Tampilkan postingan dengan label Alfameria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alfameria. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2020

Alfameria : Chapter VII

22.11 1 Comments
“Aksa!”

Kali ini Ameria datang menghampiri Aksa yang masih berada didalam kelas meski bel istirahat sudah berbunyi sejak tadi. Masih banyak siswa di dalam kelas namun Ameria tidak menemukan Alfa diantaranya.
Bang Ijal motret


Yang lebih mengejutkan bukan kehadirannya di kelas IPA 3 tetapi suara bisik-bisik dari murid-murid yang melihatnya masuk terutama mereka yang disebut cewek.

Dipandang demikian membuat Ameria merasa risih juga. Benar atau tidak berita itu tidak seharusnya teman-temannya menilainya demikian. Tidak pernah timbul masalah lain sehingga merugikan banyak pihak yang diakibatkan oleh berita itu. hubungannya dengan Aksa baik demikian juga dengan Alfa. hanya intensitas pertemuan saja yang berkurang. Tapi semuanya baik-baik saja.

“Kok gosip tentang kita awet banget ya? lama-lama risih juga kemana-mana dilihatin gitu.”

“Biarin aja. anggap aja kita lagi ngasih hiburan buat mereka.”

“Iya kalian cowok-cowok enak. Settingan awalnya udah cuek. Lah kita cewek-cewek kan baperan.”

“Bawa ke bengkel aja. nanti minta setting ulang. Sekalian minta aksesoris tambahan.”

“Emangnya aku mobil apa?”

Bersama dengan Aksa adalah momen terbaik untuk mengalihkan perhatian dari Alfa. jujur, Ameria merasa kehilangan dengan ketidakhadirannya alfa di hari-harinya saat ini.

Bersama Alfa sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dirubah dalam waktu singkat. Sekolah bahkan  rumah pun sudah terbiasa dengan jejak-jejak kehadiran Alfa. Ketiadaannya saat ini benar-benar menggoyahkan  hidupnya.

Bahkan bunda pun merasa rindu pada Alfa. Bunda kehilangan satu-satunya orang yang setia dan sabar menemaninya mencoba resep baru. Kemudian dengan rela menjadi orang pertama yang mencicipi hasilnya. Enak atau pun tidak Alfa selalu mengatakan yang sebenarnya. Dengan cara yang menyenangkan tentu saja. sehingga tidak ada alasan bagi Marisa untuk tidak menyukai Alfa.

Kelas Aksa masih ramai meski jam istirahat. Sangat berbeda dengan kelasnya yang berubah sepi karena teman-temannya akan bermigrasi ke kantin atau sedut-sudut sekolah yang tidak membatasi jarak pandang.

Diantara sekian bangku yang berpenghuni tidak satu pun yang Ameria harapkan ada disana. Bahkan ketika dia membuka lebar kelopak matanya orang itu tidak ada disana. Hanya ada tas hitam yang tetap diam dikursi samping Aksa.

“Dia nggak akan ada dikelas sebelum guru datang.”

Aksa mencoba menjelaskan agar Ameria tidak lagi mencari-cari keberadaan seseorang didalam kelas yang sebelum kedatangannya Alfa sudah pergi.

====

Gerimis kecil di sore hari membuat menguatkan warna hitam jalan beraspal. Juga sebagai pengingat agar pengendara lebih berhati-hati dalam mengemudi. Meski jarak pandak relatif aman tapi kita tidak bisa mengendalikan siapa saja yang akan melintasa di depan kita.

Alfa membelokkan kemudi mobil untuk memasuki gerbang komplek. Deretan pohon besar menyambutnya dengan hangat. Perumahan dengan desain back to nature menampilkan keselarasan manusia dengan alam, dengan menanam pohon-pohon di sepanjang jalan antara gerbang utama dengan hunian. Bahkan setiap rumah memiliki halaman yang cukup luas yang harus ditanamni minimal satu pohon jenis pohon berkambium. Sehingga nyaris tidak terlihat bahwa rumah-rumah modern ini terletak di pusat kota.

Belokan didepan akan membawa Alfa semakin dekat dengan rumahnya. Tempat yang paling dirindukannya saat ini. tempat yang akan membuatnya sedikit melepaskan penat dikepalanya bahkan mungkin hatinya.

Dalam kesendiriannya di ruang sempit itu Alfa tersenyum. Menertawakan dirinya yang dalam sekejap bisa memiliki dua kepribadian.

Dia bisa marah, murka bahkan ingin menghancurkan apapun yang ada didepannya. Hanya karena melihat dua sahabatnya duduk bersama, Ameria dan Aksa. Dia merasa bahwa posisinya telah direbut paksa oleh Aksa dan Alfa membenci itu.

Dilain kesempatan akan berbeda pula.

Seperti sore tadi, sebelum akhirnya Alfa memilih pulang.

Lapangan sekolah menjadi salah satu tempat favorit anak SMA Persada disore hari. Selain untuk kegiatan ekstrakurikuler tempat itu juga menjadi arena bermain. Dari sekian banyak siswa disana, Aksa dan Ameria ada diantaranya.

Ameria merlepas penutup kepala yang selama ini Alfa tahu hampir tidak pernah dilepas kecuali saat tidur. rambut sebahunya yang bergelombang diikat begitu saja. namun ikatan itu tidak cukup kuat sehingga beberapa anak rambutnya menempel dilehernya karena keringat.

Ameria bergerak kesana kemari. menjadi salah satu orang yang ikut bermain memperebutkan sebuah bola. Gerakan tangannya terlihat kaku ketika sedang memantulkan bola kemudian dioper pada Aksa. Aksa membawa bola untuk mendekati ring lalu melemparnya menghantam papan dan bola masuk melewati jarring.

Satu poin tambahan yang diperoleh itu membuat tim Aksa Ameria dan Rendi saling bersorak senang. Permainan yang menyenangkan bukan?

Jelas sekali Ameria menikmati aktivitas fisik itu. otot pipinya terus bergerak keatas seperti tidak kenal lelah. Salah satu ekspresi yang membuat Alfa tidak rela untuk merusaknya. Meski dia tidak menjadi bagian dari kesenangan sahabatnya, meski dia hanya bisa melihat dari jauh tapi Alfa sangat senang.

Hal itulah yang membuatnya mundur secara perlahan. Melupakan amarahnya. Mengabaikan kekecewaannya dan memilih untuk menikmati kesediha yang Ia rasakan. Lagipula itu hanya sementara, bukan?

Sebentar lagi mobil yang dikendarai Alfa akan berbelok. Melewati pohon akasaia yang salah satu tajuknya sangat rendah. Mungkin terkena angin dan belum ada pihak yang mengetahui untuk memotongnya. Karena keberadaan cabang pohon itu cukup mengganggu aktivitas pengendara. Membuat jarak pandang terhalang.

Seperti saat ini ketika sebuah bayangan melintas dan Alfa tidak menyadari. Secara reflek kakinya menginjak pedal rem. Membuatnya terdorong kedepan dan seketika memacu jantungnya berdetak cepat.

Sesuatu baru saja tertabrak!

Selasa, 05 Mei 2020

Alfameria : Chapter VI

14.31 0 Comments
Injury time!

bang Ijal motret

Lima menit sebelum bel berbunyi menjadi saat kritis untuk menunggu. Entah untuk istirahat atau untuk pulang sekolah. Sehingga diwaktu-waktu itu kegelisahan akan menjadi wabah yang menyerang semua penghuni sekolah. Serangan rasa lapar juga mengantuk hingga bosan membuat semua murid SMA Persada ingin segera meninggalkan bangku.

“Minggu depan kalian sudah UAS artinya waktu kalian di SMA ini tinggal sebentar lagi. Selain persiapan untuk ujian akhir nasional kalian juga harus mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.”

Dua bunyi panjang dengan nada yang paling disukai semua siswa pun berbunyi. Hanya saja Pak Yusuf atau yang biasa dipanggil Pak Ucup belum selesai dengan wejangan-wejangan khas guru BK.

“Jangan lupa datang ke ruang BK. Semua informasi perguruan tinggi ada disana. Bapak tidak akan mengumumkan satu per satu di dalam kelas. Kalian juga harus lebih aktif lagi.” Pak Ucup mendesah. Ia sedih pada Wakil Kepala Sekolah bagian kurikulum yang selalu meletakkan jam pelajarannya disaat kritis sehingga Ia lebih banyak mendapat ketidakfokusan siswa. Padahal materi yang diberikannya sangat penting untuk masa depan anak-anak.

“Baik. Pak!!!”

Jawaban keras dan sangat kompak itu diikuti dengan langkah kaki yang penuh semangat. Ditambah rasa lega akhirnya bisa keluar dari ruang yang semakin hari terasa semakin sempit.

Menjadi murid tahun terakhir dibangku SMA bukan perkara mudah. Rasanya pun tidak semenyenagkan yang kebanyakan orang lihat. Ada begitu banyak hal yang harus dicapai dalam waktu bersamaan.

Tuntutan dari sekolah untuk mendapatkan nilai tinggi demi menjaga reputasi sekolah. Kurikulum yang memberikan standar nilai yang nyaris mustahil dicapai tanpa kerja keras. Orang tua yang menaruh harapan besar pada anaknya. Tentu saja hal itu belum ditambah dengan persoalan pribadi seperti rasa lelah yang semakin hari terus bertambah. hubungan dengan sesama teman.

Tentu, itu hanya daftar pendek yang masih bisa disebutkan. Ketika hari-hari berseragam putih abu-abu semakin berkurang, beban lain pun menanti. Persiapan untuk mengenakan status baru, mahasiswa, pun menadi drama baru yang harus dihadapi. Seleksi masuk perguruan tinggi yang semakin tahun semakin susah untuk lalui. Bahkan untuk mereka yang cemerlang didalam kelas pun tidak bisa bersantai.

