Tampilkan postingan dengan label BPPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BPPT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2020

DIMULAI DARI KITA

08.23 12 Comments



Manusia itu pada dasarnya suka dengan kenyamanan dan tidak pernah merasa puas. Satu keinginan terpenuhi akan muncul keinginan lain. Pola itu akan terus berulang tanpa ada yang tahu kapan berhentinya.

Dulu, orang sudah merasa sangat terbantu dengan tenaga hewan ternak untuk mengurangi beban pekerjaan, seperti membajak sawah atau mengantar barang. Ketika sepeda diciptakan hewan-hewan tadi tidak lagi digunakan tenaganya. Kemudian sepeda beralih fungsi menjadi barang koleksi atau alat olahraga ketika kendaraan bermotor sudah ditemukan. Fenomena itu jelas sekali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi kita salah satu pelakunya.

Kemajuan teknologi, awalnya, dikembangkan untuk membantu aktivitas manusia. Seiring berjalannya waktu teknologi dimanfaatkan untuk tujuan lain salah satunya sebagai alat ukur strata sosial. Namun kita lupa bahkan bergesernya pemanfaatan teknologi membuat ketidakseimbangan terjadi dalam kehidupan.

Mari kita bandingkan!

Ketika teknologi belum berkembang, manusia sangat bergantung dengan alam sehingga upaya dan usaha untuk menjaga alam menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Lihat saja kehidupan suku-suku di Indonesia yang masih mempertahankan kearifan local dalam memanfaatkan alam seperti Suku Baduy Dalam, Suku Anak Dalam atau suku-suku yang masih mendiami pedalaman Papua.

Alam menjadi tempat utama dalm menggantungkan hidup. Karena ketiadaan alam yang baik maka hilang sudah kehidupan mereka, sumber pangan dan tempat tinggal.

Sekarang kita lihat kehidupan yang sudah terkena kemajuan teknologi yang paling mudah saja kendaraan bermotor. Produktivitas manusia meningkat pesat. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak lagi membutuhkan waktu lama dibandingkan saat dulu harus berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Banyaknya mesin-mesin berteknologi canggih membantu manusia memenuhi kebutuhan individu hingga banyak orang. Semakin majunya teknologi, manusia menjadi sangat bergantung dalam memenuhi kebutuhan. Bahkan ketika teknologi tadi mengalami kendala, produktivitas manusia pun bisa turun.

Hal ini tentu saja memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Semakin berkembangnya peradaban manusia berbanding terbalik dengan daya dukung lingkungan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa alam menjadi salah satu bagian yang harus dikorbankan demi kemajuan peradaban manusia.

Tambang adalah salah satu bidang yang menjadi pendukung utama dalam mengembangkan peradaban. Bahkan penggunaan hasil tambang juga menjadi salah satu parameter dimulainya revolusi industri berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Hampir segala lini kehidupan manusia memanfaatkan hasil tambang. Sebagai bahan bakar kendaraan maupun industri, sebagai bahan baku industri besar maupun kecil bahkan kosmetik yang kita pakai sehari-hari pun menggunakan hasil tambang sebagai bahan baku.

Minyak bumi merupakan salah satu hasil tambang yang paling banyak digunakan. Indonesia juga pernah mencatatkan diri sebagai Negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Namun, sejak tahun 1991 produksi tersebut terus mengalami penurunan. Pada tahun 2018 Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral menyebutkan bahwa hasil produksi dibawah target yang sudah ditetapkan yaitu 800 barel sementara produksi hanya mencapai sekitar 773 ribu barel (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Penurunan ini mengubah Indonesia yang awalnya menjadi Negara Pengekspor menjadi Negara Pengimpor minyak bumi.

