Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2019

Getirnya Menyempurnakan Iman

19.24 0 Comments
Setelah menikah beberapa tahun lalu, tema pernikahan menjadi sangat menarik. Baik dalam bentuk visual maupun tulisan. Weeding Agreement menjadi salah satu judul buku yang akhirnya saya baca setelah filmnya ditayangkan. Alasan yang lebih sepele lagi adalah karena saya tidak bisa menyaksikannya di bioskop.
Tentu saja yang paling utama adalah buku biasanya memiliki cerita lebih lengkap. Juga untuk beberapa cerita saya merasa bisa lebih emosional dengan membaca dari pada melihatnya dalam bentuk grafis. Ditambah lagi setelah mengikuti bedah buku dari penulisnya langung. Sehingga tidak ada kesempatan berpikir ulang untuk membelinya. Karena lepas acara tersebut selesai saya menjadi salah satu dari ribuan orang yang memesannya.



Mia Chuz mengisahkan kehidupan rumah tangga Btari Hapsari dengan Bian. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga. Sehingga keduanya tidak saling mencintai saat menjalani kehidupan rumah tangga.
Witing tresno jalaran soko kulino, pepatah jawa itu benar adanya. Namun tidak semudah itu yang dialami oleh Tari dan Bian.
Baru beberapa jam menikah, Tari menerima sebuah dokumen dari Bian. Secarik kertas yang mampu menggoyahkan keteguhan hati Tari tapi juga menguatkan diwaktu bersamaan. Bian memberinya sebuah kesepakan pernikahan. Bian meminta Tari untuk menjalankan semua poin  yang ada di dalam perjanjian tersebut sebelum pernikahan ini berakhir satu tahun yang akan datang.
Wanita mana yang tidak kecewa mengetahi bahwa pernikahan hanya menjadi sebuah permainan yang bisa berakhir setiap saat. Karena bagi Tari pernikahan itu sesuatu yang suci. Yang dibangun atas dasar iman. Yang akan menyempurnakan iman setiap muslim.
Tidak ada pilihan lain selain memenuhi keinginan Bian. Meski Tari tahu semua itu bertentangan dengan nuraninya. Tapi bisa apa lagi? semua upayanya selalu mendapat penolakan. Sarapan yang Tari siapkan tidak pernah tersentuh. Bahkan mencuci pakaian Bian pun Tari hanya mendapat omelan. Kadang bentakan Bian pun Tari terima ketika membersihkan kamarnya.
Apakah cukup sampai disana? Tidak. Tari bahkan harus berperan menjadi seorang istri yang bahagia yang menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia. Tidak hanya dihadapan keluarga Bian tapi juga didepan keluarganya sendiri.
Bagian terburuk yang Tari terima bukanlah tidak dicintai Bian. Melainkan hadirnya wanita lain dalam biduk rumah tangga. Bahkan sosok wanita itu sudah hadir sebelum pernikahan itu berlangsung. Perempuan yang akhirnya Tari ketahui menjadi sumber penyebab suaminya tidak menghargai pernikahan mereka.
Akankah Tari bertahan meski tidak pernah menjadi wanita dalam hidup Bian?



Kisah Tari ini ditulis hingga mencapai 350 halaman lebih. Menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Yang setiap hari digunakan pembaca. Sehingga seperti sedang mendengar cerita dari seorang sahabat.
Kehidupan Tari digambarkan sangat religious. Hijab yang sudah dikenakan semenjak bangku sekolah menengah. Kemudian kewajiban-kewajiban seorang muslim yang tidak pernah ditinggalakan. Semuanya selaras dengan sudut pandang dan sikap Tari. Meski tidak menjadi seorang istri yang normal, tidak lantas membuatnya menjadi seorang istri pembangkang. Ia merupakan representative seorang istri soleha jaman digital.
Sejujurnya saya sedikit terganggu dengan keberadaan bahasa asing yang digunakan dalam percakapan. Entah mengapa hal itu seperti tidak menyatu dan sedikit dipaksakan. Bahkan dibeberapa adegan cenderung mengganggu kelekatan emosi saat membaca.
Apresiasi yang luar biasa kepada Naniko Publishing dan CV. RinMedia. Kualitas bukunya sangat bagus. Cetakannya terbaca dengan jelas dengan ukuran huruf yang pas. Sangat nyaman sekali saat membaca. Selain itu jilidan bukunya yang sangat kuat. Menurut saya novel ini memiliki kualitas fisik terbaik dari seluruh buku yang saya miliki.
After taste setelah membaca buku ini adalah light yellow.
Yang suka dengan kisah cinta mainstream dengan sedikit konflik layak menjadikan novel ini sebagai salah satu koleksi. Karena saat membacanya tidak perlu berpikir keras. Cukup menyediakan waktu dan menyiapkan hati dan tisu. 


