Tampilkan postingan dengan label restoran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label restoran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2019

Rebound : Yang Dirindukan

19.32 0 Comments

Ice coffe sama medium fries.” Satya menyebutkan pesanannya dan menunggu total tagihan yang harus dibayar.
Hampir 15 hari Satya tidak mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Semua aktivitasnya hanya berpindah dari satu bandara ke bandara lain. Paling jogging di luar ruangan ketika transit di kota kecil. Selebihnya hanya berolahraga didalam fitness room yang ada di hotel yang tidak disukainya. Ada banyak jadwal penerbangan yang harus dia lakukan. Terutama menggantikan teman-temannya yang sebelumnya juga menggantikan tugas Satya saat Diar melangsungkan lamaran.
Tempat ini menjadi sangat dirindukannya. Meskipun tidak ada yang berubah. Sama sekali. Seperti seorang laki-laki yang selalu berpakaian hitam yang selalu berdiri di dekat pintu masuk. Belakangan Satya ketahui bernama Rudiyan salah satu petugas keamaan. Itu pun Ia dengar dari Killa saat masih sering bertemu untuk berbincang.
Pengunjung cukup ramai meskipun tidak semua kursi penuh. Tirai-tirai besar mulai diturunkan hingga separuh dinding kaca tertutup untuk menghalau sinar matahari. Karyawan-karyawan sudah sibuk di pos masing-masing.
Sepertinya ada karyawan baru yang sedang menjalani masa training. Mengenakan setalan hitam putih dengan name tag bertuliskan Trainee. Semua berjumlah empat orang, salah satunya perempuan. Dua orang bertugas dibagian dapur, sedang memasukkan pesanan kedalam paper bag. Satu orang sedang membersihkan lantai lobby. Dan satu-satunya perempuan berada dibelakang meja counter, menyiapkan pesanannya.



“Silahkan.” Karyawan baru itu menyodorkan nampan berisi pesanan Satya.
“Mbak, hari ini manager in charge-nya siapa ya?”
Satya tidak bisa menahan lebih lama lagi. rasa ingin tahu yang ditahannya sudah menggelagak meminta dipenuhi. Sementara perngamatannya tidak memberikan hasil apa-apa.
“Ohh hari ini yang bertugas Bapak Aldi.”
Tentu saja, Satya sejak awal sudah mengetahuinya dari name slot yang tertera di dinding. Dia hanya berharap bahwa manager yang bertugas lupa belum menggantinya. Dan hari ini Satya harus kecewa.
“Cari mbak Killa ya mas?” Seseorang yang berdiri tak jauh itu menyahut. Dia yang tadi melayaninya pertama kali. Yang Satya kira salah satu perempuan yang terpesona dengan penampilannya karena terlalu banyak tersenyum. Rupanya dia masih mengingat  kebiasaannya berbulan-bulan lalu. bahwa kedatangannya tidak hanya untuk membeli minuman dan makanan ringan melainkan untuk menemui seseorang.
Si Mbak karyawan dengan name tag Mila itu pun tersenyum kembali. Seolah paham maksud Satya. “Mbak Killa masih meeting. Sudah dari tadi, mungkin sebentar lagi selesai. Ditunggu saja.”
Satya pun membalas senyumannya. “Makasih ya mbak.”
Satya mungkin harus mengucapkan banyak sekali terimakasih. Seandainya tidak bertemu Mila, mungkin Satya akan pulang. Dan menunggu Killa di kursi yang berada di sudut ruangan hanya menjadi rencananya saja.
Tempat itu seperti menjadi tempat favoritnya. Mungkin karena berada di sudut sehingga memiliki sudut pandang yang luas. Wajar kalau Satya menyukainya karena bisa melakukan pengamatan dengan leluasa apalagi saat Killa sedang bekerja. Tentu itu terjadi saat Killa belum menolaknya.
Namun takdir masih berpihak padanya. Sebuah pesan masuk tepat sebelum dia bertugas 10 hari yang lalu. Dan memaksanya untuk datang.

Shakilla Ardiani : Malam Satya. Ini Killa. Maaf malam-malam ganggu. Kalau ada waktu, boleh kita bicara sebentar? Aku tunggu.

Satya memang masih menyimpan nomer Killa.  
Butuh waktu lama bagi Satya untuk mencerna kalimat tersebut. Antara tidak percaya atau senang. Maka dia pun memilih mematikan handphonenya.
Mungkin Diar benar. Bahwa dia harus melepaskan. Kepalanya terlalu banyak berpikir tentang Killa hingga membuatnya membayangkan sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan sudah bergeser menjadi sebuah obsesi.
Maka Satya pun membiarkan pesan tersebut dan membukanya kembali keesokan harinya. Perlu ratusan kali untuk membuat Satya percaya bahwa pesan itu nyata. dan membawanya kembali mengunjungi tempat Killa bekerja.

