap hari harus naik turun kendaraan ya hilang juga itu sindrom.
Karena insiden muntah itu pergilah kita ke puncak. Ke masjid Atta’Awun. Ndis ditemenin Resi buat bersih-bersih sekalian sholat isya.
Satu hal yang Ndis nggak pernah nyesel berkawan dengan kawan-kawan kita yang katanya Geng Atas. Semuanya ingat ibadah.Yang non muslim ingetin sholat, yang muslim ingetin yang non muslim buat ibadah. Bahkan klo ada yang nggak ibadah bisa jadi bahan bully. Sesimple itu toleransi diantara kita dan baik-baik aja sampe sekarang.
Selesai bersih-bersih kita cari warung buat pesen yang hangat-hangat. Apalagi selain mi rebus (hahaha). Mungkin sering aktif dimalam hari bikin Ndis akhirnya bener-bener suka makan mi instan. Dulu mah biasa aja. Kehitung yang jarang makan mi instan malah.



Ahh … aktif dimalam hari. Benar-benar kebiasaan yang terbentuk bukan saja dari tongkrongan tapi memang tuntukan pendidikan yang kita tempuh. Bagaimana melakukan pengamatan untuk jenis satwa nocturnal kalo kita nggak mengikuti pola hidup mereka? (lain kali akan diceritakan)
Potongan kecil itu masih membuat Ndis tersenyum saat mengingatnya.
Ndis bersyukur diberikan ingatan kuat untuk menyimpan semua kenangan itu.

Juga karena hidup di jaman modern yang mengenal kamera sehingga momen-momen itu masih terekam jelas. Dan media sosial. Terima kasih sudah menyimpan dan mengingatkan bahwa kami pernah memiliki masa muda yang indah. Masa muda yang penuh dengan idealis. Sebuah kekayaan yang sulit kita pertahankan dengan bertambahnya usia.

Senin, 29 Juli 2019

CINTA DI GERBONG KRL (road to anniversary)

01.35 0 Comments
Ya ampun judulnya? Cheesy abis. Tapi beneran lho kami pernah mengukir kisah se-chessy itu. klo di ingat-ingat tuh ketawa malu jatuhnya. Pengen disimpen aja tapi nggak kuat lama-lama (hahaha)
Jadi ini masih di tahap PDKT (ya ampun merinding lho nulisnya). Aslinya kita PDKT nya nggak lama. Karena ndis tuh gampang banget di luluhin hatinya. Antara ndis yang gampang luluh apa ndul yang yang pinter gombal (hahaha)
Waktu itu kami harus pergi praktikum ke ragunan (lupa mata kuliah apa yang jelas dari lab satli di semester 3). Untuk menghemat ongkos perjalanan kesana ditempuh menggunakan KRL ekonomi. Waktu itu harganya 2500 kalau nggak salah. Ini bukan KRL ekonomi yang AC itu ya…tapi beneran Ekonomi se ekonominya. Gerbong tanpa pintu, penumpang diatas gerbong, Pedagang asongan ada sepanjang perjalanan. Kumuh kotor dan ya begitulah, dan kita masih ngalamin itu (nggak mentioned usia yee hahha). Untung sekarang udah nggak ada ya…
Ba’da subuh berangkat dari kosan. Kumpul Di halaman BNI samping kampus buat naik angkot-bareng-sekelas ke stasiun bogor.
Ndul, rupanya pertama kali ndis naik kereta ekonomi itu bukan pas ndul nganterin ndis pulang. tapi ke ragunan ini. untung nggak nangis ya? (hahaha)
Ndis lupa bagian perjalanan di angkot. Yang ndis ingat cuma kita naik di gerbong terakhir. Gerbong yang paling sepi dari kawan-kawan. Tapi yang paling banyak di huni kawan-kawan kita (geng atas katanya, ooppss).
Nggak tahu kenapa waktu itu kita kok duduk di bangku kosong cuma berdua pula. Sementara kawan-kawan yang lumayan baik itu  (hahaha baik banget kok) milih duduk di bangku lain sambil bisik-bisik. Pake ketawa-ketawa pula. Tapi ya, namanya juga lagi jatuh cinta gerbong KRL pun serasa milik berdua.
Sebenarnya kejadian ini nggak banyak yang tahu (selain kawan yang hobi ngetawain orang itu hehehe) karena ya itu tadi posisi gerbong paling belakang. Enak kan sepi, paling mentok anak jalanan yang riwa-riwi. Mana udara pagi yang lumayan kan dinginnya. Kebayanglah ya segimana dinginnya. Bogor untuk kami orang perantauan masih dingin, ditambah dengan kecepatan kereta yang kaya gitu. tapi kami cuma duduk dan ngobrol aja. Pegangan tangan aja nggak. Asli cuma duduk dan ngobrol. Entah apa yang di obrolin.
Sampe di stasiun pasar minggu kita naik kopaja (kalau nggak salah) dan akhirnya pisah pas di ragunan. Iya dong pisah. Karena seumur-umur kuliah, seangkatan, sekelas kami belum pernah satu kelompok praktikum. Kecuali kelompok PKL karena kita sendiri yang milih.
Hampir seharian kami di ragunan. Pas pulang kita masih naik KRL masih yang kelas ekonomi juga. Bedanya pas berangkat sepi sementara pas pulang bareng dengan jam orang pulang kerja. Jadilah semua rangkaian gerbong itu penuh pas nyampe di stasiun pasar minggu.
Kesepakatn awal, apapun yang terjadi satu orang naik maka satu kelas pun naik (sebutlah kebersamaan). Jadi di satu-satunya peron itu kami sekelas nyebar, dari ujung ke ujung. Strategi paling apik dan epic untuk menyiasati kondisi KRL penuh.  Paling nggak kami semua keangkut dikereta itu. mau berdiri, mau desekan, mau gelantungan. Terserah.
Udah kebayang kan apa yang terjadi? Yup…ndis naik duluan dan ndul dibelakang ndis. Ndusel-ndusel terus karena dibelakang ndul masih ada kawan kami. Kereta jalan, Alhamdulillah keangkut semua. Udah nggak inget lagi (hahaha) pokoknya selama di KRL itu ndul di belakang ndis aja. Jagain dong (hahaha)
Selalu ada yang pertama dalam hidup seseorang. Dan ndul banyak hadir di hal pertama dalam hidup ndis. Karena percaya atau nggak, tahun-tahun setelah KTP ndis jadi, disadari atau nggak, hari-hari ndis selalu ada ndul.
Bahkan mungkin saat tahun pertama kami kuliah kami pernah bertemu. Tentu saja pernah. Kami pernah di dalam satu ruangan meski nggak kenal. Waktu MPKMB (ospek kampus) saat kita sedang di gedung GWW untuk mengikuti acara. Atau dihari terakhir ospek, dihalaman belakang gymnasium.
Mungkin juga kami pernah berpapasan di jalan saat pulang kuliah menuju asrama. Karena dari Bara menuju asrama putra pasti melewati asrama putri. Atau mungkin kita pernah satu bis saat ndis mau kuliah di gedung FPIK dan ndul mau pulang ke asrama.

