Minggu, 23 Desember 2018

# Fiksi # jodoh

Remind Me_Tiga

Ray melajukan mobilnya ditengah padatnya kendaraan jalanan. Setelah cukup lama menembus kemacetan akhirnya mobil Ray memasuki halaman sebuah kedai kopi. Tempat yang sering ia kunjungi bersama teman-temannya.
Pengunjung tidak terlalu ramai sehingga Ray bisa dengan mudah menemukan seseorang yang sedang menunggunya. Ray langsung menghampiri wanita tersebut.
“Macet banget dijalan. Kamu udah pesan?” tanya Ray sambil mencari seorang waiters.
“Udah. Untuk kamu juga. Kopi hitam.” ucap perempuan yang bernama Almira.
Ray tersenyum mendengarnya. Wanita dihadapannya ini seperti Ray versi perempuan. Dia selalu tahu apa yang Ray mau sebelum menyebutkan.
“Gimana rencana kamu pergi ke Singapura?”
Ada sebuah ajang pencarian bakal model seAsia. Dan Almira menjadi satu-satunya model dari Indonesia yang lolos. Di tahap ini semua proses seleksi akan ditayangkan secara internasional. Dan untuk berada ditahap itu bukan hal mudah. Mira, begitu Ray memanggilnya sering sekali mengalami kegagalan. Kesempatannya kali ini sekaligus kesempatan terakhirnya bisa mengikuti kompetisi model terbesar di Asia sebelum usia akhirnya membatasinya.
“Aku masih bingung, Ray”
“Apalagi yang kamu pikirkan? Kesempatan ini nggak datang dua kali”
Waiters datang membawa pesanan mereka, kopi hitam untuk Ray dan latte untuk Almira. Minuman khas yang selalu mereka pesan dimanapun mereka bersama.
“Mungkin pengakuan kemampuanku saat ini sudah cukup. Banyak orang tidak lagi memandangku sebelah mata.”
Sejujurnya Almira sedang jenuh dengan karir modelnya. Setiap saat kemampuannya semakin mendapat pengakuan. Sudah banyak desainer yang melirik kepiawaiannya di atas catwalk bahkan dunia iklan pun mulai dijajaki. Tapi tidak dengan karir asmaranya. Hubungannya dengan Ray seperti berjalan ditempat dan Ia ingin ada perubahan atau kejelasan.
 “Mir, ini mimpi kamu. Bertahun-tahun kamu menunggu kesempatan ini, kamu harus ambil.” Ray menggenggam kedua tangan Almira sebagai bentuk dukungan.
Sekali lagi keadaan memintanya untuk bersabar. Memohon tambahan waktu agar hatinya bersedia menunggu. Mungkin sedikit tambahan waktu akan menggerakkan Ray untuk menegaskan statusnya.
“Oke. Aku ambil.” ucap Almira.
Ray bahagia melihatnya. Meskipun dia tahu tercapainya mimpi Almira berarti berakhir sudah hubungan mereka. Tidak. Hubungan mereka bahkan belum dimulai. Tak satu pun diantara mereka pernah mengutarakan isi hati. Keduanya hanya sama-sama nyaman dan tidak ada yang berniat untuk membuatnya jelas. Hingga waktu pun mengabaikan mereka.