Meningkatnya jumlah penduduk juga menjadi salah satu faktor meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar fosil ini. Salah satu yang sering kita lihat dan alami adalah padatnya jalan-jalan oleh kendaraan. Baik roda dua maupun lebih, baik milik pribadi maupun milik lembaga. Semuanya berebut tempat dijalan-jalan tersebut. Akibatnya konsumsi bahan bakar fosil pun terus meningkat. BPPT sendiri menyebutkan bahwa setiap tahun PT KAI memerlukan 200 juta liter bahan bakar untuk beroperasi. Sebuah angka yang sangat mencengangkan bukan?
Sumber : pixabay


Dari kenyamanan serta kemudahan itu, kita sebagai konsumen terbesar mulai mengabaikan faktor lain yang mengancam kelangsungan kehidupan dimuka bumi. Pelan tapi nyata, dampak dari energi tidak terbarukan itu telah menganggu siklus kehidupan. Jika kita merasakan suhu matahari semakin meningkat semakin tahun itu berarti tanda-tanda kerusakan yang telah kita lakukan terhadap alam sudah terjadi. Lalu apakah hanya itu saja? Berikut beberapa hal yang terjadi akibat penggunakan energi tidak terbarukan.

Polusi Udara

Untuk menggerakkan mesin baik pada kendaraan maupun mesin-mesin besar yang ada di pabrik masih mengandalkan bahan bakar fosil. Bahkan listrik yang kita nikmati saja menggunakan batu bara sebagai sumber tenaganya. Sementara itu hasil pembakaran energi tersebut menghasilkan zat-zat yang tidak terpakai yang berakhir di udara atau atmosfer. Meskipun pembuangan limbah-limbah ini sudah memiliki tata cara agar meminimalkan polusi tetap saja ada partikel-partikel yang lolos dan bebas berkeliaran diudara.


Bentuknya yang sangat kecil membuat mata tidak bisa melihat polutan-polutan tersebut. Sehingga zat-zat berbahaya tersebut menjadi terakumulasi jumlahnya selama bertahun-tahun lamanya dan tidak sengaja terhirup oleh makhluk hidup.

Pernahkah kita melihat langit dikota-kota besar yang tidak lagi terlihat biru? Warna abu-abu gelap yang menyelimuti itu bukanlah awan hujan melainkan polusi udara yang jumlahnya sangat banyak. Karena jumlahnya sangat banyak hingga membentuk lapisan baru.

Lapisan udara baru ini terdiri dari zat-zat pembakaran yang berbahaya jika terhirup oleh makhluk hidup. Diantaranya yang paling banyak adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NO2) dan sulphur oksida (SO2). Selain berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup, zat-zat ini bisa memerangkap sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi. Pantulan sinar matahari yang terperangkap ini menyebabkan pemanasan global. Fenomena ini mengantarkan kita pada perubahan iklim global yang disertai dengan bencana-bencana besar. Gelombang panas yang menghantam negara-negara sub tropis, kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang hanyalah sebagian kecil bencana yang terjadi akibat dari pemanasan global

Pencemaran Air

Pembukaan tambang juga beiringian dengan penurunan jumlah tutupan hutan. Kita tahu bahwa hasil tambang ini berasal dari timbunan jasad renik dan tumbuhan selama berjuta-juta tahun. Letaknya tersebar dimana-mana, kawasan hutan menjadi salah satu tempat tersimpannya kekayaan alam tersebut.

Selain mengurangi luasan hutan, proses penambangan ini juga menghilangkan mata air-mata air alami yang menjadi sumber kehidupan makhluk hidup disekitarnya. Lagi-lagi manusia menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya karena kekurangan sumber air bersih. Selain menghilangkan, proses penambangan ini juga mencemari air.

Areal bekas tambang sebagaian besar tidak lagi bisa digunakan bahkan untuk tempat tinggal sekalipun. Jika tidak dilakukan restorasi dengan benar, areal tambang ini akan menyisakan sebuah galian yang luas dan dalam. Bahkan air yang terdapat dalam galian tersebut sangat berbahaya jika terkonsumsi. Ketiadaan biota air menjadi salah satu indikasi bahwa air bekas galian tersebut tidak dapat layak untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Sementara itu limbah yang dihasilkan dari penambangan ini akan sangat berbahaya jika tidak dikelola dengan baik. Sudah banyak kasus yang menyebutkan tercemarnya sungai-sungai disekitar areal tambang akibat limbah yang tidak dikelola dengan benar.