Kamis, 12 September 2019

Diam Bukan Tak Cinta

18.30 7 Comments

Wajah rupawan tidak menjamin mendekatnya jodoh. Satrya, sepertinya cocok dengan ungkapan itu.
“Orang ganteng mah gampang”
Sering mendapat komentar dari teman-temannya mengenai mudahnya perempuan untuk dekat dengannya. Namun siapa yang mengira bahwa nasib percintaannya tidak setampan wajahnya. Lihat saja di usia menjelang 30 tahun Satrya masih sendiri, bahkan sahabat yang diam-diam disukainya pun memilih laki-laki lain sebagai suami. hingga akhirnya dia bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan sahabatnya.
Berbeda dengan Athaya. Satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai IT analyst . Masuk kedalam golongan mid class. Tidak dibatas atas atau batas bawah standar stereotype wanita cantik Indonesia. Kalau semua jenis wanita dikumpulin maka perlu kejelian untuk menemukan keistimewaan Athaya.
Nah, kalau Ghilman ini satu level dengan Athaya. Tapi dia punya sisi yang terlalu menarik untuk masuk kedalam golongan tengah. Secara Ghilman ini termasuk cowok dengan pengendalian diri yang sangat baik. Diselingkuhin sampai pacarnya hamil pun dia masih bisa kontrol emosi. Bukan yang marah-marah apalagi ngamuk sampai main pukul tembok sembarangan. Jenis cowok yang kalem tapi tegas diwaktu yang tepat.
Kalau saya disuruh milih antara Ghilman dan Satrya, ya, pasti jawabannya Ghilman. hehehe
Ini bukan kisah cinta segitiga yang emosional yang menguras air mata. Yang tokohnya harus menjadi orang yang merana berhari-hari. Bukan juga perlombaan memenangkan hati seorang gadis. Benar-benar kisah cinta yang dewasa. Yang kekanakkan hanya milik Geng Fogging hehehe. Jadi kalau berharap ada adegan romantis seperti di sinetron jawabannya pasti enggak ada.
Geng Fogging ini laki-laki generasi muda yang punya kebiasaan sama yaitu merokok. Satrya dan Ghilman masuk didalamnya karena mereka semua satu kantor hanya berbeda divisi saja. Sisi komedi yang bikin ketawa itu sumbernya dari mereka ini. 






Yang paling saya suka dari novel setebal 345 halaman ini adalah karakter tokohnya yang sangat kuat. baik itu tokoh utama maupun tokoh pendukung. Penguatan itu tidak hanya dibangun melalui deskripsi fisik tapi juga melalui sudut pandang orang lain, dialog dan cara berpikir mereka. Seolah-olah karakter tersebut hidup. Seperti tidak sedang membaca buku tapi menonton film yang layarnya ada dikepala.


Baca Juga Wanita Mencipta Surga


Dialog. Ada banyak sekali percakapan dari awal sampai akhir cerita. Perbandingannya seimbang antara narasi dan dialog. Tapi dialog ini memainkan peran penting terutama saat membaca bagian tokoh figuran. Lebih terasa komedi dibanding romantis. Guyonan yang khas anak muda ibukota. Kalau diibaratkan makanan seperti sedang mengunyah krupuk. Renyah dan mau nambah terus
Seperti yang saya bilang tadi semua karakter dibangun sangat baik. Sehingga penuturan setiap tokoh itu mengalir begitu saja. tidak dibuat-buat dan tidak dipaksakan. Memang akan banyak ditemukan umpatan-umpatan yang kurang sopan yang menjadi bagian dari lingkungan yang dibangun. Namun, justru disanalah letak kekuatannya. Jangan dibayangkan kata-kata kasar itu disertai amarah dan semua nama hewan di Ragunan keluar semua. Umpatan itu hanya bagian dari dialog candaan sehari-hari.
Penulis sudah menerbitkan dua buku dari penerbit yang sama. SKdPL salah satunya. Sayangnya pada buku pertama terbit ini kualitas kertasnya kurang bagus. Sudah menguning padahal baru berusia 3 tahun dari pertama kali beli. Ditambah, jilidnya yang sudah hampir lepas. Dibandingkan buku kedua penulis, kualitas buku pertama ini jauh dibawahnya.
Kalau membaca judul dan isi memang sedikit jauh. Tapi 80% kejadian dalam cerita menggunakan latar belakang gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Kubikel-kubikel yang memisahkan meja kerja karyawan serta seputar pekerjaan dibidang teknologi dibahas dengan sangat jelas.
Anak IT wajib baca buku ini. Tekanan kerja yang berat bisa diangkat tinggi setelah membaca kisah Athaya dan Geng Fogging. Semacam oase di tengah gurun gobi hehehe Yang jelas baca buku ini bisa jadi hiburan. Bikin otak benar-benar fresh.

Nah sudah bisa nebak kan after taste setelah baca novel ini? Yups, merah jambu alias pink. Manis cinta dan persahabatan mereka itu beneran kerasa. Saya bisa halu berhari-hari dibuatnya. Bolehlah disejajarkan dengan buku kesayangan yang udah puluhan kali dibaca tapi enggak bikin bosan.

Minggu, 08 September 2019

Berdiri Setegar Varsha

18.53 14 Comments
Apa yang paling menakutkan bagi wanita sudah berusia tiga puluh tahun? Mendapatkan pertanyaan kapan menikah.

Pada titik saat kepercayaan diri terjun bebas ke dasar jurang berganti dengan rendah diri yang kadarnya menjulang setinggi gunung Himalaya, membuat kaum hawa berkubang dalam keputusasaan.
Berlenggak lenggok dengan tebaran wangi bunga sehingga kumbang bergerak mendekat. Tak perlu berpikir panjang apakah itu lebah madu atau tawon penyengat, selama jantan cukup langsung terkam. Menghalalkan segala cara agar terhindar dari menjawab pertanyaan keramat.
Varsha, mewakili sedikit wanita yang legowo dalam menyikapi kesendirian di usianya yang semakin dewasa. Tak selalu mengabaikan tapi juga tidak memasukkan dalam hati tentang pernyataan orang bahwa kesuksesan karirnya harus menumbalkan sisi kehidupannya, jodoh.
Pun bukan seseorang yang membenci pertemuan keluarga karena bosan dengan cercaan kerabat karena kesendiriannya. Cukup melebarkan senyum dan menulikan telinga maka semua akan berjalan baik-baik saja.
Bukan pula menjadi seorang yang munafik. Bersikap kuat didepan orang kemudian menangis meraung-raung dalam dekapan bantal diiringi lagu sendu yang membuatnya semakin terpuruk menerima kekalahan dalam bursa jodoh.
Tidak pula termasuk golongan wanita penuh trauma. Yang hanya bisa menyalahkan semesta apalagi Tuhan atas konspirasinya sehingga membuatnya jauh dengan keberanian berkomitmen.
Varsha bukanlah wanita yang demikian. Dia tidak merasa dikejar waktu untuk menikah. Tidak merasa rendah diri karena belum memiliki pasangan. Pun bukan seorang yang ambisius dengan karir.

