Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2019

Membaca Kenangan Bersama Clair

19.56 10 Comments
Buku yang akan kita bicarakan kali ini menjelaskan satu hal bahwa, saya tidak tahu apa-apa tentang dunia literasi.
Sebenarnya ini kali kedua saya merasa hal serupa. Yang sebelumnya terjadi ketika mengikuti bedah buku dari salah satu penulis yaitu Kirana Kejora dan yang kedua setelah membaca novel Clair.
Jika ada yang bertanya siapa penulis terkenal Indonesia? Asma Nadia, Tere Liye, Habiburrahman El Shirazy, Seno Gumira Ajidarma, Dee Lestari, Tasaro GK. Jawaban ini saya dapat dari komunitas membaca yang saya ikuti. Kecuali saya, karena saya memilih abstain jika mendapat pertanyaan demikian.
Saya menyukai sebuah karya. Alasan saya menyukai karya tersebut, ya, karena karya itu sendiri. Tidak pernah terpaku pada pembuat karya. Termasuk buku. Maka dari itu bacaan saya bisa lompat dari satu genre ke genre lain. musik dan film pun demikian.
Clair mengantarkan saya pada salah seorang penulis hebat di Indonesia, Ary Nilandari.
Waktu itu sedang mengikuti banyak give away. Percayalah tak satu pun give away itu saya menangi. Akun Instagram Penerbit Republika salah satunya. Salah satu ungguhannya, selain give away, menampilkan sebuah promo pre-order (saya penggila promo sejujurnya hehehe). Potongan harga, tanda tangan penulis dan kesempatan mengikuti kelas menulis secara cuma-cuma, menarik bukan? Sekali lagi, saya tidak mendapat bagian yang cuma-cuma
Selain itu, potongan cerita yang penuh muatan iklan benar-benar menjatuhkan pertahanan saya. Ditambah desain sampulnya yang super keren. Warna hitam yang mendominasi memberi kesan bahwa cerita ini begitu gelap dan kelam. Dan ilustrasi karakter berwarna emas memberi kesan elegan.
Benar-benar sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan hehehe
Menggunakan sudut pandang orang pertama, Clair, menceritakan kisah seorang remaja yang memiliki clairtangent. 

Blurb

Clair
The Death that Brings Us Closer

Seorang gadis clairtangent
Sesosok kenangan yang dihidupkan
Seornag pemuda yang luput dari kematian
Dan sebuah janji untuk saling menjaga

Rhea Rafanda, siswi kelas 12, memiliki kemampuan clairtangency. Ia dapat membaca melalui sebuah sentuhan. Dengan bakatnya, Ia membantu polisi memecahkan kasus-kasus buntu dan diberi nama kode, Clair. Tapi, kenangan tentang kekerasan dan kematian dapat menyakiti fisik bahkan memblokir memori Rhea. Itu sebabnya, Rhea dijauhkan dari kasus-kasus traumatis.
Saat kasus kematian Aidan Nararaya mengemuka, Rhea melanggar larangan dan melibatkan diri. Tidak mungkin kakak kelas yang ia kagumi dan menjadi sosok cinta pertamanya itu bunuh diri. Rhea pun menghidupkan sosok kenangan Aidan untuk menemukan petunjuk. Bagaimana kalau ternyata Aidan meninggalkan pesan-pesan tak terduga untuknya? Bagaimana kalau memorinya sendiri yang terpendam malah tergali?

Seolah belum cukup rumit, muncul laki-laki misterius membayangi Rhea dan sahabat-sahabat Aidan. Demi mengungkap kebenaran dan melindungi orang-orang terkasih. Rhea harus mengerakan clairtangency melebihi batas.

Membaca Rhea Rafanda
Remaja yang tersisih dari pergaulan karena berbeda. Siapa bilang sekolah bergengsi aman dari tindak kekerasan? Justru sekolah seperti ini mengedepankan kasta baik dari segi ekonomi, intelegensi dan bakat.
Terlalu banyak kata tahu. Tapi aku mengerti. “Ya. Mereka menyebutku freak, weirdo,, gypsy, witch, black aura, pembawa sial, menulardan entah apa lagi. Biar begitu, Kei butuh aku.”
Suaraku lebih lunak . Bahkan kutambahkan tawa kecil sambil mengacungkan dua tangan. Apa anehnya sarung tangan? (Halaman 18)
Rhea terlahir dengan kemampuan clairtangency dala dirinya. Yang mendatangkan hal baik sekaligus hal buruk secara bersamaan.
Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan berbeda, termasuk Rhea. Tumbuh dengan kehilangan memori asal usulnya sehingga dia harus berada dibawah asuhan orang tua angkat.
Namanya Elgar. Rhea memanggilnya Bang El.  Usia 29 tahun, PhD bidang kehutanan, peneliti dan petualang, single parent, satu anak perempuan, tetapi belum menemukan perempuan yang mau menjadi Jane untuk menemani Tarzan.
Saat ini Rhea kelas X11 di Dharmawangsa Internasional High School (DIHS). Sekolah yang membukakan pintu untuk cinta pertamanya, Aidan Narayana. Sayangnya, kematian justru menjemput Aidan lebih dulu sebelum perasaan Rhea terungkap.
Dugaan bunuh diri menghiasi pemberitaan kematian Aidan. Hal itu sangat mengusik orang-orang terdekat termasuk Rhea dan sahabat Aidan, Kei dan River. Mereka tidak memercayai bahwa Aidan adalah korban dari penyalahgunaan narkoba.
Menggunakan bakatnya tersebut, Rhea melakukan banyak pencarian demi mengungkap kasus kematian Aidan. Hingga dalam proses pencarian itu Rhea menghidupkan sosok Aidan dalam sebuah kenangan. Yang membuatnya berinteraksi hingga kedekatan yang tak terdefinisi menjadi jelas.