Mungkin mereka yang terlahir dari keluarga berlebih yang tidak terlalu memusingkannya. Atau mereka yang terlahir dengan kapasitas otak yang ada pada level genius. Yang tidak pernah merasa kesulitan karena kampus manapun selalu memiliki pintu khusus untuk mereka.

“Alfa, bisa temui bapak diruangan?” Pak Ucup menghampiri Alfa yang duduk dibangkunya. “Bapak menemukan kampus yang sesuai dengan minat kamu.”

Alfa mengangguk sebagai jawaban dari kesediaannya untuk bertemu dengan Pak Yusuf. Namun didalam hatinya timbul sedikit rasa khawatir akan tersebarnya pertemuan itu. Memang bukan hal yang perlu dirahasiakan namun Alfa sedang tidak ingin proses pencariannya menjadi perbincangan banyak orang.

Apalagi saat itu Aksa masih duduk disampingnya. Kemungkinan besar dia mendengar ucapan Pak Yusuf meski dia terlihat sedang sibuk.

“Aksa … barusan … eh … maksudku … tadi …”

 “Kamu khawatir aku cerita sama Ameria?” Aksa memberinya senyuman. “Jangan khawatir, kami nggak pernah berbicara dibelakang orang.”

“Ohh gitu.”

“Ngomong-ngomong … “

“Duluan, ya.”

Lagi, Aksa hanya bisa melihat punggung itu pergi. Alfa terlihat seperti orang yang sedang dikejar sesuatu sehingga tidak pernah satu detik saja tinggal dikelas. Bahkan Aksa yang hampir delapan jam bersama setiap hari tidak memiliki kesempatan berbicara. Padahal ada yang ingin sekali Aksa sampaikan. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia diskusikan. Tapi temannya itu seperti sedang menghindar dari kesempatan itu.

Bagaimana dengan Ameria? Wajar saja dia sangat merasa kehilangan sahabat terbaiknya.

“Ameria!”

====

Ada satu pemilik suara yang tidak ingin didengarnya saat ini. Tapi dunia seperti tidak mendukungnya. Kemanapun kakinya melangkah sepertinya seseorang itu selalu mengikutinya.

“Buru-buru amat?”

Inilah resiko memiliki kaki yang tidak panjang sehingga menghasilkan langkah yang tidak lebar pula. Meski sudah menambah ritme tetap saja dikalahkan oleh pemilik kaki panjang.

“Mau ke kantin? Apa perpustakaan?”

Ameria masih diam meski Aksa terus mengajukan pertanyaan.

Berkeringat sangat mengganggu di tengah cuaca yang super panas ini. terus mencoba berjalan cepat hanya akan membuat suhu tubuhnya semakin naik. Maka mengalah dan menghadapi Aksa satu-satunya cara.

“Mau ngadem dikelas.”

Aksa melongo melalui tubuh Ameria yang sudah berhenti berjalan.

“Kamu serius? Nggak ada orang lho disana.” Aksa tersenyum jahil. “Tapi ruang kelas sangat cocok untuk melanjutkan pembicaraan kita kemarin.”

Ameria merasa geram tapi sekaligus malu. Saat ini dia tidak siap untuk berhadapan dengan cowok jangkung itu. Ucapannya setelah pulang dari UGD kemarin memuatnya merasa malu. Tapi menghindar pun tidak ada gunanya.

Ameria berbalik, menatap dengan sedikit mendongak. Goresan yang cukup lebar di tulang pipi Aksa belum terlalu kering. Bahkan warna merah itu kini bercampur dengan warna biru.

“Oke.” Jawab Ameria menantang.

Tapi kenapa jantungnya jadi berdetak cepat saat berhadapan dengan Aksa seperti ini?

Luka ditubuh aksa tidak parah hanya lecet dibeberapa lengan dan wajah. Hanya saja rasa sakit dan nyeri biasanya baru terasa satu hari setelah kejadian.

Mungkin Aksa harus mendapat pelajaran khusus untuk tidak sembrono. Yang mengakibatkannya harus merasakan empuknya salah satu brangkar UGD.

Pagi itu saat di CFD Aksa mengajak Ameria untuk menyewa otopedyang disediakan oleh salah satu perusahaan jasa. Mereka berencana untuk berjalan-jalan menggunakan moda transportasi yang sedang naik daun itu.

Ini merupakan pengalaman pertama Ameria. Meski terlihat mudah tapi Ameria harus menjaga keseimbangan tubuhnya selama berada diatas pijakannya. Belum lagi mengkoordinasikan kaki dan tangannya ketika mulai berjalan.

Memang tidak perlu waktu lama bagi Ameria untuk benar-benar menguasai skuter listrik itu. rasanya benar-benar menyenangkan. Hingga dia tidak sadar sebuah mobil melaju mendekatinya yang berada dibahu jalan.

Aksa yang berada didepan. Sudah lebih dulu sampai  ditempat parkir khusus skuter listrik dan sedang berhenti untuk menunggunya itu langsung meninggalkan skuternya dan berlari mendekati Ameria.
Ameria tidak tahu detailnya karena kejadiannya begitu cepat. Yang dia tahu bahwa dia sudah berguling di trotoar dengan tubuh Aksa yang berdarah.

“Mer, mau jadi pacarku?”

Itulah kalimat yang Aksa ucapkan sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Beruntung kecelakaan tadi tidak berakibat fatal. Pingsan yang Aksa alami hanya efek normal karena kepalanya terbentur benda keras.

Alfa sampai beberapa saat setelah mereka sampai di UGD. Tak berapa lama dokter pun mengizinkan Aksa pulang.

Ameria mengira kejadian itu sebagai halusinasi yang dialami Aksa. Namun dia tidak bisa pura-pura tidak tahu karena Ameria sadar ketika mendengarnya.

 “Gimana kalau kita duduk dulu? Kakiku mulai kerasa sakit nih habis ngejar kamu.” Ameria memutar bola matanya.

Aksa tersenyum dan menarik lemabut tangan Ameria agar mengikutinya duduk di bangku yang ada di samping lapangan.

“Jangan jutek gitu dong, Mer.”

“Jangan lama-lama deh, Aksa. bentar lagi masuk nih.”

Lagi-lagi Aksa tersenyum. Sadar nggak sih kalau Aksa punya hobi tersenyum setiap saat?

“Mulai lagi kan, dasar Alfameria. Kelakuannya sama. Kalian janjian buat menghindar dari aku ya?”

“Maksudnya Alfa menghindari kamu juga?”

Kalimat yang juga Ameria pahami bahwa Alfa benar sedang berusaha menghindar darinya juga Aksa. Mengapa?

“Sebenarnya nggak bisa dibilang gitu juga. Dari dulu Alfa memang irit bicara. Nggak cuma ke aku. Sama anak-anak lain juga. Cuma akhir-akhir ini dia kaya lagi menjaga jarak aja. Ngomong seperlunya. Kalau mau aku ajak ngobrol agak panjang pasti langsung nyari alasan. Mau ke kantin lah, ngerjain PR lah. Padahal jelas banget kalau udah nggak boleh ada PR.”

“Aku sempet ngerasa gitu. Tapi dia masih bales chat aku. Kalau pas papas an gitu ya masih ngobrol. Cuma aneh aja. Tapi kok ke kamu juga? Yang lain juga nggak?”

“Buat kita-kita sih biasa aja sama sikapnya Alfa. Karena biasanya juga gitu.” Hanya saja Aksa memang merasa ada yang berbeda. Entah apa Aksa juga tidak tahu.

“Mer, soal yang kemarin.” Aksa memulia setelah ada jeda diantara mereka.

“Jangan menghindar gitu dong. Aku nggak maksud untuk bikin hubungan kita jadi canggung. Yang aku omongin kemarin benar serius. Sebenarnya pengen ngelakuinnya di tempat dan waktu yang bener aja. Jadilah spontan aja aku ngomong gitu.

“tapi, aku nggak akan minta maaf atau menarik lagi ucapanku. Bahkan saat hubungan kita jadi canggung atau kamu semakin menghindar dari aku. Aku akan berusaha lebih keras untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Karena ini perasaanku, tanggungjawabku. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani. Kalau kamu harus menolak pun akan aku terima. Tapi aku minta satu hal dari kamu. aku ingin kita tetap berteman, apapun yang terjadi.”

Ameria membuka mulut kemudian dikatupkan lagi. ia bingung harus menjawab apa. Disatu sisi ada banyak hal dari diri Aksa yang membuatnya merasa nyaman tapi disisi lain dia tidak ingin terburu-buru. Lagipula banyak hal yang ingin dicapainya saat ini. pacaran, tidak termasuk salah satu didalamnya.

“Tuh kan diem lagi.”

Mau tidak mau Ameria harus tersenyum. Meski sebenarnya dia merasa sangat canggung dengan kedekatannya dengan Aksa saat ini. Bagaimana pun juga Aksa bukan orang jahat yang harus dihindari. Bukan salahnya juga kalau punya perasaan pada Ameria. Bergaul dengannya pun tidak memberi pengaruh negatif. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berteman dengannya, bukan?

“Kasih aku waktu.”

“Tentu.” Selama apapun waktu yang Ameria butuhkan, Aksa akan selalu menunggu. “Teman?” Aksa mengangkat jari kelingkingnya.

“Apa sih, kaya anak TK.”

“Ayolah, Mer.”

Ameria tersenyum mengalah.

“Teman.”

Ameria menautkan jari kelingkingnya dengan Aksa. Sebuah momen bahagia yang sangat indah. Kenangan indah yang mampu membuat orang lain tersenyum. Meski selalu menyisakan hati yang terluka

Senin, 27 April 2020

Alfameria chapter v part 3

22.46 0 Comments
Alfa memandang sebuah persegi panjang berwarna ungu dihadapannya. Kotak berisi brownis yang Aksa berikan padanya beberapa hari lalu.

Pemberian Tante Marisa. Dan sebuah permintaan khusus untuk memberikan komentar terhadap hasil percobaannya membuat kue.
Motret sendiri


Sejujurnya Alfa terkejut ketika Aksa yang memberikan kue brownis itu padanya. Mengapa bukan Ameria sendiri yang memberikan? Dan kenapa harus melalui Aksa? Mungkinkah Ameria marah padanya?

Atau kah ….

Alfa menggeleng-gelengkan kepala. Menolak untuk melanjutkan kemungkinan-kemungkinan atas penyebab keberadaan yang ada diatas meja kamarnya itu.

Kemungkinan yang tidak berani dia bayangkan tentu saja tidak terjadi. kalau pun benar tante Marisa akan mengkonfrontasinya beberapa hari lalu saat Alfa menelpon untuk mengucapkan terimakasih.
Ameria, Alfa merindukanya.

Sepekan lebih Alfa tidak bertemu dan berbincang dengan sahabatnya. Meski kelas mereka bersebelahan tapi selama istirahat tak sekalipun ada pemandangan ketika Ameria dan Alfa sedang bercakap-cakap.

Ahh …
Alfa melihat Ameria. Dihari yang sama Ia mendapatkan kotak berwarna ungu tersebut. dihari ketika Ia tiba-tiba merasakan kemarahan yang hampir diluar kendalinya.

Tiga hari berlalu setelah hari itu. Alfa ingin kembali berbincang dengan Ameria.

Bukankah hari ini pekan pertama diawal bulan? Jadwal rutinnya untuk pergi ke perpustakaan umum. Itu artinya hari ini akan bertemu dengan Ameria. Dan pertemuan itu hanya ada mereka berdua.

Tapi tunggu, mungkin sebaiknya pertemuan hari ini tidak di perpustakaan. Mungkin Alfa perlu mencari tempat lain untuk membaca. Sebuah tempat terbuka dengan pohon yang banyak. Kemudian Alfa hanya perlu membawa buku dan sedikit makanan dan minuman sebagai bekal karena disana pasti tidak ada penjual makanan.

Sempurna!

Ameria akan terkagum-kagum dengan idenya itu. Ia pasti akan sangat girang karena menemukan tempat dengan suasana baru untuk membaca buku. Atau mungkin akan menjadi waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini ditahannya.
Motret sendiri


Alfa merasa sangat bersemangat sehingga langsung menghubungi Ameria.

Pada dering pertama Ameria tidak menjawab. Alfa pun mengulangi lagi. hingga dering ketiga masih tidak ada yang menjawab. Lalu sebuah pesan masuk.

Ameria  : Aku lagi dirumah sakit.
Alfa  : kamu sakit? atau tante marisa?
Ameria  : bukan
Ameria : Aksa tadi pagi kecelakaan. Dia keserempet pas lagi pakai otoped. Sekarang lagi diperiksa di UGD. Badannya lecet-lecet, Al (emoticon nangis).
Alfa : Yaudah, aku kesana sekarang.

Detik berikutnya Mama masuk kedalam kamar. Membawa setumpuk pakaian yang sudah selesai di setrika.

“Tumben belum siap? Nanti Ameria marah lho nungguin kamu kelamaan.”

Mama memasukkan pakaian kedalam lemari. Saat hendak menutup pintu lemari, Mama memandang cukup lama pada dinding didalamnya. Ada cukup banyak foto Ameria yang sengaja ditempel disana. Semuanya diambil secara sembunyi-sembunyi.

“Mama jarang ketemu Ameria tapi rasanya kaya tiap hari ketemu.”

Setelah menutup lemari Mama duduk di tempat tidur. Melihat anaknya yang masih mengenakan kaos tidur.

“Mau disimpan sampai kapan? Kamu baik sama dia, perhatian, kamu jagain dia. Tapi Ameria nggak akan tahu kalau kamu nggak bilang. Udah tiga tahun, Alfa.”

Alfa hanya duduk diam sambil memutar-mutar kursi yang didudukinya.

Tiga tahun? Ia tidak pernah mengira bisa menyimpan perasaannya nyaris 1000 hari lamanya. Alfa benar-benar pandai menata rapi rasa sukanya pada Ameria hingga ia sendiri merasa cukup dengan hubungannya saat ini.

Hari-harinya selalu dihabiskan bersama Ameria. Disekolah hingga dirumah, semua waktunya selalu dengan Ameria.

Persahabatan atau kah pacaran, bagi Alfa tidak ada bedanya. Selama bisa bersama, saling berbagi banyak hal sudah lebih dari cukup. Apakah Ia perlu memberitahu bahwa Ameria adalah ratu dihatinya?

Alfa tidak merasa perlu melakukannya. Toh, selama ini Ameria selalu menerima dan membalas semua sikap baik dan perhatiannya. Bahkan bisa dikatakan bahwa Ameria adalah satu-satunya orang yang paling mengenalnya selain mama papa.

“Kami baik-baik.”

Mama tersenyum. “Tentu kalian baik-baik saja. Tapi kalau suatu saat ada yang datang mendekati Ameria, apa semuanya tetap baik-baik saja?”

Kursi yang sejak tadi berputar-putar langsung berhenti. Energi yang sejak tadi digunakan untuk membuat kursi beroda mengalir hingga keatas. Memutar-mutar isi kepala alfa untuk memasukkan sebuah kode unik yang baru saja disebutkan mama lalu memprosesnya untuk menghasilkan sebuah jawaban yang selama ini tidak disadarinya.

Aksa menyukai Ameria.

Mama hanya tersenyum melihatnya. Dia tahu anak lelakinya itu pandai. Kesukaannya membaca buku hanya stimulan kecil untuk membuat cabang-cabang baru diotaknya. Hanya saja kecepatan reaksi otaknya berbanding terbalik dengan tingkah polanya. Ditambah kepribadiannya yang tertutup membuat orang lain semakin susah membaca sikapnya.

“Ma, menurut mama sebaiknya aku kuliah dimana?”

Senyum mama seketika memudar. Bagaimana mungkin topik pembicaraan mengenai perasaan berganti dengan kuliah. Sungguh hal ini benar-benar membuat Mama semakin tidak paham dengan jalan pikiran anaknya.

“Kamu serius tanya Mama?”

Alfa mengangguk mantap.

Mama harus kecewa pembicaraan tentang Ameria harus berakhir seperti biasa tanpa pernah ada ujung yang jelas. Namun, pembicaraan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. karena menyangkut masa depan yang selama ini tidak begitu menarik perhatian Alfa.

“Kamu maunya apa?”

Alfa hanya mengendikkan bahu.

Mama harus menggosok lengannya karena dibuat gemas oleh anaknya sendiri. Kecerdasaan otak kirinya boleh diatas rata-rata tapi kemampuannya untuk mengenal diri sendiri nyaris tidak mendapatkan nilai.

“Kalau Alfa tahu, Alfa nggak akan bertanya.” Alfa kembali diam. “Gimana kalau Alfa masuk IKJ?”

Mama memicingkan mata. menatap penuh selidik pada Alfa yang sejak tadi bersikap sangat tenang. Terlalu tenang bahkan. Mama ingin mencari barangkali ada sesuatu yang terlewat dari perhatiannya.

“Kamu yakin? Mama tidak melihat kamu punya ketertarikan dengan seni.”

“Memang harus ya? Nggak bisa kalau aku cuma ingin kuliah disana?”

“Bukan begitu. ketertarikan , kesukaan adalah bagian dari sebuah passion. Dan passion itu penting agar kita tetap konsisten dengan tujuan.” Mama memperbaiki posisi duduknya. “Kamu boleh kuliah di IKJ. Pertanyaannya adalah apakah dengan masuk IKJ tujuan kamu akan tercapai?”

“Belajar memang harus punya alasan, ya? Apa salah kalau aku masuk IKJ karena ingin belajar seni.”

“Setiap hal didunia ini diciptakan dengan tujuan. Mama memilih menyekolahkan kamu di Sekolah formal untuk mempermudah ketika ingin mendaftar di perguruan tinggi. Kakak kamu memilih langsung melanjutkan S2 karena ingin memperdalam ilmunya sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja. Kalau kamu cuma ingin belajar seni, kenapa harus nunggu masuk IKJ? Sekarang pun bisa.”
“Satu lagi,” lanjut Mama “buat keputusan itu karena diri kamu sendiri. Bukan karena mama bukan karena papa atau orang lain. Tapi karena kamu.”

Minggu, 26 April 2020

Alfameria chapter v part 2

19.08 0 Comments
Kabar burung yang ramai dibicarakan lama-lama membuat Alfa jengah. Hari-harinya jadi terasa lebih berisik karena telinganya selalu menangkap temannya berbisik tiap bertemu dengannya.
Awalnya Alfa tidak perlu merasa pusing dengan kabar selentingan itu. Selama bukan keluar dari mulut Ameria sendiri Alfa tidak akan peduli. Lagipula ada hal lain yang jauh membuatnya khawatir dibandingkan berita yang tidak jelas kebenarannya.
Bang Ijal motret


Namun respon teman-teman lah yang membuatnya tidak nyaman. Hari-harinya mulai dipenuhi dengan bisik-bisik perihal dirinya yang dicampakkan Ameria, kacang lupa kulitnya lah, habis manis sepah dibuang lah. Memang tidak pernah ada yang secara terang-terangan mengonfirmasi kebenaran itu padanya namun tatapan mengasihani itulah yang tidak ingin Alfa lihat.