Semoga skenario Allah yang mempertemukan kita di kampus menghadirkan rumah tangga kita sakinah mawadah warohmah sampai jannah. Sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah. 

Minggu, 07 Juli 2019

HITAM DAN HIJAU PERTAMAKU

17.56 0 Comments


Buku pertama yang kubeli disaat aku belum suka buku. Suka baca iya, tapi belum seperti sekarang yang tidur sama buku rasanya bahagia. Waktu itu beli buku karena tidak sengaja. Saat pulang kuliah melewati stand seminar yang pematerinya adalah penulis buku kondang. Karena penasaran mampirlah.
Bisa ketemu dan dapat tanda tangan langsung dari penulis tentu saja jadi iming-iming yang luar biasa untukku, anak kampong (sampai sekarang juga sih hehehe). Ajian marketing itu sangat dahsyat sampe akhirnya dua buku yang harganya bisa untuk makan seminggu pun keluar. Dengan semangat dalam hati bahwa, “Gue bisa ketemu penulis terkenal”. Padahal tahu siapa penulisnya aja belum. Kan bukunya baru terbeli.
Setelah datang dan ikut seminarnya pun masih belum suka buku. Cuma tiap main ke Mall (Masyaallah berasa jadi anak emol) selalu mampir ke gerai buku dan selalu meramaikan setiap bazaar buku dimanapun itu dan nggak beli.
Setelah lulus baca buku pendidikan kehutanan dan lingkungan juga tentang managemen restoran yang berat bukunya bikin encok mulai main ke persewaan buku dan komik. Serial Harry Potter dan The Twilight Saga langsung khatam dalam hitungan hari. Dan berulang dibulan berikutnya.
Kebiasaan ini menimbulkan sesal dan dendam yang kubawa sampai sekarang.
Apa tuh?
Suatu ketika, untuk kesekian kalinya sewa buku, pemilik persewaan memberikan penawaran fantastis. Yaitu satu set seri Harry Potter (Prelove) dengan cover asli (bukan cover versi indo yang sekarang) seharga 500.000. Uang sebanyak itu cukup buat beli susu dan popok anak (BTW aku pelaku nikah muda lhoo) tentu saja penawaran itu kutolak mentah-mentah. Sementara harga buku barunya saat ini sudah naik sampai 4x lipat. Lihat, bukan seharga susu popok lagi tapi seharga biaya hidup sekeluarga selama sebulan.
Ingat itu bikin sakit hati banget. Coba dulu uang gaji pas kerja nggak dipake main-main aja (huhuhu)
Suka baca dan koleksi buku di awali dari anak-anak. Jadi dulu sering beliin buku-buku satuan yang gampang banget sobek. Akhirnya ketemu teman yang jual buku-buku premium. Mahal sih tetapi aman dan awet untuk anak-anak batita. Dari sana setiap pergi selalu beli satu buku. Tiap ke toko buku yang di datangi rak buku anak.
Pas anak udah balita mulai bergeser ke rak buku dewasa. Rak buku fiksi.beli satu buku. Karena kondisi dan kesempatan yang memungkinkan pergi ke toko buku itu sangat kecil sekali akhirnya ya diam aja, baca yang ada. Khatam puluhan kali buku anak-anak.
Oh iya, membacakan buku jadi aktivitas rutin dan salah satu caraku mengenalkan buku pada anak-anak. Makanya jangan heran kalau mereka terbiasa sekali dengan buku.
Hingga masa ponsel pintar merajalela dan memperkenalkanku dengan aplikasi menulis. Menulis menjadi jalan utama yang membuat rak buku dirumah semakin penuh. Saat itu akan mengikuti dua ajang lomba menulis (sampai sekarang naskahnya nggak jadi diikutin, kebanyakan disunting, malah masuk meja penerbit) sehingga getol banget mengikuti grup-grup kepenulisan. Hingga melekatkan kalimat bahwa senjata utama penulis adalah membaca buku.

Dari sanalah buku-bukuku berasal. Mulai dari beli online, ikut PO buku dari penulisnya, ikutan give away, sampai merayu-rayu suami buat dikasih tambahan uang jajan buat beli buku. Tapi percayalah, dari sekian banyak  usaha saya mendapatkan buku-buku tersebut kalau dihitung masih kalah banyak dengan koleksi buku anak-anak. Bahkan kalau dirupiahkan, buku anak-anak udah menyentuh angka puluhan juta.
Tapi dari sekian banyak rupia yang sudah saya keluarkan menghasilkan ilmu yang harganya jutaan kali lipat banyaknya. Investasi buku itu investasi jangka panjang bahkan bisa menjadi amal jariyah yaitu ilmu yang diamalkan.

Catatan:
Hitam itu warna sampul buku 5 cm karya Donny Dirgantara (favorite)
Hijau itu buku Ketika Cinta Bertasbih 2 (Kang Abik)

Negeri van oranje, kado ultah dari suami (buku kesayangan) semua buku yang temanya belanda pasti suka.

Kamis, 27 Juni 2019

CERITA KITA

00.23 0 Comments
Kapan pertama kali ketemu?
Lupa, bukan, hampir nggak tahu kapan pertama kali ketemu ndul. Yang jelas pertama kali tahu ndul itu pas angkatan kita (fahutan 44) ngumpul di DAR Plaza setelah selesai BCR. Itu pertemuan pertama banget setelah ospek panjang (hahaha) buat bikin panitia acara Bajiguran.
Seperti biasanya, ndis selalu duduk dibarisan tengah naris paling belakang tapi selalu nyimak apa yang didepan bilang. Singkatnya, ketua nya waktu itu Soni MNH 44 dan ketuamya Rizal KSH 44.
What? Siapa itu? emang ada apa anak KSH 44 namanya Rizal?
Sumpah, andai waktu itu nggak diucapin dalam hati pasti bakal ada BCR putaran kedua. Yang bener aja, baru juga keluar oven, masih anget banget itu. bahu dan paha aja masih berasa sisa senam surga ehh temen seangkatan nggak tahu. sejurusan pula.
Justru karena nggak tahu itu jadi kepo. Oohhh itu temen seangkatan yang baru tahu namanya.
Anehnya keponya ya Cuma saat itu aja. Beres acara ya udah lupa lagi. bahkan sampe kegiatan perkuliahan udah aktif pun masih flat aja. Nggak kepo-kepo juga.
Lagi-lagi ketidaksengajaan bikin kita ketemu. Kali ini kita duduk berdua di teras sisi timur DAR 1. Waktu itu lagi ada penanaman di gunung walat kalau nggak salah salah satu rangkaian acara HAPKA Fahutan.
Pertanyaan basa basi pertama, “Nggak ikut ke Walat?”
Akhirnya obrolan terus berlanjut sampai yang tadinya nunggu dosen datang pun ganti jadi nunggu dosen pulang. kelas kuliah yang tinggal masuk itu nggak dimasukin. Lebih milih ngobrol dan absen kuliah (hahahaha).
Tapi obrolan itu ngedatengin banyak manfaat. Soalnya kami ya baru kelar ospek ini solidaritasnya lagi dipuncak. Dan kebetulan (lagi) angkatan kami (beruang madu/ksh 44) di kasih kesempatan senior buat ngisi stand di acara bazaar HIMAKOVA. Jadi stand itu akhirnya terealisasi juga. Dari siang sampe malam kita disana terus satu per satu kawan-kawan pada datang. Ada yang bantuin, nyemangatin, lihatin aja, ada yang baru beres pengamatan mampir, ada juga yang baru beres penanaman belom balik kosan milih nyamperin kita di koridor FATETA (klo nggak salah).
Dari situ ndis tuh ngerasa ndul jadi ada perhatian lebih dikit.
Malam nyiapin stand itu hujan. Nggak deres Cuma gerimis tapi nggak reda-reda. Dan ndul pengen banget nganterin ndis pulang yang kosannya di ujung dunia. Seumur-umur masuk kuliah ini kali pertama balik kosan dianterin.
Kenapa?
Karena ndis itu wonder women di tumpukan jerami. Nggak ada yang tahu klo pulang malam dari kampus ke kosan itu biasa sendiri, berani-berani aja. Kadang lewat jalan tikus yang pasti sepi pula.
Dari dulu ndis itu selalu dikasih kecewa sama teman. Dari kecil langganan di bully karena beda, SMP pun demikian. Pas SMA bertekad bahwa hidup diatas kaki sendiri tanpa bergantung dengan orang lain itu bukan pilihan. Alasannya sepele, Cuma nggak mau kecewa aja. Makanya pas kuliah ndis hampir nggak minta tolong siapapun.
Cari kosan sendiri, pindah kosan sendiri. Belanja keperluan kosan juga sendiri. Tinggal di jauh dari orang tua, nggak ada yang bisa dimintain tolong, semuanya harus serba bisa sendiri. Semua petuah yang masuk selama BCR atau Gebyar lewat gitu aja. Biarkan mereka melakukan kewajiban mereka melalui petuah. Memang sempat bimbang juga, tapi balik lagi bahwa hati yang terluka bukan orang lain yang merasakan.