Gue nggak mengecilkan kekuasaan Tuhan, gue cuma … berusaha untuk ikhlas, Hel. Gue nggak mau menuntut jodoh ini-itu. Jika Tuhan memberi gue kesempatan untuk bertemu jodoh di dunia, gue minta tolong kepada-Nya untuk didekatkan. Tapi, jika Tuhan ingin mempertemukan jodoh gue di akhirat, gue ikhlas. (Halaman 65)

Dia hanya menggunakan setiap kesempatan yang dimiliki dalam hidup secara optimal. Membuat pencapaian dalam hidup juga karir yang belum tentu datang kembali. Memberikan seluruh cinta pasangan dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan memang masih dalam rencana Tuhan. Namun semua itu hanya sebagian kecil dari cinta.  Ada banyak sekali bagian cinta yang bisa Varsha rasakan. Mencintai keponakannya seperti anaknya sendiri meski dia tidak pernah tahu rasanya menjadi ibu. Mencintai keluarganya, adiknya juga ibunya, panutan dalam hidupnya. Ayahnya? Sudah termasuk kedalam mencintai keluarga, bukan? 


Crowdstroia menuliskan kisah Varsha dengan sederhana. Meski tidak cukup rumit untuk menampilkan kompleksnya persoalan yang dihadapi wanita dewasa. Pemilihan kata yang dekat dengan kehidupan pembaca cukup mudah untuk menghidupkan sosok Varsha dalam imaginasi.
Hanya saja kesederhanaan ini gagal digunakan saat membangun emosi pada fase Varsha kehilangan ibunya. Sosok perempuan yang membuatnya tetap tegar dan tumbuh menjadi wanita kuat.
Meski, ya, saya tetap larut dan meneteskan air mata membaca narasi duka dan kehilangan. Poin ini bisa diabaikan karena tingkat kepekaan seseorang berbeda.
Nona Teh dan Tuan Kopi menjadi judul dari buku ini. bahkan sampul buku pun menggunakan daun teh dan biji kopi menyerupai lambang yin dan yang. Hal ini pula yang memberi magnet kuat bagi saya untuk membelinya. Hanya saja jangan berharap akan mendapatkan banyak informasi mengenai dua jenis minuman tadi. Kedua minuman tersebut hanya menjadi minuman kesukaan tokoh utama. Informasi khusus tentang minuman tersebut terlalu sedikit diberikan sehingga pembaca tidak pernah menyangka bahwa ada keterkaitannya dalam cerita.
Bagi penyuka genre misteri, dibagian akhir buku ini akan menemukannya. Meski untuk saya sedikit dipaksakan. Meski demikian saya pun dibuat gemas dengan mengikuti setiap langkah yang dituliskan hanya untuk membuktikan kebenarannya.
Untuk mereka yang mengalami jalan hidup serupa dengan Varsha, membaca buku ini menjadi keharusan. Melihat dari sudut pandang Varsha akan membuat pemahaman baru bahwa menikah bukan hanya persoalan waktu dan usia tapi keikhlasan menerima takdir Tuhan.

Yang paling akhir adalah after taste usai membaca novel ini adalah kuning. Karena hanya nona teh yang banyak dibicarakan sementara Tuan Kopi hanya muncul sekejap sehingga meninggalkan penasaran untuk segera membaca sekuelnya. 

Minggu, 01 September 2019

Resensi Buku Lockwood & Co. : The Creeping Shadow

18.54 0 Comments




Penulis : Jonathan Stroud
Tahun :2017
Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama 



Sinopsis
Kota dikepung arwah? Kanibal bangkit dari kematian?
Hanya ada satu tim pemburu hantu yang kau butuhkan

Namun Lockwood & Co. kekurangan satu agen-Lucy Carlyle sekarang menjadi operatif lepas.
Dan mereka kewalahan menangani pekerjaan : tapak-tapak tangan raksasa di jendela, bunyi pisau memotong-motong di dapur berhantu…
Belum lagi bayangan mengendap-ancaram raksasa yang mengintai pekarangan gereja desa, membangkitkan para hantu dari kubur.
Lockwood & Co. sangat memburuhkan bantuan Lucy.
Kalau saja mereka mampu membujuknya untuk kembali…



