Tampilkan postingan dengan label Universe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Universe. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2020

Kopi Untuk Pemula

22.45 16 Comments

Ngopi apa hari ini?

Pagi ini aku bikin yang manis-manis, kebawa halu dari manisnya kisah Cinta dan Rangga. Kopi susu instan dari salah satu brand yang salah satu brand ambasadornya dari Negeri Gingseng. Ketebak pasti, hehehe

Sudah lama suka dengan minuman berkafein dengan cita rasa asam dan pahit. Kalau disuruh pilih minuman antara coklat atau kopi, tanpa mikir pasti langsung pilih kopi. 

Dulu semua jenis kopi diminum. Bahkan dari kecil suka curi-curi minum kopi milik bapak. Kopi dan kehidupan petani desa memang erat kaitannya. Bahkan dibanding dengan teh, kopi lebih merakyat. Di desa kelahiran saya ada sebuah warung yang racikannya terus dirindukan hingga sekarang. Padahal teknik menyeduhnya sangat tradisional sekali, tubruk.

Baru dua tahun belakangan aku benar-benar minum kopi yang sesungguhnya alias kopi yang diseduh dengan air bersuhu 96 derajat celcius tanpa tambahan lain seperti gula, susu, krim dan sebagainya. Atas saran suami Americano jadi pilihan pertama untuk belajar minum kopi. Waktu itu masih dengan tambahan gula. Lama-lama setelah menemukan sebuah kedai yang cocok mulai dengan kopi-kopi tradisional nusantara. Tentu dengan percobaan segala jenis dan teknik penyeduhan.
Americano no sugar


Setelah melewati berbagai pengujian (uji lidah sendiri maksudnya hahaha) dan sering ngobrol dengan orang yang paham kopi, aku akhirnya menemukan titik nyaman minum kopi. Beberapa tips berikut harus dilakukan secara bersamaan minimal dua poin agar minum kopi menjadi moment menyenangkan. Sebagai contoh adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process).

Robusta ajah

Dulu kalau pesen kopi itu duluin yang namanya gengsi tanpa ilmu. Akhirnya nyungsep dan gagal menikmati kopi yang sesungguhnya. Pilihan selalu jatuh pada kopi Arabica yang harganya rata-rata lebih mahal dibanding Robusta. Padahal tingkat keasamannya lebih tinggi Arabica. Seperti Aceh Gayo, Bali Kintamani, Toraja pokoknya kopi-kopi yang sudah mendunia.

Waktu pengetahuan kopi masih sedikit sekali. Sampai sekarang sih, Cuma karena diimbangi dengan menjadi pelaku akhirnya pengetahuan tadi bertambah. Ditambah aku selalu ngobrol tiap pesan kopi. Memang di sini (Mojokerto) minum kopi asli populeritasnya belum setinggi cappuccino, moccacino, latte dan minuman kopi lain yang kalorinya bikin diet berantakan. Kebetulannya lagi adalah baik pemilik maupun baristanya sangat terbuka dengan pertanyaan seputar kopi. Jadi saya memanfaatkannya. Bonusnya adalah aku dapat tester racikan kopi Dampit dengan medium roasted.

Salah satu sudut kedai kopi langganan

Kopi Robusta ini pun aku masih menyarankan yang berasal dari pulau jawa seperti Dampit, Trawas atau Temanggung. Tidak cukup signifikan hanya saja kesan pertama menjadi hal penting dalam minum kopi.

Medium Roasted

Pilihan medium roasted ini pun tidak semata-mata datang begitu saja. Satu kedai kopi dengan kedai lainnya akan memiliki ciri khas tersendiri berdasarkan proses penyangraian kopi. Kebetulan di kedai ini aku cocok dan hampir semua jenis kopi  selalu memilih medium roasted untuk tingkat penyangraiannya.

Awalnya kupikir sama saja. Ternyata benar-benar berbeda. Awal tahun lalu suami membawa pulang Kopi Arabica Toraja yang disangrai hingga hitam (dark roasted). Rasanya pahit dan asam. Bahkan ketika dicampur dengan gula pun tidak berkurang banyak. Rasanya benar-benar kuat. Kesan minum kopi yang tidak mengenakan tentu saja. 