Satu hal yang Alfa tidak bisa mengelak adalah kebersamaannya dengan Ameria sedang berkurang. Mungkin itu juga yang membuat berita itu bertahan cukup lama mengalahkan kabar putusnya Axel si kapten basket dengan pacarnya kapten tim pemandu sorak. Mengejutkan bukan?

Bukan tanpa alasan intensitas pertemuannya dengan Ameria berkurang. Karena minggu-minggu ini Alfa sedang melakukan sesi konsultasi dengan salah satu guru Bimbingan Konseling untuk menentukan masa depannya setelah lulus dari SMA Persada.

Kabar menggembirakan itu pun datang juga. Setelah melewati konsultasi panjang akhirnya Alfa menemukan satu jurasan yang akan ia ambil di IKJ. Meski guru BK tersebut cukup menentang keputusan Alfa untuk melanjutkan kuliah disana.

Dan hari ini Ia ingin membagi kabar bahagia tersebut pada sahabatnya. Namun sebelum itu Alfa harus ke depan sekolah terlebih dahulu untuk mengambil milkshake yang dipesannya melalui sebuah aplikasi jasa pesan antar. Itu juga yang membuatnya mengabaikan panggilan Ameria karena dia sedang terburu-buru mengambil pesanannya di pos satpam.

Dikedua tangannya sudah ada dua gelas plastik berlabel nama coffeshop. Sebuah oreo milkshake dan cappuccino bland. Alfa benar-benar kesulitan menyembunyikan kebahagiannya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya ditambah langkahnya yang penuh semangat membuat adik kelas yang ditemuinya merasakan aura bahagia yang sama.

Pada akhirnya Alfa akan mengatakan pada Ameria bahwa dia juga punya passion dalam dunia seni. Dan yang lebih penting lagi adalah kebersamaan mereka akan berumur panjang.

Rencana tetaplah sebuah rencana. Proses dan hasil adalah Tuhan yang menentukan. Senyum semangat yang begitu kuat memancar dari dalam diri Alfa perlahan meredup. Matanya yang berbinar kini hanya menatap penuh hampa pada seseorang berdiri sepuluh meter didepannya.

Keceriaan diwajah Ameria terpancar dengan jelas. Suara tawanya yang ringan pun tertangkap cukup jelas oleh telinganya. Ameria sedang merasa senang. Meski rasa itu tidak terjadi dalam kebersamaannya melainkan bersama Aksa.
Bang Ijal motret


Sulit untuk tidak ikut tersenyum. Meski didalam hati Alfa merasakan sesuatu yang berlawanan. Sesuatu yang membuatnya menarik diri dan membatalkan niat berbagi kebahagiaannya.
Mungkin Alfa harus membuka hati dan menerima kenyataan bahwa memang ada hubungan khusus antara Ameria dan Aksa. meski sebagian besar dari dirinya menentang keras. Namun, akankah Alfa rela memenangkan sebagian dirinya yang menentang hubungan Ameria dan Aksa lalu mengacurkan senyum bahagia itu?

“Ini buat kalian.”

Alfa memberikan minuman yang sudah susah payah dipesannya itu. dan tentu saja disambut baik oleh dua adik kelas perempuannya.

“Makasih, Kak.”

Sabtu, 25 April 2020

Alfameria : Chapter V part 1

22.23 0 Comments
Putih warna yang sedang ngetrend pagi ini. Jalanan dipenuhi orang mengenakan pakaian lambang kesucian yang dipadukan dengan warna lain seperti merah, biru dan abu-abu. Mereka yang berjalan kaki, kendaraan umum juga mereka yang turun dari kendaraan pribadi berkumpul di sepanang jalan yang menjadi alamat sejumlah sekolah.
Bang Ijal motret


“Jangan lupa pesanan Bunda buat Alfa.”

“Iya. Lagian kenapa harus di sekolah sih? Kan nanti aku bisa minta Alfa mampir ke rumah.”

“Suka-suka bunda, dong. Jangan lupa suruh dia chat ke bunda kalau udah selesai makan brownisnya.”

Ameria menatap Marisaa malas. “Yang sahabatan sama Alfa itu aku apa bunda?”

“Bawel kamu. Udah cepetan turun. Bunda udah telat, nih”

Ameria mencium pipi kanan dan kiri

Marisa sebelum keluar dari mobil.
Mobil SUV berwarna hitam itu pun berlalu bercampur dengan ratusan kendaraan lain dijalan raya. Begitu juga dengan Ameria yang sudah melebur ditengah ratusan murid SMA Persada.

Pagi ini SMA Persada sedang di hebohkan dengan sebuah berita. Habis manis sepah dibuang, begitulah headline news pekan ini. Sementara terduga pelaku tidak merasa sedang menjadi perbincangan seluruh penghuni sekolah. Anak perempuan yang bergosip di kantin, kamar mandi anak laki-laki bahkan rumput sintetis yang ada dilapangan pun semakin bergoyang dengan adanya kabar miring tersebut.

“Mer,”
“Hhmm …” Sang pemilik nama sedang
fokus mengerjakan soal terakhir dari pekerjaan rumah yang baru saja diberikan guru matematika. Sudah sewajarnya yang namanya PR dikerjakan di rumah. Tapi Ameria itu adalah sebuah larangan.

“Tapi kamu jangan marah, ya?”

“Iya.”

“Janji?”

“Iya. Ya ampun Citra. Kamu bikin aku jadi nggak konsen, deh.” Ameria meletakkan pensilnya dan mengganti posisi duduknya.
“Apaan?”

Teman sebangkunya itu menengok kanan kiri untuk memastikan teman-temannya yang lain sudah pergi ke kantin untuk menghabiskan waktu istirahat. “Kamu beneran pacaran sama Aksa?”

“Hah??”

“Kok kaget gitu, sih?”

“Gimana nggak kaget? Pertanyaan kamu itu ngaco.”

“Kok ngaco? Berita kalian itu heboh banget.” Ameria diam, merasa bingung dengan ucapan Citra. “Jangan bilang kamu belum ngecek grup WA.”

Ameria langsung mengeluarkan gawai dari dalam tas sekolahnya. Ia langsung mengarahkan pandangannya pada Aplikasi Whatsapp lalu langsung membukanya.
Ada banyak pesan masuk tapi hanya satu grup yang chatnya mencapai ratusan, Anila Persada19. Grup WA khusus Anak Ilmu Alam SMA Persada angkatan 2019.

Ratusan percakapan yang berasal dari ratusan anak sedang di scanning menggunakan mesin digital yang dimiliki indera penglihatan Ameria. Sehingga tidak perlu waktu lama untuk mengetahui topik hangat yang sedang diperbincangkan itu.

Ameria masih melihat beberapa kali Aksa memberi tanggapan. Seperti biasa Alfa sama sekali tidak pernah muncul dalam diskusi terbuka di dunia maya seperti ini.
Bang Ijal motret


“Ya ampun. Iseng banget sih yang bikin gosip.”

“Aku juga nggak tahu, Mer. Bangun tidur pas baca grup udah rame. Jadi ya, banyak yang ku skip. Tapi bener kalian nggak pacaran?”

“Bener, Cit.” tegas Ameria

 “Akhir-akhir ini aku juga lumayan sering lihat kamu bareng sama Aksa ketimbang Alfa.”

Ameria menutup aplikasi lalu memasukkan ponsel kedalam tas. Dia tidak ingin terlalu mengambil pusing kabar burung tersebut. Ameria pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun lima menit setelahnya, teman sebangkunya itu menyenggol bahunya.

“Alfa, tuh.”

Citra menunjuk satu-satunya murid laki-laki yang kemana-mana selalu membawa buku. Alfa baru saja berjalan melewati kelas Ameria.

“Al!” Ameria berteriak dari dalam kelas. “Duluan ya, Cit.”

Ameria bergegas mengejar Alfa. Dan kembali menyebut nama Alfa dengan lantang namun panggilannya tenggelam dengan suara yang dihasilkan oleh murid-murid yang sedang beristirahat. Alfa tidak mendengar seruan Ameria yang berdiri di lorong kelas.

“Alfameria!”

Seseorang menepuk bahunya. Membuat Ameria terlonjak kaget.

“Kok bengong gitu sih mukanya?”

“Ini namanya kaget Aksa.”

Aksa terkekeh geli melihatnya. “Kamu kok sendirian? Salah dong aku tadi manggilnya.”

“Beneran aneh ya kalau aku nggak sama Alfa?”

Aksa tersenyum. Bingung harus menjawab apa. Karena dia tidak merasa ada yang aneh dengan Ameria yang sendirian. Lagipula hari-hari terakhir Aksa cukup sering menghabiskan waktu bersama Ameria seperti jajan di kantin atau duduk di pinggir lapangan untuk melihatnya bermain basket.

“Aneh karena aku nggak bisa manggil Alfameria kalau kamu sendiri.”

“Emang yang aneh tuh Alfa. Akhir-akhir ini ngilang-ngilangan mulu kalau disekolah. Dikelas gitu juga nggak sih?”

Sejak Ameria pergi berdua dengan Aksa. Alfa memang jarang sekali menghabiskan waktu istirahat bersama Ameria. Ameria sendiri tidak pernah merasa risau karena dia sendiri tidak merasa ada yang salah. Hanya saja dia perlu memberikan pesanan Bunda kalau tidak bisa kena ceramah di sore hari.