Penokohan
Ada banyak tokoh dalam serial Lockwood & Co. Keseluruhan tokoh itu muncul hampir diseluruh seri. Meskipun cerita berpusat pada sebuah agensi kecil pemburu hantu yang dipimpin oleh Anthony Lockwood.
Penulis menggambarkan karakter tokohnya dalam berbagai cara. Meskipun menggunakan sudut pandang orang pertama tapi penggambaran setiap tokoh Nampak jelas, konsisten dan sangat kuat.
Melalui tokoh Lucy, semua seri buku menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh Lucy, penulis menggambarkan fisik karakter dengan baik. George, salah satu agen yang bekerja di Lockwood & Co. Dia digambarkan sebagai sosok yang cerdas namun jarang terlihat rapi dan lebih sering terlihat casual. Sering menggunakan T-shirt dibandingkan kemeja. Ditambah dengan sebuah kacamata yang selalu dikenakan semakin memperjelas rasa ingin tahunya yang tinggi. Dan George selalu mendapat tugas untuk melakukan penelitian sebelum bertugas.
Melalui cara berpikir, penulis menggambarkan karakter tokoh dengan sangat baik. Bahkan hanya membaca dialog saja, kita akan tahu siapa tokoh yang sedang berbicara. Lockwood, pimpinan agensi, benar-benar menjadi figure seorang pemimpin. Pandai berdiplomasi dan mampu membuat keputusan yang tepat yang langsung dipatuhi timnya. (Halaman 243)

Setting
Inggris menjadi latar belakang cerita ini. jenis bangunan, nama jalan bahkan wilayah-wilayah khususnya London menjadi lokasi yang paling banyak digunakan.
Desain bangunan rumah yang besar-besar yang menunjukkan status social pun digambarkan dengan sangat baik. Bahkan bentangan sungai Thames dideskripsikan dengan sangat jelas dengan tambahan visual lain yang mendukung cerita. Seperti bantaran sungai yang menjadi lapak penjual menggelar dagangannya seperti garam yang digunakan agen untuk menangkap hantu.

Alur
Penulis menuguhkan cerita dengan menggunakan alur progresif. Sehingga pembaca hanya perlu menikmati cerita yang mengalir. Tidak perlu membolak-balik halaman untuk menghubungkan setiap kejadian.
Buku ini kaya akan klimaks. Karena setiap konflik yang diciptakan, konflik kecil maupun besar semuanya memiliki puncak. Bisa dipastikan emosi pembaca seperti saat berada dalam wahana roller coaster. Ada kalanya berjalan lambat bergerak menuju puncak, dan disanalah adrenalin pembaca mulai dipacu.

Konflik
Terdapat beberapa konflik yang diciptkan dari awal buku. Namun konflik ini memiliki benang merah sehingga satu sama lain saling terkait. Konflik pertama lebih berfokus pada pekerjaan Lucy sebagai seorang agen lepas. Menggambarkan dengan baik bagaimana Lucy bekerja dengan tim baru yang sangat berbeda dengan teman-temannya sebelumnya.
Konflik kedua muncul yaitu berkolaborasinya Lockwood & Co. dengan menyewa jasa Lucy untuk menyelesaikan sebuah kasus yang membutuhkan kemampuan Lucy, yaitu kemampuan mendengar dan berinteraksi dengan makhluk astral. Setelah itu konflik-konflik bermunculan hingga beralih pada sebuah kasus besar yang menjadi inti dari seri buku ke-4 ini.

Penutup
Seri bayangan mengendap ini menggunakan bahasa yang ringan tetapi kompleks namuntidak terasa berat untuk menyelesaikan buku setebal 400 halaman ini. Justru pembaca dibuat enggan untuk berhenti ditengah-tengah karena emosi yang sudah terlanjut melebur dengan petualangan Lucy dan kawan-kawan. Meskipun menggunakan istilah-istilah untuk menggambarkan fenomena dan aktivitas hantu, tidak akan mengganggu saat dibaca. Selain dijelaskan dalam glosarium dibagian akhir buku juga masih disertakan gambaran-gambaran singkat dalam cerita.
After taste setalah membaca buku ini adalah abu-abu terang. Tidak cukup gelap dibandingkan buku-buku sebelumnya. Bahkan terasa lebih santai dan melegakan.
Berharap menemukan twist diakhir cerita? Jawabannya adalah iya. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan. Bahkan pembaca dibuat tercengang. Hanya saja open ending membuat pembaca terutama saya pribadi sangat kesal. Karena tidak sabar untuk segera mengungkap misteri dibuku selanjutnya.

Resensi Buku In A Blue Moon

00.10 2 Comments


Penulis : Ilana Tan
Tahun : 2019
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Blurb
“Apakah kau masih membenciku?”
“Aku heran kau masih merasa perlu bertanya.”
Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu-oh, bukan!_ melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lukas oleh kakeknya yang suka ikut campur.
Lukas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga kerna ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang – itu sangat jarang terjadi, tentu saja – kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.








Gaya Bahasa
Pertama membaca bab pertama sudah terlihat penggunaan bahasa yang sederhana. Tidak terlalu banyak penggunaan diksi yang tidak biasa selain untuk menguatkan latar belakang belakang tokoh.

Ia menurunkan ponsel dari telinga dan memberinya isyarat kepada salah seorang sous chef-nya, menyuruhnya mengambil alih pekerjaan. (halaman 11)


Penggunaan diksi yang sederhana ini memudahkan pembaca untuk menyatu dengan emosi yang dialami oleh setiap tokoh. Tidak perlu berpikir keras untuk menginterpretasikan setiap rasa yang ingin disampaikan penulis.

Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Sophie terlonjak kaget. Ia memejamkan mata dan mendesah pelan sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya. Ia menatap nama yang muncul di layar sejenak, lalu memutuskan hubungan tanpa menjawab telepon. (Halaman 215)


Gaya bahasa yang sederhana tidak membuat novel ini menjadi miskin diksi. Sisipan-sisipan istlah khusus, meskipun jumlahnya tidak banyak, memberikan pengaruh kuat terutama dalam pembentukan latar belakang tokoh. Bahkan pilihan istilah tersebut jarang digunakan penulis kebanyakan.
Tartlet merupakan potongan kecil dari kue tart dengan hiasan diatasnya. Biasanya banyak disajikan dalam dessert table. Kata ini muncul pada halaman 123 yang menunjukkan bahwa Sophie seorang pemilik toko kue yang memahami berbagai macam jenis dan kue. kebanyakan penulis mungkin akan menggunakan potongan kue atau memilih jenis kue lain yang lebih umum didengar.