Dapat tester seduhan Kopi Robusta Dampit yang kuceritakan diatas benar-benar membuatku jatuh cinta dengan tingkat kematangan proses menyangrai kopi ini. Bahkan memantabkan diri untuk selalu memilih medium roasted ketika memesan kopi.

Honey Process

Sebelum kopi bisa dinikmati ada banyak tahapan yang dilalui, salah satunya adalah proses pengolahan biji kopi. Kali ini yang akan kubahas hanya honey process atau miel process. 

Sederhananya honey process adalah proses pemisahan biji kopi dari daging buah dengan menyisakan sedikit kulit daging pada biji kopi sebelum dijemur. Dalam Bahasa Spanyol, kulit daging yang tersisa ini disebut miel yang berarti honey atau madu.

Nah, honey process yang pernah kucoba adalah kopi kerinci (Arabica, medium roasted, honey process). Rasanya asam dengan campuran manis dari miel. Sementara rasa pahitnya hampir tidak terasa

Robusta Dampit, Dark Roasted, Brewing : French Press


Jenis kopi, tingkat penyangraian kopi, dan proses pengolahan biji kopi hanya sedikit faktor yang memengaruhi cita rasa kopi. Jika mendalami kopi akan ada banyak faktor lain yang membuat kopi terasa berbeda. Bahkan tangan seseorang pun katanya bisa memberikan sumbangsih rasa yang berbeda (hasil seduhanku dan suami berbeda meski sama-sama menggunkan jenis dan metode penyeduhan yang sama hehehe).

Badanku ini termasuk yang sensitif dengan kopi. Pasti dijamin melek kalau udah minum kopi dan pasti lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Semua itu terjadi hingga sekarang ketika minum kopi instan atau kopi pabrikan. Bahkan ada beberapa merek kopi yang kuhindari karena efeknya sedikit berlebihan seperti jantung berdebar dan badan lemas. Pas minum kopi giling/bukan hasil olahan pabrik badan lebih toleran meski aktivitas buang air kecil sama seringnya.

Baca juga : beberapa jenis penyajian kopi

Barista dikedai kopi langgananku bilang kalau aku penyuka teknik V60 karena hampir semua jenis kopi yang kupesan selalu memilih teknik itu. Padahal teknik ini kurang OK untuk gaya hidup minim sampah hehehe

Jadi, apa kopi kesukaanmu?

P.S. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sehingga mengandung subjektivitas tinggi. Tiap orang mungkin akan berbeda tergantung selera masing-masing.

Minggu, 22 Desember 2019

AKU MENCIPTA ALFAMERIA

14.03 0 Comments
EWS 2.0

Elfa Writing Sprint 2.0 bisa dikatakan ini ada kompetisi menulis fiksi pertama yang kuikuti. Nekat tentu saja. sombong apalagi (hahaha biar nggak minder). Akhirnya daftar. Mengisi formulir melalui google form dan menyertakan fiksi mini sebanyak 250 kata sebagai salah satu syaratnya.
Aku tuh baperan. Semakin tambah umur bukannya tambah bijak tapi tambah sensitif. Akhirnya pake trik klasik, daftar dan lupakan.
Enggak pernah tahu kapan pengumumannya. Yang diingat akhir bulan Oktober ada event menulis. Entah sibuk apa, niat lupa itu benar-benar lupa. Sampai pemberitahuan masuk grup WA muncul.
Aneh, heran dan nyaris keluar pas tahu dimasukkan grup WA oleh sembarang orang. Cuma pas baca nama grup jadi mikir lalu bongkar ingatan.
“Jadi aku lolos seleksi awal?”

Secepat kilat ubek-ubek facebook dan ketemulah. Ada namaku dari 25 peserta yang lolos. Resiko menjadi pemilik nama dengan huruf depan Y, apa-apa selalu dibelakang.

Belajar dan Menjadi Bodoh

Semua orang belajar untuk menjadi pintar. Itu juga yang kuyakini selama hampir 20 tahun mengenyam pendidikan. Baru kali ini merasakan bahwa belajar itu untuk mengetahui seberapa bodohnya kita.
Tahun 2019 memutuskan berhenti belajar. Berhenti mengikuti kelas-kelas menulis yang bertebaran dijagad dunia maya. Karena ingin mengganti fokus untuk praktik, menulis, menulis, dan terus menulis. Apalagi akhir tahun lalu ditutup dengan hadirnya blog pribadi yang cukup mendongkrak kepercayaan diri untuk melempar tulisan dikhalayak ramai.
Menjadi salah satu peserta di EWS 2.0 tidak hanya berkompetisi tetapi juga mendapat pelatihan untuk menulis fiksi yang fokusnya adalah novella.
Seminggu pertama adalah pemberian materi dan mengerjakan tugas sesuai materi.
Dikompetisi ini aku benar-benar mengosongkan kepala. Membuang jauh-jauh apa yang sudah kupelajari selama ini. Dan benar saja, meski bukan yang pertama kali, aku benar-benar menghadapi kesulitan yang sangat.
Bahkan dikesempatan ini aku baru bisa membenarkan pernyataan banyak orang bahwa menulis fiksi itu susah.     

Premis dan sinopsis adalah bagian paling susah, baik dulu bahkan sekarang. Karena kesulitan inilah aku jadi tahu alasan cerita-ceritaku selalu berada dijalan panjang yang penuh kemacetan untuk mencapai kata ‘tamat’.
Kesulitan ini nyaris membuatku menyerah. Karena aku benar-benar merasa down, merasa tidak bisa menulis. Bahkan menulis artikel untuk blog sebagai pengalihan pun gagal. Parahnya lagi, aku hiatus dari blog. Tabungan artikelku mengendap dilaptop. Selama bulan November engak ada satu unggahan disana. Lagi-lagi tekat menjadi penyelamatku. Hingga akhirnya membuatku tetap bertahan diantar 19 peserta yang tersisa.

Sahabatku Alfameria

Pada minggu kedua proses menulis dimulai. Aku bisa bernafas lega. Kalau ada penyanyi buta nada maka aku buta teori. Menulis menjadi jalan yang cukup mudah kulalui. Dengan adanya outline benar-benar sangat membatu perjalanan itu.
Alfameria ini bergenre 100% teenlit. Alasannya aku sendiri tidak tahu (hahaha)
Aku senang dengan film-film yang diproduksi Walt Disney dan serial drama korea yang diproduksi SBS. Sebut saja High School Musical yang membuatku tergila-gila dengan Troy Bolton dalam wujud Zac Effron, Joey Parker yang berwujud Drew See ley. Cerita yang diangkat mengenai permasalahan remaja yang diselesaikan dengan sangat apik dan dewasa untuk usia mereka. Dan aku ingin cerita-cerita itu berwujud tulisan.
Alfameria mungkin tidak sekomplek drama-drama diatas tapi aku benar-benar ingin menunjukkan pada remaja sekarang bahwa ada banyak hal baik yang bisa dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman. Aku ingin mengajak mereka untuk membangun mimpi, menemukan passion sejak awal agar masa-masa peralihan itu tidak dipenuhi oleh kisah-kisah picisan yang menyempitkan pola pikir. Bukan mengkerdilkan kisah-kisah percintaan (kan aku romance freak) hanya ingin mereka untuk think bigger terutama remaja yang tumbuh dikota-kota kecil.
Maka muncullah Alfa, Ameria dan Aksa dengan balutan kisah cinta klasik, cinta segitiga. Mereka adalah karakter-karakter yang kuharapkan hadir dalam hidupku dijaman itu (sadar udah tua hahaha).
Menulis kisah mereka benar-benar membuatku merasa muda. Meski sangat menikmati bukan berarti berjalan tanpa kesulitan. Justru karena mereka hidup didunia yang sangat berbeda denganku, usaha untuk menciptakan atmosfernya berkali-kali lipat lebih susah. Karena referensiku yang sangat kurang baik buku atau film.

Hari-hari menuju penilaian pun semakin dekat. Meski sudah selesai menulis tapi perasaan puas masih sangat jauh didepan. Hal positif yang bisa kupetik lebih awal adalah aku bisa mengalahkan diri sendiri. Ini benar-benar menjadi langkah besar dalam perjalananku meniti karir sebagai seorang penulis yang sangat rimbawan.