Membaca Romansa Clair
Bisa ditebak bahwa bumbu percintaan yang diberikan adalah antara Rhea dan Aidan. Secret Admirer cukup menjelaskan hubungan Aidan dan Rhea.
Rhea diam-diam menyukai Aidan, siswa populer terutama dikalangan cewek dan kapten tim basket sekolah. Menyukai Aidan secara terang-terangan adalah aksi bunuh di tempat umum. Karena hanya akan memicu gerakan penolakan dari para penggemar Aidan. Ditambah dengan bakat yang dimiliki Rhea sehingga membuatnya dianggap aneh oleh seluruh penghuni sekolah.
Sebuah projek membuat esai yang didapatkan Rhea dari guru creative writing menyumbangkan kenangan bersama Aidan. Museum menjadi salah satu area terlarang bagi Rhea untuk tidak terpapar emosi dalam kenangan. Sehingga tempat lain yang bisa dia tuju untuk menyelesaikan tugasnya adalah perpustakaan.
Takdir berkehendak, Rhea bertemu dengan Aidan di salah satu lorong perpustakaan. Ketika Rhea sedang mengamati sebuah buku Bandung Zaman Dulu (Halaman 42).
Mengamati dari jauh, begitu yang biasa Rhea lakukan untuk bisa bertemu Aidan. Melalui jendela di ruang control AC yang berada dilantai 2, Rhea mengamati Aidan yang ada di lapangan basket. Saat itu Aidan sedang kalah taruhan sehingga harus menerima tradisi potong tali sepatu (TPTS). Sebuah kebiasaan yang hanya dilakukan anak basket DIHS. Kemudia Rhea memungut potongan tali sepatu Aidan yang sudah dibuang dan menyimpannya.
Sebuah kisah cinta yang sangat polos yang banyak sekali terjadi didunia nyata remaja. Dan hal ini memberikan sedikit rona terang dari keseluruhan cerita yang gelap.
Namun akhir kisah cinta Rhea dan Aidan juga menambahkan derajat kepiluan atas kasih tak sampai yang berujung kematian. Mengacak-acak emosi pembaca ketika Rhea menyadari bahwa seseorang yang berbicara dengannya selama ini hanyalah sosok kenangan Aidan.

Kutelan ludah susah payah. Memandang lekat Aidan yang meringkuk. Tanganku terulur lagi, menyentuh pipinya. “Maafkan aku, Aidan. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Aku perlu berpikir lagi.”
Aidan mengangguk dan memejamkan mata (halaman 219).


Otak Dibalik Clairtangency 
Bunda Ary, demikian beliau disapa pembacanya. Berkarir lebih dari 10 tahun didunia literasi. Penerjemah dan editor mengawali karirnya sebelum memutuskan menjadi  penulis full-time.
Lebih dari 50 judul buku untuk anak, remaja dan dewasa yang sudah ditulis. Puluhan karyanya itu membuahkan hasil dengan mendapatkan penghargaan nasional, seperti Islamic book fair award untuk penerjemahan terbaik dan Rohto-Mentholatum Golden Award untuk penulisan cerpen remaja. Penghagaan internasionalpun beliau dapatkan dari Scolastic Picture Book Award dan Samsung kids Time Author Award.

Clair menjadi salah satu buku lokal yang membuat saya bertepuk tangan. Narasi yang dibuat menyerupai buku-buku luar yang fokus pada detail baik yang terbaca dengan mata maupun tidak. Sehingga tidak mengherankan jika setiap bab sangat sulit untuk tidak langsung membaca bab selanjutnya.


Visualisasi karakter yang dibuat nyata dalam bentuk animasi menambah kuat karakter. Meski hanya ditampilkan sebagai pemanis namun hal itu benar-benar sangat menyenangkan pembaca. Karena remaja-remaja keren tersebut seperti nyata.
White menjadi akhir dari buku 366 halaman ini. Karena ada ketulusan dan kesucian yang telah disampaikan.

1 January,
You’ve come along to change my life

(Aidan Narayana)

Minggu, 06 Oktober 2019

LET’S TALK ABOUT REASON

23.03 16 Comments
Mengapa membaca 13 Reason Why?
First Reason
Sederhana, karena termakan iklan hehehe.
Sedang berproses menjadi bookstagram, bohong hehehe. Saya hanya memfasilitasi minat baca saja. Menjaga, minimal, konstan membaca. Satu bulan satu buku. Bukan hal yang sulit dilakukan rupanya. Bahkan cenderung mudah, saat ini.
Membuka Instagram artinya meracuni diri sendiri. Akun-akun bookstagram itu seperti memberikan sugesti bahwa buku-buku yang mereka unggah terlalu menarik jika hanya dilihat. Maka caption pun saya baca. Terus beralih pada akun yang di mention. Berakhirlah pada akun penerbit. Dan kebetulan yang disengaja, penerbit itu memajang sebuah banner pre order buku, dengan bonus tentu saja. Sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, bagi saya pemburu gratisan.

Karena tidak ingin membeli barang dalam karung, proses pencarian terus berjalan. Mencari review dan komentar yang sudah baca maupun yang ingin baca. Ditambah materi promosi yang benar-benar membuat saya langsung terpikat. Tidak perlu berlama-lama akhirnya buka aplikasi lain, Whatsapp, langsung buka kolom percakapan dengan suami. Minta beliin, tentu saja. Karena budget beli buku saya sudah habis, jadilah menadahkan tangan ke suami, sebagai satu-satunya jalan keluar agar 13 RW ini sampai ditangan hehehe.