Plot
Ilana Tan memilih alur campuran untuk menyajikan kisah antara Lucas dan Sophie. Dimulai dengan bertemunya kembali Lucas dan Sophie setelah berpisah bertahun-tahun lamanya.
Alur maju digunakan untuk menceritakan kehidupan dan hubungan antara tokoh. Sementara alur mundur dipakai saat menjelaskan masa llau yang menjadi salah satu konflik dasar yang terjadi antara Sophie dan Lucas.
Akhir dari kisah ini sudah bisa ditebak bahkan saat membaca sinopsis cerita. Namun cerita dengan banyak klimaks membuat pembaca tidak merasa bosan dan sangat menikmati halaman demi halaman.



Penokohan
Saya merasa kesulitan menggambarkan setiap karakter yang diciptakan. Hampir semua tokoh laki-laki menggunakan nama-nama yang ada dalam sebuah film animasi anak-anak, Thomas and Friends. Seperti Lucas, Gordon, Spencer bahkan Thomas. Karena lebih dulu mengenal mereka sebagai tokoh kartun sehingga saya harus bekerja lebih keras untuk membuat mereka berbeda.
Pemilihan nama ini terselamatkan karena setting tempat yang digunakan, yaitu benua amerika. Kehidapan negeri paman Sam itu menjadi setting utama, yerutama kota New York. Sehingga penggunaan nama-nama tersebut sangat cocok dengan cerita yang dibuat.
Sophie dan Lucas sama-sama diciptakan tanpa kehadiran orang tua. Dan sama-sama memiliki seorang kakaek yang memiliki peran penting dalam hubungan keduanya. Namun dari sinilah muncul perbedaan yang mengantarkan konflik.
Sophie menjadi salah satu anggota keluarga orang kaya karena diadopsi. Dibesarkan oleh keluarga konglomerat membuat sophie menjadi seorang perempuan yang berhati lembut, tenang dan pekerja keras. Hidup dengan bergelimang harta tak menghapus empatinya terhadap sesame yang memiliki nasib sepertinya, yatim piatu. Dan itu dimunculkan dalam kehidupan Sophie yang menjadi pekerja social di sebuah lembaga.
Lucas, terlahir dari keluarga kaya. Hidup serba berkecukupan. Pergaulannya pun tidak jauh dengan mereka yang bernasib sama sehingga membuat Lucas tumbuh menjadi seorang remaja sombong. Bersama teman-temannya sering membuat keributan dan mendapat hukuman dari guru. Dibesarkan dalam keluarga yang kental dengan jiwa bisnis maka Lucas pun tumbuh menjadi seorang pemimpin yang visioner dan bijaksana. Sehingga dia mampu menciptakan kesuksesannya sendiri.





Kritik dan Saran
Novel ini sangat menghibur. Ide cerita yang ringan dan dekat dengan kehidupan remaja hingga awal dewasa sehingga mudah dipahami. After taste dari membaca cerita ini masuk kedalam warna pink yang cerah, ceria dan bahagia. Bisa dibaca mulai usia remaja. Walaupun tokohnya seorang dewasa dengan latar belakang kehidupan barat tapi semua itu tidak dimunculkan.

Kamis, 15 Agustus 2019

Resensi Buku Journey of The Hearts

02.40 18 Comments
Agustus yang penuh cinta. Setelah mendeklarasikan diri untuk membaca buku sesuai passion. Dan ini buku pertama yang khatam sekaligus menuntaskan #TBR
.
.

Judul               : Journey Of The Heart
Penulis             : May Moon
Penerbit           : Sygma Publishing
Halaman          : viii+240 halaman
.
.
Perpisahan menjadi jalan untuk mendekatkan kembali. Tita terpaksa harus menjalani setelah 5 tahun terpisah ribuan kilometer. Harry, suaminya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gegar otak berat. Hal baik dari musibah itu adalah pernikahan formal yang tertunda bertahun-tahun akhirnya terlaksana.
Pernikahan yang diidamkan nyatanya tak mendatangkan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia. Kelumpuhan fisik yang diderita Harry juga menyertakan pada perubahan kepribadiannya. Berbulan-bulan menjalani terapi menambah dinginnya hubungannya dengan istrinya.
Sanggupkah Tita menjalani kehidupan rumah tangga yang demikian menyiksa? Sementara satu-satunya sumber kekuatannya menjalani kehidupan jauh dari keluarga sekaligus menjadi kelemahannya. Ataukah ia harus memilih kembali pada kenyamanan bersama kedua orangtuanya di Indonesia?
Sebuah romansa kehidupan pernikahan antara Tita dan Harry. Perbedaan latar belakang serta budaya yang sangat jauh berbeda menunjukkan pada kita bahwa perbedaanlah yang membuat pernikahan itu ada. Bagaimana Tita dan Harry menjadikan perbedaan tadi menjadi pengikat kuat hubungan. Yang tidak menjadi sumber dari segala konflik rumah tangga. Meski hanya sebuah cerita fiksi namun patut kita jadikan teladan. Apalagi saat ini contoh dalam kehidupan nyata sudah sangat banyak ditemukan.
Tokoh Tita mengajarkan saya tentang sebuah kesabaran seorang istri. Bukan hanya saat menghadapi sifat suami yang mengganggu melainkan kesabaran untuk menahan ego sebagai seorang wanita. Dengan keterbatasan suaminya bahkan perlakuan yang tidak seharusnya Tita terima sebagai seorang istri, tak membuatnya jengah bahkan mengajukan tuntutan hak. Tita hanya sabar dan menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Demikian dengan Harry. Ditengah ketidakmampuannya menjalani kewajibannya sebagai suami, Harry tetap teguh dengan pendiriannya. Keterbatasan memecutnya untuk lebih giat menjalani terapi. Meski perasaannya berada dalam ketidakpastian. Apakah ia akan ditinggalkan kembali atau tidak. Yang umum terjadi saat ego seorang laki-laki merasa tidak dihargai pasangan adalah keinginan untuk melepaskan.
Buku ini sangat informatif terutama mengenai kehidupan seseorang yang pernah mengalami cedera otak. Menerjemahkan istilah medis menggunakan bahasa yang lmudah dipahami. Bahkan proses penyembuhannya pun dijelaskan dengan sangat baik.
Penggunaaan bahasa asing sebagai salah satu cara menunjukkan latar tempat pun tidak berlebihan. Jumlah penggunaannya proporsional sehingga kesan penggunaan bahasa asing itu tetap terasa.
Saya suka pengggunaan diksinya, heterogen dan tidak terlalu berat. Sederhana tapi tetap sarat makna. Karena hampir sepanjang cerita penggambaran perasaan itu banyak sekali ditemukan. Dan pemilihan katanya tidak memberikan kesan monoton.