Senin, 28 Oktober 2019

3 HAL UNIK YANG DIRASAKAN ANAK BUKU

19.31 32 Comments
Kutu buku, book freak, book dragon, monster book dan masih banyak lagi sebutan untuk orang-orang yang menyukai buku. Istilah tersebut pun sangat populer di Instagram sehingga banyak digunakan sebagai tagar. Kalau saya lebih suka menyebutnya anak buku.
Instagram menjadi salah satu wadah bagi orang-orang tersebut. Mereka biasa menamai bookstagram. Komunitas ini mulai berkembang di Indonesia sekitar 2 tahun belakangan. Tidak selalu mereka yang gemar membaca bahkan mereka yang hanya mengunggah foto dengan buku sebagai objek pun sudah bisa disebut bookstagram.
Nah, mereka yang menyukai hal-hal seputar buku ini juga memiliki kebiasaan unik. Jika ada yang melihat pasti akan memberi kesan lebay deh, enggak ada kerjaan, dan lain sebagainya. Salah? Tidak. Itu kan hanya pendapat orang yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Biar tidak menghakimi seenaknya sendiri, yuk, kita selami sedikit dunia mereka.
IG azura.arts
Kumpulan Buku adalah Taman Bunga
Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi. Berbagai jenis tanaman berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tanaman berbunga, tanaman berduri, perdu, tanaman merambat, pohon-pohon dengan tajuk yang besar-besar menjadi penghuninya.
Siapapun akan senang mengunjunginya. Datang bersama keluarga, menikmati bekal yang dibawa dengan pemandangan yang memanjakan mata. Disaat seperti ini kita akan merasa kadar oksitosin dalam tubuh meningkat. Senang rasanya.
Kurang lebih seperti itu yang dirasakan oleh anak buku. Barisan rak yang menjulang tinggi yang berderet rapi. Dipenuhi oleh buku-buku yang sudah dikelompokkan sesuai kategorinya.
Filsafat, sejarah, psikologi itu seperti kelompok perdu yang bergerombol dengan daun hijaunya yang seragam.
Agama, pendidikan, social-budaya adalah tajuk-tajuk ilmu yang senantiasa menaungi dari sengatan hal buruk dunia.
Komik, novel, kumpulan cerpen bahkan puisi terlihat seperti bunga yang sedang mekar dengan genre-genre yang siap membuka pintu segala emosi.

Ekonomi, politik, teknologi mengakar dan berkembang tanpa batas. Menjerat orang-orang untuk terus mengasah kemampuan.
IG azura.arts
Perpustakaan dan Toko Buku adalah Tempat Hang Out Terbaik
Kalau jalan bareng teman kemana? Nongkrong di kafe atau nonton di bioskop biasanya jadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Tidak heran kalau saat ini banyak sekali kafe-kafe baru yang menawarkan banyak konsep demi kenyamanan nongkrong.
Anak buku pun demikian. Jangan salah, mereka juga suka hang out. Bisa sendiri atau rame-an.
Nah, ini juga salah satu yang seru yang hanya anak buku lakukan (mungkin). Pergi sendirian. Tidak semua sih. beberapa ada yang demikian untuk mereka dengan karakter introvert.
Alasannya sederhana. Tidak suka mendapat banyak gangguan. Kalau sesama jenis enggak akan masalah (anak buku) tentu saja. Lah kalau beda? Asli itu hal yang sangat berbahaya untuk dibayangkan.
Pernah suatu waktu pergi ke toko buku di temani suami. Sebelum masuk saya sudah berpesan untuk tidak bertanya kapan selesai. Sekaligus memberi saran  untuk menunggu di kafe atau Time Zone saja. Saking sayangnya, suami maksa ikut masuk.
30 menit pertama saya sudah disamperin. Awalnya hanya melihat apakah saya sudah menemukan buku yang dicari. 15 menit kemudian menawarkan diri untuk membantu mencari judul buku. Akhirnya setelah genap 1 jam kesabarannya diambang kepunahan pun bertanya, “Sudah selesai?”
Inilah tragedi!!!
Toko buku dan book fair kadang terlalu berisik untuk dikunjungi. Beberapa anak buku yang suka ketenangan akan memilih perpustakaan.
Perpustakaan seperti surga dunia. Bayangkan, buku-buku yang sudah tidak beredar akan bisa di jumpai di sana. Bahkan buku-buku yang terbit sejak jaman kolonial pun pasti ada.