Second Reason
Menantang diri sendiri
Sok banget, ya? tapi bener. Emang sok banget.
Bisa dibilang ini novel psikologi pertama saya. Sebenarya dulu pernah punya, tapi sudah berpindah tangan sebelum saya baca. Karena iklan tadi benar-benar melekat dikepala makanya novel ini terpaksa harus selesai dibaca.
Bukan hal mudah, akhirnya kembali memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Terakhir kali mencoba, berakhir dengan tumpukan buku yang tidak terbaca. Makanya, sejak dua bulan lalu saya memutuskan realistis, membaca yang disuka. Soal ilmu yang dibutuhkan hanya dibaca saat perlu saja alias sebagai selingan.
Beberapa waktu terakhir memang sedang tertarik dengan segala sesuatu yang membahas tentang kejiwaan. Beberapa kali nonton film tentang penderita skizofrenia, berdiskusi tentang gangguan kejiwaan dengan berbagai macam sudut bahkan dari sudut agama, juga membaca artikel terkait. Hanya buku fiksi yang belum. Dan bertemu buku ini seperti pencerahan lain.
Mengangkat sebuah fenomena suicide dikalangan remaja di sebuah negara maju. Sebuah magnet besar yang membuat saya enggan berpaling dari buku ini. meski memerlukan waktu hampir 20 hari untuk menyelesaikan sampai akhir.

Apa yang Spesial dari 13 Reason Why?

.
Peta Yang Dibagikan Hannah
Third Reason
Meresensi buku menjadi kewajiban kedua setelah membaca buku. Dalam beberapa hal, saya termasuk mudah bosan. Begitu juga dengan membuat resensi. Sehingga saya membuat banyak cara untuk mengupas sebuah buku yang berbeda seperti yang kebanyakan orang lakukan. Pernah juga melalui tokoh utamanya. Seperti buku Nona The dan Tuan Kopi.
13 RW ini pun bernasib sama. Karena saya merasa akan sangat biasa jika membuat resensi buku ini seperti biasanya. Kemudian saya memanfaatkan salah satu halaman yang berisi tetang bahan diskusi buku 13 RW.
Novel ini diceritakan melalui dua sudut pandang tokoh yaitu Clay Jensen dan Hannah Baker
Clay menjadi salah satu penerima paket kaset yang berisi tentang alasan Hannah Baker bunuh diri. Dalam paket tersebut terdapat 7 kaset yang menyimpan 13 alasan Hannah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Juga dari sudut pandang Hannah yang bercerita melalui kaset yang rekamannya sedang didengarkan oleh Clay.
Pembaca dihadapkan dengan dua emosi dari dua orang remaja. Emosi Clay danemosi Hannah. Hebatnya adalah saat membaca kita tidak dibuat bingung dengan emosi siapa yang sedang diungkap. Keduanya digambarkan dengan baik dan berbeda juga konstan hingga akhir. Hanya saja untuk saya sendiri lebih mudah mendalami perasaan Hannah dibanding Clay.

Berikut ulasan berdasarkan materi yang sudah disiapkan.

Sumber : IG Penerbit Spring

Adakah yang bisa menyelamatkan Hannah?
Jawaban saya tidak.
Hannah menghadapi situasi yang sangat rumit. Pindah ke kota baru memberinya harapan baru. Harapan akan perubahan yang lebih baik. Namun sepanjang dia berusaha menjalani hidup di lingkungan baru, Hannah hanya mendapatkan keping-keping harapannya hancur sedikit demi sedikit hingga hilang tak bersisa.
Jelas sekali bahwa Hannah menunjukkan tanda-tanda permasalahan dalam dirinya. Tanda tentang jiwa seseorang yang sedang terganggu. Hanya saja orang-orang disekitarnya tidak memedulikannya. Tidak memedulikan terdengar sangat kasar mungkin tidak peka lebih tepat. Karena mereka yang mengalami permasalahan dalam dirinya itu gampang-gampang sulit untuk dilihat. Sangat mudah bagi orang terdekat, karena perubahan pasti sangat jelas. Untuk orang lain, mungkin, kesulitannya adalah pada bagian mengungkapkan.
Ada yang bilang, orang-orang seperti Hannah tidak boleh ditinggalkan. Benar. Tapi bagaimana jika sejak awal mereka merasa sendiri.
Begitulah yang Hannah rasakan.

Sumber : IG Penerbit Spring

Siapakah yang bisa menyelamatkan Hannah?

Berdasarkan buku ada dua orang yang mampu menyelamatkan Hannah, seharusnya. Sayangnya kedua orang yang memiliki kesempatan tersebut berakhir dengan masukknya nama mereka dalam daftar penerima kaset.
Yang pertama adalah Clay Jensen. Orang yang menyadari perubahan Hannah.
Sebenarnya Clay memiliki peluang paling besar bisa menghentikan niat Hannah. Clay menyimpan ketertarikan tersendiri pada Hannah sehingga selalu ada waktu khusus bagi Clay untuk memerhatikan Hannah. Saat berpapasan di koridor, di dalam kelas yang mereka ikuti bersama, di tempat kerja bahkan pada pesta disuatu malam. Sehingga Clay tahu bahwa ada yang berubah dari diri Hannah.
Clay memiliki banyak kesempatan untuk sekedar mengobrol dengan Hannah. Membuat Hannah merasa nyaman dengannya sehingga Hannah akan meresa bahwa ada sedikit hal indah dalam hidupnya. Bahwa ada sedikit ruang untuk tidak merasa ketakutan.
Hanya saja, Clay mudah menyerah. Ketika Hannah mulai merasa nyaman dengannya. Ketika akhirnya Clay memiliki kesempatan untuk menunukkan perasaannya. Hannah ustru mendorongnya menjauh diwaktu bersamaan.
Apa yang perempuan inginkan itu kebalikan dari yang mereka tunjukkan.
Benar.
Seharusnya Clay tetap tinggal ketika Hannah memintanya pergi. Seharusnya Clay tetap berada di samping Hannah meski Hanna menolak. Inilah penyesalan terbesar Clay. Yang membuatnya merasa bersalah pada Hannah. Dihari Clay memutuskan untuk mengikuti permintaan Hannah, dihari itulah dia sudah kehilangan Hannah.
Yang kedua adalah Mr. Porter
Mr.Porter adalah guru bahasa inggris yang mengajar Hannah dan Clay. Sekaligus sebagai konselor yang menangani siswa dengan nama yang  berawalan huruf A sampai G. Hannah Baker termasuk didalamnya.
Hannah yang pertama kali mendatangi Mr.Porter.
Mr.Porter menerima Hannah dengan baik. Mendengarkan setiap keluhan Hannah. Kesalahan Mr.Porter hanya satu, dia tidak menyadari bahwa kesulitan yang dialami Hannah sudah sampai pada batas kemampuannya. Kemampuan untuk menanggung dan menyelesaikan seorang diri.
Bila dibuat analogi, Hannah adalah seorang pasien sekarat yang berada di meja operasi. Dengan Mr.Porter sebagai dokter bedahnya. Seharusnya Mr.Porter mengehentikan pendarahaan terlebih dahulu sebelum mencari penyebab dari pasien yang sekarat. Karena salah langkah, akhirnya pasien tersebut meninggal karena pendarahan hebat.
Seperti itulah yang Hannah alami. Konsultasi yang ia harapkan akan memberinya kesempatan berpikir ulang justru membuatnya merasa yakin bahwa keputusannya benar. Konsultasi itu semakin membuat Hannah tertolak. Sementara Mr.Porter tidak pernah mengejar apalagi mencegah keinginan Hannah.
Ini hanya satu poin dari rekomendasi hal-hal yang bisa didiskusikan. Seandainya semuanya dibahas satu per satu mungkin akan terbit buku dengan nama saya sebagai penulisnya (hehehe).