Aduh. Aku ingin bumi rengkah dan masuk kedalamnya, sukacita.

Sudut pandang orang pertama memang sangat bagus untuk menggali sedalam mungkin emosi dari tokoh tersebut. Dan lebih mudah membuat pembaca melebur dalam emosinya. Hanya saja semuanya menjadi lebih sempit. Karena seluruh jalan cerita hanya berdasar satu sudut pandang. Ini lah alasan saya kurang suka dengan dengan sudut pandang orang pertama.

Buku ini saya rekomendasikan untuk wanita yang mudah menyerah dengan pasangannya, atau sering mengeluhkan kekurangan pasangannya. Bahkan untuk yang belum menikah pun harus membacanya. Sedikit banyak buku ini memberikan gambaran kehidupan pernikahan yang sangat komplek.

Minggu, 07 Juli 2019

Resensi Buku THREE CUP OF TEA

17.03 7 Comments


Holaa… kembali  lagi dengan resensi buku yang udah lama banget nggak di posting. Kali ini buku yang kudapat dari memenangkan giveaway yang diadakan oleh Klub Suka Buku. Sebuah pengalaman seseorang saat menjalankan sebuah hobi yang membawanya pada sebuah aktivitas kemengan.
Majalah New York Times juga menganunegerahkan buku ini sebagai salah satu buku terlaris. Kisah inspiratif ini juga mendapat banyak review dari berbagai macam orang dengan berbagai macam latar belakang.
Nah, penasaran bukan bagaimana isinya? Yuk simak ulasan dibawah ini.



Judul                           : Three Cup Of Tea
Penulis                        : Greg Morteson dan David Oliver Relin
Tahun Terbit                : 2008
Penerbit                       : Penerbit Hikmah (PT. Mizan Publika)
Jumlah Halaman          : 630 halaman

Pada tanggal 2 September 1993, Greg Morteson merasa berjalan menjauh dari tim pendakiannya. Hingga saat dia tak juga menemui salah satu dari tim, Ia akhirnya sadar sudah tersesat dan berjalan sendirian. Dalam kondisi tersebut Morteson merasa kehilangan kewaspadaan yang dalam kondisi biasa sangat memerhatikan tiap detail informasi yang tersedia.
Dalam perjalanannya menaklukkan salah satu puncak Himalaya yang paling bengis “K2”, Moterson harus menerima kegagalannya mencapai puncak. Meski sesungguhnya puncak paling bengis tersebut hanya tersisa 600 meter di depannya.
Setelah terlunta-lunta tanpa arah selama beberapa hari akhirnya Moterson bertemu dengan seseorang yang nampak kerdil akibat ransel milik Morteson yang penuh sesak. Mouzafer seorang kuli angkut yang disewanya.
Bertemu dan ditemukan oleh Mouzefar sekaligus menjadi awal perjalanan baru bagi Monterson. Membawanya untuk bertemujuga berkenalan dengan Pak haji, sesepuh dari Balti. Suku Balti merupakan penghuni lembah-lembah yang berada di ketinggian di wilayah utara Pakistan.
Pertemuan dengan Pak haji mengantarkan Moterson untuk membantu pada suku Baiti. Dengan keahliannya sebagai seorang perawat, Mortenson banyak membantu orang-orang sehingga membuatnya dipanggil “Dokter Greg” bahkan oleh orang-orang di luar wilayah Korphe.
Banyaknya kejadian yang dialami Mortenson mengusik hati nuraninya. Dia pun berpikir harus ada yang bisa ia lakukan untuk suku Baiti sebelum bahkan setelah ia kembali ke Amerika. Pendidikan menjadi hal yang paling mungkin Mortenson lakukan saat itu.
Ada banyak hal yang membuat hati saya terenyuh setelah membaca buku ini. bahkan untuk pertama kali nya buku tentang perjalanan seseorang membuat saya menitikan air mata. bahkan pernyataan kecil yang Mortenson sampaikan pada pak haji
“Aku akan membangun sebuah sekolah. Aku berjanji.”
Deskripsi yang detail tentang penggambaran bentang alam jiwa. Terkadang saya merasa seolah-olah menyentuh dinding gletser yang kokoh. Pilihan kata-kata yang sederhana sehingga tak perlu susah untuk mengerti semakin membuat emosi seperti roller coaster.
Kata mutiara, Quote tentu saja bertebaran dari halaman pertama sampai halaman terakhir buku. Tak hanya dari penulis tapi di setiap awal bab selalu dissisipkan kutipan-kutipan dari pendaki-pendaki di dunia bahkan dari penemuan selama Mortenson tinggal di Korphe.
Karena buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata, didalamnya juga disertakan beberapa foto tentang kehidupan suku Baiti, aktivitas Mortenson sendiri juga puncak K2 yang diambil oleh Mortenson.