Kalau di perpustakaan Hogwarts ada yang disebut restricted area, perpustakaan dunia nyata pun ada. Bedanya tidak ada rantai yang mengikat buku agar tidak berteriak liar. Kita cukup bertanya kepada petugas atau membawa dokumen tertentu terkait perijinan seperti surat izin penelitian. Karena buku langka sehingga tidak bebas untuk dibaca dan dipinjam.
IG splendidwords
Over Protective terhadap buku
Pacar protektif itu biasa. Orang tua protektif itu kewajiban. Anak buku protektif harus diwaspadai.
Jangan bangunkan harimau tidur. Pepatah itu sangat sesuai untuk disematkan pada anak buku.
Pasalnya ketika kita meminjam atau sekadar membaca buku miliknya, hal pertama yang akan diucapkan adalah daftar panjang kata jangan. Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan ditekuk, jangan makan sambil baca, jangan baca sambil minum dan ada ratusan lagi kata jangan.
Untuk anak buku daftar jangan adalah aturan mutlak. Sekali saja jangan sampai melanggar. Hal itu sangat melukai hati.
Hal-hal tersebut adalah bentuk penjagaan yang bisa dilakukan terhadap koleksi bukunya baik kesayangan maupun bukan. Jika mereka masih memberi izin itu adalah sebuah kebaikan dan hargailah. Ketika mereka bilang ‘tidak boleh’ maka mengertilah. Biasanya mereka pernah mengalami kejadian buruk yang traumatis.

Mempunyai Dunia Sendiri
Menjadi seorang anak buku terkadang mendapat label pintar. Tapi tidak sedikit juga yang mengalami kesulitan saat berbincang atau nggak nyambung.
Secara umum seorang anak buku memang memiliki wawasan luas dan lebih terbuka cara berpikirnya. Tapi ketika berbicara lebih dalam, seringkali mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraannya.
Apalagi jika berhadapan dengan anak buku yang sering membaca novel. Mereka seperti berada di dunia yang berbeda dengan kebanyakan orang. Atau justru menjadi sosok lain. Bukan hal yang aneh ketika seorang anak buku sangat terpengaruh dengan karakter yang sedang atau pernah dibaca kedalam kepribadiannya.
Bersabarlah!

Selebihnya anak buku itu menyenangkan. Mereka bisa menjadi teman berbincang yang menyenangkan karena wawasan mereka yang luas dan bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya. Yang jelas kesenangan mereka dengan buku membuat mereka lebih bijak dalam melihat sesuatu sehingga tidak membuatnya menjadi karakter korek api yang mudah sekali tersulut emosi.

Minggu, 29 September 2019

Shakilla Andriana

21.25 24 Comments
Shakilla memiliki nama kecil Killa. Lahir dan besar di Surabaya 17 Mei 1988. Selama 18 tahun tinggal bersama orang tuanya. Dengan Papanya yang bekerja menjadi salah satu direktur di sebuah perusahaan milik negara sementara ibunya membuka usaha catering rumahan. Memiliki seorang adik laki-laki yang terpaut usia 5 tahun, Keenan Andaraksa.
Killa tumbuh menjadi gadis yang sangat menarik. Perpaduan wajah jawa ayahnya dan minang ibunya, menguatkan aura gadis pribumi yang dimilikinya. Kulit kuning langsat dengan bentuk wajah bulat lonjong seperti telur ayam kampong. Dengan bola mata hitam legam meski sedikit mengantuk.
Untuk ukuran orang Indonesia, Killa termasuk jangkung. Tingginya hampir mencapai angka 165 cm. Postur badannya padat berisi. Sedikit berlebih untuk masuk kedalam stereotype wanita langsing Indonesia. Tapi jika dilihat menggunakan Body Mass Index Killa termasuk normal.

Pinterest

Pendidikan
Sejak sekolah dasar termasuk siswa yang cerdas. Selalu masuk kedalam 10 besar siswa terbaik dikelas. Sering mewakili sekolah dalam mengikuti perlombaan. Pernah menjadi peserta termuda dalam lomba karya ilmiah remaja tingkat sekolah menengah pertama.
Menjadi lulusan terbaik dari salah satu sekolah bergengsi, SMA Negeri 2 Surabaya. Bahkan mendapat kesempatan menjadi mahasiswa ITS pada jurusan Informatika tanpa melalui tes.  Meski jurusan tersebut adalah impiannya sejak kecil tapi Killa menolaknya. Dan memilih mendaftar di salah satu kampus negeri di bogor tanpa memilih jurusan. Alasannya hanya Killa dan Tuhan yang tahu.
Tentu saja mendapat tentangan dari kedua orang tuanya, terutama Papa. Bukan Killa kalau tidak bisa membuat orang tuanya menyetujui kehendaknya. Salah satu kelebihannya adalah merayu dan merajuk, Meski ketika dewasa semuanya sirna tak berbekas. Maka dengan penjelasan panjang dengan analogi-analogi yang hanya dirinya sendiri yang mengerti, papa dan mama pun akhirnya merestui putri pertama mereka pergi merantau.

Hobi
Killa tidak memiliki kesukaan khusus. Meski jenis golongan pemilik IQ diatas rata-rata Killa bukan seseorang yang kesehariannya bercengkerama dengan buku. Dia membaca jika ingin. Bacaannya pun seputar bacaan-bacaan ringan seperti teenlit, chiclit, novel-novel young adult. Seri Harry Potter yang fenomenal tidak pernah diliriknya, meski seluruh filmnya habis ditonton. Novel berat bagi Killa dan hanya sekali ia baca, The Twilight Saga. Itu pun membutuhkan waktu satu bulan untuk menyelesaikan satu buku. Berikan buku-buku Dan Brown atau Agatha Chrysti maka Killa akan dengan cepat tertidur.
Seperti kebayakan orang, Killa juga suka menyukai Film. Apa aja dia tonton. Film lokal sampai Hollywood. Drama Korea bahkan film India. Baginya orang India itu cerdas. Karena hanya dengan menyanyi dan menari maka persoalan serumit apapun akan menemukan jalan keluarnya. Meski yang pertama kali selesai adalah persoalan hati. Masalah hidup lain tentu masih menunggu dan tidak akan selesai dengan gerak tari dan olah vocal.
Hanya saja sebagian film tersebut ditontonnya disinggasana terbaik alias kamar pribadi. Jangan heran koleksi VCD dan DVD miliknya memenuhi salah sutu sudut kamarnya. Semua film yang dibintangi Zac Effron ditontonnya. Meski Killa mengaku kecewa dengan acting Zac saat di film Baywatch. Cowok mesum, julukan yang Killa berikan usai menonton  Filmnya.
The Quenn of Mager, julukan yang Keenan berikan untuk Killa. Meski Keenan lebih sering menyebutnya pemalas. Karena Killa bisa 24 jam hanya berdiam diri dikamar. Tanpa perlu keluar walau untuk memenuhi hasrat perutnya, makan.
Mama akan melakukan demo menggunakan TOA untuk mengeraskan suara, mengajukan protes atas tindakan absurd Killa remaja. Berbeda ketika Killa melakukannya saat dewasa. Ketukan pelan yang dilakukan Mama hanya untuk memastikan anak gadisnya masih hidup. Dan amukan yang biasa Mama lakukan berubah menjadi tatapan sedih dan prihatin. Saat seperti itu mama akan duduk dimeja makan sambil menyiangi sayur toge. Ditemani papa yang duduk sambil membaca buku. didalam hati merapalkan banyak doa untuk kebaikan putrinya.

Pekerjaan
Menjadi seorang sarjana adalah perjuangan berat dan berliku. Dengan kecerdasan yang tidak diragukan lagi Killa lulus dengan nilai pas-pasan. Mencengangkan banyak orang. meski kedua orang tuanya tidak merasa demikian. Mereka sangat bersyukur putrinya bisa lulus kuliah. Tidak perlu berprestasi atau mendapat jaminan pekerjaan dari perusahaan terbaik, bisa menyelesaikan pendidikan dengan tuntas bagi Papa dan Mama itu sudah cukup.
Tidak masalah menjadi orang tua yang menenggelamkan harapan atas anak. Tidak mengapa putrinya hanya menjadi orang biasa. Asal Killa bisa kembali menjadi Killa yang dulu, yang akan menghabiskan sebagian waktu senggangnya dikamar, yang bisa papa dengar rajukannya setiap saat.
Namun Killa yang dulu tidak akan kembali. Killa adalah Killa yang saat ini. Seorang manager restoran yang memutuskanuntuk merantau,  tinggal terpisah dari orang tua.
Meski mama menolak keras dan memaksa Killa untuk pulang, Papa hanya meminta Mama untuk ikhlas dan membiarkan. Selama Killa masih menjawab telepon, Papa yakin anak gadisnya baik-baik saja. Meski hati kecilnya mengatakan tidak. Tapi apalagi yang bisa orang tua lakukan selain mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Dimata kru dan rekan kerja, Killa adalah seorang introvert garis keras. Dia tidak akan bicara bila tidak ditanya. Ekspresi yang pernah orang lihat hanya wajah datar atau memberenggut dengan kerutan dikening dan helaan nafas dalam yang lebih sering terdengar. Namun hasil kerjanya selalu mendekati sempurna. Hanya satu kekurangan Killa dimata mereka, menjadi orang pertama yang mengetahui kesalahan. Killa pernah tersenyum tentu saja meski hanya senyum simpul yang hampir tidak perlu menggerakkan otot bibir. Dan hanya orang istimewa yang mendapatkan senyumya seperti customer, Store Manager dan Satya.

PS :
Semua narasi diatas adalah fiktif. Apabila ditemukan kesamaan fisik dan sifat bahkan tempat hanya kebetulan semata. Dibuat untuk karakter dalam kisah berjudul Rebound. Gambar hanya pemanis, tidak untuk membatasi imaginasi. 


MEMANFAATKAN KAMERA SMARTPHONE UNTUK MENGHASILKAN GAMBAR YANG BAGUS

21.03 0 Comments
Dulu saat saya masih duduk dibangku sekolah menengah, sering mengunjungi studio foto. Untuk apa? Ya untuk berfoto. Bersama teman untuk membuat sebuah kenangan. Biasanya dengan teman sepermainan atau teman satu kelas.
Hasilnya? Tentu saja bagus. Pencahayaannya, komposisi, semuanya nyaris sempurna karena dilakukan oleh fotografer profesional.
Berkembangnya teknologi digital membuat banyak studio foto yang mulai gulung tikar. Ditambah kecanggihan yang dimiliki kamera bahkan saat ini tersedia berbagai macam jenis aplikasi untuk membuat sebuah foto terlihat artistic. Hanya sedikit saja pelaku usaha tersebut yang masih bertahan dan masih menggunakan jasanya. Dan yang masih bertahan itu adalah mereka yang ikut berkembang dan berinovasi. seperti membuat paket foto pernikahan, bekerjasama dengan wedding organizer dan lain sebagainya.
Selain teknologi juga disebabkan menurunnya peminat konsumen. Mereka beralih menggunakan kamera digital atau seperti saat ini banyak terjadi yaitu menggunakan kamera dari ponsel pintar. tak heran, jenis ponsel dengan kelebihan pada kamera banyak diburu.
Selfie, wefie sudah menjadi lifestyle. Setiap berkumpul dengan teman harus foto dulu. berkunjung ke tempat unik foto dulu. meski kalau untuk saya pribadi itu style jadul karena saya sudah melakukannya sebelum blackberry lahir apalagi ponsel pintar. masih di era kamera analog dan puncak kejayaan nokia (nyombong dikit hahahah).
Semuanya berlomba-lomba mendapatkan hasil foto yang istimewa. Namun, secanggih apapun ponsel yang kita miliki, sebanyak apapun aplikasi editing yang kita gunakan. Kemampuan mengambil gambar tetap yang utama.
Kamera profesional ditambah keahlian pemakainya tentu akan menghasilkan gambar yang menakjubkan. Tentu saja semua itu membutuhkan modal besar. yang murah dan mudah tentu memanfaatkan kamera handphone.
Dibawah ini ada beberapa hal yang harus kita pahami agar bisa menghasilkan foto setara dengan kamera profesional tapi hanya menggunakan aplikasi kamera di smartphone.
Kenali kameramu
Setiap smartphone memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan pasti terdapat perbedaan meski memiliki fungsi sama.
Mengapa hal ini penting?
Karena untuk membuat foto yang bagus, kita harus merubah pengaturan kamera menjadi mode profesional yaitu yang memiliki pengaturan seperti kamera profesional.
Merawat lensa kamera
Lensa kamera itu seperti mata. yang tidak bisa diabaikan kondisinya. Hal yang paling mudah adalah dengan merawatnya. Seperti membersihkan dari debu atau kotoran lain yang akan berpengaruh pada saat proses pengambilan gambar.