Ini Dar Plaza yang menjadi kenangan tak hanya kami tapi Sampai 45 lebih angkatan memiliki kenangan disana. 

Ndul, meski numpak panggung aja, ndis tahu kok ndul yang mana😊😊😊


Selasa, 30 April 2019

Alone Again? Seriously?

22.11 0 Comments

Wah…timeline medsos udah mulai countdown time puasa. Really awesome, huh?

Artinya hari pertama puasa sedang banyak disiapkan lebih dari separuh populasi manusia nusantara. Status WA mulai berisi rencana menu sahur, kangen masak sahur, jadwal buka puasa bareng yang jumlahnya melebihi waktu puasa sendiri, bahkan pilihan baju lebaran pun sudah mulai diperbincangkan.
Jadi apa yang sedang terjadi dirumah kami? Home sweet home yang selalu dirindukan ini.

Kebetulan awal mei ini sedang libur. Pun di hari-hari berikutnya. Tak banyak yang berubah meski libur. Bangun pagi, mandi dan  sarapan rutinitas yang nggak pernah terlewat. Bedanya Cuma setelahnya. Biasanya akan bosen denger “Kak, buruan dong. Udah telat nih.” Sementara si kakak masih dengan santainya jalan ambil kaos kaki di lemari. Adik udah siap dengan helm dan berdiri di samping pager buka pintu. Semuanya diganti “Pergi main ya, Bun? Assalammualaikum.” Masyaallah soleh solehahnya anak firridjal atau “Bun, minta uang buat beli jajan.”

Membosankan, bukan?

Ya begitulah hari-hari kami lewati dengan suami yang jauh di perantauan sana. Bukan hal mudah tapi ya nggak sulit-sulit juga. Cuma lagi nggak bahas itu sekarang hehehe
Di tahun-tahun sebelumnya, hari-hari kaya gini bahasanya pasti keluhan atau aduan sahur pertama sendiri. Meski menjalaninya nggak sendiri, ya iyalah, suami disana juga sendiri tapi kaya harus aja topic itu dibincangkan. Tapi tahun ini nggak sedrama sebelumnya, meski aslinya nggak drama juga hehehe.
Bukan karena udah mastah atau biasa, keadaan seperti ini nggak bakal biasa dan akan selalu tidak biasa meski setiap tahun berulang. Cuma sekarang mau dialihkan aja. Karena tahun ini akan sedikit dan mungkin banyak berbeda.
Suami sekarang kerja tanpa partner artinya semuanya dikerjakan sendiri sementara beban kerja sama. Kompensasi lebih besar dong? Mungkin. Yang pasti adalah waktu semakin banyak di arahkan untuk kerjaan.

Saya dirumah masih gitu-gitu aja, nggak jauh berbeda. Cuma sekarang kebetulan ahh bukan tapi Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk melewati proses editing buku yang akan terbit. Masih belum buku solo tapi semoga disegerakan. Amin
Dan karena anak-anak dua-duanya udah pada gede pelajaran rukun islam ke tiga ini pun nggak boleh main-main. Jadi ya kudu dipikirin bener-bener. Apalagi yang sulung lagi masuk pra remaja yang saya sendiri belum siap buat itu.
Tapi apa yang mencengangkan dari puasa pertama dalam kehidupan pernikahan kami?

Kami menikah sudah cukup lama apalagi kalau ditambah dengan pertama kenal, udah sampe angka puluhan. Tapi-tapi yang bikin dramatis adalah kami hampir belum pernah melewati sahur pertama bersama selama menikah.
Keren bukan?

Seolah-olah dari awal menikah sudah LDR hahaha tapi bener lho soalnya kami nikah itu setelah hari raya dan dari awal pekerjaan suami memang harus berjauhan dengan keluarga. Bahkan saya hamil aja nggak bareng suami.
Tapi-tapi semua itu udah lewat. Sedih, kesel marah semuanya udah jadi unforgettable sweet moment.
Hanya saja setiap tahun pasti ada hal unik yang kami lakukan. Entah saya atau suami. tapi dari puasa tahun  lalu yang paling ingat banget itu aktivitas bangunin.
Memang sih ide-ide gila LDR sering munculnya dari saya tapi the eksekutor tetep suami (malu sendiri hehehe)
Jadi waktu itu saya lagi ngalem bin manja pengen dibangunin sahur kaya kebanyakan orang. padahal kami berada di waktu yang berbeda. Saya imsyak suami baru mau sahur. Kebayangkan gimana ribetnya.

Tapi kesampaian kok meski Cuma beberapa malam aja karena saya nyerah. Kasihan…

Gimana banguninnya?

Pertama malam sebelumnya pasti udah saling ingetin buat pasang alarm. Dan senjata mutakhir yaitu handphone. Suami bakal bangun sekitar jam 2-3 pagi. Awalnya telpon sekali, du kali, tiga kali. Nggak diangkat ganti chat WA sebanyak dan sesering mungkin.

Diawal-awal bangunnya cepet dan langsung denger, “bangun ndis, sahur. Jangan lupa bangunin kakak.”

Nambah hari nambah lama juga bangunya. Bisa sampe puluhan miscall dan chat WA. Kadang sampe menjelang imsak dan yang didenger jadi beda. “Ndis baru bangun? Udah mau imsa’ tahu. Ndul baru pulang beli makan. Buruan gih”

Akhirnya saya milih udahan aja, nggak tega. Soalnya kadang klo lagi banyak kerjaan suami sengaja nggak tidur. baru tidur pas udah kelar sahur. Dan saya diminta bangunin karena hari itu ada janji rapat atau yang lain. dan keadaan bisa berubah 90 derajat. Puluhan miscall dan chat WA bakal numpuk di layar hape suami (what a cute moment, huh?).

Ucapan selamat berbuka, cerita menu buka puasa dan banyak topik ramadhan lainnya bakal riwa-riwi di chatting panjang kami. Konsultasi ibadah nggak pernah lupa. Karena gimana pun juga, sebanyak apapun pelajaran yang saya cari di luar sana, suami tetap filter utama segala hal yang akan masuk ke dalam kepala.

Ya…itulah cuplikan sejarah ramadhan kami. Hal unik apalagi yang akan terjadi di ramadhan tahun ini? who knows (smily) karena tahun ini mau focus ke ibadah aja. Nggak lagi ngerengek hal-hal remeh yang kami sendiri tahu nggak akan banyak yang berubah selain dari menikmati dan mesyukuri apa yang kami jalani saat ini. ikhlas membuat langkah jarak jauh kami semakin ringan dan Allah Sang Maha penjaga yang akan melindungi iman dan hati kami.





Marhaban ya Ramadhan

Senin, 07 Januari 2019

SEPARUH JIWA?

19.10 0 Comments
Belahan jiwa, separuh hati, kekasih hati dan ada banyak ungkapan lain yang dipakai kebanyakan orang untuk menunjukkan arti seseorang dalam kehidupan kita. Tak jarang banyak yang menganggap frasa tersebut sangat cheesy, alay. Bahkan banyak juga yang menganggap tak hanya kata yang digunakan tapi pelakunya sendiri yang memiliki kepribadian kekanakan. Sehingga banyak yang memilih mengungkapkan maksud tersebut dengan bahasa lain hanya untuk menghindar label cheesy tadi.
Tapi saya akan menabrak semua anggapan itu tadi. Mengabaikan respon atau label yang akan orang sematkan. Sebagai orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah salah satu bentuk kecintaan pada tanah air.
Separuh jiwa

Bukan hanya mengekor dari sebuah lagu yang popular tapi pada beberapa orang memang benar seperti itu adanya.
Bagi saya suami adalah separuh jiwa. Kekuatan sekaligus kelemahan terbesar saya.
Kalau dianalogikan dengan hal lain itu seperti Elang dan sayapnya, yang akan terbang dengan gagah membelah cakrawala tapi hanya akan menjadi burung biasa yang tak berwibawa saat sayapnya tidak berfungsi normal atau tidak ada. Pohon dan akarnya, yang berdiri kokoh dan kuat saat badai mencoba menggoyahkan tapi saat akarnya keropos dan membusuk di dalam tanah dia hanya menjadi batang berdiri yang sekali tiup akan roboh. Pagi akan kehilangan semangatnya saat matahari lebih memilih bersembunyi di balik mendung. Membuat pagi sama dinginnya dengan malam.
Sepenting itu arti suami saya, Miftachu Firridjal.
Kemarin, 7 Januari 2019,  saya menjalani rutinitas seperti biasa. Tanpa di sertai firasat atau prasangka apapun. Siang sebelum berangkat untuk jemput si sulung saya mengirim sebuah pesan berisi aktivitas dan candaan sarkas yang biasa saya lontarkan untuk menanggapi salah satu kebiasaan buruk.
Selama perjalanan berangkat maupun pulang memang ada sedikit rasa tidak tenang di hati. Karena jarang sekali saya tidak mengetahui atau mengabaikan adanya panggilan masuk apalagi dari suami. saya anggap juga biasa aja karena saya selalu bersemangat saat menerima telpon darinya. Sampai kami bertiga bersiap makan siang pun belum ada panggilan masuk. Akhirnya saya menghubungi duluan. Hanya beberapa detik menunggu sebelum diangkat. Nah percakapan singkat itu yang menyebutkan kata sakit, rumah sakit itu masih belum bisa saya terima. Lalu saya pamit sama anak-anak agar mereka makan tanpa saya.
Saya pun masuk ke dalam kamar. Selain pembicaraan yang tidak boleh didengar anak-anak juga menyembunyikan keran air mata yang terbuka dan susah dikendalikan.
Akhirnya dalam percakapan jarak jauh dengan kesadaran penuh bahwa suami, separuh jiwa saya itu sedang terbaring lemah di sebuah kamar inap rumah sakit. luruh seketika. Rasanya tulang-tulang dalam tubuh ini lolos semua. Dalam perbincangan itu rasanya pengin bilang, “Candaannya lucu banget.” tapi nggak bisa.
Penampilannya memang tak menunjukkan bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang pasien. Aliran darah masih Nampak jelas di wajahnya. Tapi saya menangkap raut sedih dan setitik air diujung matanya. Dan itu itu sudah cukup untuk segera berhenti menyangkal bahwa suami saya baik-baik saja.
Memang bukan yang pertama dia sakit saat sedang berjauhan. Tapi sakit sampai memaksa dirawat di rumah sakit adalah yang pertama kalinya sepanjang kami saling mengenal. Dan dititik ini pula saya hanya bisa memandang lemah tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar menghapus air matanya pun tak mampu.
Saat kabar itu sudah bisa diterima dengan baik setiap sel dalam tubuh, hanya ada satu hal yang bisa saya ucapkan, “Boleh ndis kesana?” meski jawaban itu lebih dulu saya ketahui tetap saja perlu disuarakan.