Untuk mereka yang suka dengan perjalanan dengan alam, untuk mereka yang peduli dengan sesame juga untuk mereka yang hatinya belum tersentuh dengan empati dan simpati, membaca buku ini sangat di rekomendasikan

Senin, 18 Maret 2019

RESENSI BUKU WANITA MENCIPTA SURGA

01.58 0 Comments


  Buku ini sepertinya menjadi buku non fiksi dengan durasi paling singkat yang pernah saya baca. Total dua hari dengan jumlah jam kurang dari 24 jam saya bisa menyelesaikannya. Terlepas dari factor tekad untuk segera mengosongkan rak khusu buku yang belum dibaca, juga memang buku ini memiliki beberapa hal menarik.


Buku yang meniti beratkan isinya seputar wanita ini memang bisa menjadi vitamin qalbu para muslimah untuk membentengi diri. Ditengah gempuran masalah yang dihadapi wanita di zaman digital ini sangat diperlukan sebuah upaya perlindungan diri sendiri

Bahasa yang digunakan dalam buku setebal 178 halaman ini sangat mudah dimengerti. Pilihan katanya pun ringan tapi tetap sarat makna. Coba perhatikan kutiban dibawah ini!

Berbahagialah meski engkau tidak sekaya dia
Berbahagialah meski engkau tidak secantik dia
Berbahagialah meski engkau tidak secerdas dia
Berbahagialah meski engkau tidak selangsing dia
Tidak bahagia itu hanya ketika iman engkau tidak sedalam dia
Rasa syukurlah yang membuat para muslimah akan selalu bahagia

Diawal ditunjukkan tentang hal-hal yang sering kali membuat kita selalu berpikiran negative. Selalu membandingkan diri kita dengan orang lain. membuat kita merasa rendah diri. Sehingga membuat kita lupa untuk bahagia. Padahal bahagia itu sangat sederhana, dan sangat dekat dengan kita yaitu syukur.


Penulis juga mengingatkan muslimah bagaimana menjadi seorang individu.

Tak Rela jika sesama muslimah saling menghujat
Tak rela sesama muslimah saling bermusuhan
Tak rela sesama muslimah saling meninggalkan
Tak rela sesama muslimah saling mengghibahkan

Poin-poin tersebut tentu saja sering sekali terjadi disekitar kita. Bahkan, kadang, kita sendiri pun melakukannya dengan atau tanpa kesadaran. Mungkin mulut kita tertutup rapat tapi jari jemari kita bisa bergerak lincah saat berada di jejaring social.

Selain itu juga mengingatkan kita untuk lebih bisa mengenal dan mengendalikan diri kita sendiri sehingga saat terjun di masyarakat atau di dunia maya kita bisa lebih bijak lagi dalam bersikap. Lebih mengedepankan empati dan simpati dari pada akal pikiran.

Karena kita seorang muslimah.

Dalam buku ini juga diangkat isu-isu yang marak terjadi didalam kehidupan keluarga. Yang disampaikan dengan bahasa yang sangat halus yang sangat mewakili keadaan para ibu saat ini.

Jaga lisanmu, Ibu
Sebab, setiap kata adalah doa
Sebab, setiap doa adalah penyelamat anakmu

Penyampaian nilainya tidak menggurui. Lebih seperti sebuah ajakan untuk berubah bersama-sama. Seperti sebuah uluran tangan untuk menggandeng para muslimah untuk menjadi menjadi seorang ibu yang lebih baik lagi.

Suamiku, aku ingin menjadi khadijahmu

Saya terharu membaca bagian ini.

Menyelipkan sebuah kisah inspiratif ini juga menjadi salah satu cara yang digunakan penulis untuk menyampaikan salah satu nilai positif. Kita diajak meneladani sifat-saifat salah satu istri rasulullah dan mewujudkannya dalam kehidupan masa kini.

Tak hanya itu saja. tetapi juga ada banyak sekali tips-tips yang diberikan sebagai salah satu langkah kongkret yang bisa dipraktikkan secara langsung.

Secara fisik, buku ini memang sudah mencuri hati. Hard cover dengan desain layout yang sangat menarik. Jenis dan ukuran huruf yang digunakan berbeda di setiap halamannya sehingga mata pun tidak jenuh saat membaca. Adanya beberapa gambar yang digunakan untuk merepresentasikan isi bab pun menjadi salah satu keunggulan lainnya.



Selasa, 08 Januari 2019

Pilih Yang Mana ?

18.33 31 Comments
“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” Dee Lestari

  Kopi minuman yang tak lekang oleh zaman. Baik generasi tua, muda bahkan anak-anak pun menyukainya. Salah satu minuman berkafein ini biasanya di nikmati saat pagi atau sore hari sepulang beraktifitas. Atau sebagai pasangan untuk menikmati kudapan.