“Hhmm … “ Aksa berpikir. Dia tidak pernah merasa ada yang aneh. “Biasa aja sih. Cuma dia lebih pasif aja dari biasanya. Lebih sering melamun.”

“Ya ampun. Kenapa ya? Apa sakit?”

“Kenapa nggak kamu WA aja? Atau telpon.”

“Kita nggak biasa chatingan, lebih sering ketemu dan ngobrol. Lagian kalo lagi jam sekolah gini dia suka matiin HP.”

“Makanya kamu juga jarang bales WA aku ya?”

“Apaan sih, Aksa. Bales, kok. Cuma lama.” Ameria menyeringai.




Jumat, 24 April 2020

Alfameria : Chapter IV part 2

19.42 0 Comments
Secangkir cappuccino hangat dan segelas oreo milkshake datang mengisi meja. Disusul sebuah plater berisi chips dan kentang goreng.


Alfa menyeruput minuman berkafein miliknya. Hangatnya mengalir melewati kerongkongannya. Perlahan bereaksi didalam tubuh dan membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

Nikmatnya minuman hangat itu membuatnya terlena hingga mengabaikan sahabatnya yang sedang bermuram durja. Memang Alfa sengaja menyeret Ameria keluar perpustakaann. Dia sadar perbuatannya itu sangat mengesalkan. Bahkan jika hal itu terjadi pada dirinya, murung saja tidak akan cukup untuk melampaiskan kekesalannya.

Tapi bukan Alfa kalau membiarkan wajah Ameria cemberut. Segelas minuman susu dengan taburan biskuit adalah salah satu titik lemah Ameria.

“Harus ada penjelasan yang lebih dari segelas milkshake.”

Alfa tersenyum melihat Ameria menyedot minuman susunya hingga separuh gelas. Kemudian mengambil satu persatu chips and fries tanpa berbicara. Lalu kembali dengan minuman yang tersisa hingga habis tak tersisa.

“Benar kalau buku tadi bikin mood membacaku berantakan. Tapi kalau aku tetap disana, mungkin kekesalanmu akan berubah karena aku tidak mau pulang.”

“Serius deh, Al.”

“Aku serius. Buku tadi bikin aku jadi tahu bahwa keserakahan manusia itu tidak akan pernah habis bahkan ketika alam sudah menunjukkan amarahnya.”

Ameria semakin tidak mengerti pembicaraan Alfa. Ia memilih mengambil tas Alfa dan mengeluarkan buku setebal 300-an halaman tersebut. Ameria hanya perlu membaca sekilas untuk memahami pembicaraan Alfa.

“Ini kan hanya prediksi dan pendapat seseorang aja, Al. Kenapa dibuat serius gitu.”

“Beda, Mer. Pendapat yang dijelaskan dibuku itu meringkas kejadian saat ini dan memproyeksikannya dimasa depan. Kamu ingat film The Day After Tomorrow yang pernah kita tonton?”

“Ingat. Film yang dibuat bahkan sebelum kita lahir, kan? Apa hubungannya?”

“Difilm itu kan menjelaskan keadaan bumi karena perubahan iklim. Kamu sadar nggak kalau itu benar-benar terjadi? Hujan es, peningkatan permukaan air laut, mencairnya es di kutub, kebakaran yang baru saja terjadi di Sumatra dan Kalimantan.”

“Hubungannya dengan buku ini?”

“Mereka sama.”

Ameria menyisihkan semua gelas dan piring. Meletakkan sikunya diatas meja untuk menyangga kepalanya yang bersandar pada telapak tangannya. Dia sedang memposisikan diri senyaman mungkin. Bukan pada topik yang dibicarakan Alfa. Tetapi pada Alfa sendiri. America perlu posisi yang nyaman untuk menikmati daya tarik pada objek dihadapannya. Yang terus berbicara dengan penuh semangat. Bahkan setiap kalimat yang Alfa ucapkan tidak benar-benar didengarnya.


Ini pertama kalinya Alfa antusias terhadap sesuatu. Biasanya semangatnya tidak akan setinggi ini jika membicarakan buku yang telah dibacanya. Dan tentu saja menjadi sisi lain dari alfa yang belum pernah Ia temui. 
Selama ini America mengenal Alfa sebagai sosok yang tenang, yang tidak mudah terpengaruh dengan kejadian disekitarnya. Yang selalu mendengar semua ocehannya meski sebagian besar hanya deretan mimpi yang Ameria sendiri tidak tahu akan terwujud atau tidak. Alfa yang selama ini menyukai apa yang Ia sukai. Tidak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada sesuatu, selain bacaan-bacaan yang terlalu berat untuk usianya yang baru 18 tahun.

Alfa yang tidak memiliki popularitas tinggi seperti Axel, kapten basket sekolah. Tidak  juga atletis seperti Aksa. Wajahnya pun tidak setampan Aliando. Alfa hanya remaja biasa yang kebetulan memiliki kecerdasan cukup tinggi, yang tidak memiliki banyak aktivitas selain membaca dan sekolah. Tapi hari ini terlihat berbeda. Matanya berbinar-binar penuh semangat. Tidak banyak senyum yang tercipta dibibirnya tapi kebahagian itu tergambar dengan jelas.

“Kita harus melawan keserakahan kita sendiri.”

Alfa menyudahi orasi panjanganya tentang sifat manusia dan dunia. Yang membuat Ameria terkesima sendiri. Dengan sebelah tangan Alfa mengangkat cangkir lalu meminumnya dengan elegan. Ameria bahkan mengira bahwa sahabatnya itu sedang mempraktekkan cara minum kopi yang baik dan benar yang diperoleh dari buku.

“Jadi menurut kamu apa yang bisa kita lakukan saat ini?”

“Entahlah. Membiarkan hewan hidup bebas di alam.” Alfa mengangkat bahunya cuek.

“Jadi kamu mau jadi penyelamat binatang-binatang buas, gitu?”

“Aku nggak tahu, Mer.”

“Kamu udah ngoceh panjang lebar gitu masih nggak tahu mau ngapain?” Ameria menghempaskan punggungnya ke belakang. “Kamu juga masih nggak tahu mau kuliah apa dan dimana?”

Alfa menghela nafas. “Kan aku udah bilang akan kuliah di kampus yang kamu pilih.”

“Tapi IKJ, Al. Kamu nggak pernah bicara soal seni. Dan kamu mau kuliah disana?”

“Kuliah itu untuk belajar, Mer. Bukan berarti karena aku nggak pernah membicarakannya lalu aku nggak mau memperlajarinya. Justru aku harus belajar sesuatu yang aku sendiri nggak tahu. Kalau aku udah tahu ngapain juga repot-repot belajar.”

“Lalu apa kabar dengan passion?”

Alfa berpikir. “Passion … kayanya ada di kulkasnya Tante Marisa, deh.”

“Alfa!”

Suara tawa mereka menyatu dengan suara music yang dipasang sejak kafe ini buka. Menambah hangat atmosferpersahabatan yang Alfa dan Ameria bawa kedalam kafe ini.

“Jadi kamu habis dari mana sebelum datang ke perpus?” Alfa akhirnya mengucapkan pertanyaan yang sejak tadi ditahannya.

Ameria meringis. “Aku habis dari CFD.”

“Sama Tante Marisa?”

“Mana mungkin. Bunda lagi sibuk nyobain resep dari youtube.” Sepotong kentang masuk kedalam mulut Ameria. “Percaya nggak kalau aku tadi pergi sama Aksa?”

“Aksa? Jadi itu alasan kamu nggak perlu dijemput?”

“Iya. Sebenarnya kemarin dia ngajak kita berdua cuma kupikir kamu nggak bakal mau.”

“Kenapa kamu mikir gitu?”

“Ya ampun, Alfa. Kita kenal udah lama. Dan aku tahu banget, kamu nggak akan keluar kamar sebelum jam makan siang. Kamu lupa, aku pernah minta ditemenin ke museum untuk cari bahan buat tugas. Kamu malah ngasih aku buku dan balik tidur lagi.”

Alfa mengaduk-aduk ingatannya. Sepertinya itu kejadian hampir dua tahun lalu. Saat ia merasa pusing karena terlalu asik membaca buku hingga subuh.

“Oh iya, Aksa ngajak kita nonton. Besok sepulang sekolah.”

Alfa berhenti mengaduk-aduk isi kepalanya. Namun, hatinya belum. Tidak biasanya kafein membuat jantungnya berdetak sangat cepat seperti saat ini.

“Kayanya aku nggak bisa. Aku harus ngantar mama ke bengkel buat ambil mobil yang mogok waktu itu.”

“Yang waktu itu belum selesai? Yah … masa kamu nggak ikut lagi.”

“Mau gimana lagi, nggak enak kalau nolak mama.”

Sebenarnya Alfa sedang mencari-cari alasan saja. Mobil Mamanya sudah dirumah sejak kemarin. Dia hanya perlu mencari alasan untuk menghindar dari ajakan Ameria. Meski akhirnya harus mengecewakan Ameria.


Melarang Ameria pergi dengan Aksa sangat tidak mungkin. Karena Alfa tidak punya hak. Bahkan dia sendiri tidak tahu mengapa tidak suka ketika Ameria dekat dengan Aksa.

Hubungan Alfa dan Ameria tidak lebih dari seorang teman dekat. Yang didekatkan dengan kesukaan yang sama. Tidak pernah ada yang menerjemahkan kedekatan itu sebagai sesuatu yang spesial. Meski orang lain melihatnya berbeda.

Karena menghormati hubungan itulah, baik Alfa maupun Ameria mau mengharap lebih. Hanya saja mereka tidak bisa mengendalikan rasa yang Tuhan berikan. Yang pelan-pelan menyelinap. Mereaksikan perasaan yang ada sehingga membentuk rasa baru yang tidak pernah disadari.

Selasa, 21 April 2020

Alfameria : Chapter IV part 1

00.40 12 Comments
Untuk membuat brownis dengan citarasa coklat yang cukup kuat harus menggunakan banyak komponan dari pohon coklat. Coklat bubuk yang dicampur dengan tepung terigu dan coklat leleh. Sayangnya Marisa melupakan coklat block dalam daftar belanjanya kemarin sehingga. Ingin menunda saja tetapi beberapa bahan sudah menjadi adonan sementara jika harus membeli saat itu juga butuh waktu yang lumayan karena jarak rumah dengan supermarket cukup jauh.

Bel berbunyi tetapi Marisa tidak mendengar karena masih bimbang dengan kedua pilihannya tersebut. Pada bunyi yang kedua Marisa langsung tersentak. Kepalanya otomatis langsung menoleh pada dinding di sebelah kiri.

“Masih pagi.” Jam dinding menunjuk angka 05.30. “Tumbenan Alfa udah kesini”

Untuk yang ketiga kalinya bel berbunyi.

“Ini anak iseng banget sih pake bunyi-bunyiin bel.” Marisa menggerutu kemudian membuka pintu. “Masuk aja kali, Al. Eh, bukan Alfa. Hallo!”

“Pagi Tante,” Sapa Aksa.

“Pagi.” Tante Marissa membalas dengan nada yang sama cerianya dengan kicau burung diatas pohon. “Siapa, ya?”

“Saya Aksa, Tante. Teman sekolahnya Ameria. Kemarin udah janjian mau ke CFD.”

“Car free day?” Marisa menggumam heran.

“Masuk dan tunggu didalam aja, ya. Biasanya jam segini Amey belum keluar kamar.”

Aksa masuk dan berjalan mengikuti Marisa.

“Duduk dulu. Mau minum apa?”
“Nggak usah, Tante. Cuma sebentar aja kok.”

“Hhmm kaya Alfa aja malu-malu pas pertama kali datang.  Tenang aja, minuman kamu udah habis juga Amey masih dandan.”

“Apaan sih, Bun.” Sahut Ameria sambil menenteng sepatu bertali.

“Eh … anak bunda udah bangun.” Marisa berjalan masuk dan menghampiri Ameria yang tengah duduk di meja makan.

Rumah Ameria tidak memiliki dinding penyekat kecuali kamar sebagai ruang pribadi. Hanya menggunakan partisi-partisi kayu untuk membedakan ruangan tamu dan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Sehingga setiap orang bisa melihat dengan mudah isi dari dalam rumah itu.

“Siapa?” tanya Marisa sambil berbisik.

“Teman sekolah.”

“Berdua aja. Alfa nggak ikut?”

“Jam segini mana mungkin Alfa keluar kamar.”

“Kamu?”

Pertanyaan dan jawaban singkat ini mirip dengan kejadian di ruang interogasi. Marisa sebagai penyidik dan Ameria sebagai tersangka.

“Aku mau nyoba hal baru aja, Bun.”

“Hari minggu bukannya kamu pergi sama Alfa?”

“Ke perpusnya kan siang. Lagian CFD cuma sampe jam 9 aja.”

Marisa masih merasa janggal dengan rencana Ameria. Selama 18 tahun tinggal bersama, Ameria paling sulit diajak melakukan hal baru. Butuh pengantar panjang dan berliku untuk membuatnya berkata, “Iya, deh.”

“Kamu sama Alfa nggak lagi berantem, kan?”

“Ya ampun, Bunda. Aku sama Alfa baik-baik aja. Kemarin kan masih nganterin aku pulang.”

“Ya kali berantem virtual yang dibawa ke dunia nyata.”

“Bunda, iihhhh. Apalagi itu berantem virtual.” Ameria mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Kemudian menunjukkan ruang percakapannya bersama Alfa. “Nih.”

“Bukan Bunda nggak percaya, Mey.”

“Bunda kuatir aku berantem sama Alfa.” Ucap Ameria mendahului. “Kita nggak mungkin marahan. Dunia kebalik kalau Alfa sampe marah. Udah, Ah. Aku berangkat dulu.

Marisa ikut berjalan sampai kedepan rumah. “Mey, nitip beliin coklat blok ya? Uangnya Bunda ganti kalau kamu udah pulang.” Teriak Marisa ketika Ameria hendak masuk kedalam mobil.
Pixabay


Marisa memang memiliki pembawaan sangat santai. Terutama dengan temna-teman Ameria. Dengan bersikap seperti itu Marisa juga bisa mengenal lingkungan pergaulan anaknya. Tidak heran kalau Marisa bisa dekat dengan Alfa.

Berbeda dengan Ameria yang sering merasa malu dengan sikap Bundanya yang menurutnya lupa usia. Setiap Alfa datang ke rumah lebih sering menghabiskan waktu bersama Marisa dibanding dengannya. Sehingga America selalu mengajak Alfa pergi kalau tidak ingin sahabatnya itu disabotase Marisa.

Chapter sebelumnya Jam Kosong Ala Alfameria

====

“Hey,”

Alfa mengamati seseorang yang baru saja menghampirinya. Berdiri tegak dihadapannya. Dengan topi putih bertengger manis dikepalanya. Rambutnya diikat menjadi dua bagian yang salah satunya jatuh dipundak. Jaket yang dikenakannya kini sudah menutupi sandaran kursi. Menampakkan kaos berwarna mint yang basah dibagian leher.

“Kamu telat.” Ucap Alfa tanpa memberi komentar pada penampilan Ameria.

“Sorry, sorry.” Ameria menarik kursi pelan dan duduk mengendap. Seperti murid yang takut ketahuan karena terlambat masuk kelas. “Baca buku apa?” Ameria kembali menunduk untuk mengintip judul dari buku yang sedang dibaca Alfa. “Ya ampun, Al. jauh-jauh ke perpus tapi bawa buku dari rumah.”

“Tanggung, Mey. Bentar lagi kelar.” Alfa membalik halaman.

Kalau anak buku sedang asik membaca tidak akan memedulikan sekitarnya. Maka Ameria pun pergi untuk mengambil buku. 
Kali ini dia menghampiri rak yang berisi buku-buku seni, hiburan dan pertunjukkan. Dia membutuhkan tambahan referensi untuk memastikan pilihan jurusan yang akan diambil ketika kuliah nanti. Meski sudah memantabkan hati untuk menjadi mahasiswa di IKJ.

Pixabay


Marisa mengatakan bahwa lakukan apapun yang sesuai dengan passion kita. Agar kita tidak mudah menyerah ketika kesulitan menghampiri. Kita akan berusaha lebih giat lagi untuk menaklukkan sebesar apapun rintangan yang menghadang. Bahkan ketika orang lain memandang rendah, kita akan tetap fokus pada pilihan itu. dan tidak akan berhenti sebelum tercapai.

Sebuah buku tentang jurnalisme pertelevisian Indonesia diambilnya. Ameria tertarik dengan dunia perfilman dan pertelevisian, namun pengalamannya mengikuti casting membuatnya menghapus mimpi menjadi artis. Akhirnya buku tersebut kembali pada tempatnya semula.
Sebuah getaran terasa di saku celananya. Layar ponselnya menunjukkan sebuah pemberitahuan dari Instagram. Ameria teringat bahwa hari ini postingan di feed instagramnya belum bertambah.

Rupanya akun media sosial membawanya untuk mengambil sebuah buku yang berisi desain grafis. Aktivitasnya sebagai seorang bookstagram, mau tidak mau, memaksanya untuk menguasai teknik mengambil gambar, mengedit gambar untuk memberikan hasil yang instagramable.

Buku itu benar-benar menenggelamkannya. Baris demi baris kalimat Ia baca tanpa terlewat. Ditambah gambar-gambar ilustrasi yang membuatnya semakin enggan walau untuk berkedip. Mungkin ini buku non fiksi pertama yang memikatnya pada pandangan pertama. Hingga membuatnya tidak sadar, seseorang tengah berdiri menatapnya.

“Nggak tahu ada fasilitas kursi disediakan biar orang membaca sambil duduk?”

Ameria hanya memamerkan deretan giginya.

“Tanggung, Al. Lagi seru.”

“Tumben, bukan novel atau buku bergambar?”

“Yee … emang aku anak TK baca buku bergambar.” Ameria mencebik. “Kamu udahan bacanya?”

Alfa mengedikkan bahu.

“Kenapa?” Ameria merasa heran dengan sikap Alfa. Tidak seperti biasa. Seburuk apapun buku yang selesai dibaca akan membuatnya tersenyum. Meski komentar menkritik yang banyak keluar dari mulutnya.

Alfa mendesah. “Buku ini bikin aku … jadi … ngantuk.”

Pernah lihat kartun Tom and Jerry? Yang mulut bagian bawah Tom jatuh sampai menyentuh lantai. Itulah yang terjadi pada Ameria.

“Ke kafe depan, yuk! Biar bisa ngobrol tanpa bisik-bisik.”







