Thursday, September 12, 2019

Diam Bukan Tak Cinta

6:30 PM 6 Comments

Wajah rupawan tidak menjamin mendekatnya jodoh. Satrya, sepertinya cocok dengan ungkapan itu.
“Orang ganteng mah gampang”
Sering mendapat komentar dari teman-temannya mengenai mudahnya perempuan untuk dekat dengannya. Namun siapa yang mengira bahwa nasib percintaannya tidak setampan wajahnya. Lihat saja di usia menjelang 30 tahun Satrya masih sendiri, bahkan sahabat yang diam-diam disukainya pun memilih laki-laki lain sebagai suami. hingga akhirnya dia bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan sahabatnya.
Berbeda dengan Athaya. Satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai IT analyst . Masuk kedalam golongan mid class. Tidak dibatas atas atau batas bawah standar stereotype wanita cantik Indonesia. Kalau semua jenis wanita dikumpulin maka perlu kejelian untuk menemukan keistimewaan Athaya.
Nah, kalau Ghilman ini satu level dengan Athaya. Tapi dia punya sisi yang terlalu menarik untuk masuk kedalam golongan tengah. Secara Ghilman ini termasuk cowok dengan pengendalian diri yang sangat baik. Diselingkuhin sampai pacarnya hamil pun dia masih bisa kontrol emosi. Bukan yang marah-marah apalagi ngamuk sampai main pukul tembok sembarangan. Jenis cowok yang kalem tapi tegas diwaktu yang tepat.
Kalau saya disuruh milih antara Ghilman dan Satrya, ya, pasti jawabannya Ghilman. hehehe
Ini bukan kisah cinta segitiga yang emosional yang menguras air mata. Yang tokohnya harus menjadi orang yang merana berhari-hari. Bukan juga perlombaan memenangkan hati seorang gadis. Benar-benar kisah cinta yang dewasa. Yang kekanakkan hanya milik Geng Fogging hehehe. Jadi kalau berharap ada adegan romantis seperti di sinetron jawabannya pasti enggak ada.
Geng Fogging ini laki-laki generasi muda yang punya kebiasaan sama yaitu merokok. Satrya dan Ghilman masuk didalamnya karena mereka semua satu kantor hanya berbeda divisi saja. Sisi komedi yang bikin ketawa itu sumbernya dari mereka ini. 






Yang paling saya suka dari novel setebal 345 halaman ini adalah karakter tokohnya yang sangat kuat. baik itu tokoh utama maupun tokoh pendukung. Penguatan itu tidak hanya dibangun melalui deskripsi fisik tapi juga melalui sudut pandang orang lain, dialog dan cara berpikir mereka. Seolah-olah karakter tersebut hidup. Seperti tidak sedang membaca buku tapi menonton film yang layarnya ada dikepala.


Baca Juga Wanita Mencipta Surga


Dialog. Ada banyak sekali percakapan dari awal sampai akhir cerita. Perbandingannya seimbang antara narasi dan dialog. Tapi dialog ini memainkan peran penting terutama saat membaca bagian tokoh figuran. Lebih terasa komedi dibanding romantis. Guyonan yang khas anak muda ibukota. Kalau diibaratkan makanan seperti sedang mengunyah krupuk. Renyah dan mau nambah terus
Seperti yang saya bilang tadi semua karakter dibangun sangat baik. Sehingga penuturan setiap tokoh itu mengalir begitu saja. tidak dibuat-buat dan tidak dipaksakan. Memang akan banyak ditemukan umpatan-umpatan yang kurang sopan yang menjadi bagian dari lingkungan yang dibangun. Namun, justru disanalah letak kekuatannya. Jangan dibayangkan kata-kata kasar itu disertai amarah dan semua nama hewan di Ragunan keluar semua. Umpatan itu hanya bagian dari dialog candaan sehari-hari.
Penulis sudah menerbitkan dua buku dari penerbit yang sama. SKdPL salah satunya. Sayangnya pada buku pertama terbit ini kualitas kertasnya kurang bagus. Sudah menguning padahal baru berusia 3 tahun dari pertama kali beli. Ditambah, jilidnya yang sudah hampir lepas. Dibandingkan buku kedua penulis, kualitas buku pertama ini jauh dibawahnya.
Kalau membaca judul dan isi memang sedikit jauh. Tapi 80% kejadian dalam cerita menggunakan latar belakang gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Kubikel-kubikel yang memisahkan meja kerja karyawan serta seputar pekerjaan dibidang teknologi dibahas dengan sangat jelas.
Anak IT wajib baca buku ini. Tekanan kerja yang berat bisa diangkat tinggi setelah membaca kisah Athaya dan Geng Fogging. Semacam oase di tengah gurun gobi hehehe Yang jelas baca buku ini bisa jadi hiburan. Bikin otak benar-benar fresh.

Nah sudah bisa nebak kan after taste setelah baca novel ini? Yups, merah jambu alias pink. Manis cinta dan persahabatan mereka itu beneran kerasa. Saya bisa halu berhari-hari dibuatnya. Bolehlah disejajarkan dengan buku kesayangan yang udah puluhan kali dibaca tapi enggak bikin bosan.

Wednesday, September 11, 2019

Sembunyi Di Balik Kumolo Nimbus

7:09 PM 0 Comments
Lampu menerangi jalanan. Menggantikan matahari yang sudah bertugas saat hari terang. Satya suka menikmati pemandangan malam hari. Bukan taburan bintang dilangit melainkan kerlip lampu menerangi bumi.
Lucu jika dibayangkan. Kebanyakan orang lebih memilih terang bintang di atas langit. Sementara Satya meridu berada ditengah lautan cahaya buatan manusia. Meski sekedar duduk ditengah taman kota.
Tak lama Satya pun sampai di rumah. Setelah memastikan mobil terparkir didalam garasi, Satya masuk kedalam rumah melalui pintu belakang.
Satya mengucapkan salam saat Ibunya sedang menjerang air di dapur. Sementara ayahnya sedang di ruang keluarga menyaksikan acara talkshow di TV.
“Waalaikumsalam. Teh? Kopi? Sekalian mau buatin ayah kopi”
“Susu coklat aja.” jawab Satya.
Ibu melirik Satya heran. “Tumben” gumam ibu.
Satya berlalu kebelakang untuk mencuci kaki tanpa mengindahkan rasa penasaran ibunya.
“Satya udah minum kopi tadi. TIGA KALI.” Satya benar-benar memberi penekanan pada jumlah diakhir kalimatnya sekembalinya dari kamar mandi.
“Hhmmm … banyak ya? Habis ketemu siapa aja?” tanya ibu penuh selidik.
“Habis dari rumah Tantri. Sama Rian dibuatin kopi. Enggak enak kan kalau enggak diminum.”




Udah nggak ngurung diri dikamar tho. Batin ibu sambil manggut-manggut.
“Tantri hamil.”
“Lagi?”
“Iya. Rian bilang mumpung masih muda.”
“Betul itu kata Rian. Berarti cucu ibu nambah lagi dong. Untung ibu masih muda, masih kuat gendong.” Ibu menanggapi sambil mengaduk kopi dan susu. Matanya memang fokus dengan gelas dihadapannya tapi sesekali matanya melirik putra kesayangannya.
Tiga puluh lima tahun. Akhir tahun nanti anak sulungnya genap memasuki usia pertengahan 30. Seharusnya diusia segitu yang dipikirkan adalah mencari sekolah anak, persiapan biaya pendidikan. Minimal membuat nama anak yang bagus. Sementara Satya, tanda-tanda dekat dengan perempuan saja tidak apa lagi pacar. Inilah mengapa ibu tidak setuju Satya menjadi pilot. Jarang bertemu orang.
Satya hanya bisa menghela nafas pasrah. Nggak pernah nyuruh buru-buru nikah tapi ngasih kode mulu.
“Nih susu coklatnya. Kalau mau makan lauknya ada di kulkas. Kamu hangatin sendiri ya? Ibu mau tidur habis nganterin kopi buat ayah.”
Satya menolak karena sudah makan saat di rumah Tantri tadi. Ia pun membawa gelas berisi susu coklatnya ke kamar.


Gambar : Pinteres (conceitofit.wordpress.com)

Menerjemahkan sandi saat bertugas dikerjakan diluar kepala oleh Satya alias sudah biasa. Apalagi sinyal yang dikirimkan ibunya. Satya bahkan hafal kapan saja ibunya mengirim sinyal. Hanya ada satu sinyal yang gagal Satya tangkap, Killa.
Sebagai seorang laki-laki Satya sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Penampilannya sangat mendukung untuk memiliki cukup banyak pengalaman mengenai beberapa tipe perempuan. Bukan berarti dia seorang playboy atau don juan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa cukup banyak perempuan yang pernah dekat dengannya. Meski untuk melangkah pada tahap pacaran atau lebih sekalipun belum pernah.
Jika Killa diibaratkan layang-layang maka Satya adalah pemainnya. Tapi Killa tetap Killa, tidak mendekat juga menjauh. Ketika permainan tarik ulur itu dirasa cukup, Satya pun mengakhiri dengan menariknya mendekat. Entah benangnya terlalu lemah atau tarikannya terlalu kuat. layang-layang itu putus. Killa menjauh semakin tidak terjangkau.
Sekarang Satya bingung harus bersikap seperti apa.
Satya pun membuka aplikasi WhatsApp dan pembaruan dari status Killa. Tidak ada. Lalu Satya membuka ruang percakapan dengan Killa yang kebetulan sedang online.

D. Aryasatya   : Malam Killa
Shakilla A.       : Malam juga

Satya tersenyum senang langsung mendapat tanggapan. Dia pun mengetik balasan

D. Aryasatya   : Udahan tidurnya?
Shakilla A.       : Udah

Baik di dunia nyata maupun dunia maya Killa irit bicara diawal percakapan. Seperti mobil. Harus dipanaskan dulu sebelum digunakan. Killa pun demikian.

D. Aryasatya   : Kalau over night shift bawa mobil terus, Ki?
Shakilla A.       : Jarang
D. Aryasatya   : Mending naik taksi atau minta jemput Keenan. Bahaya nyetir sambil kalau ngantuk.
Shakilla A        : Iya

Diperhatikan begini Killa merasa hangat dalam hatinya. Meski bukan pertama kalinya Satya melakukan hal serupa. Kalau biasanya Killa akan menyimpan senyum malu-malunya dalam hati. Berhubung saat ini sedang tidak berhadapan langsung jadi Killa bebas mau tertawa  sekalipun.

Satya                : Besok masuk apa?

Maksud Satya, besok Killa kerjanya bagian shift apa.

Shakilla A.       : besok libur

Kelihatan kan polanya? Dan Satya capek kalau harus menangkap ikan kecil. Maka dia pun melempar umpan besar. Sebodo amat kalau ditolak, sekarang atau nggak sama sekali.

D. Aryasatya   : Aku besok mau jogging di stadion. Mau nemenin?
Delivered
Read

Satya menepuk jidat. Mengutuk kecerobohannya. Bukannya melempar umpan tapi menggali kubur sendiri.
Wanita seperti Killa mana mau kencan dengan tema olahraga. Kalaupun mau, minimal tempat fitness atau sanggar senam. Rasanya Satya ingin sembunyi dibalik kumolo nimbus.
Rasanya masa depan percintaan gue bakal berakhir suram deh
Tak berselang lama denting notifikasi WhatsApp berbunyi.

Shakilla A.       : Boleh. Langsung ketemu disana ya

Satya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia bertingkah selayaknya pemain bola yang baru saja berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. Mungkin bagian berlari memutar keliling lapangan tidak bisa dilakukannya karena sedang berada didalam kamar. Saking senangnya Satya lupa tidak langsung membalas Killa.

D. Aryasatya   : See you tomorrow

Killa tidak membalas kembali. Percakapan itu memang sudah sampai pada titik akhir. Satya segera bersiap tidur. Tidak ingin terlambat bangun esok hari.
Otak cerdasnya sudah merencanakan rencana cemerlang untuk menutupi kebodohannya malam ini.