***
Setelah mengantarkan Almira pulang, Ray memutuskan untuk kembali ke kafe. Disana teman-temannya masih berkumpul. Karena ini hari minggu maka semua personil lengkap.
Kafe ini milik seseorang yang akhirnya menjadi sahabat. Kenapa? Karena Sam sahabat Ray sering melakukan meeting dengan kliennya. Dia juga yang membawa Ray sekaligus Almira untuk menikmati minuman favorite mereka. Ditambah sang pemilik, Bimo, selalu menyediakan permintaan mereka bahkan saat tidak tersedia di dalam daftar menu kafenya. Tak jarang Bimo sering mendapat omelan dari koki andalannya. Dari interaksi itulah akhirnya mereka akhirnya bersahabat.
“Tuh si Ray balik lagi.”
Bimo menyapa saat melihat Ray memasuki kafenya.
“Mira da balik?” Bimo bertanya saat Ray duduk di balik meja ditinggi  yang ada dihadapannya.
“Udah”
Sementara Sam asik menikmati kentang goreng seolah-olah tidak ada orang yang dikenalnya duduk disampingnya. Sehingga ia tidak perlu repot-repot menoleh.
 “Kopi lagi?”
“Air putih aja” jawab Ray.
Bimo meletakkan segelas air putih langsung ditenggak habis oleh Ray.
“Berantakan banget Lo hari ini?”
Bimo melihat ada hal yang tidak biasa dari Ray. Meski hanya basi-basi karena semua orang tua dibalik persahabatan Ray dan Almira ada hati yang saling mendamba. Tapi tak seorang pun tahu alasan keduanya menahan perasaan masing-masing.
“Mira jadi pergi?”
Sam akhirnya angkat bicara. Karena dia satu-satunya orang yang menentang hubungan mereka tapi menjadi satu-satunya orang tidak bisa mengambil sikap dengan perasaannya sendiri.
 “Gw nggak bisa menghalangi Mira untuk mewujudkan mimpinya. Mimpi itu hidupnya.”
“Bagus!”
“Maksud, Lo?”
“Lebih baik dia pergi mengejar mimpi dari pada tinggal tanpa masa depan.” Nada bicara Sam satu tinggkat lebih tinggi.
“Hubungan kami sulit, Sam.”
“Sulit?” Sam tersenyum sinis. “Sedikit aja Ray, sedikit keberanian Lo buat bilang cinta sama Mira. Dan…”Sam menghembuskan nafasa lelah. “Sedikit keberanian Lo buat ngasih tahu keluarga Lo tentang Mira.”
“Gaeess…gaeess…easy” Bimo menengahi. “Malu dilihatin banyak orang.”
Ray memainkan gelas kosong dihadapannya. Menjaga tangannya agar tidak melepaskan sebuah pukulan keras pada sahabatnya sendiri. Dia tahu Sam benar. Hanya sedikit keberaniannya saja untuk memperjuangkan Mira agar menjadi miliknya. Tapi jurang pemisah diantara mereka terlampau dalam. Sedikit itu tidak akan cukup memangkasnya.
“Pernikahan itu hanya memenjarakan Mira. Menghalangi semua mimpi dan ambisinya. Dan gw nggak mau orang yang gw sayang ngalamin itu.”
Sam hanya tersenyum sinis melihatnya. Dia tahu itu hanya alasan seorang pengecut yang mangaku kalah sebelum berperang.
“Lo Cuma mencari alasan untuk pembenaran dari pilihan Lo. Asal Lo tahu, Penyesalan terbesar Mira adalah bertahan untuk seseorang yang sama sekali tidak mempertahankannya.”
Untuk yang kedua kalinya Ray harus mengakui kebenaran ucapan Sam dan merelakan kepalan tangannya berakhir dengan mengenggam gelas yang sudah tandas isinya. Almira tidak pantas mendapat semua ini darinya. Tapi ketidakberdayaannya semakin membuatnya kerdil dan tidak pantas untuk Almira.
***
Persiapan pernikahan semuanya dikerjakan oleh wedding organizer yang sudah disewa oleh Ray. Dia hanya perlu menyetujui apapun yang disarankan oleh WO. Dari konsep, gedung, catering, undangan bahkan jika memungkinkan membuat daftar undangan bisa dikerjakan oleh WO pasti akan dilakukan oleh Ray. Sayangnya hal itu tidak bisa maka dia hanya membuat daftar kecil untuk mengumumkan pernikahannya.
Satu-satunya yang benar-benar tidak ingin Ray kerjakan adalah baju pernikahan. Urusan yang satu ini Ia meminta bantuan Oma Rita untuk menemani Lila memilih desainer gaun pengantin. Dengan senan g hati Oma menerimanyan. Bahkan beliau terlihat sangat antusias saat menemani Lila keluar masuk butik.
“Lukisan baru, La?”
Mbak Ika kebetulan sedang keliling galeri dan melihat Lila sedang menaiki tangga untuk memasang lukisan. Kebetulan hari ini tidak banyak jadwal latihan sehingga banyak studio kosong.
“Bukan.” Memastikan bahwa posisi lukisan untuk sudah tepat Lila kemudian menuruni tangga. “Cuma benerin aja. Mbak dari mana?”
“Ini lagi ngecek aja. Pas lewat lihat kamu disini.”
“Gimana persiapan pernikahan kamu? Kelihatannya kamu santai-santai aja.”
Kalau bisa Lila ingin sekali menghindari pertanyaan semacam itu. Beberapa waktu terakhir, pernikahan menjadi kata yang tidak ingin dia dengar. Bukan karena dia tidak bahagia tapi ada seseorang yang akan kehilangan kebahagian bila pernikahan ini berlangsung. Sebelum sempat menjawab, Pak Amang, salah satu OB di galeri mencarinya. Keberuntungan masih berkawan dengannya meski hanya tiga detik.
“Teh Lila, ditunggu Oma Rita di lobi.”
Dengan logat sunda yang kental, Pak Amang mengabarkan sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari pertanyaan keramat. Meski dia harus menghadapi sesuatu yang lebih berbahaya lagi untuk kesehatan pikirannya.
“Oh Iya. Makasih ya, Pak.”
“Nuhun, Teh. Permisi.”
Bukan keberadaan Oma tentu saja tapi kejadian yang akan ia alami bersama Oma yang di khawatirkan. Lila bahagia, amat sangat bahagia. Tapi kebahagiannya itu tidak akan pernah sempurna lagi.
“Aku pergi dulu ya, mbak.”
Mbak Ika salah satu orang yang paling  berbahagia mendengar berita pernikahan Lila. Dulu dia sempat khawatir Lila akan sulit mendapatkan jodoh karena dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi senyum bahagia yang dia saksikan di wajah Lila seperti kamuflase. Dia hanya menunjukkan sesuatu yang orang inginkan. Bukan apa yang seharusnya terlihat.
Setelah Lila benar-benar pergi mbak Ika pun melihat lukisan yang Lila pasang. Satu-satunya lukisan yang menimbulkan perdebatan hebat antara kakek dan Lila. Sebuah karya yang hanya memadukan dua warna hitam dan putih yang tidak pernah Lila suka. Menurutnya lukisan itu melambangkan dua hal yang tidak pernah bisa berdampingan. Padahal jelas sekali bahwa lukisan itu adalah representative kehidupan dimana hitam dan putih adalah dua keadaan yang saling berkebalikan tapi tak pernah terpisahkan