Setiap daerah bahkan Negara mempunyai jenis kopi dan cara penyajian kopi yang unik. Turkish coffee salah satunya. Keunikan dari minuman ini adalah cara penyajiannya yang menggunakan pasir untuk memanaskan. Diyakini pasir memiliki panas yang konsisten sehingga menghasilkan cita rasa kopi yang nikmat. Biasanya kopi ini disajikan dengan Turkish delight, manisan turki yang sangat di sukai Edmund dalam film Narnia.
Selain Turkish coffe ada teknik lain dalam menyeduh kopi.
French press
Merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menyeduh kopi. Beberapa orang menganggap alat ini lebih efektif dalam menyajikan kopi. Rasa kopi yang dihasilkan pun lebih kuat.


Alat ini terdiri dari dua bagian utama yaitu tutup yang berfungsi sebagai alat penekan dan tabung sebagai tempat penampung kopi. System kerja alat ini adalah merendam kopi dengan air panas sehingga menghasilkan kopi dengan rasa yang penuh. Artinya semua kandungan kopi tersaji sempurna.
Caranya kopi di campur dengan air bersuhu 90 derajat ke dalam jar. Kemudian panaskan selama 4 menit sesekali di aduk untuk menghasilkan ekstraksi yang pas. Kemudian tekan sampai ampas dan cairan kopinya terpisah
Pour Over
Teknik ini lebih sederhana karena tidak memerlukan alat khusus. Hanya memerlukan kertas saring/filter yang digunakan untuk menampung bubuk kopi. Kemudian disiram menggunakan air panas. Penyeduhan ini menggunakan teko dengan corong tinggi serta lubang tempat air keluar tidak terlalu besar. saat menuangkan air harus dilakukan dengan pelan serta dengan gerakan tangan memutar.
Cara penyeduhan seperti ini pernah digunakan dalam salah satu adegan drama korea Coffee Prince. Rasa kopi yang dihasilkan pun lebih light. Beberapa orang menganggap teknik pour over ini akan memisahkan beberapa zat kopi sehingga akan kehilangan saat menikmatinya.
Cold Brew
Teknik ini memerlukan kesabaran yang sangat tinggi terutama bagi penikmatnya. Karena tidak seperti teknik lainnya yang hanya memerlukan hitungan menit dalam proses pembuatannya. Cold brew memerlukan waktu yang lebih lama bahkan bisa berjam-jam.
Awalnya teknik ini adalah dengan merendam bubuk kopi dengan air dingin selama semalaman. Kemudian saat penyajian dapat diminum langsung atau diseduh kembali dengan air panas. Seiring berjalannya waktu teknik ini pun mengalami perubahan yang kini lebih dikenal dengan cold drip.

S
etelah mengetahui cara penyajian kopi. Kini saatnya menentukan kopi apa yang akan kita nikmati. Nah biar nggak salah pilih sebaiknya tahu dulu jenis-jenis menu kopi yang biasa ada di café atau kedai kopi.

Espresso

Penyajian kopi ini menggunakan alat yang namanya sama yaitu mesin espresso. Rasa yang dihasilkan dari kopi ini pahit dan pekat dengan kandungan kafein 60-70%. Terdapat buih putih atau yang di sebut crema sebagai salah satu indicator keberhasilan  dari proses ini. crema ini terbentuk dari tekanan minyak yang terkandung di dalam biji kopi.
Americano
Beberapa orang menyebutkan bahwa nama Americano adalah plesetan bagi orang amerika yang tidak menyukai espresso. Perbedaannya hanya terletak pada perbandingan air yang digunakan.
Rasa dari Americano ini lebih light dan encer dibandingkan espresso. Penyajiannya pun bisa panas atau dingin dengan atau tanpa gula. Kalau untuk yang penasaran dengan espresso bisa dimulai dengan Americano terlebih dahulu.
Cappucino
Bagi yang suka minum kopi tapi dengan cita rasa manis yang satu ini bisa jadi pilihan karena ada tambahan steamed milk dengan perbandingan 1:1:1 atau 1/3 espresso : 1/3 steamed milk : 1/3 susu foam. Penambahan susu foam ini menjadikan penampilan cappuccino terlihat mengembang dengan tambahan busa atau foam. Biasanya diatasnya di taburi bubuk coklat untuk mempercantik penampilannya.
Latte

Minuman yang satu ini tidak memiliki banyak tambahan bahan selain kopi. Hanya terdiri dari espresso dan susu. Dengan perbandingan 1:3. Biasanya minuman ini bisa di kreasikan dengan hiasan diatasnya atau biasa disebut latte art. Karena perbandingan susu nya lebih banyak sehingga saat pertama kali minum akan terasa susu yang cukup kuat.
Moccacino
Pecinta coklat dan kopi bisa menikmati keduanya dalam satu minuman. Minuman ini terdiri dari empat macam bahan yaitu espresso, coklat, susu dan whip cream dengan perbandingan masing-masing bahan 1:1. Coklat yang digunakan bisa coklat hitam atau putih dalam bentuk bubuk atau sirup.
Affogato
Minuman yang satu ini sedikit unik dan berbeda dibandinga yang lain. beberapa orang juga mengatakan bahwa Affogato adalah salah cara menikmati espresso dengan sensai dingin.
Affogato adalah perpaduan es krim vanilla dengan espresso. Biasanya disajikan dalam wadah berbeda. Satu slot espresso dipasangkan dengan satu sekop es krim vanilla.

Cara menikmatinya dengan menyiramkan espresso diatas es  krim. Dapat diminum langsung dari lelehan es krim yang terkena panas espresso atau menyendok es krim yang sudah berlumur es krim. Rasa manis dari es krim tetap terasa tetapi tidak mendominasi espresso sehingga rasa pahit kopi masih terasa.

Follow Us @soratemplates