Degradasi Tanah

Penurunan kualitas tanah terus terjadi. hal ini terus mengancam berbagai kalangan masyarakat. Sebuah artikel yang diterbitkan pada portal daring Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia menyebutkan bahwa tambang emas tradisional di Kab. Bogor menyebabkan kadar air-raksa (Hg) pada tanah dan beras tinggi. Hal ini disebabkan karena proses tambang menggunakan air-raksa sebagai pelebur butir emas. Tingginya air-raksa yang mencemari tanah akan terserap oleh tanaman diatasnya. Dan sangat berbahaya bagi tubuh jika tanaman tersebut dikonsumsi.

Tambang emas hanya contoh kecil saja karena ada ribuan areal yang digunakan sebagai tempat penambangan yang tersebar diseluruh negeri. Tentu saja hal ini menjadi daftar yang besar terhadap kerusakan yang terjadi pada tanah.

Ketiga poin diatas hanya sebagian kecil dari akibat yang disebabkan oleh penggunaan energi tidak terbarui. Punahnya satwa liar akibat hilangnya habitatnya juga menjadi dampat yang terjadi meski tidak dirasakan secara langsung oleh manusia.

Sebagai manusia yang mulia dan beradap, akankah kita membiarkan kerusakan-kerusakan tersebut bertambah dan semakin parah? Kerusakan yang terjadi adalah kepastian. Tapi seberapa besar kerusakan itu adalah pilihan yang terletak pada masing-masing individu.

Beberapa hal dibawah ini sudah saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan tapi juga perekonomian keluarga.

Perkotaan, Orang Orang, Kerumunan, Warga Negara, Orang
Add caption
Bijak menggunakan energi listrik

Beberapa pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri tanpa bantuan listrik seperti mencuci baju menggunakan tangan, membersihkan perabotan tanpa vakum cleaner. Untuk keperluan memasak pun semuanya menggunakan kompor gas kecuali memasak nasi. Saya lebih memilih jendela besar untuk membuat udara dirumah tetap nyaman atau menggunakan kipas angin jika udara terlalu panas.

Bijak menggunakan kendaraan bermotor

Beruntung jika kita tinggal dikota besar dengan fasilitas kendaraan umum. Karena kita bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk mengurangi penggunaan bahan bakar. Sayangnya tidak semua daerah di Indonesia memiliki fasilitas tersebut. tapi bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi dalam penghematan bahan bakar.
Kita bisa menggunakan kendaraan hanya jika diperlukan seperti melakukan perjalanan jauh atau membawa barang dalam jumlah besar. Jika tempat yang kita tuju bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda, gunakanlah. Selain menghemat energi juga menyehatkan badan kita.

Memilih menggunakan barang elektronik yang ramah lingkungan

Saat ini hemat energi banyak digunakan berbagai macam industri untuk memasarkan produknya. Tidak hanya untuk meningkatkan penjualan melainkan penggunaan teknologi yang efisien juga sebagai unggulan. Bahkan sekarang tidak sulit lagi menemukan barang-barang tersebut seperti lampu, mesin cuci, lemari pendingin hingga kendaraan bermotor pun sudah memiliki teknologi yang mampu mengolah energi lebih efisien.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di bit.ly/LombaBlogPerubahanIklim

Melakukan perubahan dan menjadikannya sebagai gaya hidup menjadi salah satu hal yang bisa kita lakukan dengan mudah. Sendiri tidak akan menciptakan sebuah perubahan. Tapi bersama akan membuat perubahan besar untuk menjadi lebih baik. Semua itu bisa diawali dari diri kita sendiri.

Selasa, 17 September 2019

ASAP KAPAN KAU PERGI?

18.20 8 Comments

Musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang terjadi semakin meresahkan banyak pihak. Saya memilih kata ‘musibah’ karena semua hal didunia ini terjadi atas ijin-Nya. Perkara itu disebabkan oleh perbuatan manusia atau bukan.


Sebelum itu adakah perbedaan antara pembakaran hutan dan kebakaran hutan?
Pembakaran hutan terjadi karena perbuatan manusia yang disengaja. Dahulu masyarakat tradisional melakukan aktivitas ini untuk membuka lahan. Umum diketahui bahwa sistem pertanian jaman dulu dilakukan berpindah-pindah. Sehingga aktivitas pembersihan lahan dengan membakar merupakan hal biasa.