***

Beberapa hari menjelang pernikahan Ray menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Hampir setiap hari Ray pulang larut malam sehingga Oma Rita dan kedua orang tuanya sulit sekali berkomunikasai dengannnya terutama mengenai daftar tamu undangan yang sangat terbatas. Sehingga Papa dan Mama tidak bisa mengundang semua koleganya.
Seperti biasa hari ini Ray pun sibuk dengan dokumen-dokumen diruangannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dilayar ponselnya tertera sebuah nomer tidak dikenal. Cukup lama Ray memperhatikannya, dia ragu-ragu untuk mengangkatnya. Sampai dua kali berbunyi Ray belum mengangkatnya. Sampai bunyi yang ketiga kalinya baru Ray mengangkatnya.
“Halo…,” jawab Ray ragu-ragu
“Halo nak Ray, ini Kakek, kakeknya Lila. Maaf kakek tiba-tiba menghubungi kamu. Bisa kita bertemu?”
Lama Ray tidak menjawab permintaan kakek. “Baik, Kek. Nanti saya mampir ke galeri”
“Tidak perlu. Kebetulan kakek sedang ada di sekitar kantor kamu.”
Ray sedikit terganggu dengan permintaan kakek untuk menemuinya namun semua pikiran itu segera ditangkisnya dengan kembali menenggelamkan pikirannya kedalam pekerjaan.