Fourth Reason
Selain memberikan beberapa poin tersebut juga ditampilkan catatan-catatan penulis selama membuat kisah Hannah yang berupa tulisan tangan. Bahkan ada ending lain dari cerita ini yang tidak diterbitkan namun dimunculkan dalam buku ini. maksudnya akhir cerita sebelum masuk meja penerbit. Dan hal ini membuat pembaca lebih banyak mendapat kesempatan untuk berpikir kembali.
Buku ini juga meraih banyak penghargaan. Yaitu dari American Library Association’s dan langsung menyabet dua penghargaan sekaligus. Juga penghargaan dari toko buku waralaba dengan jumlah cabang terbanyak di sepanjang Amerika, Barnes and Noble.

Sumber : IG Penerbit Spring

Sumber : IG Penerbit Spring
After taste setelah membaca 13 Reason Why adalah dark grey. Meski bukan jenis novel horror misteri yang mencekam namun kisah hidup Hannah sungguh memilukan. Sebuah potret kehidupan remaja yang sering terlewat oleh sudut pandang orang dewasa.
Untuk mereka yang sedang merintis karir sebagai penulis dan sedang tertatih bahkan sekarat, bacalah buku ini untuk membakar semangat menulis yang hampir padam.
Untuk para remaja yang merasa hidup kalian baik-baik saja, bacalah buku ini agar empati kalian bisa terasah.

Dan untuk para orang tua, ingat! Dunia remaja bukan hanya seputar pencarian jati diri. Tapi masa saat kelekatan antara orang tua dan anak sedang dipertaruhkan. Dekati dan peluk remaja kita, karena kitalah tempat paling nyaman yang mereka butuhkan.

Senin, 16 September 2019

Getirnya Menyempurnakan Iman

19.24 0 Comments
Setelah menikah beberapa tahun lalu, tema pernikahan menjadi sangat menarik. Baik dalam bentuk visual maupun tulisan. Weeding Agreement menjadi salah satu judul buku yang akhirnya saya baca setelah filmnya ditayangkan. Alasan yang lebih sepele lagi adalah karena saya tidak bisa menyaksikannya di bioskop.
Tentu saja yang paling utama adalah buku biasanya memiliki cerita lebih lengkap. Juga untuk beberapa cerita saya merasa bisa lebih emosional dengan membaca dari pada melihatnya dalam bentuk grafis. Ditambah lagi setelah mengikuti bedah buku dari penulisnya langung. Sehingga tidak ada kesempatan berpikir ulang untuk membelinya. Karena lepas acara tersebut selesai saya menjadi salah satu dari ribuan orang yang memesannya.



Mia Chuz mengisahkan kehidupan rumah tangga Btari Hapsari dengan Bian. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga. Sehingga keduanya tidak saling mencintai saat menjalani kehidupan rumah tangga.
Witing tresno jalaran soko kulino, pepatah jawa itu benar adanya. Namun tidak semudah itu yang dialami oleh Tari dan Bian.
Baru beberapa jam menikah, Tari menerima sebuah dokumen dari Bian. Secarik kertas yang mampu menggoyahkan keteguhan hati Tari tapi juga menguatkan diwaktu bersamaan. Bian memberinya sebuah kesepakan pernikahan. Bian meminta Tari untuk menjalankan semua poin  yang ada di dalam perjanjian tersebut sebelum pernikahan ini berakhir satu tahun yang akan datang.
Wanita mana yang tidak kecewa mengetahi bahwa pernikahan hanya menjadi sebuah permainan yang bisa berakhir setiap saat. Karena bagi Tari pernikahan itu sesuatu yang suci. Yang dibangun atas dasar iman. Yang akan menyempurnakan iman setiap muslim.
Tidak ada pilihan lain selain memenuhi keinginan Bian. Meski Tari tahu semua itu bertentangan dengan nuraninya. Tapi bisa apa lagi? semua upayanya selalu mendapat penolakan. Sarapan yang Tari siapkan tidak pernah tersentuh. Bahkan mencuci pakaian Bian pun Tari hanya mendapat omelan. Kadang bentakan Bian pun Tari terima ketika membersihkan kamarnya.
Apakah cukup sampai disana? Tidak. Tari bahkan harus berperan menjadi seorang istri yang bahagia yang menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia. Tidak hanya dihadapan keluarga Bian tapi juga didepan keluarganya sendiri.
Bagian terburuk yang Tari terima bukanlah tidak dicintai Bian. Melainkan hadirnya wanita lain dalam biduk rumah tangga. Bahkan sosok wanita itu sudah hadir sebelum pernikahan itu berlangsung. Perempuan yang akhirnya Tari ketahui menjadi sumber penyebab suaminya tidak menghargai pernikahan mereka.
Akankah Tari bertahan meski tidak pernah menjadi wanita dalam hidup Bian?



