Sabtu, 22 Desember 2018

# Dua # Fiksi

Remind Me_Dua

Setiap hari Lila menghabiskan banyak waktunya di galeri. Meski tidak terlibat langsung dalam menejemen, Lila banyak membantu dalam urusan teknis. Terutama saat akan diadakan sebuah pementasan. Disana dia mengambil banyak berperan.  
Di atas tanah yang luasnya hampir mencapai satu hektar itu Kakek mendirikan galeri kesenian. Awalnya hanya sebuah sanggar seni yang focus pada teater. Seiring bertambahnya peminat bertambah menjadi music dan tari.
Seni rupa ditambahkan setelah kedua orang tua Lila meninggal. Saat itu mereka terutama ayah Lila banyak meninggalkan benda seni terutama lukisan. Baik yang dibeli atau dibuatnya sendiri. Lalu kakek membuat sebuah ruangan khusus untuk menyimpan sekaligus memajangnya. Ternyata peninggalan orang tua Lila menarik banyak pengunjung terutama orang-orang yang datang melihat pementasan. Akhirnya orang pun lebih banyak mengenalnya sebagai galeri seni.
Kakek memiliki peran sangat besar bagi galeri. Bakat yang dimilikinya untuk menjadi seorang kurator tidak bisa diragukan lagi. Meski beliau tidak memiliki bakat seni apapun.  Bakat kakek terbukti saat membuatkan pameran tunggal untuk Lila. Dari sana karir Lila sebagai seorang pelukis mulai dimulai.
 “Mbak Ika, kakek mana?”
Malika atau biasa dipanggil mbak Ika adalah salah satu jebolan sanggar tari yang dikelola oleh galeri. Mbak Ika juga menjadi tangan kanan kakek dalam mengelola galeri tersebut.
“Oohh… bapak lagi dibelakang. Biasa La…keliling. Kamu pucet amat?” tanya Mbak Ika
“Oh ya? Sepertinya karena telat makan semalam deh.” jawab Lila sambil meringis menahan perutnya yang sakit.
“Kamu tuh, asam lambungmu naik. Sini mbak ambilin obat dulu” Mbak Ika lalu mengambilkan obat di kotak P3k di lemari.
“Nanti aja mbak. Aku cari kakek dulu,” kata Lila sambil berlari keluar.
“Tunggu bentar, nanti kakek kamu….”
Lila sudah menjauh sehingga tidak bisa mendengar kata terakhir yang diucapkan mbak Ika. Menghampiri setiap studio di galeri itu.
Ada tiga studio yang biasa digunakan untuk latihan sebelum pementasan atau latihan rutin seperti tari, teater dan music. Selain itu juga ada sebuah hall yang biasa digunakan pameran lukisan atau disewakan untuk umum. Dan sebuah studio pementasan.
Kali ini Lila menemukan kakek sedang berada di studio pementasan yang sedang dilakukan persiapan untuk pementasan rutin setiap satu bulan sekali. Pantas saja hampir semua studio tadi penuh. Rupanya akhir bulan nanti akan ada sebuah pementasan sendra tari.
“Kakek!!!” teriak Lila sambil melambaikan tangannya yang dibalas dengan senyuman sang kakek. Kakek kemudian berjalan berbalik mendekati cucu kesayangannya.
“Tumben pagi-pagi cari kakek?”Kakek menyipitkan mata untuk memperjelas wajah cucu kesayangannya.  “Kamu sakit, La? Kok pucat begitu?” wajah kakek langsung berubah khawatir.
“Nggak pa-pa, Kek. Tadi Mbak Ika udah siapin obat.  Lila mau cerita sama kakek.” Lila lalu menggandeng tangan kakeknya, sedikit memaksa, yang langsung diikuti oleh kakeknya.
Lila memang sangat dekat dengan kakeknya. Sejak kedua orang tua Lila meninggal saat masih duduk di bangku sekolah menengah, kakek menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa. Orang tua Lila meninggal karena kecelakaan mobil saat mereka bertiga sedang pergi berlibur.