Senin, 29 Juli 2019

Jangan Terbebani

19.23 0 Comments
Sebulan berlalu semenjak malam itu. semuanya berjalan normal, sangat normal. Keenan sudah kembali dengan kesibukannya sebagai arsitek junior, Mama juga sudah lelah menanyakan hal yang sama berulang kali sementara Killa sendiri tidak menaruh minat. Dan Killa masih membenci mendapat over night shift yang bulan ini jumlahnya lebih banyak.



“Lama-lama gue jadi vampire cuma aktif di malam hari.”
“Sorry deh, Ki. Spesialis over night kita kan baru aja dirawat. Saga masih penganten baru, masa disuruh jaga restoran. Gue sama Rani kan punya laki yang kudu dikelonin. Satu-satunya yang jadwalnya fleksible kan Elu.”
“Jadi gue jadi tameng kalian gitu?”
“Ya mau gimana lagi. Gunanya jomblo emang buat itu kan?”
Killa melempar pulpen yang di pegangnya. Yang hanya dibalas dengan tawa Dinda yang sangat keras “Sialan Lo.”
“Eh…akhir-akhir ini gue nggak lihat customer ganteng ya? justru gue lebih sering lihat Range rover keluaran terbaru parkir di area tunggu drive thru. Nggak lazim banget kan? Lagian emang dia nggak bisa lihat ya tempat parkir seluas itu.”
Senyum Killa pun memudar saat memahami subyek yang  Dinda maksud.
“Hari ini waktunya delivery kan? Gue aja yang ngecek.”
Killa beranjak. Meninggalkan Dinda yang berusaha keras memikirkan jadwal delivery yang harusnya datang besok malam.

Satya memang cukup popular diantara menager dan beberapa kru yang dekat dengan Killa. Tak harus menjadi orang pintar untuk mengetahui ada hubungan khusus yang terjadi diantara Killa dan Satya. Meski tidak pernah melihat keduanya tertangkap basah sedang berkencan tapi interaksi keduanya sangat tidak lazim antara manager dan pelanggan. Ditambah bukan karakter Killa yang dengan senang hati melayani customer langsung saat restoran tidak dalam keadaan sibuk.
Killa termasuk masuk kategori manager pemain belakang. Dia tidak akan turun langsung untuk masalah-masalah yang bisa ditangani kru. Meskipun masuk kedalam job deskripsi manager. Bahkan Killa hampir tidak pernah menyapa langsung customer untuk survey acak tingkat kepuasan pelanggan yang harus dilaporkan saat rapat bulanan.
Dengan menghilangnya Satya beberapa waktu terakhir memberikan kemajuan pada Killa. Miss Akting itu semakin kehilangan kemampuannya untuk bermain peran. Dulu Killa satu-satunya orang yang paling tidak bisa ditebak ekspresinya karena wajah dan hatinya sangat bertolak belakang.
Sementara hari-hari terakhir, Killa terlihat lebih ekspresif. Dia bisa tiba-tiba marah saat melihat ada tiga orang customer mengantri saat menu breakfast sementara di kondisi normal Killa hanya memantau seperti mandor. Ia juga lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya dengan melamun dari pada makan. Bahkan Ia memilih duduk sendiri untuk waktu yang cukup lama di akhir shift sebelum akhirnya pulang.
Satu jam yang lalu shiftnya berakhir tapi Killa malah duduk dengan secangkir kopi yang dingin dan dua potong Hashbrown yang belum tersentuh. Pikirannya melayang mengikuti uap kopi yang terbang menjauh.
“Kalau nggak dimakan kenapa dipesan? Masa manager restoran hobi menyia-nyiakan makanan.”
Killa mengangkat kepalanya. Memandang malas pada seseorang yang dengan lancang duduk dihadapannya.
“Apa kabar Killa?”
“Satya? Nga…”
“Makan makanan yang bentar lagi Lo buang.”
Killa langsung berdiri hendak meninggalakan Satya. Karena saat ini Ia sedang tidak dalam keadaan siap berinteraksi dengan orang. Tapi urung dilakukan karena Satya lebih dulu menahan tangannya.
“Gue cuma perlu 5 menit. Setelah itu terserah.”
Killa pun menyerah. Dengan seragam manager yang masih ia kenakan tidak mungkin membuat keributan. Kredibilitas restoran bahkan dirinya akan dipertaruhkan bila ia berbuat hal yang tidak pantas.
“Aku tahu kamu menghindariku.” Satya kembali menggunakan aku kamu saat berbicara. “Sungguh kamu nggak perlu melakukan itu. Yang harus menghindar seharusnya aku. Karena bagaimana pun juga aku adalah orang yang ditolak.”
Killa berpaling. Enggan membicarakan sesuatu yang menurutnya tidak penting.

“Okay, aku nggak bahasa soal itu. Tapi kamu harus tahu, aku yang menyukaimu dan itu menjadi urusanku. Kamu nggak perlu menghindariku hanya karena aku menyukaimu. Jangan merasa terbebani. Okay?”

Follow Us @soratemplates