Tak banyak yang bisa saya perbuat selain mengucapkan sebanyak mungkin hal yang tidak bisa saya lakukan saat ini. Dan memastikan dengan kedua mata saya bahwa laki-laki yang terbaring itu tidak ada yang kurang. Dan sebagai penutup saya meminta di kirimkan video kondisi disana.
Hey suami,
Sejak terakhir istrimu mendengar kabar itu tak sedetik pun ia bisa membendung cairan yang menetes dari matanya. Bahkan dia tak lagi bisa menjadi aktris multi talenta yang berperan baik-baik saja di depan anak-anak.
Anak laki-lakimu itu semakin pandai tapi juga semakin manja. Makan siang kemarin dia tidak mengikuti permintaan istrimu untuk makan sendiri. Jadilah istrimu menyuapinya dengan mata sembab yang setiap menjawab pertanyaan cerdas dari anak gadismu akan dijawab dengan linangan air mata.
Hey suami,
Siang kemaren itu hanya ada dua suapan nasi yang berhasil istrimu makan. Bukan karena tak enak atau tak kebagian karena dihabiskan anak-anakmu atau kehilangan selera. Dimatanya makanan-makanan itu terlihat sangat lezat tapi berita keadaanmu itu masih membuat tenggorokannya tercekat sehingga membuatnya kesulitan untuk menelan.
Sepanjang siang itu pula dia tak bisa berhenti menangis. Bahkan saat anak-anakmu belum tertidur untuk istirahat siang, wanitamu itu masih menangis meski tanpa isak. Hanya nada suaranya lebih cepat naik bahkan sebelum detik berganti atau turun sangat rendah bahkan terlampau rendah.
Tak banyak yang bisa dia lakukan selain menemani anak-anakmu agar segera terlelap dengan sebuah kitab terbuka di tangannya. Sekali lagi wanitamu dalam keadaan tak berdaya, tak bisa berbuat banyak selain berdoa untuk kesembuhanmu juga ketenangan dirinya sendiri. Dan itu berat sangat berat.
Pada akhirnya anak lelakimu yang terakhir tidur, mungkin menjelang lelapnya ia menyadari perbedaan suara bundanya. Mimpi pun menarik replikamu semakin jauh dari alam fana, membuatnya tak lagi bisa mendengar isakan dari bundanya yang mengeras.
Dari puluhan ayat yang berhasil ia baca beberapa ayat pertama sangat susah sekali ia baca. Perlu beberapa kali pengulangan agar bacaan itu  lebih baik.
Lembaran kitab-kitab itu menyaksikan betapa dia berusaha sangat keras untuk ikhlas dan sabar. Dia tak ingin mengecewakanmu karena gagal untuk kedua kalinya pada ujian kesabaran ini. dengan bibir yang bergetar dia terus membaca rangkaian kalam ilahi tersebut. dalam hatinya selalu merapalkan doa tak hanya untukmu agar tak jauh dariNya juga untuknya agar dijauhkan dari prasangkas-prasangka buruk.
Hey suami,
Hujan turun saat pemeran utama sedang bersedih rupanya tak hanya terjadi dalam drama tapi di dunia yang fana ini benar-benar terjadi. Mendung gelap itu melepaskan air sangat deras. Menyembunyikan isakan keras dari istrimu agar anak-anakmu tak terbangun.
Sepanjang siang hingga sore menjelang hujan deras turun. Dan waktu terbaik itu pun tak dilewatkan dengan sia-sia oleh istrimu. Disepanjang waktu itu pula akhirnya ia mendapatkan sebuah ketenangan sehingga bacaan yang keluar dari mulutnya jauh lebih baik dari beberapa waktu sebelumnya. Meski tetesan air mata itu belum berhenti tapi dia sudah lebih tenang.
Hingga akhirnya kau pun bisa mendengarnya melalui sebuah panggilan telpon yang dilakukannya beberapa kali. Suaramu yang benar-benar terdengar lemah itu sangat membuatnya senang. Keadaannmu yang mulai membaik itu membuat hormon lapar istrimu aktif seketika. Dan memerintahkan perutnya berbunyi. Dan menjelang petang itu sejumlah makanan berhasil melalui organ pencernaannya dengan baik.
Tapi tahukah kamu, hey suami? sepanjang siang menangis membuat kondisi istrimu menurun. Dia memang tak terbaring lemah seperti dirimu, dia hanya terbaring kelelahan. Dia pun melewatkan aktifitas rutinnya setiap senin untuk beristirahat.
Dan semua itu terbayar dengan kondisimu pagi ini.
Dia mulai membuka laptop dan menulis lagi. bisa tersenyum dihadapan anak-anakmu. Sudah bisa bercerita dan bercanda dengan anak lelakimu yang manja. Dan sudah berdebat dengan anak sulungmu yang pandai. Pagi ini suasana rumah berangsur-angsur normal.

Semoga engkau pun semakin membaik dan segera keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat.

Esok, saat kau pulang. Peluklah dia dengan erat dan bisikan sebuah kesanggupan bahwa kau akan merubah gaya hidupmu menjadi lebih baik lagi. untuk dirimu sendiri, untuk anakmu dan untuk istrimu, Yenny Astriana Fitriatul Fajriyah.

Minggu, 23 Desember 2018

Desember

15.22 2 Comments
Setiap orang tercipta dengan kedua orang. Ada yang keduanya hadir saat tangis pertama itu terdengar, memeluk serta membisikan qalam ilahi sebagai bentuk penyambutan di dunia yang baru. Kadang hanya ada satu yang hadir karena suatu kondisi tertentu atau takdir yang membuat salah satu nya pulang lebih awal.
Desember di pilih sebagai satu moment untuk mengasihi seorang perempuan yang dengan segenap jiwa mengantarkan sebuah kehidupan lain memasuki dunia baru. Entah dengan suka cita atau duka. Apapun rasa yang menyertai perempuan itu tetaplah seorang ibu.
Aku mengenal sesosok anak yang sangat tenang pembawaannya. Dengan selalu berjalan dengan santai seolah tak satu hal pun di dunia ini yang mampu membuatnya tergesa. Kadang saat kepanikan melanda bahkan wajah yang teduh itu mulai terlihat panic, dia masih bisa duduk dengan sebatang rokok terselip di antara bibirnya.
Suatu ketika dia bertanya, ”Tahu kah kamu mengapa Tuhan menciptakan sela diantara jari-jarimu?”
Aku hanya bisa mengerutkan kening mendengar pernyataan itu. Dua puluh tahun kehidupan yang kujalani tak pernah sedikit pun memikirkan hal kecil namun bermakna besar yang terjadi dalam tubuh manusia. Kecuali yang memang sudah dipelajari oleh ilmuan terdahulu.
Hanya sebuah ketidaktahuan yang kuucapkan sebagai jawaban.
“Tuhan menciptakan sela-sela jarimu agar jari-jariku bisa terselip diantaranya dan menggenggam tanganmu erat. Agar kamu bisa berjalan mendampingiku menjalani takdir yang Tuhan berikan pada kita.”
Sebuah penjelasan singkat yang sempat membuatku tertawa meski pada akhirnya membuat kedua pipiku merona. Tersipu malu dari buaian kata gombal dari seorang laki-laki dengan ketenangan diatas kewajaran.
Pada akhirnya rentetan kata itu benar terjadi.
Memasuki usia tiga puluh tahun tangan itu masih menggenggam erat. Dan aku masih berjalan melangkah di sisinya dengan sakinah yang melingkari jari-jari kami, mawaddah memayungi setiap langkah serta Warohmah tujuan perjalanan kami.
Dibalik torehan takdir indah itu, berdiri sesosok yang tidak pernah kutemui. Tak sekalipun nasehat ku dengar darinya, juga tak pernah kulihat mata menyepit karena tertawa saat menceritakan masa kecil dari seorang laki-laki yang menjadi imamku.
Seorang ibu yang tak pernah sempat mendengarku menyebut namanya. Karena beliau terlebih dahulu pulang, ibu mertuaku.