 Koleksi pribadi

Berbeda dengan kebakaran hutan yang terjadi secara tidak sengaja. Pemicunya banyak namun yang paling banyak terjadi adalah karena perbuatan manusia. Salah satunya pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke area disekitarnya. Dan kejadian seperti ini sering sekali terjadi di Indonesia. Kelalaian lain yang bisa memicu kebakaran lain seperti membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah dan lain sebagainya                                                       
Karhutla tahun ini bukan yang pertama kali terjadi. Bukan pula yang jarang terjadi. Seperti halnya banjir yang sudah menjadi langganan terjadi di kota-kota metropolitan seperti Jakarta. Kebakaran seperti ini pun setiap tahun terjadi. hanya tingkat keparahan dan aktifitas pemberitaan saja yang membedakan.


Sebenarnya mengapa kebakaran ini kembali berulang?
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa salah satu ciri lahan gambut adalah selalu tergenang air. Batas aman dari genangan air ini adalah minimal 0,4 meter. Dibawah itu maka lahan gambut berada pada status berbahaya. Artinya sangat mudah sekali terbakar. Sementara berdasarkan Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA) pada periode bulan juli-agustus lahan gambut yang berada di 7 provinsi di Indonesia berada dalam status berbahaya. Ke-7 provinsi tersebut antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.




Awal agustus lalu, BMKG mengeluarkan sebuah press-release mengenai sebaran titik panas di seluruh Indonesia. Memasuki musim kemarau jumlah titik panas terus mengalami peningkatan. Per tanggal 25 juli jumlah titik panas sebanyak 1395 titik dan mengamali penurunan pada tanggal 1 agustus 2019 menjadi 703 titik. Kemudian pada tanggal 4 agustus mengalami peningkatan signifikan menjadi 3191 titik yang terkonsentrasi di wilayah Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Bahkan mulai tanggal 2 agustus sampai 6 agustus, tidak hanya Indonesia, tapi juga negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina dan Thailand masuk kedalam kategori diprediksi “sangat mudah” terjadi kebakaran.
Melihat kondisi cuaca seperti ini ditambah dengan kondisi ekosistem gambut saat ini semakin memperbesar peluang terjadinya kebakaran secara alami. Meski secara teori kejadian tersebut tidak mungkin terjadi di hutan Indonesia. Dengan catatan bahwa kondisi ekosistem baik-baik saja. Kenyataannya kerusakan gambut di Indonesia sangat parah dan terjadi sejak bertahun-tahun lalu. banyak sekali lahan gambut yang berubah fungsi menjadi lahan produksi seperti perkebunan sawit dan hutan produksi. Melihat hal tersebut tidak heran akhir-akhir ini banyak sekali terjadi bencana akibat dari kerusakan tersebut salah satunya kebakaran saat ini.


Lantas apakah semua itu dibiarkan menjadi sebuah kebiasaan? Tidak juga. Sudah banyak tindakan preventif yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun LSM yang fokus dibidang lingkungan. Diantaranya :

Badan Restorasi Gambut (BRG)
BRG yang didirikan secara khusus untuk menangani persoalan gambut. Lembaga nonstruktral yang dibentuk pada tahun 2016 melalui sebuah perpres no 1 tahun 2016. Lembaga ini berada dibawah dan bertanggungjawab langsung kepada presiden.

Kemarau panjang menjadi salah satu faktor terbesar bertahannya api yang membakar hutan dan lahan gambut. BMKG sendiri sudah mengumumkan bahwa tahun ini kemarau relatif lebih lama dibanding tahun sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut BRG membuat program sebagai tindakan preventif mencegah karhutla. Program tersebut diberi nama 7 Strategi BRG Menghadapi Kemarau.







Kanal atau parit merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mengeringkan lahan gambut. Hal ini dilakukan agar gambut bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti perkebunan kelapa sawit atau hutan produksi.

Pembangunan kanal ini memberikan peluang terjadinya karhutla. Sehingga BRG melalui salah satu programnya melakukan antisipasi dengan membangun IPG yang meliputi sumur bor dan sekat kanal.