Kisah Tari ini ditulis hingga mencapai 350 halaman lebih. Menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Yang setiap hari digunakan pembaca. Sehingga seperti sedang mendengar cerita dari seorang sahabat.
Kehidupan Tari digambarkan sangat religious. Hijab yang sudah dikenakan semenjak bangku sekolah menengah. Kemudian kewajiban-kewajiban seorang muslim yang tidak pernah ditinggalakan. Semuanya selaras dengan sudut pandang dan sikap Tari. Meski tidak menjadi seorang istri yang normal, tidak lantas membuatnya menjadi seorang istri pembangkang. Ia merupakan representative seorang istri soleha jaman digital.
Sejujurnya saya sedikit terganggu dengan keberadaan bahasa asing yang digunakan dalam percakapan. Entah mengapa hal itu seperti tidak menyatu dan sedikit dipaksakan. Bahkan dibeberapa adegan cenderung mengganggu kelekatan emosi saat membaca.
Apresiasi yang luar biasa kepada Naniko Publishing dan CV. RinMedia. Kualitas bukunya sangat bagus. Cetakannya terbaca dengan jelas dengan ukuran huruf yang pas. Sangat nyaman sekali saat membaca. Selain itu jilidan bukunya yang sangat kuat. Menurut saya novel ini memiliki kualitas fisik terbaik dari seluruh buku yang saya miliki.
After taste setelah membaca buku ini adalah light yellow.
Yang suka dengan kisah cinta mainstream dengan sedikit konflik layak menjadikan novel ini sebagai salah satu koleksi. Karena saat membacanya tidak perlu berpikir keras. Cukup menyediakan waktu dan menyiapkan hati dan tisu. 


Kamis, 12 September 2019

Diam Bukan Tak Cinta

18.30 7 Comments

Wajah rupawan tidak menjamin mendekatnya jodoh. Satrya, sepertinya cocok dengan ungkapan itu.
“Orang ganteng mah gampang”
Sering mendapat komentar dari teman-temannya mengenai mudahnya perempuan untuk dekat dengannya. Namun siapa yang mengira bahwa nasib percintaannya tidak setampan wajahnya. Lihat saja di usia menjelang 30 tahun Satrya masih sendiri, bahkan sahabat yang diam-diam disukainya pun memilih laki-laki lain sebagai suami. hingga akhirnya dia bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan sahabatnya.
Berbeda dengan Athaya. Satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai IT analyst . Masuk kedalam golongan mid class. Tidak dibatas atas atau batas bawah standar stereotype wanita cantik Indonesia. Kalau semua jenis wanita dikumpulin maka perlu kejelian untuk menemukan keistimewaan Athaya.
Nah, kalau Ghilman ini satu level dengan Athaya. Tapi dia punya sisi yang terlalu menarik untuk masuk kedalam golongan tengah. Secara Ghilman ini termasuk cowok dengan pengendalian diri yang sangat baik. Diselingkuhin sampai pacarnya hamil pun dia masih bisa kontrol emosi. Bukan yang marah-marah apalagi ngamuk sampai main pukul tembok sembarangan. Jenis cowok yang kalem tapi tegas diwaktu yang tepat.
Kalau saya disuruh milih antara Ghilman dan Satrya, ya, pasti jawabannya Ghilman. hehehe
Ini bukan kisah cinta segitiga yang emosional yang menguras air mata. Yang tokohnya harus menjadi orang yang merana berhari-hari. Bukan juga perlombaan memenangkan hati seorang gadis. Benar-benar kisah cinta yang dewasa. Yang kekanakkan hanya milik Geng Fogging hehehe. Jadi kalau berharap ada adegan romantis seperti di sinetron jawabannya pasti enggak ada.
Geng Fogging ini laki-laki generasi muda yang punya kebiasaan sama yaitu merokok. Satrya dan Ghilman masuk didalamnya karena mereka semua satu kantor hanya berbeda divisi saja. Sisi komedi yang bikin ketawa itu sumbernya dari mereka ini. 






Yang paling saya suka dari novel setebal 345 halaman ini adalah karakter tokohnya yang sangat kuat. baik itu tokoh utama maupun tokoh pendukung. Penguatan itu tidak hanya dibangun melalui deskripsi fisik tapi juga melalui sudut pandang orang lain, dialog dan cara berpikir mereka. Seolah-olah karakter tersebut hidup. Seperti tidak sedang membaca buku tapi menonton film yang layarnya ada dikepala.


Baca Juga Wanita Mencipta Surga


Dialog. Ada banyak sekali percakapan dari awal sampai akhir cerita. Perbandingannya seimbang antara narasi dan dialog. Tapi dialog ini memainkan peran penting terutama saat membaca bagian tokoh figuran. Lebih terasa komedi dibanding romantis. Guyonan yang khas anak muda ibukota. Kalau diibaratkan makanan seperti sedang mengunyah krupuk. Renyah dan mau nambah terus
Seperti yang saya bilang tadi semua karakter dibangun sangat baik. Sehingga penuturan setiap tokoh itu mengalir begitu saja. tidak dibuat-buat dan tidak dipaksakan. Memang akan banyak ditemukan umpatan-umpatan yang kurang sopan yang menjadi bagian dari lingkungan yang dibangun. Namun, justru disanalah letak kekuatannya. Jangan dibayangkan kata-kata kasar itu disertai amarah dan semua nama hewan di Ragunan keluar semua. Umpatan itu hanya bagian dari dialog candaan sehari-hari.
Penulis sudah menerbitkan dua buku dari penerbit yang sama. SKdPL salah satunya. Sayangnya pada buku pertama terbit ini kualitas kertasnya kurang bagus. Sudah menguning padahal baru berusia 3 tahun dari pertama kali beli. Ditambah, jilidnya yang sudah hampir lepas. Dibandingkan buku kedua penulis, kualitas buku pertama ini jauh dibawahnya.
Kalau membaca judul dan isi memang sedikit jauh. Tapi 80% kejadian dalam cerita menggunakan latar belakang gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Kubikel-kubikel yang memisahkan meja kerja karyawan serta seputar pekerjaan dibidang teknologi dibahas dengan sangat jelas.
Anak IT wajib baca buku ini. Tekanan kerja yang berat bisa diangkat tinggi setelah membaca kisah Athaya dan Geng Fogging. Semacam oase di tengah gurun gobi hehehe Yang jelas baca buku ini bisa jadi hiburan. Bikin otak benar-benar fresh.

Nah sudah bisa nebak kan after taste setelah baca novel ini? Yups, merah jambu alias pink. Manis cinta dan persahabatan mereka itu beneran kerasa. Saya bisa halu berhari-hari dibuatnya. Bolehlah disejajarkan dengan buku kesayangan yang udah puluhan kali dibaca tapi enggak bikin bosan.

Minggu, 08 September 2019

Berdiri Setegar Varsha

18.53 14 Comments
Apa yang paling menakutkan bagi wanita sudah berusia tiga puluh tahun? Mendapatkan pertanyaan kapan menikah.

Pada titik saat kepercayaan diri terjun bebas ke dasar jurang berganti dengan rendah diri yang kadarnya menjulang setinggi gunung Himalaya, membuat kaum hawa berkubang dalam keputusasaan.
Berlenggak lenggok dengan tebaran wangi bunga sehingga kumbang bergerak mendekat. Tak perlu berpikir panjang apakah itu lebah madu atau tawon penyengat, selama jantan cukup langsung terkam. Menghalalkan segala cara agar terhindar dari menjawab pertanyaan keramat.
Varsha, mewakili sedikit wanita yang legowo dalam menyikapi kesendirian di usianya yang semakin dewasa. Tak selalu mengabaikan tapi juga tidak memasukkan dalam hati tentang pernyataan orang bahwa kesuksesan karirnya harus menumbalkan sisi kehidupannya, jodoh.
Pun bukan seseorang yang membenci pertemuan keluarga karena bosan dengan cercaan kerabat karena kesendiriannya. Cukup melebarkan senyum dan menulikan telinga maka semua akan berjalan baik-baik saja.
Bukan pula menjadi seorang yang munafik. Bersikap kuat didepan orang kemudian menangis meraung-raung dalam dekapan bantal diiringi lagu sendu yang membuatnya semakin terpuruk menerima kekalahan dalam bursa jodoh.
Tidak pula termasuk golongan wanita penuh trauma. Yang hanya bisa menyalahkan semesta apalagi Tuhan atas konspirasinya sehingga membuatnya jauh dengan keberanian berkomitmen.
Varsha bukanlah wanita yang demikian. Dia tidak merasa dikejar waktu untuk menikah. Tidak merasa rendah diri karena belum memiliki pasangan. Pun bukan seorang yang ambisius dengan karir.

Gue nggak mengecilkan kekuasaan Tuhan, gue cuma … berusaha untuk ikhlas, Hel. Gue nggak mau menuntut jodoh ini-itu. Jika Tuhan memberi gue kesempatan untuk bertemu jodoh di dunia, gue minta tolong kepada-Nya untuk didekatkan. Tapi, jika Tuhan ingin mempertemukan jodoh gue di akhirat, gue ikhlas. (Halaman 65)

Dia hanya menggunakan setiap kesempatan yang dimiliki dalam hidup secara optimal. Membuat pencapaian dalam hidup juga karir yang belum tentu datang kembali. Memberikan seluruh cinta pasangan dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan memang masih dalam rencana Tuhan. Namun semua itu hanya sebagian kecil dari cinta.  Ada banyak sekali bagian cinta yang bisa Varsha rasakan. Mencintai keponakannya seperti anaknya sendiri meski dia tidak pernah tahu rasanya menjadi ibu. Mencintai keluarganya, adiknya juga ibunya, panutan dalam hidupnya. Ayahnya? Sudah termasuk kedalam mencintai keluarga, bukan? 


Crowdstroia menuliskan kisah Varsha dengan sederhana. Meski tidak cukup rumit untuk menampilkan kompleksnya persoalan yang dihadapi wanita dewasa. Pemilihan kata yang dekat dengan kehidupan pembaca cukup mudah untuk menghidupkan sosok Varsha dalam imaginasi.
Hanya saja kesederhanaan ini gagal digunakan saat membangun emosi pada fase Varsha kehilangan ibunya. Sosok perempuan yang membuatnya tetap tegar dan tumbuh menjadi wanita kuat.
Meski, ya, saya tetap larut dan meneteskan air mata membaca narasi duka dan kehilangan. Poin ini bisa diabaikan karena tingkat kepekaan seseorang berbeda.
Nona Teh dan Tuan Kopi menjadi judul dari buku ini. bahkan sampul buku pun menggunakan daun teh dan biji kopi menyerupai lambang yin dan yang. Hal ini pula yang memberi magnet kuat bagi saya untuk membelinya. Hanya saja jangan berharap akan mendapatkan banyak informasi mengenai dua jenis minuman tadi. Kedua minuman tersebut hanya menjadi minuman kesukaan tokoh utama. Informasi khusus tentang minuman tersebut terlalu sedikit diberikan sehingga pembaca tidak pernah menyangka bahwa ada keterkaitannya dalam cerita.
Bagi penyuka genre misteri, dibagian akhir buku ini akan menemukannya. Meski untuk saya sedikit dipaksakan. Meski demikian saya pun dibuat gemas dengan mengikuti setiap langkah yang dituliskan hanya untuk membuktikan kebenarannya.
Untuk mereka yang mengalami jalan hidup serupa dengan Varsha, membaca buku ini menjadi keharusan. Melihat dari sudut pandang Varsha akan membuat pemahaman baru bahwa menikah bukan hanya persoalan waktu dan usia tapi keikhlasan menerima takdir Tuhan.

Yang paling akhir adalah after taste usai membaca novel ini adalah kuning. Karena hanya nona teh yang banyak dibicarakan sementara Tuan Kopi hanya muncul sekejap sehingga meninggalkan penasaran untuk segera membaca sekuelnya. 

Minggu, 01 September 2019

Resensi Buku Lockwood & Co. : The Creeping Shadow

18.54 0 Comments




Penulis : Jonathan Stroud
Tahun :2017
Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama 



Sinopsis
Kota dikepung arwah? Kanibal bangkit dari kematian?
Hanya ada satu tim pemburu hantu yang kau butuhkan

Namun Lockwood & Co. kekurangan satu agen-Lucy Carlyle sekarang menjadi operatif lepas.
Dan mereka kewalahan menangani pekerjaan : tapak-tapak tangan raksasa di jendela, bunyi pisau memotong-motong di dapur berhantu…
Belum lagi bayangan mengendap-ancaram raksasa yang mengintai pekarangan gereja desa, membangkitkan para hantu dari kubur.
Lockwood & Co. sangat memburuhkan bantuan Lucy.
Kalau saja mereka mampu membujuknya untuk kembali…



Penokohan
Ada banyak tokoh dalam serial Lockwood & Co. Keseluruhan tokoh itu muncul hampir diseluruh seri. Meskipun cerita berpusat pada sebuah agensi kecil pemburu hantu yang dipimpin oleh Anthony Lockwood.
Penulis menggambarkan karakter tokohnya dalam berbagai cara. Meskipun menggunakan sudut pandang orang pertama tapi penggambaran setiap tokoh Nampak jelas, konsisten dan sangat kuat.
Melalui tokoh Lucy, semua seri buku menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh Lucy, penulis menggambarkan fisik karakter dengan baik. George, salah satu agen yang bekerja di Lockwood & Co. Dia digambarkan sebagai sosok yang cerdas namun jarang terlihat rapi dan lebih sering terlihat casual. Sering menggunakan T-shirt dibandingkan kemeja. Ditambah dengan sebuah kacamata yang selalu dikenakan semakin memperjelas rasa ingin tahunya yang tinggi. Dan George selalu mendapat tugas untuk melakukan penelitian sebelum bertugas.
Melalui cara berpikir, penulis menggambarkan karakter tokoh dengan sangat baik. Bahkan hanya membaca dialog saja, kita akan tahu siapa tokoh yang sedang berbicara. Lockwood, pimpinan agensi, benar-benar menjadi figure seorang pemimpin. Pandai berdiplomasi dan mampu membuat keputusan yang tepat yang langsung dipatuhi timnya. (Halaman 243)

Setting
Inggris menjadi latar belakang cerita ini. jenis bangunan, nama jalan bahkan wilayah-wilayah khususnya London menjadi lokasi yang paling banyak digunakan.
Desain bangunan rumah yang besar-besar yang menunjukkan status social pun digambarkan dengan sangat baik. Bahkan bentangan sungai Thames dideskripsikan dengan sangat jelas dengan tambahan visual lain yang mendukung cerita. Seperti bantaran sungai yang menjadi lapak penjual menggelar dagangannya seperti garam yang digunakan agen untuk menangkap hantu.

Alur
Penulis menuguhkan cerita dengan menggunakan alur progresif. Sehingga pembaca hanya perlu menikmati cerita yang mengalir. Tidak perlu membolak-balik halaman untuk menghubungkan setiap kejadian.
Buku ini kaya akan klimaks. Karena setiap konflik yang diciptakan, konflik kecil maupun besar semuanya memiliki puncak. Bisa dipastikan emosi pembaca seperti saat berada dalam wahana roller coaster. Ada kalanya berjalan lambat bergerak menuju puncak, dan disanalah adrenalin pembaca mulai dipacu.

Konflik
Terdapat beberapa konflik yang diciptkan dari awal buku. Namun konflik ini memiliki benang merah sehingga satu sama lain saling terkait. Konflik pertama lebih berfokus pada pekerjaan Lucy sebagai seorang agen lepas. Menggambarkan dengan baik bagaimana Lucy bekerja dengan tim baru yang sangat berbeda dengan teman-temannya sebelumnya.
Konflik kedua muncul yaitu berkolaborasinya Lockwood & Co. dengan menyewa jasa Lucy untuk menyelesaikan sebuah kasus yang membutuhkan kemampuan Lucy, yaitu kemampuan mendengar dan berinteraksi dengan makhluk astral. Setelah itu konflik-konflik bermunculan hingga beralih pada sebuah kasus besar yang menjadi inti dari seri buku ke-4 ini.

Penutup
Seri bayangan mengendap ini menggunakan bahasa yang ringan tetapi kompleks namuntidak terasa berat untuk menyelesaikan buku setebal 400 halaman ini. Justru pembaca dibuat enggan untuk berhenti ditengah-tengah karena emosi yang sudah terlanjut melebur dengan petualangan Lucy dan kawan-kawan. Meskipun menggunakan istilah-istilah untuk menggambarkan fenomena dan aktivitas hantu, tidak akan mengganggu saat dibaca. Selain dijelaskan dalam glosarium dibagian akhir buku juga masih disertakan gambaran-gambaran singkat dalam cerita.
After taste setalah membaca buku ini adalah abu-abu terang. Tidak cukup gelap dibandingkan buku-buku sebelumnya. Bahkan terasa lebih santai dan melegakan.
Berharap menemukan twist diakhir cerita? Jawabannya adalah iya. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan. Bahkan pembaca dibuat tercengang. Hanya saja open ending membuat pembaca terutama saya pribadi sangat kesal. Karena tidak sabar untuk segera mengungkap misteri dibuku selanjutnya.

Resensi Buku In A Blue Moon

00.10 2 Comments


Penulis : Ilana Tan
Tahun : 2019
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Blurb
“Apakah kau masih membenciku?”
“Aku heran kau masih merasa perlu bertanya.”
Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu-oh, bukan!_ melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lukas oleh kakeknya yang suka ikut campur.
Lukas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga kerna ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang – itu sangat jarang terjadi, tentu saja – kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.








Gaya Bahasa
Pertama membaca bab pertama sudah terlihat penggunaan bahasa yang sederhana. Tidak terlalu banyak penggunaan diksi yang tidak biasa selain untuk menguatkan latar belakang belakang tokoh.

Ia menurunkan ponsel dari telinga dan memberinya isyarat kepada salah seorang sous chef-nya, menyuruhnya mengambil alih pekerjaan. (halaman 11)


Penggunaan diksi yang sederhana ini memudahkan pembaca untuk menyatu dengan emosi yang dialami oleh setiap tokoh. Tidak perlu berpikir keras untuk menginterpretasikan setiap rasa yang ingin disampaikan penulis.

Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Sophie terlonjak kaget. Ia memejamkan mata dan mendesah pelan sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya. Ia menatap nama yang muncul di layar sejenak, lalu memutuskan hubungan tanpa menjawab telepon. (Halaman 215)


Gaya bahasa yang sederhana tidak membuat novel ini menjadi miskin diksi. Sisipan-sisipan istlah khusus, meskipun jumlahnya tidak banyak, memberikan pengaruh kuat terutama dalam pembentukan latar belakang tokoh. Bahkan pilihan istilah tersebut jarang digunakan penulis kebanyakan.
Tartlet merupakan potongan kecil dari kue tart dengan hiasan diatasnya. Biasanya banyak disajikan dalam dessert table. Kata ini muncul pada halaman 123 yang menunjukkan bahwa Sophie seorang pemilik toko kue yang memahami berbagai macam jenis dan kue. kebanyakan penulis mungkin akan menggunakan potongan kue atau memilih jenis kue lain yang lebih umum didengar.




Plot
Ilana Tan memilih alur campuran untuk menyajikan kisah antara Lucas dan Sophie. Dimulai dengan bertemunya kembali Lucas dan Sophie setelah berpisah bertahun-tahun lamanya.
Alur maju digunakan untuk menceritakan kehidupan dan hubungan antara tokoh. Sementara alur mundur dipakai saat menjelaskan masa llau yang menjadi salah satu konflik dasar yang terjadi antara Sophie dan Lucas.
Akhir dari kisah ini sudah bisa ditebak bahkan saat membaca sinopsis cerita. Namun cerita dengan banyak klimaks membuat pembaca tidak merasa bosan dan sangat menikmati halaman demi halaman.



Penokohan
Saya merasa kesulitan menggambarkan setiap karakter yang diciptakan. Hampir semua tokoh laki-laki menggunakan nama-nama yang ada dalam sebuah film animasi anak-anak, Thomas and Friends. Seperti Lucas, Gordon, Spencer bahkan Thomas. Karena lebih dulu mengenal mereka sebagai tokoh kartun sehingga saya harus bekerja lebih keras untuk membuat mereka berbeda.
Pemilihan nama ini terselamatkan karena setting tempat yang digunakan, yaitu benua amerika. Kehidapan negeri paman Sam itu menjadi setting utama, yerutama kota New York. Sehingga penggunaan nama-nama tersebut sangat cocok dengan cerita yang dibuat.
Sophie dan Lucas sama-sama diciptakan tanpa kehadiran orang tua. Dan sama-sama memiliki seorang kakaek yang memiliki peran penting dalam hubungan keduanya. Namun dari sinilah muncul perbedaan yang mengantarkan konflik.
Sophie menjadi salah satu anggota keluarga orang kaya karena diadopsi. Dibesarkan oleh keluarga konglomerat membuat sophie menjadi seorang perempuan yang berhati lembut, tenang dan pekerja keras. Hidup dengan bergelimang harta tak menghapus empatinya terhadap sesame yang memiliki nasib sepertinya, yatim piatu. Dan itu dimunculkan dalam kehidupan Sophie yang menjadi pekerja social di sebuah lembaga.
Lucas, terlahir dari keluarga kaya. Hidup serba berkecukupan. Pergaulannya pun tidak jauh dengan mereka yang bernasib sama sehingga membuat Lucas tumbuh menjadi seorang remaja sombong. Bersama teman-temannya sering membuat keributan dan mendapat hukuman dari guru. Dibesarkan dalam keluarga yang kental dengan jiwa bisnis maka Lucas pun tumbuh menjadi seorang pemimpin yang visioner dan bijaksana. Sehingga dia mampu menciptakan kesuksesannya sendiri.





Kritik dan Saran
Novel ini sangat menghibur. Ide cerita yang ringan dan dekat dengan kehidupan remaja hingga awal dewasa sehingga mudah dipahami. After taste dari membaca cerita ini masuk kedalam warna pink yang cerah, ceria dan bahagia. Bisa dibaca mulai usia remaja. Walaupun tokohnya seorang dewasa dengan latar belakang kehidupan barat tapi semua itu tidak dimunculkan.

Follow Us @soratemplates