****

 “Menurut kakek, apa Lila masih bisa menikah sama Mas Ray?”
“Kamu bisa mundur kalau ragu?”
“Lila nggak pernah ragu, Kek. Sedikit pun.”
“Jadi apa yang membuatmu bertanya?”
“Entahlah, Kek. Lila cuma merasa ada yang berbeda. Rasa yang dulu Lila rasakan waktu bertemu Mas Ray udah nggak sama.”
“Rasa bisa berubah seiring dengan waktu yang terus berjalan. Tidak ada yang selalu sama di dunia ini. Apalagi perasaan manusia. Kalau kamu yakin dengan apa yang sudah kalian buat, kakek bisa apa. Percaya sama ini.” Kakek menunjuk dadanya.

Lila belum bisa menjawab. Karena janji itu bukan hanya dia saja yang terlibat. Ada orang lain. yang setelah bertemu semalam tidak menyinggung sama sekali mengenai hal itu.
Meski bertahun-tahun hati Lila tetap sama, menyimpan bayang-bayang si pembuat janji. Namun setelah bertemu, ia sendiri ragu apakah dia masih menganggap hal yang sama.
“Kalau Lila tetap mengikuti, kakek setuju?”
“Kakek sudah tua, Lila. Apalagi harapan kakek selain melihat kamu menikah dan bahagia.” Kakek tersenyum memandang cucunya.
“Melihat kamu menangis berhari-hari bahkan menemanimu melewati terapi menjadi waktu yang sangat sulit. Rasanya semua kesulitan itu sudah cukup, jangan diperpanjang lagi.”
Kakek mengingat bagaimana Lila setelah berpisah dengan Ray. Hari-harinya hanya diisi dengan menangis. Dia bahkan lupa tidur atau makan. Pekerjaannya hanya duduk diruang tamu sambil melihat pintu. Mengharapkan seseorang akan muncul disana. Karena semua ketidakwajaran itu tidak menunjukkan perbaikan maka keluarga memutuskan untuk membawa Lila ke psikolog.
“Kalau memang Ray menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatmu bahagia, dengan sepenuh hati kakek merestui”

***

Lila dan Kakek berada di dalam mobil melakukan perjalanan menuju kediaman keluarga Rayyan. Mereka duduk di belakang. Lila memakai sebuah gaun hitam berbahan brokat yang menutup sampai lututnya ditambah aksen pita di bagian pinggang sangat pas untuk postur tubuh Lila yang tidak terlalu tinggi. Rambut sebahunya dibiarkan terurai yang hanya diberikan kesan bergelombang. Meski rambut aslinya hitam lurus.
Lila terlihat sangat tegang. Sepanjang perjalanan dia terus meremas tangannya yang memegang  sebuah tas kecilnya berwarna gold senada dengan sebuah pita yang menjepit rambutnya.
“Semalam kamu nggak tidur, Lila? Matamu berkantung,” kata kakek memperhatikan cucunya yang tegang. Lila yang ditanya tak menjawab.
“Lila?” Kakek memegang pundak Lila dan dia pun terkejut.
“Iya?” tanya Lila bingung.
“Lila semalam nggak tidur?” kakek mengulangi lagi pertanyaannya sambil menunjuk kantung mata Lila yang sedikit terlihat meskipun sudah ditutup make up.
“Kelihatan ya Kek?”
“Cucu kakek masih cantik.” Puji kakek menenangkan.
Beberapa saat kemudian mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah halaman rumah yang besar dan berhenti tepat di depan rumah. Lila turun dan berjalan memutari mobil untuk membantu kakek.
Oma Rita dan kedua Orang tua Ray menyambut kedatangan mereka. Setelah bersalaman mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
Acara makan malam langsung dimulai begitu Lila tiba. Kakek dan Oma duduk diujung meja. Dihadapan Lila, duduk kedua orang tua Ray. Disamping Lila tersisa satu kursi. Milik tokoh utama yang sedari tadi masih menutup rapat mulutnya. Hanya senyum saat Lila baru datang.
“Malam ini Lila cantik sekali ya?” puji Oma. Lila hanya tersenyum
“Oh… tentu. Lila menyiapkannnya dari semalaman.” canda kakek yang membuat muka Lila sampai bersemu merah.
“Senang sekali rasanya. Akhirnya setelah bertahun-tahun kita bisa lagi berkumpul bersama. Dan sebentar lagi kita benar-benar menjadi sebuah keluarga.”
Oma memang menjadi orang yang paling antusias malam ini. bahkan sejak bertahun-tahun lalu.