Aku memang tak memiliki kesempatan untuk menggenggam lalu mencium tanganmu. Serta menjelaskan siapa sesungguhnya diriku yang telah berani membuat hati putra kesayangannya hanya menatapku.
Aku juga tak memiliki kesempatan untuk berbincang panjang tentang makanan kesukaan, minuman apa yang biasa engkau sajikan setiap pagi sebagai bekal energy jagoan kecil yang beranjak dewasa. Atau menertawakan bagaimana menggemaskannya masa kecil laki-laki dewasa yang tak lagi bisa engkau tatap setiap saat.
Aku bahkan tak punya kesempatan untuk mengadu tentang kebiasaan kentut anak kesayanganmu yang sempat membuatku terganggu atau betapa tidak peka nya dia saat aku merajuk.
Tapi ibu,
Meski aku tak tahu cara terbaik melayani putramu seperti yang engkau lakukan. Aku hanya bisa menjajikan satu hal padamu bahwa sepanjang sisa umurku akan kuabdikan sepenuh hati kepadanya.
Dan ibu,
Meski engkau tak bisa mendengarku, malaikat yang menjagamu akan membisikannya.
Ibu, terimakasih sudah melahirkan laki-laki hebat seperti suamiku. Dengan tertatih selalu berusaha menjadi laki-laki terbaik dalam hidupku juga hidup cucumu. Ya, cucu pertamamu berasal dari rahimku dan saat ini mereka tumbuh menjadi anak yang luar biasa.

Aku tak akan mampu dan tak akan pernah bisa menggantikan tempatmu dihatinya. Tapi aku akan berusaha menjadi istri sholeha  untuk suamiku dan bersaksi pada Tuhan bahwa anak lelakimu adalah suami terbaik yang membimbing kami menuju surga yang kekal. 

Jumat, 14 Desember 2018

TENTANG SAYA

19.43 0 Comments






Hollaaa....
Panggil saya Momfy
Ibu dari seorang putri dan putra yang sangat amazing. Keduanya saya asuh sendiri, bersama suami. Jadi pekerjaan utama saya saat ini adalah seorang istri, seorang ibu, wakil kepala sekolah dirumah, asisten manager keuangan dirumah , Ahli gizi keluarga, dokter keluarga dan sedang merintis menjadi seorang penulis juga pebisnis tulisan, semoga bisa menjadi profesi suatu saat. Amin.
Saat ini tinggal di Jawa Timur tepatnya di tanah majapahit. Ini kota ketiga yang pernah saya singgahi lebih dari satu tahun. entah akan berada dikota mana lagi kedepannya. Sebelumnya pernah tinggal di bogor selama tujuh tahun. Tapi lahir dan besar di kota soto, Lamongan.
Tujuh tahun di bogor dalam rangka menyelesaikan pendidikan sekaligus meniti karir. Setelah lulus kuliah langsung bekerja di sebuah perusahaan multi nasional. Akhirnya pekerjaan tersebut saya lepas dan fokus pada fitrah saya sebagai perempuan.
Hobi utama itu nulis, baca dan nonton. Tiga hal ini selalu konsisten menjadi pengisi me time. Buku koleksi saya sebagian besar berupa buku fiksi dan buku-buku tentang kehutanan yang jarang sekali dibaca. Saya nggak punya penulis favorite karena semua buku yang saya baca berdasarkan isi bukan dari orang yang menciptakan. Diantaranya ada Habiburahman, Donny dirgantara (dua karya mereka merupakan buku pertama saya) Mira W, Hanum salsabila, JK. Rolling, stephenie meyer,  Langit Kresna Hariadi, Emha Ainun Najib, Sujiwo Tedjo, penulis- penulis Wattpad.
Saya juga mengoleksi banyak sekali buku cerita anak. Dari yang satuan sampai yang berseri. Dan harta ini yang ingin saya turunkan pada anak-anak.
Menulis termasuk bidang baru yang saya tekuni selama tiga tahun terakhir. Dan sudah melahirkan buku antologi pertama yang berjudul Hujan terbitan WA publisher. Ini prestasi pertama menekuni dunia fiksi.
Selain itu saya juga menulis artikel, review film dan resensi buku.
Saya bisa dihubungi melalui :

Follow Us @soratemplates