Sekat kanal merupakan penahan air yang dibangun dibadan kanal. Fungsinya untuk menahan laju air yang keluar sehingga lahan gambut tetap tergenangi. Pembangunan sekat kanal di Provinsi Jambi memiliki pengaruh besar terhadap penurunan titik panas. Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) dan Dinas Kehutanan Jambi melaporkan bahwa area gambut yang dibangun IPG  dalam 2 tahun terakhir aman dan tidak terjadi kebakaran.

Di Kabupaten Kampar, Riau  dibangun sumur bor dalam waktu 3-4 jam  dengan kedalaman 20 meter. Meski tujuan utama dibuat untuk pembasahan namun saat ini digunakan untuk memadamkan api. Hal ini pun dilakukan di seluruh wilayah kerja BRG. Juga dilakukan pemantauan rutin untuk mengecek jumlah dan kondisi sumur bor. 

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI (BPPT)
Saya tidak pernah bosan mengatakan bahwa ekosistem gambut itu unik sehingga untuk menyelesaikan persoalan seperti kebakaran pun tidak cukup dengan menyiram air seperti saat memadamkan api.
Kebakaran lahan terjadi didua tempat yaitu diatas permukaan dan dibawah permukaan. Menyiram dengan menyemprotkan air hanya memadamkan api yang berada diatas permukaan. Sementara api yang berada dibawah permukaan tidak. Sehingga perlu dilakukan upaya lain seperti yang dilakukan oleh BPPT.
Salah satu unit kerja BPPT yaitu Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC)  membentuk posko operasi  Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) disetiap provinsi  lokasi karhutla. TMC yang umum dipahami dengan sebutan hujan buatan. Teknologi ini meniru proses terjadinya hujan. Yaitu dengan menambahkan secara langsung partikel higroskopik kedalam awan yang dibawa dengan pesawat. Dengan ini diharapkan hujan yang berasal dari awan turun lebih cepat.
Operasi ini membuahkan hasil dengan menurunnya jumlah titik panas. Untuk mengantisipasi peningkatan titik panas wilayah operasi pun diperluas. Dan terus dilakukan pemantauan.

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA
BNPB bersama Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA)  terjun langsung ke lokasi kebakaran. Pemadaman dilakukan baik melalui jalur darat dan udara. Melalui jalur darat pemadaman dilakukan dan pendinginan dilakukan sebagai upaya pencegahan meluasnya titik panas.
Sementara itu melalui jalur udara dilakukan water bombing menggunakan helicopter. Sayangnya upaya ini banyak mengalami kendala karena tidak semua helikopter bisa digunakan untuk mengangkat air kemudian menjatuhkannya dilokasi yang terbakar.

Masyarakat
Masyarakat menjadi pihak yang paling banyak merasakan dampak dari karhutla selain satwa liar dan ekosistem. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) banyak diderita korban. Sehingga banyak sekali dihimbau untuk menggunakan masker, mengurangi aktifitas diluar ruangan dan mengunjungi posko kesehatan bila merasakan gangguang kesehatan akibat menghirup asap.
Peran aktif masyarakat pun menentukan keberhasilan pemadaman dan pencegahan karhutla. Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap pemicu kebakaran juga menghindari menggunakan metode pembakaran untuk membuka lahan.
Masayarakat pun bisa berperan aktif dalam memantau kondisi dan jumlah titik panas. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meresmikan website http//sipongi.dephut.go.id yang bisa diakses masyarakat luas untuk memantau pendeteksian titik panas menggunakan satelit.


Bencana kebakaran ini merupakan persoalan yang serius. Penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja. Melainkan kolaborasi banyak pihak yang terus dilakukan secara berkelanjutan.
Oleh karena itu STOP saling menyalahkan. Bencana lingkungan ini tanggungjawab bersama. Mari saling dukung agar tercipta sebuah ekosistem yang lestari dan seimbang untuk kesejahteraaan bersama.


Referensi

Beberapa Foto milik pribadi (Kualitas kamera, pencahayaan dll memungkinkan terjadi perbedaan hasil foto dan kondisi di lapangan)
Diambil akhir pekan lalu







Kondisi Kota Pekanbaru diambil awal pekan lalu






Follow Us @soratemplates