Selasa, 31 Maret 2020

Alfameria_CHAPTER III

23.20 0 Comments


Jam kosong bagi sebagian besar murid SMA Persada adalah golden moment. Mereka bisa berada di sekolah tanpa harus dibuat stres oleh kimia, fisika, matematika, akuntansi dan huruf kanji untuk anak bahasa. Meski seharusnya mereka harus didalam kelas karena selalu ada tugas yang harus mereka kerjakan.
Pixabay

Ada dua tempat utama yang menjadi konsentrasi siswa, kantin dan halaman sekolah. Mereka biasanya akan menghabiskan sebagian besar waktu dengan jajan dikantin sambil bergosip, melakukan permainan di lapangan atau hanya sekedar duduk di taman.
Begitu juga dengan Alfa, biasanya dia akan duduk di pojokan perpustakaan menghabiskan buku yang Ia bawa dari rumah atau buku-buku yang ada diperpustakaan. Salah satu koleksi perpustakaan SMA Persada yang menjadi favoritnya adalah buku-buku biografi.
Golden moment kali ini Alfa habiskan dengan duduk di taman. Ia sedang malas untuk berjalan menuju perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dengan kelasnya.
Sebuah meja semen dibawah pohon ketapang kosong, disanalah Alfa akan menghabiskan dua jam kedepan. Tujuh belas menit berlalu tapi buku dengan warna sampunya yang mulai pudar masih tertutup. Mata penuh kesedihan dari gadis kecil yang ada disampul itu seperti kehilangan daya tariknya.
“Alfa, Alfa lihat, deh. Aku panen DM lagi.” Ameria menghampiri Alfa dengan semangat. Dan langsung menunjukkan kolom direct message di akun Instagram miliknya yang diberi nama @amrbookland. “Mereka minta rekomendasi novel-novel yang diangkat dari kisah nyata.” Alfa masih belum menanggapi.
“Aku jarang baca novel gituan, jadi koleksiku nggak banyak. Buku apa ini?” Ameria mengambil buku yang ada di hadapan Alfa. “Three cups of Tea, boleh juga nih. Setting tempatnya juga keren, Himalaya.”
Alfa hanya menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Ameria. Kali ini dia memakai bandana dengan simpul ikatan dipuncak kepala. Rambutnya diikat agak tinggi sehingga bergoyang-goyang setiap kepalanya bergerak. Seperti sekarang ketika sedang membicarakan permintaan dari pengikut di akun instagramnya. Tidak hanya tangannya, bibir, mata bahkan alis semuanya bergerak. Ameria selalu bersemangat dan antusias terhadap hal yang disukainya.
“Menurut kamu gimana?”
“Buat polling aja. Pake feature yang ada diinstastory.”
“Oh iya. Kok aku nggak kepikiran ya? Padahal aku sering lihat di akun bookstagram lain.”
Ameria kembali mengarahkan matanya untuk fokus pada layar ponsel. Keriuhan yang terjadi seperti tidak membuatnya terganggu, sedikit pun. Anak-anak cheerleader yang sedang berlatih, lapangan yang dipenuhi teriakan saling mengumpan bola atau sekelompok murid perempuan yang histeris penuh semangat melihat permainan  kapten basket sekolah pun berlalu begitu saja.
“Kamu nggak capek? Tiap hari mikir buat bikin postingan, jungkir balik cuma buat foto bahkan kamu nggak kenal sama follower kamu.”
“Karena aku suka.” Menulis tetapi mulutnya ikut bergerak. Mirip seperti mbah dukun mengucap mantra. Begitulah salah satu tanda ketika Ameria sedang serius dengan satu hal. Jika hal itu terjadi, jangan baper dengan jawaban singkat atau diabaikan.
“Nggak jelas.” Alfa mencemooh.
“Sahabat terbaikku Alfa,” Ameria meletakkan ponsel pintarnya. “Tidak ada satu hal di dunia ini yang tidak memiliki kejelasan. Bahkan ketika Mr. Mark menciptakan Instagram juga punya tujuan.” Ucap Ameria diplomatis.
“Biar dia dapat uang.”
Ameria mencondongkan badannya. Memandang tepat kedalam mata Alfa. “Sebuah senyuman yang tercipta dari usaha kita lebih berharga dari permata.”
Wajah Ameria begitu dekat. Nafas Alfa nyaris berhenti ketika bola mata Ameria terlihat sangat jelas. Alfa terkunci. Namun, sedetik kemudian dia memalingkan wajah untuk mengambil oksigen sebanyak mungkin.
“Teori absurd apalagi itu.” Alfa kembali bersuara ketika dadanya kembali bergerak tenang.
“Profesor Marisa Hanafi.” Ameria tergelak sendiri setelah menyebut nama bundanya dengan gelar tertinggi dari seorang dosen. Alfa sendiri tanpa sadar ikut tertawa meski tidak bermaksud untuk menertawakan.
“Kayanya kamu harus tinggal dipedalaman hutan kalimatan dulu, deh. Terus kamu selamatin Orang utan, Anakonda, dan semua hewan-hewan yang jadi korban kebakaran. Jadi kamu nggak perlu capek-capek memahami teori absurd tadi.” Lajutnya dengan teori yang lebih absurd lagi.

“Aku tuh nggak ngerti sama rencana kamu, ya. Ikut casting cuma buat pembuktian. Milih kuliah di IKJ juga cuma untuk memastikan pilihan. Terus sekarang sibuk ngurusin Instagram. Sebenarnya kamu mau fokus dimana sih?”
“Fokus sama hal yang aku suka.”
Alfa hanya memberikan cibiran. Kemudian menarik kembali buku yang sejak tadi belum dibacanya.
“Alfameria!”
Sebuah bola berwarna oranye bergerak. Memantul semakin lama semakin rendah. Kemudian menggelinding ke bawah kaki Alfa. Hanya saja Ia tidak menyadari sesuatu menyentuh sepatu hitamnya. Ameria yang mendengar namanya dipanggil mengetahui kedatangan bola basket itu lalu melemparnya.
“Makasih ya, Mer.” Aksa tersenyum.
Jam kosong menyumbangkan lembar penuh warna dalam buku cerita masa abu-abu. Bahkan jika hanya dihabiskan dengan duduk dan mengobrol. Tapi dari obrolan itulah, baik singkat atau panjang, akan menjadi penentu pada detik kemudian.
====
“Mati gaya deh kita.” Ucap Ameria lesu.
Ucapan Ameria sangat bertolak belakang dengan teman-temannya. Mereka berhamburan keluar kelas dengan penuh rencana. Ada yang pergi ke mall sekedar jalan-jalan, hunting kafe yang lagi trending atau pergi ke rumah teman sekedar untuk menghabiskan waktu. Semua rencana itu terdengar jelas ditengah keriuhan menyambut pulang pagi.
Alfameria, sebutan Aksa untuk Alfa dan Ameria, manganggap pulang pagi menjadi hal yang menyebalkan. Bagi mereka yang terbiasa hidup dengan rencana akan kebingungan dengan waktu yang tidak terjadwal.
Pixabay