Lampu kamar pun dipadamkan. Susu coklat itu masih penuh belum tersentuh sedikitpun.

Tuesday, September 10, 2019

Penjaga Hutan

6:07 PM 15 Comments
Senin siang saya mendapat kiriman gambar dari suami. Sebuah jalan raya dengan langit berkabut. Dan hari ini melihat video unggahan kawan di facebook. Langit Pekanbaru benar-benar tertutup kabut.



Mungkin saya akan mengira gambar itu diambil dipagi hari di sebuah wilayah pegunungan. Mungkin abang, panggilan untuk suami, sedang bertugas disana. Sayangnya tidak. Kabut yang menyelimuti langit itu bukan uap air melainkan asap. Sebuah aktivitas yang mengawinkan bahan bakar (kayu, daun, serasah, kertas dll) dengan panas dan menghasilkan api dan asap.
Benar, saat ini sedang terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut kalau di tempat kerja abang. Beliau saat ini bertugas di Riau, salah satu provinsi dengan jumlah area terbakar paling luas di seluruh provinsi di Indonesia, mencapai 30 ribu hektar.
Seminggu ini abang akan melakukan pendampingan kepada masyarakat, terutama yang berada di wilayah kerjanya. Tak terbayangkan bagaimana rasanya bekerja sambil mengenakan masker, beraktifitas sehari-hari dikelilingi kabut bahkan bernafas menghirup udara bercampur asap.



Memang bukan hal baru bila datang musim kemarau maka datang pula musibah kebakaran. Hanya saja tahun ini menjadi tahun yang paling banyak mendapat kiriman kabar karhutla dari abang. sedih rasanya. Antara kuatir kondisi suami juga khawatir sampai kapan kebakaran itu berlangsung. Bencana apalagi yang akan terjadi setelahnya. Jujur saya itu selalu khawatir tiap mendengar kabar bencana. Miris, apalagi kalau ada campur tangan manusia.
Kabar terbaru dari BMKG menyebutkan bahwa tahun ini musim hujan datang terlambat. Artinya cuaca panas dan kering masih bertahan untuk beberapa waktu kedepan. Itu juga mendukung bertahannya api di areal terbakar, terutama gambut.
Gambut itu berbeda. Orang mengira gambut itu adalah yang nampak diatas permukaan. Sebenarnya fokus utama gambut itu justru berada dibawah permukaan. Makanya orang lebih banyak menyebutnya dengan lahan gambut.
Gambut sendiri merupakan hasil dari sampah organik seperti daun, ranting yang mengalami proses pelapukan selama ratusan tahun. Disebut lahan gambut bila memiliki ketebalan lebih dari 50 cm. Kurang dari itu disebut sebagai tanah bergambut. Uniknya lagi lahan gambut ini selalu tergenang air. Semakin tinggi permukaan air maka tingkat rawan terbakar semakin kecil.
Kalau teori ini sesuai dengan kondisi dilapangan maka kebakaran lahan gambut adalah keniscayaan. Namun kenyataannya, lahan gambut di Indonesia banyak yang sengaja dikeringkan untuk dimanfaatkan sumberdaya diatasnya atau diubah menjadi lahan pertanian. Praktik-praktik seperti ini tidak hanya dilakukan oleh oknum perorangan saja melainkan kelompok-kelompok yang terorganisir.
Saya pernah menginjakkan kaki diatas lahan gambut yang terbuka. Benar-benar tidak terlihat seperti lahan gambut karena kering dan tidak ada vegetasi apapun diatasnya. Memang lahan itu sedang dalam proses perbaikan atau reklamasi. Mulai dengan mengembalikan kondisi agar tergenang dan juga revegetasi, menanam kembali pohon-pohon endemiknya.
Dua tahun lalu saya sudah meminta abang untuk berpikir ulang ketika ditempatkan di Riau. Bukan maksud melawan takdir hanya mengamati secara berulang, kalau orang jawa menyebutnya ilmu titen. Bahwa kebakaran akan terjadi lagi disana. Artinya beban kerja disana akan lebih berat dibandingkan tempat sebelumnya. Yang bermakna kesempatan pulang berkumpul bersama keluarga pun akan semakin kecil. Tahun kedua di Riau jawabannya. Jumlah kawasan yang menjadi fokus kerja tahun ini meningkat dua kali lipat. Ditambah musibah ini.
 Berdasarkan penelitian bahwa lebih dari 40% lahan gambut di Indonesia terletak di pulau Sumatera. Provinsi Riau salah satu dari 3 provinsi yang memiliki lahan gembut selain Jambi dan Sumatera Selatan. Pun menjadi lokasi terbesar terjadinya karhutla beberapa tahun silam hingga menarik perhatian dunia.
Mungkin inilah yang di sebut bahwa nurani manusia itu suci. Tahun ini menjadi pengalaman berharga untuk kami terkhusus abang yang berada langsung di lokasi kejadian. Bertahun-tahun lalu kami duduk bersama mempelajari salah satu ekosistem unik, gambut, yang menjadi kekayaan bangsa. Yang terus meminta banyak pihak untuk tak hanya memanfaatkan tapi juga mengkaji sekaligus melindungi ciptaan Tuhan ini.
Abang, mungkin keberadaanmu menjadi perantara kepedulian kami menanggapi musibah ini. Tiap terjadi musibah serupa kami mungkin hanya bisa bersimpati dan berempati. Berbeda dengan tahun ini, karena abang disana
Abang, tugasmu sungguh berat. Bersama kawan-kawan menjadi garda terdepan penjaga ekosistem gambut. Semoga abang dan kawan-kawan lain pejuang gambut tetap semangat, diberi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan yang seolah tak pernah usai. Kami disini hanya bisa berdoa, semoga Allah segera turunkan hujan untuk memadamkan api yang membara jauh dibawah sana. Sampaikan salam untuk saudara-saudara yang tak pernah kami kenal. Semoga selalu dalam lindungan Allah.
Mungkin kesulitan kakak menjawab pertayaan tentang pekerjaan ayahnya terjawab sudah, penjaga hutan.

Referensi
www.forestdigest.com
Wetlands.or.id

Pantaugambut.id

Mimpi Yang Terlalu Tinggi

1:27 AM 0 Comments

Rumput hijau menjadi alas sebuah pohon mangga yang tajuknya mulai melebar. Daunnya tumbuh lebat dan hijau. Diantaranya titik-titik menguning mulai bermunculan. Pertanda musim mangga akan segera tiba dengan berkembangnya bunga mangga.
Deretan sansavera tumbuh dengan baik berdampingan dengan tembok pembatas. Menambah kesan asri dan sejuk. Satya sangat menyukainya. Halaman rumah yang ditanami segala macam tumbuhan. Tidak banyak sehingga masih menyisakan ruang kosong. Tidak juga kurang sehingga meniadakan warna hijau alam.
Andai dia mendapat kesempatan memiliki keluarga sendiri, rumah seperti itulah yang akan ia pilih. Sebuah ruang terbuka untuk tempat anak-anaknya kelak bermain. Yang bisa dimanfaatkan istrinya untuk menanam sayuran atau tanaman hias.
Istri?
Anak?
Terlalu tinggikah mimpinya? Bukankah sangat manusiawi sebagai laki-laki dewasa untuk mengharapkan hal yang demikian?
“Hoi … Supir besi terbang! Ngelamun aja?”
Namanya Tantri, sahabat sekaligus ipar kesayangannya. Pertama kali bertemu saat menempuh pendidikan di kampus yang sama. Fakultas dan program studi yang sama. Sering menghabiskan waktu bersama karena selalu satu kelompok.
Dimana ada Tantri disitulah Satya. Siapa yang mengira bahwa Tantri menikah dengan Rian, sepupu Satya? Teman keduanya terkejut melihat undangan pernikahan Tantri tanpa pernah ada nama Satya.
Bertemu tapi tak berjodoh. Perumpamaan itu tepat untuk Satya dan Tantri. Tuhan tidak menganugerahkan cinta di hati mereka. Sedekat apapun, hubungan mereka hanya sebatas sahabat.
Meski banyak yang mengira kesendirian Satya sampai detik ini karena patah hati melihat Tantri menikah dengan orang lain. Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak selalu benar. Lihatlah Satya dan Tantri, mereka masih menjalin hubungan sebagai sahabat. Kini sebagai keluarga.
“Kapten, Tan, Kapten!” Satya menebuh bahunya, sombong.
“Mau kapten, pilot dan apapun kalian menyebutnya, Elu itu Supir.”
Keduanya pun tertawa senang. Sejak dulu Tantri tidak pernah menyebut Satya seorang pilot. Dimatanya pilot, nahkoda, masinis dan supir angkutan umum itu tidak ada bedanya. Sama-sama mengendarai kendaraan untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan dengan selamat. Satu perbedaan besar hanya terletak pada lintasan. Darat, laut atau udara.
Satya tahu itu hanya candaan Tantri sebagai protes terhadap dirinya. Selain ibu, Tantri adalah satu-satunya orang yang menolak keputusan Satya untuk berkarir di dunia penerbangan. Meski untuk memenuhi keinginan ayahnya tapi tidak harus menghentikan mimpi Satya menjadi seorang arsitek.
“Apa kabar?”
Tantri mengajak Satya masuk kedalam rumahnya.
“Seperti biasa. Ngurus suami dan anak-anak yang udah pada sekolah. Sama lagi rajin bikin infused water biar nggak mual.”
“Biar kekinian maksudnya?”
“Gue kan mommy millennial, Sat.” Jawab Tantri sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Hamil? Elo? Lagi?”
Tantri hanya senyum-senyum menjawabnya.
Kehamilan yang ketiga ini, Ia mengalami mual yang cukup hebat dibandingkan dua kehamilan sebelumnya. Tiap minum air putih dan mencium bau-bau yang menyengat akan memicu rasa bergejolak dalam perutnya. Sehingga ia lebih memilih membuat infused water sebagai pengganti air putih.
“Mumpung masih muda, tenaga masih kuat jadi produksi terus.”
“Emangnya aku pabrik anak.”
Tantri memukul lembut lengan Rian, suaminya. Membuat Satya jengah melihat tingkah mereka. Awalnya hanya untuk menggodanya tapi kalau setiap kali berkunjung kerumah selalu disuguhi adegan tidak senonoh membuat siapapun risih.
“Gue balik!” Seru Satya. “Jauh-jauh gue kesini cuma lihat kalian mesum.” Mulai beranjak dan berjalan menuju pintu.
“Eh … Sat, jangan pulang dong. Kamu sih!” Tantri memukul Rian kembali. Kali ini cukup keras sehingga membuatnya mengadu. Meski mata jenaka setelah membuat kesal sepupunya tidak hilang.
“Kan udah lama banget nggak ketemu. Jangan pulang, dong, Sat?” Tantri menarik lengan Satya. Mengajaknya duduk kembali. “Aku mau denger cerita kamu.”