***
Dua hari menjelang pernikahan Ray harus menghadiri sebuah resepsi pernikahan rekan kerjanya. Oma Rita meminta Ray untuk mengajak Lila pada acara tersebut. Pada awalnya Ray menolak tapi akhirnya dia terpaksa menerima demi menghindari perdebatan panjang dengan neneknya.
Ray tidak mengerti alasan Oma bisa sangat menyukai Lila. Bahkan untuk malam ini saja Oma secara khusus, dengan sedikit paksaan, meminta Ray untuk menjemput ke rumahnya.
Lila bergegas keluar saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Dengan cepat dia sampai di depan mobil Ray, lalu membuka pintu dan duduk disamping Ray. Ray sempat melihat Lila cukup lama saat memasang seat belt.

Malam ini Lila memakai gaun selutut berwarna dusty pink dengan tas kecil berwarna senada dan sepatu hitam berhak rendah. Rambut Lila yang panjang dan lurus diberikan aksen curly pada ujungnya. Simple tapi kelihatan pas dengan Lila sehingga terlihat anggun.
Setelah Lila selesai memasang seat belt, Ray buru-buru memalingkan wajahnya.
Selama perjalanan mereka tidak berbicara satu sama lain. Baik Ray maupun Lila sepetinya tidak terlihat enggan untuk menciptakan sebuah topic pembicaraan. Hanya ada suara penyiar radio yang membuat suasana sedikit berirama.
Saat mobil sudah sampai Ray segera keluar mobil namun ditahan oleh Lila.
“Aku nggak kenal siapapun.”
“Lalu?”
“Kamu nggak akan ninggalin aku kan?”
Ray mengabaikan permintaan Lila  dan memilih langsung keluar mobil.
Permintaan Lila memang sedikit ambigu. Tapi di alam bawah sadarnya dia mengucapkan itu dengan sangat penuh permohonan. Kalau Ray tidak mendengarkan maka dia berharap semesta yang mengabulkannya. Cukuplah kebahagiaannya tak sempurna tapi jangan lagi kesendirian menjadi kawan di sisa usianya.
Saat turun dari pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada mempelai, Ray tiba-tiba berhenti sehingga membuat Lila terantuk punggungnya yang keras. Lila hanya bisa mengaduh dalam hati. Kalimat protes hampir saja terucap. Andai saja Lila tidak melihat wajah Ray yang membeku. Kaget.
Ada hal apa yang membuat Ray seperti sedang melihat hantu? Lila pun mengikuti arah pandang Ray yang menatap lurus pada seorang perempuan yang baru saja masuk. Perempuan yang rambutnya dibiarkan tergerai itu memang sangat cantik. Tubuhnya langsing bak model-model yang mengundang iri setiap perempuan yang melihatnya. Laki-laki mana yang tidak akan terpesona? Bahkan Ray yang dengan lantang mengaku sudah memiliki kekasih di depan calon istrinya pun sama.
Tetapi Lila sama sekalli tidak melihat sorot mata terpukau dimata Ray. Hanya ada penyesalan dan kesedihan yang mendalam.
Sedetik kemudian Ray memegang tangan Lila dan menyeretnya keluar melalui pintu keluar yang dibuat berbeda dengan pintu masuk. Lila bahkan harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah lebar Ray.
Kali ini Lila benar-benar melakukan protes. Bahkan nyaris berteriak karena sampai halaman parkir cengkeraman tangan Ray semakin kuat sehingga membuatnya kesakitan. Dan langsung dijawab dengan dilepaskannya tangan Lila sehingga membuatnya s\hampir terjungkal.
Lila tidak tahu mengapa Ray tiba-tiba bersikap aneh seperti tadi. Saat dia diacuhkan itu hal biasa. Tapi tarikan tangan dan keluar gedung secara terburu-buru bisa dianggap aneh. Tapi Lila tidak merasa berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan.
Dan sekarang Lila yang terkejut karena mobil Ray baru saja melewatinya. Meninggalkannya sendiri dengan kekesalan yang entah kepada siapa harus dilampiaskan.
Dengan tarikan nafas yang dalam, Lila berjalan keluar halaman yang cukup luas. Dia harus berjalan cukup jauh dan menunggu cukup lama taksi yang akan mengantarkannya pulang.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates