Ngopi apa hari ini?
Pagi ini aku bikin yang manis-manis, kebawa halu dari manisnya kisah Cinta dan Rangga. Kopi susu instan dari salah satu brand yang salah satu brand ambasadornya dari Negeri Gingseng. Ketebak pasti, hehehe
Sudah lama suka dengan minuman berkafein dengan cita rasa asam dan pahit. Kalau disuruh pilih minuman antara coklat atau kopi, tanpa mikir pasti langsung pilih kopi.
Dulu semua jenis kopi diminum. Bahkan dari kecil suka curi-curi minum kopi milik bapak. Kopi dan kehidupan petani desa memang erat kaitannya. Bahkan dibanding dengan teh, kopi lebih merakyat. Di desa kelahiran saya ada sebuah warung yang racikannya terus dirindukan hingga sekarang. Padahal teknik menyeduhnya sangat tradisional sekali, tubruk.
Baru dua tahun belakangan aku benar-benar minum kopi yang sesungguhnya alias kopi yang diseduh dengan air bersuhu 96 derajat celcius tanpa tambahan lain seperti gula, susu, krim dan sebagainya. Atas saran suami Americano jadi pilihan pertama untuk belajar minum kopi. Waktu itu masih dengan tambahan gula. Lama-lama setelah menemukan sebuah kedai yang cocok mulai dengan kopi-kopi tradisional nusantara. Tentu dengan percobaan segala jenis dan teknik penyeduhan.
![]() |
| Americano no sugar |
Setelah melewati berbagai pengujian (uji lidah sendiri maksudnya hahaha) dan sering ngobrol dengan orang yang paham kopi, aku akhirnya menemukan titik nyaman minum kopi. Beberapa tips berikut harus dilakukan secara bersamaan minimal dua poin agar minum kopi menjadi moment menyenangkan. Sebagai contoh adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process).
Robusta ajah
Dulu kalau pesen kopi itu duluin yang namanya gengsi tanpa ilmu. Akhirnya nyungsep dan gagal menikmati kopi yang sesungguhnya. Pilihan selalu jatuh pada kopi Arabica yang harganya rata-rata lebih mahal dibanding Robusta. Padahal tingkat keasamannya lebih tinggi Arabica. Seperti Aceh Gayo, Bali Kintamani, Toraja pokoknya kopi-kopi yang sudah mendunia.
Waktu pengetahuan kopi masih sedikit sekali. Sampai sekarang sih, Cuma karena diimbangi dengan menjadi pelaku akhirnya pengetahuan tadi bertambah. Ditambah aku selalu ngobrol tiap pesan kopi. Memang di sini (Mojokerto) minum kopi asli populeritasnya belum setinggi cappuccino, moccacino, latte dan minuman kopi lain yang kalorinya bikin diet berantakan. Kebetulannya lagi adalah baik pemilik maupun baristanya sangat terbuka dengan pertanyaan seputar kopi. Jadi saya memanfaatkannya. Bonusnya adalah aku dapat tester racikan kopi Dampit dengan medium roasted.
![]() |
| Salah satu sudut kedai kopi langganan |
Kopi Robusta ini pun aku masih menyarankan yang berasal dari pulau jawa seperti Dampit, Trawas atau Temanggung. Tidak cukup signifikan hanya saja kesan pertama menjadi hal penting dalam minum kopi.
Medium Roasted
Pilihan medium roasted ini pun tidak semata-mata datang begitu saja. Satu kedai kopi dengan kedai lainnya akan memiliki ciri khas tersendiri berdasarkan proses penyangraian kopi. Kebetulan di kedai ini aku cocok dan hampir semua jenis kopi selalu memilih medium roasted untuk tingkat penyangraiannya.
Awalnya kupikir sama saja. Ternyata benar-benar berbeda. Awal tahun lalu suami membawa pulang Kopi Arabica Toraja yang disangrai hingga hitam (dark roasted). Rasanya pahit dan asam. Bahkan ketika dicampur dengan gula pun tidak berkurang banyak. Rasanya benar-benar kuat. Kesan minum kopi yang tidak mengenakan tentu saja.
Dapat tester seduhan Kopi Robusta Dampit yang kuceritakan diatas benar-benar membuatku jatuh cinta dengan tingkat kematangan proses menyangrai kopi ini. Bahkan memantabkan diri untuk selalu memilih medium roasted ketika memesan kopi.
Honey Process
Sebelum kopi bisa dinikmati ada banyak tahapan yang dilalui, salah satunya adalah proses pengolahan biji kopi. Kali ini yang akan kubahas hanya honey process atau miel process.
Sederhananya honey process adalah proses pemisahan biji kopi dari daging buah dengan menyisakan sedikit kulit daging pada biji kopi sebelum dijemur. Dalam Bahasa Spanyol, kulit daging yang tersisa ini disebut miel yang berarti honey atau madu.
Nah, honey process yang pernah kucoba adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process). Rasanya asam dengan campuran manis dari miel. Sementara rasa pahitnya hampir tidak terasa
![]() |
| Robusta Dampit, Dark Roasted, Brewing : French Press |
Jenis kopi, tingkat penyangraian kopi, dan proses pengolahan biji kopi hanya sedikit faktor yang memengaruhi cita rasa kopi. Jika mendalami kopi akan ada banyak faktor lain yang membuat kopi terasa berbeda. Bahkan tangan seseorang pun katanya bisa memberikan sumbangsih rasa yang berbeda (hasil seduhanku dan suami berbeda meski sama-sama menggunkan jenis dan metode penyeduhan yang sama hehehe).
Badanku ini termasuk yang sensitif dengan kopi. Pasti dijamin melek kalau udah minum kopi dan pasti lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Semua itu terjadi hingga sekarang ketika minum kopi instan atau kopi pabrikan. Bahkan ada beberapa merek kopi yang kuhindari karena efeknya sedikit berlebihan seperti jantung berdebar dan badan lemas. Pas minum kopi giling/bukan hasil olahan pabrik badan lebih toleran meski aktivitas buang air kecil sama seringnya.
Baca juga : beberapa jenis penyajian kopi
Baca juga : beberapa jenis penyajian kopi
Barista dikedai kopi langgananku bilang kalau aku penyuka teknik V60 karena hampir semua jenis kopi yang kupesan selalu memilih teknik itu. Padahal teknik ini kurang OK untuk gaya hidup minim sampah hehehe
Jadi, apa kopi kesukaanmu?
P.S. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sehingga mengandung subjektivitas tinggi. Tiap orang mungkin akan berbeda tergantung selera masing-masing.



