“Mau ke perpus?” usul Alfa.
“Kan minggu besok kita kesana. Masa seminggu dua kali.”
“Toko buku?”
“Udah weekend kemarin. Novelku juga belum selesai semua.”
“Masa kita jalan ke mall.” Ucap Ameria murung.
Mall adalah salah satu tempat yang enggan mereka kunjungi. Keduanya pernah mengalami hal tidak menyenangkan. Semua itu terjadi ketika mereka ingin mencoba hal yang biasa dilakukan teman-temannya, jalan-jalan di mall. Hanya saja pilihan waktu yang kurang tepat sehingga meninggalkan kesan yang tidak mengenakan.
Saat itu ada sedang berlangsung meet and great artis. Acara yang diselenggarakan dalam rangka promo film terbaru. Film yang bercerita tentang gaya pacaran remaja yang kelewat batas sangat booming sekali. Terbayang kan betapa penuhnya pusat perbelanjaan saat itu. Bahkan pihak dari managemen mall mengerahkan petugas tambahan untuk mengamankan acara. Hal itu belum ditambah dengan pengamanan dari managemen artis sendiri.
Kejadian itu membuat mereka kapok. Masih terasa bagaimana penuh dan pengabnya gedung sebesar itu. Akhirnya setiap kali pergi ke mall, mereka selalu menghindari akhir pekan. Itu juga yang membuat mereka memilih toko buku langganan yang berada di gedung sendiri. Selain koleksi yang lengkap juga suasananya yang tenang dan kondusif untuk menjelajah.
Sebenarnya ada, sebuah tempat yang ingin Alfa datangi bersama Ameria. Sebuah tempat terbuka dengan angin yang bertiup cukup kencang. Hanya saja konsep tempat itu sangat berbeda dengan kebiasaan mereka selama ini. Yang menurut Alfa tidak akan disukai oleh America. Namun Alfa ingin sekali kesana.
Meski ragu untuk mengusulkan pergi kesana, apa salahnya mencoba. Paling kalimat sarkas Ameria yang akan Ia dengar sebagai bentuk penolakan. Dan mereka akan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, menyelesaikan gunungan buku yang belum dibaca. Tempat paling nyaman tentu saja.
“Mer, kalau …”
“Alfameria!” Aksa berlari menghampiri mereka. “Mau langsung balik?” Aksa mengajukan pertanyaan untuk keduanya.
“Nggak tahu, nih. Lagi bingung juga mau kemana.” Jawab Ameria.
“Nonton pertandinganku aja.”
“Hah?”
“Anak-anak udah ada acara semua. Supporter bayaraku juga lagi sibuk.”
“Kamu serius?”
“Nggak percaya, ya? Gini-gini aku atlet, lho. Bener kan, Fa?”
“Iya. Aksa memang Atlit badminton. Pernah mewakili sekolah kita untuk ikut Porseni.”
“Serius! Kok kamu nggak pernah cerita sih, Al.”
Aksa tersenyum, “Jadi gimana? Kalian bisa datang kan?”
“Bisa-bisa.” Balas Ameria antusias. “Jam berapa tandingnya?”
“Jam dua. Cuma lokasi tandingnya lumayan jauh dari sini. Belum macetnya. Ini aku mau langsung kesana.”
“Oh iya bener. Harus pemanasan dulu ya.”
Aksa tertawa mendengar jawaban polos Ameria. “Aku tunggu disana, ya.” Aksa pergi terlebih dahulu. Bergabung dengan anak-anak yang sudah memenuhi halaman depan hingga gerbang sekolah. Membuat satpam kewalahan untuk memastikan murid-murid aman di jalan.
“Alfa, kamu tahu tempatmya kan?”
=====
Gelanggang olahraga siang ini sepi sekali. Nyaris tidak terdengar suara yang menunjukkan sedang berlangsungnya pertandingan. Meski halaman parkir cukup penuh. Ameria harus berulang kali memastikan bahwa Alfa tidak salah tempat.
“Percaya deh, Mer. Bener kok tempatnya disini.”
“Habis sepi banget.”
“Berarti lombanya udah mulai.”
Benar saja, ketika Ameria masuk melalui pintu sebelah barat gedung, dua orang remaja sedang beradu di dalam lapangan. Tepat saat Ameria duduk di salah satu bangku penonton pertandingan tersebut berakhir.
Tepuk tangan penonton pun menggema. Beberapa orang ada yang berdiri berteriak penuh semangat.
“Kita udah ketinggalan, ya? Tapi kan Aksa belum main.” Ameria menengok kanan kiri, penasaran karena ini adalah pertama kalinya menonton pertandingan secara langsung. Biasanya Ia hanya menyaksikan melalui layar TV saat menemani ayahnya. Itu pun hanya sebentar karena menurutnya tidak menarik.
“Belum. Yang barusan selesai itu perebutan juara tiga. Habis ini final, perebutan juara satu dan dua. Tuh Aksa.”
Alfa menunjuk laki-laki berambut cepak sedang berjalan ketengah lapangan. Ditangan kanannya yang memagang raket terpasang handband berwarna putih. Senada dengan warna kaosnya yang bercorak hitam.
“Kok kamu bisa tahu banyak sih, Al?”
Aksa melambaikan tangan. Ameria membalasnya dengan anggukan kepala kemudian tertawa lebar tanpa suara. Penampilan Aksa benar-benar membuatnya enggan memalingkan pandangan. Kaos jersey dengan celana pendek khas atlet itu benar-benar membuat Aksa terlihat berbeda, lebih segar dan percaya diri. Sangat berbeda ketika mengenakan seragam sekolah.
“Aku lumayan sering kesini. Setiap bulan pasti ada turnamen, kadang  basket, volley, futsal. Aku juga beberapa kali lihat Aksa tanding. Mer?”
Alfa memastikan sahabatnya masih duduk disampingnya. Karena sejak tadi Ia merasa seperti sedang bermonolog.
Dan benar saja, Ameria tidak menyimak setiap kata yang Alfa ucapkan. Dia sedang berbincang dengan Aksa. Meski jarak antara lapangan dan tribun penonton cukup jauh tidak menghalangi komunikasi tanpa suara itu. Ameria terlihat bahagia meski keringat mulai membasahi keningnya. Membuat poninya basah dan menempel di dahi.
Pixabay

“Mer?”
“Oh, gitu ya.” Jawab Ameria sedikit tergagap. “Panas ya disini.” Ameria mengibaskan telapak tangannya.
Alfa tersenyum. Dia tahu Ameria sedang gugup. Sahabatnya itu tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Jelas sekali Ameria  tidak mendengar penjelasannya. Tapi Alfa tidak tersinggung, karena Ameria sahabatnya. Dan Dia berusaha menjaga perasaannya dengan bersikap pura-pura.
“Mau kubelikan kipas? Biasanya diluar banyak pedagang asongan yang jualan.”
“Nggak usah. Nggak apa-apa, nanti juga dingin sendiri. Eh, udah mulai tuh.”
Ameria benar-benar merasa tidak enak. Meski sudah berteman lama tapi sikapnya tadi benar-benar keterlaluan. Mengabaikan orang ketika berbicara bukan hal yang sopan dilakukan meski pada sahabat sendiri. Dan bunda pasti marah jika anaknya melakukan itu. Untung saja Alfa tidak menyadarinya, batinnya.
Pertandingan ini berlangsung sangat seru. Meski baru pertama kali melihat secara langsung, Ameria sangat menikmati. Ditengah udara yang lumayan panas tdak mengurangi keseruan menonton pertandingan
. Kemampuan Aksa dan lawannya sama-sama kuat. Skore mereka saling mengejar satu sama lain. Ketegangan nampak menyelimuti seluruh tribun. Semua penonton benar-benar fokus menikmati perpindahan bola antara Aksa dan pemain yang tingginya lebih rendah dibanding Aksa.
Bola melambung cukup tinggi. Dan itu dimanfaatkan Aksa dengan melakukan jumping smash. Bola bisa ditangkis oleh lawan. Hanya saja jatuh diluar garis sehingga menambah poin Aksa. Posisi Aksa unggul 1 poin.
Satu poin yang Aksa butuhkan untuk mengakhiri pertandingan ini. Serve pun dilakukan. Lawan yang memakai kaos berwarna biru itu bisa mengembalikan. Aksa menerima dengan baik. Reley panjang pun terjadi. Membuat jantung penontong semakin berpacu. Sayangnya lawan melakukan kesalahan dengan membuat bola melambung yang langsung dibalas Aksa dengan smash keras. Bola jatuh dekat di depan dan lawan terlambat menangkisnya.
Seketika suasana hening berganti dengan sorak kemenangan yang berasal dari bangku penonton. Ameria tidak ketinggalan. Dia bahkan melakukan standing applaus dengan teriakan yang penuh semangat.
Alfa pun melakukan hal serupa. Meski tanpa berusuara tawanya yang lepas menunjukkan betapa dia senang dengan kemenangan Aksa. Sejak awal Alfa sudah menduga keberhasilan teman sebangkunya itu.
Di kelas, Aksa termasuk murid yang biasa saja. Tidak masuk kedalam barisan belakang artinya murid dengan nilai terbawah. Juga tidak unggul seperti Alfa. Tapi kalau sudah berhubungan dengan lapangan, kemampuan Aksa patut diperhitungkan. Tidak heran kalau hari-hari di sekolah, Aksa lebih sering dijumpai berada di lapangan.
“Lho, udahan?”
Ameria melihat banyak orang meninggalkan bangku penonton.
“Iya. Ini hari terakhir dari rangkaian turnamen.”
“Ya … kirain bakal ada lagi.”
Alfa tersenyum melihat wajah kecewa Ameria.
“Mau langsung balik?” Ameria benar-benar kecewa mengetahui pertandingan benar-benar usai. “Atau mau nyamperin Aksa dulu?”
“Bisa?” Ops, keceplosan. Ameria terlalu antusias menyambut tawaran Alfa.
“Tuh Aksa manggil.”
Aksa melambaikan kedua tangannya. Memanggil kedua teman sekolahnya untuk segera turun.
“Selamat, ya!” Ucap Ameria diikuti Alfa. “Seru banget pertandingannya.”
Aksa tertawa. Dia malu mendapat ucapan dari Ameria. Wajahnya yang penuh keringat kembali meningkatkan suhu hingga membuat wajahnya memerah.
Disaat itu sebuah dering ponsel berbunyi.
“Dari mama.” Alfa menjawab tatapan penuh tanya Ameria. ”Aku angkat sebentar.”
Alfa berjalan menjauh untuk menerima panggilan. Meski demikian matanya tidak lepas dari Aksa dan Ameria yang berdiri berhadapan sambil bercakap-cakap. Dari sikap tubuh yang ditunjukkan, Ameria terlihat akrab sekali dengan Aksa. Padahal mereka tidak pernah berbincang sekalipun. Hanya kalau melihat kepribadian Ameria yang ceria, wajar saja jika dia mudah akrab dengan orang baru.
“Gimana?” Tanya Ameria saat Alfa sudah kembali.
“Mobil Mama mogok. Jadi aku harus jemput.”
“Yah, gimana dong? Aksa ngajak kita makan-makan.”
“Kalau Alfa nggak bisa ya ditunda aja.” Balas Aksa.
Alfa memandang satu-satu antara Ameria dan Aksa. Terlihat wajah penuh harap cemas Ameria. Dan Alfa tidak tega membuatnya berubah menjadi kecewa.
“Kalian aja, nggak pa-pa. Nanti aku bisa nyusul setelah ngantar mama pulang.”
“Ya Alfa. Terus aku bereng siapa?”
“Bareng aku aja.” Jawab Aksa cepat.
Aksa terkejut sesaat namun kembali bisa menguasai diri. “Iya, bareng Aksa aja. Nanti langsung ketemu ditempat makan.”
Meski demikian, terlihat raut kecewa di wajah Ameria. Tapi bagaimana lagi. Ia tidak mungkin melarang alfa menjemput mamanya. “Hati-hati, ya?”
Gedung olahraga itu Alfa tinggalkan dengan berjalan sendiri. Ameria masih menunggu Aksa yang masih harus mengikuti ceremony pemberian juara.
Kali ini berjalan sendiri terasa asing. Biasanya selalu ada celotehan ringan dari Ameria. Bisa tentang karakter novel yang dibaca, kekesalan karena alur cerita yang tidak jelas atau tentang banyaknya komentar yang masuk di akun Instagramnya. Semua itu seperti sebuah kebiasaan. Kini terasa berbeda. Entah dimana letak perbedaan itu. Alfa hanya merasakannya saja.






Follow Us @soratemplates