Makan malam sudah selesai. Perbincangan kedua keluarga pun dilanjutkan diruang keluarga. Diawali dengan cerita-cerita masa lalu Kakek, Oma dan Papa sambil diselang canda tawa. Mama hanya sesekali menimpali pembicaraan. Beliau memang lebih banyak diam.
 “Maaf kami mau ngobrol sendiri diluar.” Ray berdiri sambil melihat Lila.
“Ahhh benar, kalian juga perlu untuk bernostalgia juga,” kata Papa.

***

Halaman samping rumah orang tua Ray tidak terlalu luas. Dan diisi dengan taman juga terdapat sebuah ayunan. Tidak sama persis dengan yang ada dirumah Lila. Tetapi sama-sama memiliki kenangan yang sama.
“Mas Ray, dorong lagi. yang kenceng.”
“Kamu bisa jatuh, Lil.”
“Ahhhh…”
Lila kecil selalu merajuk saat keinginannya tidak terpenuhi. Sementara Ray tidak tega melihat wajah sedih dan kecewa yang ditampilkan Lila. Dan Ray akan mengikuti kemauan Lila meski itu harus membuatnya sangat kerepotan.
Ray berdiri sedangkan Lila duduk dikursi yang ada di teras. Ayunan itu tetap kosong, sesekali bergerak pelan saat ada angin yang cukup kuat lewat. Suasana hening masih bertahan diantara mereka.
“Jadi akhirnya kamu menyetujuinya.” Rayyan memecah kesunyian diantara mereka.
Lila yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Ray dibatalkan karena Ray terlebih dahulu melanjutkan perkataannya.
“Aku nggak pernah menyangka janji seorang anak kecil akan dianggap seserius ini” Disaat yang bersamaan ponsel Rayyan berbunyi. Dia mengangkat telpon tersebut tanpa permisi. Dan meninggalkan Lila tanpa kesempatan menjawab sepatah kata pun.
Lila kecewa dengan perkataan Ray. Bukan dia yang membuat janji itu. Lalu salahkah ia jika ia datang untuk menagih? Bukankah sebuah janji dibuat untuk ditepati. Meski itu hanya ucapan seorang anak kecil.  
 “Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya harap kamu mengerti.”
Lila masih harus mencerna ucapan Ray. Kalau memang dia tidak menganggap ucapan seorang anak kecil tidak memiliki arti. Dia bebas untuk tidak menerima keputusan ini.
“Kalau memang harus seperti itu kenapa tidak menolak saja?”
“Aku berjanji untuk mengikuti apapun keputusan kamu. Dan hal ini terjadi diluar perkiraan.”
“Kalau aku yang membatalkan, kamu juga akan setuju?”
“Coba saja.”
Setelah menutup kalimatnya Ray memasuki rumah. Lila tidak mengikutinya. Dia perlu sedikit waktu untuk meredam gemuruh dalam hatinya. Seperti inikah rasanya kecewa? Bukan tapi pengkhianatan.

Semua kesedihan, kerinduan dan ketidakpastian yang selama ini ia harapkan akan bertemu titik akhir sepertinya hanya bertemu persinggahan. Berhenti sejenak untuk melewati jalanan berliku yang tidak tahu seperti apa ujungnya.
 “Kakek pamit pulang. Kamu masih mau disini?” Suara Ray menghentikan perdebatan dalam batin Lila.

1 komentar:

  1. Kritik dan saran silahkan di kirimkan sebagai bentuk apresiasi terhadap tulisan ini.

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates