Tampilkan postingan dengan label Habit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2020

Kopi Untuk Pemula

22.45 16 Comments

Ngopi apa hari ini?

Pagi ini aku bikin yang manis-manis, kebawa halu dari manisnya kisah Cinta dan Rangga. Kopi susu instan dari salah satu brand yang salah satu brand ambasadornya dari Negeri Gingseng. Ketebak pasti, hehehe

Sudah lama suka dengan minuman berkafein dengan cita rasa asam dan pahit. Kalau disuruh pilih minuman antara coklat atau kopi, tanpa mikir pasti langsung pilih kopi. 

Dulu semua jenis kopi diminum. Bahkan dari kecil suka curi-curi minum kopi milik bapak. Kopi dan kehidupan petani desa memang erat kaitannya. Bahkan dibanding dengan teh, kopi lebih merakyat. Di desa kelahiran saya ada sebuah warung yang racikannya terus dirindukan hingga sekarang. Padahal teknik menyeduhnya sangat tradisional sekali, tubruk.

Baru dua tahun belakangan aku benar-benar minum kopi yang sesungguhnya alias kopi yang diseduh dengan air bersuhu 96 derajat celcius tanpa tambahan lain seperti gula, susu, krim dan sebagainya. Atas saran suami Americano jadi pilihan pertama untuk belajar minum kopi. Waktu itu masih dengan tambahan gula. Lama-lama setelah menemukan sebuah kedai yang cocok mulai dengan kopi-kopi tradisional nusantara. Tentu dengan percobaan segala jenis dan teknik penyeduhan.
Americano no sugar


Setelah melewati berbagai pengujian (uji lidah sendiri maksudnya hahaha) dan sering ngobrol dengan orang yang paham kopi, aku akhirnya menemukan titik nyaman minum kopi. Beberapa tips berikut harus dilakukan secara bersamaan minimal dua poin agar minum kopi menjadi moment menyenangkan. Sebagai contoh adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process).

Robusta ajah

Dulu kalau pesen kopi itu duluin yang namanya gengsi tanpa ilmu. Akhirnya nyungsep dan gagal menikmati kopi yang sesungguhnya. Pilihan selalu jatuh pada kopi Arabica yang harganya rata-rata lebih mahal dibanding Robusta. Padahal tingkat keasamannya lebih tinggi Arabica. Seperti Aceh Gayo, Bali Kintamani, Toraja pokoknya kopi-kopi yang sudah mendunia.

Waktu pengetahuan kopi masih sedikit sekali. Sampai sekarang sih, Cuma karena diimbangi dengan menjadi pelaku akhirnya pengetahuan tadi bertambah. Ditambah aku selalu ngobrol tiap pesan kopi. Memang di sini (Mojokerto) minum kopi asli populeritasnya belum setinggi cappuccino, moccacino, latte dan minuman kopi lain yang kalorinya bikin diet berantakan. Kebetulannya lagi adalah baik pemilik maupun baristanya sangat terbuka dengan pertanyaan seputar kopi. Jadi saya memanfaatkannya. Bonusnya adalah aku dapat tester racikan kopi Dampit dengan medium roasted.

Salah satu sudut kedai kopi langganan

Kopi Robusta ini pun aku masih menyarankan yang berasal dari pulau jawa seperti Dampit, Trawas atau Temanggung. Tidak cukup signifikan hanya saja kesan pertama menjadi hal penting dalam minum kopi.

Medium Roasted

Pilihan medium roasted ini pun tidak semata-mata datang begitu saja. Satu kedai kopi dengan kedai lainnya akan memiliki ciri khas tersendiri berdasarkan proses penyangraian kopi. Kebetulan di kedai ini aku cocok dan hampir semua jenis kopi  selalu memilih medium roasted untuk tingkat penyangraiannya.

Awalnya kupikir sama saja. Ternyata benar-benar berbeda. Awal tahun lalu suami membawa pulang Kopi Arabica Toraja yang disangrai hingga hitam (dark roasted). Rasanya pahit dan asam. Bahkan ketika dicampur dengan gula pun tidak berkurang banyak. Rasanya benar-benar kuat. Kesan minum kopi yang tidak mengenakan tentu saja. 

Dapat tester seduhan Kopi Robusta Dampit yang kuceritakan diatas benar-benar membuatku jatuh cinta dengan tingkat kematangan proses menyangrai kopi ini. Bahkan memantabkan diri untuk selalu memilih medium roasted ketika memesan kopi.

Honey Process

Sebelum kopi bisa dinikmati ada banyak tahapan yang dilalui, salah satunya adalah proses pengolahan biji kopi. Kali ini yang akan kubahas hanya honey process atau miel process. 

Sederhananya honey process adalah proses pemisahan biji kopi dari daging buah dengan menyisakan sedikit kulit daging pada biji kopi sebelum dijemur. Dalam Bahasa Spanyol, kulit daging yang tersisa ini disebut miel yang berarti honey atau madu.

Nah, honey process yang pernah kucoba adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process). Rasanya asam dengan campuran manis dari miel. Sementara rasa pahitnya hampir tidak terasa

Robusta Dampit, Dark Roasted, Brewing : French Press


Jenis kopi, tingkat penyangraian kopi, dan proses pengolahan biji kopi hanya sedikit faktor yang memengaruhi cita rasa kopi. Jika mendalami kopi akan ada banyak faktor lain yang membuat kopi terasa berbeda. Bahkan tangan seseorang pun katanya bisa memberikan sumbangsih rasa yang berbeda (hasil seduhanku dan suami berbeda meski sama-sama menggunkan jenis dan metode penyeduhan yang sama hehehe).

Badanku ini termasuk yang sensitif dengan kopi. Pasti dijamin melek kalau udah minum kopi dan pasti lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Semua itu terjadi hingga sekarang ketika minum kopi instan atau kopi pabrikan. Bahkan ada beberapa merek kopi yang kuhindari karena efeknya sedikit berlebihan seperti jantung berdebar dan badan lemas. Pas minum kopi giling/bukan hasil olahan pabrik badan lebih toleran meski aktivitas buang air kecil sama seringnya.

Baca juga : beberapa jenis penyajian kopi

Barista dikedai kopi langgananku bilang kalau aku penyuka teknik V60 karena hampir semua jenis kopi yang kupesan selalu memilih teknik itu. Padahal teknik ini kurang OK untuk gaya hidup minim sampah hehehe

Jadi, apa kopi kesukaanmu?

P.S. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sehingga mengandung subjektivitas tinggi. Tiap orang mungkin akan berbeda tergantung selera masing-masing.

Sabtu, 04 April 2020

Kemanusiaan didalam Drama Korea

06.20 4 Comments
Weekend penuh dengan kemalasan meski anak-anak menanti bundanya turun tangan untuk menintervensi tugas sekolah. Tidak menyelesaikan buku yang sedang dibaca bahkan kewajiban membaca jurnal untuk referensi pun tidak. Hiburan kedua yang kupilih selain membaca adalah menonton. Kali ini adalah giliran Kim Sabu dan jajarannya dalam Romantic Dr. Kim. (Lagi-lagi pengulangan entah keberapa)
Pixabay


Seperti judulnya, drama korea ini bercerita tentang aktivitas dokter dalam menangani pasien. Dengan konflik didalam rumah sakit tergambar dengan jelas. Tapi jangan berharap ada adegan super romantis antara tokoh utama. Yang banyak justru adegan menegangkan di ruang IGD dan ruang operasi.

Seperti yang sedang saya saksikan sekarang, Dr. Kang Dong Jo ahli bedah yang bertugas di IGD Rumah Sakit Doldam kedatangan pasien yang diduga terinfeksi virus MERS berdasarkan pemeriksaan kondisi pasien yang mengalami batuk-batuk serta mengaku baru saja pulang dari kawasan timur tengah. Yang kebetulan saat itu sedang terkena wabah dari kerabat dekatnya covid-19 yang saat ini juga sedang mewabah diseluruh dunia.

Yang ingin saya garis bawahi dari salah satu bagian drama ini adalah kecekatan dalam mengambil keputusan Dr. Kang Dong Jo yang terkenal cerdas. Meski hanya berdasarkan dari dugaan (merujuk pada gejala) dokter memutuskan untuk mengisolasi ruang IGD. Padaha disana ada beberapa pasien lain yang lebih dulu dirawat. Tapi tindakan cepat sebagai upaya pencegahan ini membuatku benar-benar terenyuh.

Tidak hanya mengisolasi ruang IGD agar tidak menyebar lebih luas, Dokter kepala dan Direktur rumah sakit pun memutuskan untuk memulangkan seluruh pasien yang dalam kondisi mulai membaik.

Suasana horor sekejap langsung menyelimuti. Kepanikan nampak pada setiap orang, pasien yang diduga terjangkit, petugas medis yang ikut diisolasi karena melakukan kontak atau berada dalam satu ruangan dengan pasien serta seuruh elemen di rumah sakit. Benar-benar sangat terasa emosi yang dirasakan mereka ketika ancaman virus sedang mereka hadapi. (Namanya juga drama, pintar sekali memainkan emosi penonton)
Pixabay


Aku bukan ingin membandingkan drama dengan kondisi yang saat ini sedang terjadi dengan Negara kita. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa tenaga medis tidak pernah bermain-main dengan profesi mereka. Bahkan sebelum terikat dengan sumpah profesi, kemanusiaan mereka adalah yang pertama kali merespon ketika ada hal yang membahayakan kesehatan umat manusia.

“Hanya ada satu cara mengetahui dokter melakukan pekerjaannya dengan baik adalah bagaimana ia memperlakukan pasiennya.” (Kim Sabu-Romantic Dr. Kim)
Lebih dari setengah abad menjadi manusia memberi saya kesempatan bertemu banyak tenaga medis dengan berbagai macam karakter. Pernah saya menghadapi seorang dokter yang sangat pelit informasi bahkan tidak mau menyentuh pasien ketika memeriksa. Dokter hanya mendengar dan langsung memberikan vonis tentang penyakit yang diderita. Untungnya  diagnosa yang diberikan yang jelas-jelas kutolak. Tentu dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah pengamatan yang kulakukan bertahun-tahun ditambah referensi yang pernah kubaca (bukan Om Gogel) karena tidak masuk akal. Yang akhirnya membuatku kapok untuk berobat kesana lagi. 

Aku mungkin calon pasien atau keluarga pasien yang tidak ingin ditemui dokter karena sok tahu dan tidak mau asal terima hasil diagnose. Cerewetnya amit-amit dan maunya serba detail.

Pernah juga yang berhadapan dengan dokter super modis dan ganteng sayangnya sudah menikah namun begitu telaten ketika memeriksa, menguasai berbagai teknik komunikasi hanya untuk sekedar memudahkan berkomunikasi dengan berbagai karakter pasien. Hingga membuat Aku tidak kehabisan ide ketika membicarakan betapa baiknya dokter itu.

Aku juga pernah bertemu dokter yang memberikan alternatif pengobatan bukan dengan obat melainkan dengan bahagia. Waktu itu suami mengalami infeksi lambung karena asam lambung meningkat. Tanpa bertanya dokter tersebut menjelaskan semua makanan yang tidak dianjurkan. Tapi ketika saya menyebut tentang aktivitas merokok suami, dokter perempuan itu hanya tersenyum.

“Dikurangi boleh, berhenti lebih baik. Tapi apa bisa? Nggak malah berantem? Diajak bercanda saja, dibuat santai. Kalau Bapak sudah mulai diam, ibu bisa mengajak Bapak jalan-jalan. Suaminya pendiam kan? Jadi dibuat santai saja, rileks jangan sampai stress. Karena stress juga bisa memicu naiknya asam lambung.”
Pixabay


Cukup beragam ya, padahal hanya sedikit yang kutuliskan. Belum lagi jika ditambahkan dengan pengalaman orang lain. mungkin bisa menyamai banyaknya penduduk Indonesia saat ini.

Pengalaman adalah kemampuan (Kang Dong Jo-Romantic Dr. Kim)

Kita tidak bisa memilih apalagi mengatur bagaimana tenaga medis bersikap kepada kita (pasien). Namun menjadi seorang manusia terlahir untuk berbuat dan bersikap baik kepada sesama adalah pilihan yang layak dipertahankan.

Minggu, 22 Desember 2019

AKU MENCIPTA ALFAMERIA

14.03 0 Comments
EWS 2.0

Elfa Writing Sprint 2.0 bisa dikatakan ini ada kompetisi menulis fiksi pertama yang kuikuti. Nekat tentu saja. sombong apalagi (hahaha biar nggak minder). Akhirnya daftar. Mengisi formulir melalui google form dan menyertakan fiksi mini sebanyak 250 kata sebagai salah satu syaratnya.
Aku tuh baperan. Semakin tambah umur bukannya tambah bijak tapi tambah sensitif. Akhirnya pake trik klasik, daftar dan lupakan.
Enggak pernah tahu kapan pengumumannya. Yang diingat akhir bulan Oktober ada event menulis. Entah sibuk apa, niat lupa itu benar-benar lupa. Sampai pemberitahuan masuk grup WA muncul.
Aneh, heran dan nyaris keluar pas tahu dimasukkan grup WA oleh sembarang orang. Cuma pas baca nama grup jadi mikir lalu bongkar ingatan.
“Jadi aku lolos seleksi awal?”

Secepat kilat ubek-ubek facebook dan ketemulah. Ada namaku dari 25 peserta yang lolos. Resiko menjadi pemilik nama dengan huruf depan Y, apa-apa selalu dibelakang.

Belajar dan Menjadi Bodoh

Semua orang belajar untuk menjadi pintar. Itu juga yang kuyakini selama hampir 20 tahun mengenyam pendidikan. Baru kali ini merasakan bahwa belajar itu untuk mengetahui seberapa bodohnya kita.
Tahun 2019 memutuskan berhenti belajar. Berhenti mengikuti kelas-kelas menulis yang bertebaran dijagad dunia maya. Karena ingin mengganti fokus untuk praktik, menulis, menulis, dan terus menulis. Apalagi akhir tahun lalu ditutup dengan hadirnya blog pribadi yang cukup mendongkrak kepercayaan diri untuk melempar tulisan dikhalayak ramai.
Menjadi salah satu peserta di EWS 2.0 tidak hanya berkompetisi tetapi juga mendapat pelatihan untuk menulis fiksi yang fokusnya adalah novella.
Seminggu pertama adalah pemberian materi dan mengerjakan tugas sesuai materi.
Dikompetisi ini aku benar-benar mengosongkan kepala. Membuang jauh-jauh apa yang sudah kupelajari selama ini. Dan benar saja, meski bukan yang pertama kali, aku benar-benar menghadapi kesulitan yang sangat.
Bahkan dikesempatan ini aku baru bisa membenarkan pernyataan banyak orang bahwa menulis fiksi itu susah.     

Premis dan sinopsis adalah bagian paling susah, baik dulu bahkan sekarang. Karena kesulitan inilah aku jadi tahu alasan cerita-ceritaku selalu berada dijalan panjang yang penuh kemacetan untuk mencapai kata ‘tamat’.
Kesulitan ini nyaris membuatku menyerah. Karena aku benar-benar merasa down, merasa tidak bisa menulis. Bahkan menulis artikel untuk blog sebagai pengalihan pun gagal. Parahnya lagi, aku hiatus dari blog. Tabungan artikelku mengendap dilaptop. Selama bulan November engak ada satu unggahan disana. Lagi-lagi tekat menjadi penyelamatku. Hingga akhirnya membuatku tetap bertahan diantar 19 peserta yang tersisa.