Satya yang sudah kembali duduk meliriknya heran. Tantri dan Rian adalah dua orang yang paling tidak ingin mendengar pengalaman Satya. Bosan katanya. Apalagi semenjak banyak pilot yang mengunggah aktivitas keprofesiannya di media sosial. Basi, kalau Tantri menyebutnya.
“Diar bilang Lo lagi deket sama manager restoran.” Celetuk Rian
“Yang!!!”
“Sorry, sorry.” Rian hanya meringis menanggapi protes Tantri
“Aku udah janji sama Diar buat nggak cerita-cerita.”
“Lo bilang gini aja udah ngelanggar janji, Tan.” Satya menyahut.
“Ceritanya kan ke Elo, Sat. Beda. Namanya siapa? Kaya gimana orangnya? Kenal dimana?” Cecar Tantri.
“Katanya Diar udah cerita.”
“Dia cuma bilang lo deket sama cewek. Udah gitu aja. Cerita dong, Sat.” Tantri menggoyang-goyang lengan Satya seperti anak kecil sedang merenget minta dibelikan balon.
“Nggak ada yang bisa diceritain.”
Tantri dan Rian saling bertukar pandang. Bingung.
Satya pun menghembuskan nafas. Jengah. Dia malas membahas hubungannya dengan Killa. Mesti ada titik terang, tapi titik itu terlalu samar untuk diharapkan.
“Dia nolak gue.”
Satya merasa bisa mendengar deru nafasnya sendiri. Padahal dia tidak dalam keadaan panik atau emosi berlebihan yang menaikkan adrenalin. Bahkan kedipan matanya pun terdengar jelas saat mengamati Tantri dan Rian diam mematung.
Satu detik kemudian gelak tawa terdengar menyebar keseluruh ruangan. Tawa Tantri paling keras. Dia harus menahan perutnya agar tidak tertawa berlebihan. Sementara Rian sudah berguling-guling dan meredam suaranya kedalam sofa.
“Jadi maksudnya gue disuruh cerita itu buat diketawain? Apes banget gue hari ini. Udah jadi supir taksi sekarang jadi bahan lelucon.”
Tantri menarik tangan Satya agar duduk kembali. “Sorry. Khilaf.” Tantri melempar bantal kearah Rian dan memintanya untuk diam. Meski sudah mendapat tambahan tatapan galak istrinya, Rian hanya berpura-pura diam. Tapi sesungguhnya dia sedang menahan tawa.
“Kok bisa ditolak.” Tantri memulai bertanya.
“Ya mana gue tahu.”
“Udah punya cowok kali?”
“…”
“Atau udah tunangan?”
“ … “
“Sat, kok lo diem aja sih?” Tantri mendesak kesal.
“Gue nggak tahu. Feeling gue sih dia jomblo juga.”
“Terus kenapa ditolak.”
“Gue nggak tahu alasannya Tantri.” Satya mencubit kedua pipi Tantri yang mulai berisi. Gemas didesak alasan yang Satya sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia bahkan tidak berusaha mencari tahu.
Saat Killa menolak perasaannya, Satya hanya menganggap bahwa Killa tidak bersedia menjalin hubungan lebih dari seorang teman. Kalau menurut versi Killa hubungannya hanya sebatas manager dengan loyal customer. Mungkin ada alasan lain, itu pasti. Tapi semua itu tidak merubah keadaan Satya yang ditolak.
“Kenapa nggak dicari tahu? Emang dia nggak suka lo deketin?”
Satya kembali berpikir. Killa tidak pernah menolak ketika ia melakukan pendekatan. Bahkan alibinya saat menemuinya di restoran alih-alih menjadi seorang pelanggan. Belum lagi sikap malu-malu saat Satya memaksa menemaninya menunggu jemputan Keenan, adiknya. Tak satupun sikap Killa menunjukkan penolakan. Atas dasar itu pula lah Satya nekat mengutarakan keseriusannya meski berakhir dengan penolakan.
“Kalau cewek lempeng aja dideketin tapi masih nolak, berarti masalahnya bukan di elo tapi di cewek itu sendiri.”
“Gitu ya?”
“Ya ampun Satya. Umur udah tua gini masih nggak ngerti bahasa cewek. Pantes sampe sekarang jomblo.” Giliran Tantri gemas sendiri melihat sahabatnya.
“Anaknya susah, Tan.”
“Maksudnya?”
“Dia itu kaya orang kebingungan. Suka tiba-tiba salah tingkah sendiri padahal gue nggak lagi godain atau gombalin dia. Kaya dia mau maju tapi ragu-ragu tapi nggak mundur juga.”
“Lo kecepetan kali PDKT-nya.”
“Ya ampun, kita tuh kenal udah setahun lebih hampir dua tahun malah. Ketemuan juga jarang. Lo paham lah kerjaan gue gimana. Telponan, chatingan juga hampir nggak pernah. Dia aja nggak nyimpen nomer gue. Kecuali beberapa hari terakhir.”
“Maksudnya beberapa hari terakhir?” Tantri mengernyit heran.
“Ya … dia akhirnya nyimpen nomer gue.”
Tantri masih mengerutkan kening. Tanda bahwa ia belum mengerti maksud Satya.
“Statusnya tuh cewek muncul di WA story-nya Satya, Yang.” Sahut Rian setelah sedari tadi hanya menyimak
“Jadi Lo stalking-in dia?”
“Namanya jatuh cinta, stalking itu wajib.” Rian berdiri. “Gue mau ambil minum. Ada yang mau?”
“Apa aja.” Balas Satya.
“Minum aku ya, Yang?”
“Okay.”
“Mau lihat dong Sat, wajahnya kaya apa. Penasaran gue sama cewek yang nolak pesona lo” Ujar Tantri
“Lo punya ig kan?”
“Ada. Tapi jarang aktif. Emang kenapa?”
“Gue nyimpen beberapa fotonya disana ”
“Serius?”
Percakapan selanjutnya adalah kebiasaan yang hanya Satya dan Tantri pahami. Bersyukur Rian sudah menyingkir terlebih dahulu. Dia bisa jengkel karena tidak bisa masuk kedalam dunia dua mantan arsitek itu.
Namun dibelakang sana diam-diam Rian juga ikut membuka akun IG Satya. Mencari tahu sosok gadis yang kebal dengan segala kelebihan sepupunya itu.
Sesal selalu mengekor dibelakang. Itulah yang terjadi pada Rian. seharusnya dia mengambil minum sesuai tujuan awal atau menjadi regu penggembira atas keseruan yang diciptakan Tantri dan Satya.

Sunday, September 8, 2019

Berdiri Setegar Varsha

6:53 PM 14 Comments
Apa yang paling menakutkan bagi wanita sudah berusia tiga puluh tahun? Mendapatkan pertanyaan kapan menikah.

Pada titik saat kepercayaan diri terjun bebas ke dasar jurang berganti dengan rendah diri yang kadarnya menjulang setinggi gunung Himalaya, membuat kaum hawa berkubang dalam keputusasaan.
Berlenggak lenggok dengan tebaran wangi bunga sehingga kumbang bergerak mendekat. Tak perlu berpikir panjang apakah itu lebah madu atau tawon penyengat, selama jantan cukup langsung terkam. Menghalalkan segala cara agar terhindar dari menjawab pertanyaan keramat.
Varsha, mewakili sedikit wanita yang legowo dalam menyikapi kesendirian di usianya yang semakin dewasa. Tak selalu mengabaikan tapi juga tidak memasukkan dalam hati tentang pernyataan orang bahwa kesuksesan karirnya harus menumbalkan sisi kehidupannya, jodoh.
Pun bukan seseorang yang membenci pertemuan keluarga karena bosan dengan cercaan kerabat karena kesendiriannya. Cukup melebarkan senyum dan menulikan telinga maka semua akan berjalan baik-baik saja.
Bukan pula menjadi seorang yang munafik. Bersikap kuat didepan orang kemudian menangis meraung-raung dalam dekapan bantal diiringi lagu sendu yang membuatnya semakin terpuruk menerima kekalahan dalam bursa jodoh.
Tidak pula termasuk golongan wanita penuh trauma. Yang hanya bisa menyalahkan semesta apalagi Tuhan atas konspirasinya sehingga membuatnya jauh dengan keberanian berkomitmen.
Varsha bukanlah wanita yang demikian. Dia tidak merasa dikejar waktu untuk menikah. Tidak merasa rendah diri karena belum memiliki pasangan. Pun bukan seorang yang ambisius dengan karir.

Gue nggak mengecilkan kekuasaan Tuhan, gue cuma … berusaha untuk ikhlas, Hel. Gue nggak mau menuntut jodoh ini-itu. Jika Tuhan memberi gue kesempatan untuk bertemu jodoh di dunia, gue minta tolong kepada-Nya untuk didekatkan. Tapi, jika Tuhan ingin mempertemukan jodoh gue di akhirat, gue ikhlas. (Halaman 65)

Dia hanya menggunakan setiap kesempatan yang dimiliki dalam hidup secara optimal. Membuat pencapaian dalam hidup juga karir yang belum tentu datang kembali. Memberikan seluruh cinta pasangan dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan memang masih dalam rencana Tuhan. Namun semua itu hanya sebagian kecil dari cinta.  Ada banyak sekali bagian cinta yang bisa Varsha rasakan. Mencintai keponakannya seperti anaknya sendiri meski dia tidak pernah tahu rasanya menjadi ibu. Mencintai keluarganya, adiknya juga ibunya, panutan dalam hidupnya. Ayahnya? Sudah termasuk kedalam mencintai keluarga, bukan? 


Crowdstroia menuliskan kisah Varsha dengan sederhana. Meski tidak cukup rumit untuk menampilkan kompleksnya persoalan yang dihadapi wanita dewasa. Pemilihan kata yang dekat dengan kehidupan pembaca cukup mudah untuk menghidupkan sosok Varsha dalam imaginasi.
Hanya saja kesederhanaan ini gagal digunakan saat membangun emosi pada fase Varsha kehilangan ibunya. Sosok perempuan yang membuatnya tetap tegar dan tumbuh menjadi wanita kuat.
Meski, ya, saya tetap larut dan meneteskan air mata membaca narasi duka dan kehilangan. Poin ini bisa diabaikan karena tingkat kepekaan seseorang berbeda.
Nona Teh dan Tuan Kopi menjadi judul dari buku ini. bahkan sampul buku pun menggunakan daun teh dan biji kopi menyerupai lambang yin dan yang. Hal ini pula yang memberi magnet kuat bagi saya untuk membelinya. Hanya saja jangan berharap akan mendapatkan banyak informasi mengenai dua jenis minuman tadi. Kedua minuman tersebut hanya menjadi minuman kesukaan tokoh utama. Informasi khusus tentang minuman tersebut terlalu sedikit diberikan sehingga pembaca tidak pernah menyangka bahwa ada keterkaitannya dalam cerita.
Bagi penyuka genre misteri, dibagian akhir buku ini akan menemukannya. Meski untuk saya sedikit dipaksakan. Meski demikian saya pun dibuat gemas dengan mengikuti setiap langkah yang dituliskan hanya untuk membuktikan kebenarannya.
Untuk mereka yang mengalami jalan hidup serupa dengan Varsha, membaca buku ini menjadi keharusan. Melihat dari sudut pandang Varsha akan membuat pemahaman baru bahwa menikah bukan hanya persoalan waktu dan usia tapi keikhlasan menerima takdir Tuhan.

Yang paling akhir adalah after taste usai membaca novel ini adalah kuning. Karena hanya nona teh yang banyak dibicarakan sementara Tuan Kopi hanya muncul sekejap sehingga meninggalkan penasaran untuk segera membaca sekuelnya. 

Benih Yang Bermutasi

6:45 PM 0 Comments
Seluruh karyawan bahkan mungkin seluruh wanita dimuka bumi akan tersenyum iri melihat Killa. Diantar oleh laki-laki tampan yang sekali lihat saja sudah nampak bahwa jaminan masa depan itu pasti. Belum lagi mobil yang dikendarai. Termasuk kedalam jajaran minoritas kelas atas. Artinya hanya sedikit orang yang memilikinya di kota ini.
Masih ada satu hal lagi. yang sangat diidamkan setiap orang tapi tidak pernah Killa sadari. Bahwa Satya sangat mencintai Killa. Dilihat dari sudut manapun, bahkan anak kecil pun bisa membacanya.
“Apa semua customer kamu selalu mendapat julukan ?” Satya bertanya saat mobilnya sudah bergabung dengan mobil lain melintas jalanan kota.
“Hah? Oh..itu…Ya, kami memang memiliki daftar loyal customer yang mendapat perhatian khusus.” Tidak mungkin Killa menjawab dengan jujur bahwa itu bukanlah sebuah julukan. Dalam hal ini  Ngeles menjadi jalan terbaik.
“Aku merasa tersanjung mendapat perhatian khusus seperti itu.” Satya hanya bisa menahan senyum melihat Killa salah tingkah. Terlihat sangat menggemaskan untuk orang yang tidak pandai berekspresi seperti gadis yang duduk disampingnya.
Sebenarnya Ia sudah lama tahu panggilan itu diberikan khusus untuk dirinya. Ia bahkan sering mendengar saat masih sering mengunjungi Killa. Sejak kecil Satya sudah menyadari bahwa dirinya memiliki penampilan yang sangat menarik. Menurut kamus wanita itu ganteng. Saking seringnya mendapat pujian hingga hal itu menjadi sesuatu yang biasa saja.
“Mau langsung pulang?”
Killa menguap. Lebar dan lama. “Duh, maaf, maaf. Iya langsung pulang aja.”
“Kamu pasti ngantuk banget ya?”
“Iya. Akhir-akhir ini kurang tidur. Kok tiba-tiba macet gini sih.” Killa menggerutu karena laju mobil yang didepannya memelan semua.
Satya benar-benar kesulitan mengendalikan bibirnya untuk tidak tersenyum. Setiap tingkah Killa pasti membuatnya senang. Bahkan gerutuan itu atau jalanan yang tiba-tiba tersendat tidak memengaruhi suasana hatinya.
“Oh iya. Maaf ya aku nggak bales chat kamu waktu itu.”
“Oohh … iya nggak pa-pa.”
“Sebenarnya aku agak kaget aja kamu tiba-tiba nge-chat. Butuh beberapa waktu sampai aku yakin bahwa itu pesan dari kamu. Aku bahkan sempat mematikan HP, restart ulang untuk meyakinkan bahwa itu kamu. Sekarang karena kita udah ketemu, aku mau rasa penasaranku segera hilang. Memangnya kamu mau bicara apa?”
Baiklah. kalimat panjang itu memang tak mendapat jawaban. Hanya berbalas helaan napas teratur dengan dengkuran pelan. 


Sekali lagi Satya tidak marah diabaikan. Justru senyumnya bertambah lebar. Tidak pernah sekalipun terbayangkan akan berada dalam satu mobil bersama Killa.
Bisa duduk disamping Killa, berbincang meski hanya basa-basi bahkan mengantarnya pulang tidak pernah Satya kira akan terjadi. Dulu dia hanya bisa berangan-angan saja. Senadainya saja dan banyak perumpamaan lain yang membawanya yakin terhadap perasaannya sendiri. Hingga waktu memberikan kepastian bahwa cinta itu tak berbalas. Dan keputusan untuk melepaskan tak lama harus ia kuatkan.
Namun semua itu sempat goyah saat bertemu dengan Bu Ayu, Mamanya Killa. Ketika menawarkan diri untuk mengantarkan barang titipan ibunya. Saat itulah Satya menyadari bahwa Bu Ayu memiliki alamat rumah yang sama dengan Killa.
Seorang ibu bagi Satya adalah segalanya. Tak pernah ada kata ‘tidak’ untuk ibunya. Tidak ada sedikit pun rasa keberatan untuk memenuhi permintaanya seorang ibu. Namun kala itu, untuk pertama kalinya, Satya ragu.
“Tante tahu kamu sangat menyukai anak tante. Dan tante yakin sampai saat ini perasaan itu masih sama. Killa memang bukan sosok sempurna untuk seorang wanita. Seandainya harus memilih menantu, mungkin tante tidak akan memilihnya. Tapi Killa anak tante. Dan tante akan melakukan segalanya untuk kebaikan Killa. Bahkan saat Killa tidak menginginkannya.
Satya, tolong jangan menyerah. Killa hanya satu dari sedikit wanita yang tidak yakin bahwa cinta bisa memberinya kebahagiaan. Bahwa ada cinta yang indah dan tulus di dunia ini. Jangan dilepas.”
Anak tante yang minta dilepas. Ingin sekali Satya meneriakkan itu. Tapi, Bu Ayu juga seorang ibu yang tidak mungkin permintaannya ditolak. Ini persoalan hati. Tidak ada satu hal pun didunia ini yang bisa memaksa.
Dengan Killa, Satya sudah memberikan banyak sekali kelonggaran. Tenaga juga waktu. Tapi Satya hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Dia pun ingin bahagia.
Sorot mata Bu Ayu menunjukkan keputusasaan yang begitu dalam. Dan sekali lagi, tidak ada kata ‘tidak’ untuk permintaan ibu. Maka Satya pamit dengan hati yang gundah. Hingga pesan singkat Killa meluluh lantakkan semuanya. Memberinya benih baru yang telah bermutasi.
Kalau harus mencintai maka harus dengan Killa. Kalau harus terluka maka itu demi Killa. Satya mengeraskan hati bahwa hanya ada satu wanita yang akan memenangkan hatinya. Dia harus Killa.

Friday, September 6, 2019

Rebound : Teman Berbagi

7:56 PM 0 Comments
Tidak pernah Killa duga bahwa dihadapannya ini atasannya. Bu Ivon, Store manager, pimpinan di restoran ini. Biasanya pertemuan seperti ini hanya terjadi satu bulan sekali saat membahas evaluasi kinerja restoran.
Hal yang tidak lazim lagi adalah beberapa berkas dan buku-buku yang ketebalannya menyamai high heels milik Dinda. Keduanya tertumpuk rapi dihadapan Killa.
“Sipakan diri untuk jadi asisten saya.”
First Assisten Manager, Bu Ivon sedang menjelaskan proses yang harus Killa jalani selama 6 bulan kedepan. Dimulai dengan modul-modul yang harus dipelajari. Kemudian dengan workshop yang sudah terjadwal dengan rapi. Hingga saat yang paling menentukan driver lisence sebagai penentu kelayakan mengemban tanggungjawab baru..
Rencana pembangunan restoran terutama kota di luar pulau jawa memerlukan jumlah manager yang tidak sedikit. Selain melakukan proses hiring di luar juga mendorong manager-maneger untuk segera naik tingkat. Killa termasuk salah satu dari dua talent (berpotensi untuk menjadi calon first assisten manager) dalam regionalnya.
“Selamat ya.” Killa menjabat tangan Bu Ivon. “Saya akan lebih keras lagi sama kamu.”
Killa menyambutnya dengan senyum lebar.
Tidak pernah rasanya Killa ingin segera membagi berita gembira ini. selama 7 tahun menjadi manager, baru kali ini promosi kerja membuatnya sangat bahagia.
Killa pernah melihat Dinda langsung menelpon suaminya-saat itu masih pacaran-ketika dipromosikan menjadi second assisten manager. Kemudian Silvia, salah satu temannya saat menjalani masa menjadi trainee, pun langsung menghubungi ibunya.
Mama mungkin akan sangat bahagia mendengarnya. Tapi Killa masih merasa bersalah atas kejadian waktu itu. meski hubungan mereka tidak dalam fase beku tapi tidak cukup hangat. Akan sangat canggung kalau Killa tiba-tiba menelpon.
Keenan? Dia tidak jauh beda dengan Killa. Seseorang dengan ekspresi yang sangat minim sekali. Meski Keenan jauh lebih baik.
Ada satu orang lagi tapi Killa tidak yakin apakah dia orang yang tepat untuk menemaninya bereuforia atas prestasinya. Terakhir kali Killa mencoba menghubungi tapi tidak mendapatkan respon.
Jadi begini rasanya tidak memiliki seseorang untuk diajak berbagi? Ada titik kosong dalam hatinya yang sudah lama sekali tidak Killa rasakan. Rasa saat kehadiran seseorang itu begitu berarti
Sebaiknya Killa pulang. Semalaman tidak tidur ditambah pertemuan barusan yang rupanya memakan cukup banyak waktu membuatnya rindu tidur. Bahkan matahari sudah bergerak 45 derajat dari terakhir kali Killa lihat.
Matanya terlalu mengantuk untuk menyetir mobil sendiri. Meminta Keenan menjemput bukan ide baik. Pasalnya keberadaan mobil itu semata-mata untuk menghapus kewajiban Keenan menjemput Killa. Karena kunci sudah berpindah kepemilikan maka Killa harus melakukannya sendiri Sebaiknya Killa memesan taksi online saja.




“Hampir saja aku memesan kopi untuk ketiga kalinya.”
Killa menghentikan langkahnya. Telinganya seperti menangkap sesuatu. Sehingga dia pun menoleh ke kanan kiri. Rupanya tidak seorang pun menunjukkan sedang berbicara dengannya.
Aku benar-benar harus tidur
Killa pun melanjutkan langkahnya. Namun baru baru beberap langkah berhenti kembali.
“Mbak-mbak tadi bilang meeting kamu cuma sebentar. Tahu gitu aku bisa pulang dulu, mungkin sekalian mandi biar wangi.”
Ada nadi yang berdenyut cepat. Juga jantung yang memompa darah semakin deras. Hanya otak yang bergerak lambat sehingga ujung-ujung saraf terlambat memberi respon.
Satya?
“Hai Killa, apa kabar?”
Aku? aku nggak pernah baik-baik saja, Satya
Satya pun memberikan senyum terbaiknya. Meski gadis dihadapannya sedikitpun tidak merespon apalagi memjawab. Hampir saja mati gaya kalau tidak ada mobil lewat yang membunyikan klakson karena Killa berdiri tepat di tengah jalan.
Killa bisa saja menjadi bahan tertawaan orang karena berdiri terpaku sampai tidak menyadari mobil lewat, kalau saja Satya tidak segera menariknya untuk menepi.
“Disini memang tempat parkir. Tapi berdiri di tengah-tengah seperti itu juga bisa mengganggu orang yang mau lewat.”
Berkedip dua kali dan mundur satu langkah sebelum menyadari seseorang yang berdiri dihadapannya tengah memegang pergelangan tangannya.
“Satya?”
Pandangan mata Killa bergerak kesamping, mengamati sesuatu yang menyelimuti pergelangan tangannya. Satya hanya menanggapi dengan tersenyum.
Detik itu pula kesadaran Killa benar-benar pulih. Kejadian beberapa waktu lalu pun mulai Killa pahami bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Dia masih mengenakan seragam. Masih berada di lingkungan restoran. Meskipun sangat mengantuk tapi laki-laki dihadapannya benar-benar nyata.
Seandainya bisa Killa ingin sekali memeluk laki-laki dihadapannya. Dan meneriakkan betapa bahagiannya ia hari ini. Seandainya saja.
“Selamat ya atas promosinya..” Ucap Satya jenaka. Alisnya bergerak naik turun dengan kerlingan mata yang menggoda Killa. Tapi ucapan selamat itu benar-benar tulus.
“Dari mana kamu tahu?”
“Mereka yang kasih tahu.”
Satya memegang kedua bahu Killa kemudian memutarnya.
Dibatasi dinding kaca tapi bisa dilihat dengan jelas sorak sorai karyawan dan rekan manager Killa. Selain memberinya ucapan selamat untuk kenaikan jabatan juga atas kembalinya customer ganteng.
Welcome back, calon 1st asistent manager & The Handsome one
Tulisan itu benar-benar dibuat dan ditempel di kaca. Sehingga semua orang tidak terkecuali tukang parkir bisa membacanya.
“Nggak nyangka aku begitu populer disini.”
Killa hanya bisa melirik sinis Satya dan melambai pada rekan kerjanya. Kemudian melajutkan memesan taksi yang sempat tertunda.
Kejadian ini benar-benar membuatnya malu. Untung saja tidak banyak pengunjung hari ini. Jadi Killa tidak perlu mengasah acting lagi. Dia heran, bagaimana Satya bisa sangat tenang dipermalukan seperti ini.
“Aku bisa jadi sopir taksi kalau kamu mau.”
Satya mengintip dari balik bahu Killa.
Mungkin ini jarak paling dekat yang pernah mereka alami. Biasanya selalu ada pembatas, yang paling sering adalah meja restoran. Karena tempat ini adalah satu-satunya tempat Satya dan Killa bertemu.
“Aku bawa mobil.”
Kalau bawa mobil kenapa pesan taksi, dasar perempuan. Ujar Satya dalam hati.
“Bisa kamu tinggal disini. Besok pagi kamu tinggal nebeng Keenan atau aku jemput. Gimana?”
“Okeh.”

Satya benar-benar berada diatas awan. Tidak perlu melakukan negosiasi panjang. Penawarannya langsung diterima. Konspirasi semesta? Satya memercayainya.

Follow Us @soratemplates