Sahabatku Alfameria

Pada minggu kedua proses menulis dimulai. Aku bisa bernafas lega. Kalau ada penyanyi buta nada maka aku buta teori. Menulis menjadi jalan yang cukup mudah kulalui. Dengan adanya outline benar-benar sangat membatu perjalanan itu.
Alfameria ini bergenre 100% teenlit. Alasannya aku sendiri tidak tahu (hahaha)
Aku senang dengan film-film yang diproduksi Walt Disney dan serial drama korea yang diproduksi SBS. Sebut saja High School Musical yang membuatku tergila-gila dengan Troy Bolton dalam wujud Zac Effron, Joey Parker yang berwujud Drew See ley. Cerita yang diangkat mengenai permasalahan remaja yang diselesaikan dengan sangat apik dan dewasa untuk usia mereka. Dan aku ingin cerita-cerita itu berwujud tulisan.
Alfameria mungkin tidak sekomplek drama-drama diatas tapi aku benar-benar ingin menunjukkan pada remaja sekarang bahwa ada banyak hal baik yang bisa dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman. Aku ingin mengajak mereka untuk membangun mimpi, menemukan passion sejak awal agar masa-masa peralihan itu tidak dipenuhi oleh kisah-kisah picisan yang menyempitkan pola pikir. Bukan mengkerdilkan kisah-kisah percintaan (kan aku romance freak) hanya ingin mereka untuk think bigger terutama remaja yang tumbuh dikota-kota kecil.
Maka muncullah Alfa, Ameria dan Aksa dengan balutan kisah cinta klasik, cinta segitiga. Mereka adalah karakter-karakter yang kuharapkan hadir dalam hidupku dijaman itu (sadar udah tua hahaha).
Menulis kisah mereka benar-benar membuatku merasa muda. Meski sangat menikmati bukan berarti berjalan tanpa kesulitan. Justru karena mereka hidup didunia yang sangat berbeda denganku, usaha untuk menciptakan atmosfernya berkali-kali lipat lebih susah. Karena referensiku yang sangat kurang baik buku atau film.

Hari-hari menuju penilaian pun semakin dekat. Meski sudah selesai menulis tapi perasaan puas masih sangat jauh didepan. Hal positif yang bisa kupetik lebih awal adalah aku bisa mengalahkan diri sendiri. Ini benar-benar menjadi langkah besar dalam perjalananku meniti karir sebagai seorang penulis yang sangat rimbawan.

Senin, 09 Desember 2019

KARENA KUSAYANG

20.42 16 Comments
Salah satu nikmat menjadi seorang wanita adalah menjadi tuan rumah setiap bulan. Yup, menstruasi adalah salah satu ‘tamu’ yang kehadirannya sangat dinanti oleh hampir semua pemilik hormon progesteron.
Welcome!!!
Selalu dinantikan karena menjadi salah satu indikasi metabolisme tubuh yang normal. Meski penuh perjuangan dalam menyambutnya. Emosi yang lebih sering naik turun karena pengaruh perubahan keseimbangan hormon. Membengkaknya payudara seringkali disertai rasa nyeri luar biasa. Atau dalam kasus saya merasa encok selama berhari-hari.
Semua kenikmatan itu wajar dan sangat normal. Dan harus di syukuri karena banyak wanita luar biasa di luar sana yang rindu merasakannya karena “keistimewaan” yang Tuhan berikan.
Setelah ‘tamu’ datang, hal utama dan wajib ada adalah pembalut. Penting sekali menggunakan pembalut yang berfungsi optimal untuk menjaga sang tuan rumah tetap nyaman dan sehat.
Semakin berkembangnya teknologi, salah satu produk kewanitaan ini pun semakin banyak  mengeluarkan inovasi. Pada mulanya pembalut hanya sekumpulan kapas yang dikemas sedemikian rupa yang mampu menyerap cairan. Kemudian berkembang lagi dengan penambahan lingkaran anti bocor juga sayap yang memiliki fungsi untuk menahan pembalut bergeser.
Nampaknya banyaknya inovasi tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kaum hawa ini. Maka munculnya pembalut dengan berbagai macam ukuran panjang juga kemampuan daya serap yang semakin tinggi banyak dicari.
Bebas bergerak, anti tembus, nyaman sepanjang malam banyak digunakan sebagai tag line brand-brand pembalut. Akibatnya semakin banyak orang terutama wanita yang berlomba-lomba untuk bertemu dengan jodohnya, pembalut yang sesuai.
Fakta Pembalut Sekali Pakai
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa rata-rata 300 sampah pembalut sekali pakai dihasilkan setiap orang dalam setahun.  Jika setengah dari total penduduk Indonesia adalah wanita yang menggunakan pembalut sekali pakai maka bisa dilihat berapa banyak sampah yang dihasilkan.
Kabar buruknya adalah pembalut sekali pakai ini tidak dapat diurai secara alami. Sehingga akan berakhir dengan bertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Memangnya kenapa jika bertumpuk di TPA? Bukankah disana adalah tempat terbaik untuk barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan?
Baiklah, mari kita lihat satu per satu.
Pembalut sekali pakai terbuat dari bahan sintetis salah satunya adalah plastik. Umum diketahui bahwa alam tidak bisa menguraikan plastik. Dan akan bertahan hingga beratus-ratus tahun lamanya.
Selain itu didalam plastik juga terdapat zat yang lebih kecil lagi yang mudah larut yaitu zat mikroplastik. Sifatnya yang mudah larut membuatnya mudah sekali berpindah. TPA mungkin hanya tempat pemberhentian sementara karena muara akhirnya ada dilautan yang memiliki jutaan jenis makhluk hidup. Makhluk-makhluk tak berdosa ini mau tidak mau harus menyerap zat berbahaya tersebut secara langsung maupun tidak.
Pola seperti ini seperti rantai melingkar yang tidak memiliki ujung. Karena semuanya akan kembali lagi pada manusia. Pernahkah kita menyadari bahwa ikan yang kita konsumsi mengandung zat mikroplastik yang berasal dari sampah pembalut yang sudah kita buang?

Itu hanya satu unsur saja. Sebenarnya ada banyak sekali zat kimia yang dikandung oleh sebuah pembalut sekali pakai. Jika di jelaskan satu per satu akan membuat kita bergidik ngeri.
Ig : zerowaste.id_official 

Pembalut Sekali Pakai Bukan Satu-satunya Pilihan
Tapi teknologi tak selalu membawa dampak negatif. Karena teknologi pun memberikan banyak pilihan lain termasuk perangkat kewanitaan ini. Menstrual cup misalnya. Atau yang belum memiliki keberanian untuk mengenakannya di organ vital, bisa menggunakan pembalut kain.
Pembalut kain?
Duhh ribet dong. Kudu bolak balik ganti dan lebih sering dari pembalut sekali pakai. Belum lagi rasa tidak nyaman karena lembab dan takut bocor. Hari gini tembus? Tenggelamin diri aja.
Saya dulu juga berpendapat seperti itu. Tak kenal maka tak sayang. Itu juga yang sering di dengungkan si pembalut kain ini. Mereka sering memberi hasutan bahwa mengenakannya tidak sehoror itu.
Begini ceritanya.
Saya tuh sering merasa nggak nyaman saat memakai pembalut sekali pakai. Lebih kaya pegel gitu di daerah kewanitaannya. Bahkan pas banyak-banyaknya, tag line kering sepanjang waktu itu nggak terbukti. Kalau tembus ya tembus aja. Dan rasanya tetap kurang nyaman.
Kemudian seorang teman menyarankan untuk mengenakan pembalut kain. Dia berbagi pengalamannya yang sudah menggunakan lebih dari setahun. Testimoni langsung itu nyatanya belum membuat saya untuk berubah pikiran meninggalkan pembalut sekali pakai.
Hingga teman lain pun mengajak untuk membeli pembalut kain. Patungan ongkos kirim ceritanya. Tanpa pikir panjang, saya pun meng-iya-kan ajakan tersebut.
Beberapa hari kemudian datanglah pembalut kain tersebut.
Kaget!!!
Itu perasaan yang pertama kali menghampiri ketika membuka dan memegangnya. Tapi disaat bersamaan juga merasa lucu. Desainnya menarik rupanya.
Bentuknya pun menyerupai pembalut sekali pakai yang memiliki sayap. Ada kancing diujung sayap yang berfungsi menjaga pembalut tidak lari-larian ketika dipakai.
Permukaan pembalut yang menyentuh kulit kita langsung pun sangat lembut dan berwarna terang. Putih dan kuning. Ini untuk menunjukkan kebersihan. Dan disalah satu ujungnya dibuat terbuka sebagai tempat memasukkan kain tambahan jika diperlukan. Kain tambahan ini sudah termasuk didalam kemasan.
Ketika teman saya mengatakan bahwa pembalut kain pun bisa nggak bocor meski dipakai dalam jangka waktu ideal (4 jam), saya membenarkan. Karena lapisan terluar dari pembalut kain berbahan spandek yang tidak mudah ditembus cairan.
Pertama kali mengenakan pembalut kain ini di hari pertama menstruasi. Pada hari-hari yang biasanya darah keluar banyak saya masih menggunakan pembalut sekali pakai. Masih ada rasa tidak percaya.
Total ada 2 pembalut sekali pakai yang saya gunakan pada bulan pertama pemakaian pembalut kain. Pada bulan kedua dan sampai sekarang bulan ketiga, sudah tidak menggunakan pembalut sekali pakai sama sekali.



Rasanya sangat nyaman karena tidak perlu menggunakan celana ketat seperti saat masih mengenakan pembalut sekali pakai. Bebas bergerak karena rasanya seperti memakai celana dalam saja. Tidak khawatir bocor dan tentunya lebih bersih dan sehat.
Hemat, begitu yang dikatakan. Tapi ini relatif. Tergantung pilihan masing-masing memilih menggunakan brand pembalut kain yang mana. Karena setiap brand pembalut kain memiliki masa kadaluarsa yang berbeda. Semakin mahal semakin tahan lama, katanya. Kepunyaan saya disertai cara peremajaan pembalut berikut dengan ciri-cirinya.
Bonus yang menakjubkan lagi adalah saya tidak lagi menyumbangkan sampah pembalut. Salah satu hal yang melegakkan karena rasa bersalah saya pada alam bisa dikurangi.
Mengurangi produksi sampah pembalut tidak lantas menjadikan bumi bebas sampah. Hal itu hanya sebuah langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi beban lingkungan yang begitu baik terhadap kita.

Bukankah hal besar dimulai dari sebuah langkah kecil?

Senin, 28 Oktober 2019

3 HAL UNIK YANG DIRASAKAN ANAK BUKU

19.31 32 Comments
Kutu buku, book freak, book dragon, monster book dan masih banyak lagi sebutan untuk orang-orang yang menyukai buku. Istilah tersebut pun sangat populer di Instagram sehingga banyak digunakan sebagai tagar. Kalau saya lebih suka menyebutnya anak buku.
Instagram menjadi salah satu wadah bagi orang-orang tersebut. Mereka biasa menamai bookstagram. Komunitas ini mulai berkembang di Indonesia sekitar 2 tahun belakangan. Tidak selalu mereka yang gemar membaca bahkan mereka yang hanya mengunggah foto dengan buku sebagai objek pun sudah bisa disebut bookstagram.
Nah, mereka yang menyukai hal-hal seputar buku ini juga memiliki kebiasaan unik. Jika ada yang melihat pasti akan memberi kesan lebay deh, enggak ada kerjaan, dan lain sebagainya. Salah? Tidak. Itu kan hanya pendapat orang yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Biar tidak menghakimi seenaknya sendiri, yuk, kita selami sedikit dunia mereka.
IG azura.arts
Kumpulan Buku adalah Taman Bunga
Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi. Berbagai jenis tanaman berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tanaman berbunga, tanaman berduri, perdu, tanaman merambat, pohon-pohon dengan tajuk yang besar-besar menjadi penghuninya.
Siapapun akan senang mengunjunginya. Datang bersama keluarga, menikmati bekal yang dibawa dengan pemandangan yang memanjakan mata. Disaat seperti ini kita akan merasa kadar oksitosin dalam tubuh meningkat. Senang rasanya.
Kurang lebih seperti itu yang dirasakan oleh anak buku. Barisan rak yang menjulang tinggi yang berderet rapi. Dipenuhi oleh buku-buku yang sudah dikelompokkan sesuai kategorinya.
Filsafat, sejarah, psikologi itu seperti kelompok perdu yang bergerombol dengan daun hijaunya yang seragam.
Agama, pendidikan, social-budaya adalah tajuk-tajuk ilmu yang senantiasa menaungi dari sengatan hal buruk dunia.
Komik, novel, kumpulan cerpen bahkan puisi terlihat seperti bunga yang sedang mekar dengan genre-genre yang siap membuka pintu segala emosi.

Ekonomi, politik, teknologi mengakar dan berkembang tanpa batas. Menjerat orang-orang untuk terus mengasah kemampuan.
IG azura.arts
Perpustakaan dan Toko Buku adalah Tempat Hang Out Terbaik
Kalau jalan bareng teman kemana? Nongkrong di kafe atau nonton di bioskop biasanya jadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Tidak heran kalau saat ini banyak sekali kafe-kafe baru yang menawarkan banyak konsep demi kenyamanan nongkrong.
Anak buku pun demikian. Jangan salah, mereka juga suka hang out. Bisa sendiri atau rame-an.
Nah, ini juga salah satu yang seru yang hanya anak buku lakukan (mungkin). Pergi sendirian. Tidak semua sih. beberapa ada yang demikian untuk mereka dengan karakter introvert.
Alasannya sederhana. Tidak suka mendapat banyak gangguan. Kalau sesama jenis enggak akan masalah (anak buku) tentu saja. Lah kalau beda? Asli itu hal yang sangat berbahaya untuk dibayangkan.
Pernah suatu waktu pergi ke toko buku di temani suami. Sebelum masuk saya sudah berpesan untuk tidak bertanya kapan selesai. Sekaligus memberi saran  untuk menunggu di kafe atau Time Zone saja. Saking sayangnya, suami maksa ikut masuk.
30 menit pertama saya sudah disamperin. Awalnya hanya melihat apakah saya sudah menemukan buku yang dicari. 15 menit kemudian menawarkan diri untuk membantu mencari judul buku. Akhirnya setelah genap 1 jam kesabarannya diambang kepunahan pun bertanya, “Sudah selesai?”
Inilah tragedi!!!
Toko buku dan book fair kadang terlalu berisik untuk dikunjungi. Beberapa anak buku yang suka ketenangan akan memilih perpustakaan.
Perpustakaan seperti surga dunia. Bayangkan, buku-buku yang sudah tidak beredar akan bisa di jumpai di sana. Bahkan buku-buku yang terbit sejak jaman kolonial pun pasti ada.

Kalau di perpustakaan Hogwarts ada yang disebut restricted area, perpustakaan dunia nyata pun ada. Bedanya tidak ada rantai yang mengikat buku agar tidak berteriak liar. Kita cukup bertanya kepada petugas atau membawa dokumen tertentu terkait perijinan seperti surat izin penelitian. Karena buku langka sehingga tidak bebas untuk dibaca dan dipinjam.
IG splendidwords
Over Protective terhadap buku
Pacar protektif itu biasa. Orang tua protektif itu kewajiban. Anak buku protektif harus diwaspadai.
Jangan bangunkan harimau tidur. Pepatah itu sangat sesuai untuk disematkan pada anak buku.
Pasalnya ketika kita meminjam atau sekadar membaca buku miliknya, hal pertama yang akan diucapkan adalah daftar panjang kata jangan. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan ditekuk, jangan makan sambil baca, jangan baca sambil minum dan ada ratusan lagi kata jangan.
Untuk anak buku daftar jangan adalah aturan mutlak. Sekali saja jangan sampai melanggar. Hal itu sangat melukai hati.
Hal-hal tersebut adalah bentuk penjagaan yang bisa dilakukan terhadap koleksi bukunya baik kesayangan maupun bukan. Jika mereka masih memberi izin itu adalah sebuah kebaikan dan hargailah. Ketika mereka bilang ‘tidak boleh’ maka mengertilah. Biasanya mereka pernah mengalami kejadian buruk yang traumatis.

Mempunyai Dunia Sendiri
Menjadi seorang anak buku terkadang mendapat label pintar. Tapi tidak sedikit juga yang mengalami kesulitan saat berbincang atau nggak nyambung.
Secara umum seorang anak buku memang memiliki wawasan luas dan lebih terbuka cara berpikirnya. Tapi ketika berbicara lebih dalam, seringkali mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraannya.
Apalagi jika berhadapan dengan anak buku yang sering membaca novel. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda dengan kebanyakan orang. Atau justru menjadi sosok lain. Bukan hal yang aneh ketika seorang anak buku sangat terpengaruh dengan karakter yang sedang atau pernah dibaca kedalam kepribadiannya.
Bersabarlah!

Selebihnya anak buku itu menyenangkan. Mereka bisa menjadi teman berbincang yang menyenangkan karena wawasan mereka yang luas dan bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Yang jelas kesenangan mereka dengan buku membuat mereka lebih bijak dalam melihat sesuatu sehingga tidak membuatnya menjadi karakter korek api yang mudah sekali tersulut emosi.

Sabtu, 26 Oktober 2019

LIFE SUCKS

22.23 15 Comments
Disclaimer
Tidak memasukkan unsur agama juga kadar keimanan seseorang. Semua tulisan hanya dilihat dari sisi kemanusian dan psikologi kejiwaan
First Suck
“Halo.”
“Hai, sorry aku lagi rapat sekarang. Nanti kutelpon, ya.”
Percakapan yang umum sekali tapi tidak pernah ada yang menyadari bahwa hal itu memberikan dampak yang sangat besar.
Untuk beberapa orang, dialog itu dapat diterjemahkan sebagai sebuah penolakan.
Satu kata yang memiliki magnet besar untuk menarik hal-hal buruk. Merasa tidak dibutuhkan, merasa bukan sesuatu yang penting, tidak menjadi prioritas bahkan tidak memiliki arti apa-apa.
Dan itu tidak disadari terjadi setiap saat oleh orang-orang terdekat.
Sakit kepala, pusing, lelah, meriang bisa jadi adalah gejala flu. Istirahat yang cukup dan makan yang bergizi bisa menjadi obat. Itu adalah fisik yang sakit.
Bagaimana jika mental yang sakit?
Mereka yang setiap hari tersenyum, yang setiap hari bercanda, melontarkan kalimat lucu bisa jadi tengah menyimpan kesedihan yang dalam akibat dari sepenggal percakapan tadi.
Seorang ibu yang setiap hari marah dan berteriak pada anaknya bisa jadi disebabkan bukan karena kesalahan si anak.
Orang lain mungkin akan menilai bahwa dia adalah seorang ibu yang galak. Ibu yang jahat, terlalu keras pada anak-anak. Sehingga cemoohan, caci maki pun dilontarkan semudah membalik telapak tangan.
Satu lagi luka digoreskan.
Belum lagi kehadiran seorang suami seperti ada dan tiada. Dengan kesibukan pekerjaan yang tiada batas, merasa kewajiban sudah terwakili dengan pemenuhan materi.
Jika sumber masalah terletak pada pelampiasan emosi maka kehadiran pendengar yang baik itu cukup. Dan jutaan keluh kesah akan tersalurkan dengan baik.
Namun, jika penolakan yang dirasa, kehadiran pendengar saja tidak cukup.
Apa yang mau didengar jika mereka tidak berbicara?


Second Suck
“Tuuuttt”
Dering pertama
“Tuuuttt”
Dering kedua
“Tuuttt”
Dering ketiga.
Kemudian sebuah pesan masuk.
“Maaf, lagi ketemu klien. Nanti kutelepon. Ada apa?”
Tambahan pertanyaan diakhir itu tidak memberikan pengaruh apa-apa. Bahkan jika diletakkan diawal kalimat.
Bahkan kehadiran pesan itu saja tidak akan memperbaiki keadaan.
Gelas yang pecah tidak bisa disatukan kembali. Begitulah wanita. Sekali hatinya terluka, selamanya luka itu akan menganga.
Kondisi ini tak lebih baik dari penolakan. Karena rasa-rasa yang dulu hanya melayang di awan tiba-tiba datang menyergap.

IG : anxiety_depression___

Finally
Ini adalah titik paling berbahaya.
Ketika seseorang merasa dirinya hanya seorang diri di dunia ini. ketika dia merasa bahwa hanya ada dirinya sendiri. Ketika dalam gegap gempita tapi kekosongan menyelimuti diri.
Hal ini berbeda dengan kesepian.
IG : selfcareispriority
Kesepian hanya merindukan kehadiran orang lain disampingnya. Ketika seseorang datang maka segalanya akan berubah menjadi lebih baik.
Namun keadaan ini tidak lah demikian. Ada atau tidakadaan orang lain tidak memberi perbedaan.
Dia tetap merasa sendiri. Dalam dunianya yang gelap dan pekat. Setitik cahaya tak mampu memberikan penerangan.
Sehingga keputusasaan akan lebih mudah menghampiri hingga kalimat terakhir pun terucap.
“Aku berhenti.”


Bukan mata, bukan pula telinga. Tapi rengkuhan hangat yang menunjukkan bahwa aku ada untuk kamu.

Minggu, 29 September 2019

MEMANFAATKAN KAMERA SMARTPHONE UNTUK MENGHASILKAN GAMBAR YANG BAGUS

21.03 0 Comments
Dulu saat saya masih duduk dibangku sekolah menengah, sering mengunjungi studio foto. Untuk apa? Ya untuk berfoto. Bersama teman untuk membuat sebuah kenangan. Biasanya dengan teman sepermainan atau teman satu kelas.
Hasilnya? Tentu saja bagus. Pencahayaannya, komposisi, semuanya nyaris sempurna karena dilakukan oleh fotografer profesional.
Berkembangnya teknologi digital membuat banyak studio foto yang mulai gulung tikar. Ditambah kecanggihan yang dimiliki kamera bahkan saat ini tersedia berbagai macam jenis aplikasi untuk membuat sebuah foto terlihat artistic. Hanya sedikit saja pelaku usaha tersebut yang masih bertahan dan masih menggunakan jasanya. Dan yang masih bertahan itu adalah mereka yang ikut berkembang dan berinovasi. seperti membuat paket foto pernikahan, bekerjasama dengan wedding organizer dan lain sebagainya.
Selain teknologi juga disebabkan menurunnya peminat konsumen. Mereka beralih menggunakan kamera digital atau seperti saat ini banyak terjadi yaitu menggunakan kamera dari ponsel pintar. tak heran, jenis ponsel dengan kelebihan pada kamera banyak diburu.
Selfie, wefie sudah menjadi lifestyle. Setiap berkumpul dengan teman harus foto dulu. berkunjung ke tempat unik foto dulu. meski kalau untuk saya pribadi itu style jadul karena saya sudah melakukannya sebelum blackberry lahir apalagi ponsel pintar. masih di era kamera analog dan puncak kejayaan nokia (nyombong dikit hahahah).
Semuanya berlomba-lomba mendapatkan hasil foto yang istimewa. Namun, secanggih apapun ponsel yang kita miliki, sebanyak apapun aplikasi editing yang kita gunakan. Kemampuan mengambil gambar tetap yang utama.
Kamera profesional ditambah keahlian pemakainya tentu akan menghasilkan gambar yang menakjubkan. Tentu saja semua itu membutuhkan modal besar. yang murah dan mudah tentu memanfaatkan kamera handphone.
Dibawah ini ada beberapa hal yang harus kita pahami agar bisa menghasilkan foto setara dengan kamera profesional tapi hanya menggunakan aplikasi kamera di smartphone.
Kenali kameramu
Setiap smartphone memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan pasti terdapat perbedaan meski memiliki fungsi sama.
Mengapa hal ini penting?
Karena untuk membuat foto yang bagus, kita harus merubah pengaturan kamera menjadi mode profesional yaitu yang memiliki pengaturan seperti kamera profesional.
Merawat lensa kamera
Lensa kamera itu seperti mata. yang tidak bisa diabaikan kondisinya. Hal yang paling mudah adalah dengan merawatnya. Seperti membersihkan dari debu atau kotoran lain yang akan berpengaruh pada saat proses pengambilan gambar.



Pahami teori fotografi
Bagian ini gampang-gampang susah untuk dilakukan. Bahkan untuk memahaminya saja diperlukan sebuah pendidikan atau kursus tertentu yang harganya lumayan mahal. Meski hanya kelas amatiran memahami materi fotografi tetap diperlukan.
Sebenarnya ada banyak sekali teori fotografi. Namun yang paling dasar untuk diketahui dan mudah dipelajari secara otodidak adalah point of interest (POI) dan pencahayaan.

Dalam mengambil foto kita harus tahu objek utama yang ingin ditonjolkan. Sehingga ketika ada banyak sekali objek, penikmat foto langsung bisa mengetahui fokus utama foto tersebut. inilah yang sering disebut dengan POI.

POI ini pun memiliki banyak jenis. Seperti Rule of Third, Depth Of Field (DOF), Negative space dan lain sebagainya.
Pencahayaan tentu saja sangat penting. Agar foto kita terlihat dengan jelas. Tentu saja menggunakan cahaya alami akan menghasilkan gambar yang lebih bagus. Meski menggunakan sumber cahaya lain pun bisa. Yang paling saya ingat dari konsep pencahayaan ini adalah golden moment. Waktu paling tepat untuk mengambil gambar dengan memanfaatkan cahaya matahari yaitu, antara pukul 6-9 pagi dan 4-5 sore.
Kemudian kita juga harus bisa menentukan sudut pandang saat akan pengambilan gambar. Seperti saat mengambil gambar buku, yang paling sering digunakan adalah metode flat lay. Yaitu mengambil gambar persis diatas objek dengan posisi kamera tegak lurus



Gunakan property secukupnya
Properti atau elemen lain lain yang digunakan untuk menguatkan objek utama. Hal ini tergantung dengan konsep foto yang akan kita gunakan. Tapi minimal kita bisa menyiapkan beberapa komponen dasar seperti alas foto dan background.
Alas foto digunakan untuk meletakkan objek foto baik yang utama maupun pendukung. Gunakan alas foto yang tidak memiliki tekstur rumit seperti kain polos, beludru dan sebainya.
Latar belakang foto juga harus diperhatikan. Karena memiliki peran penting dalam menampilkan keindahan objek. Background bisa memanfaatkan bentang alam dan lingkungan sekitar atau menggunakan alas foto yang dipasang vertical.

Penambahan tanaman dapat digunakan untuk membuat objek foto lebih hidup dan alami.



Melakukan proses editing
Foto yang bagus adalah yang utama. Dan tanamkan hal tersebut sekuat mungkin dalam pikiran kita. Karena proses penyuntingan dilakukan hanya untuk mempertegas foto.
Ada banyak aplikasi editing yang bisa kita gunakan seperti Snapseed, Canva,Picarts. Semuanya tergantung dengan selera dan kenyamanan masing-masing.

Nah, itu tadi beberapa hal bisa kita lakukan dengan memanfaatkan smartphone untuk menghasilkan gambar yang bagus. Terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan.


Referensi
Materi dan foto diperoleh dari :
Kelas fotografi yang diselenggarakan oleh Writing Challenges (WRC)

Materi fotografi yang diselenggarakan oleh Klub Suka Buku

Follow Us @soratemplates