Pahami teori fotografi
Bagian ini gampang-gampang susah untuk dilakukan. Bahkan untuk memahaminya saja diperlukan sebuah pendidikan atau kursus tertentu yang harganya lumayan mahal. Meski hanya kelas amatiran memahami materi fotografi tetap diperlukan.
Sebenarnya ada banyak sekali teori fotografi. Namun yang paling dasar untuk diketahui dan mudah dipelajari secara otodidak adalah point of interest (POI) dan pencahayaan.

Dalam mengambil foto kita harus tahu objek utama yang ingin ditonjolkan. Sehingga ketika ada banyak sekali objek, penikmat foto langsung bisa mengetahui fokus utama foto tersebut. inilah yang sering disebut dengan POI.

POI ini pun memiliki banyak jenis. Seperti Rule of Third, Depth Of Field (DOF), Negative space dan lain sebagainya.
Pencahayaan tentu saja sangat penting. Agar foto kita terlihat dengan jelas. Tentu saja menggunakan cahaya alami akan menghasilkan gambar yang lebih bagus. Meski menggunakan sumber cahaya lain pun bisa. Yang paling saya ingat dari konsep pencahayaan ini adalah golden moment. Waktu paling tepat untuk mengambil gambar dengan memanfaatkan cahaya matahari yaitu, antara pukul 6-9 pagi dan 4-5 sore.
Kemudian kita juga harus bisa menentukan sudut pandang saat akan pengambilan gambar. Seperti saat mengambil gambar buku, yang paling sering digunakan adalah metode flat lay. Yaitu mengambil gambar persis diatas objek dengan posisi kamera tegak lurus



Gunakan property secukupnya
Properti atau elemen lain lain yang digunakan untuk menguatkan objek utama. Hal ini tergantung dengan konsep foto yang akan kita gunakan. Tapi minimal kita bisa menyiapkan beberapa komponen dasar seperti alas foto dan background.
Alas foto digunakan untuk meletakkan objek foto baik yang utama maupun pendukung. Gunakan alas foto yang tidak memiliki tekstur rumit seperti kain polos, beludru dan sebainya.
Latar belakang foto juga harus diperhatikan. Karena memiliki peran penting dalam menampilkan keindahan objek. Background bisa memanfaatkan bentang alam dan lingkungan sekitar atau menggunakan alas foto yang dipasang vertical.

Penambahan tanaman dapat digunakan untuk membuat objek foto lebih hidup dan alami.



Melakukan proses editing
Foto yang bagus adalah yang utama. Dan tanamkan hal tersebut sekuat mungkin dalam pikiran kita. Karena proses penyuntingan dilakukan hanya untuk mempertegas foto.
Ada banyak aplikasi editing yang bisa kita gunakan seperti Snapseed, Canva,Picarts. Semuanya tergantung dengan selera dan kenyamanan masing-masing.

Nah, itu tadi beberapa hal bisa kita lakukan dengan memanfaatkan smartphone untuk menghasilkan gambar yang bagus. Terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan.


Referensi
Materi dan foto diperoleh dari :
Kelas fotografi yang diselenggarakan oleh Writing Challenges (WRC)

Materi fotografi yang diselenggarakan oleh Klub Suka Buku

Selasa, 24 September 2019

SATU JAM BERSAMA MBAK OLLY, PENULIS NOVEL JUST THE PERSON I LOVED BEFORE

14.24 4 Comments
Sekilas Tentang Mbak Olly
Seorang professional engineer yang lahir di Malang, Jawa Timur. Selama lebih dari 10 tahun bekerja menangani proyek-proyek infrastruktur di berbagai pulai di Indonesia. Pada tahun 2012, Mbak Olly memutuskan untuk berhenti dari dunia engineer dan fokus mengurus keluarga.
Selain menjadi ibu rumah tangga, Mbak Olly juga mengelola beberapa lembaga pendidikan dan sosial. Seperti kebanyakan penulis lainnya, Mbak Olly menyukai dunia kepenulisan. Melalui blog dan platform menulis, Mbak Olly mengasah kemampuannya.

Dua karyanya sudah diterbitkan oleh penerbit mayor. Tough Love dan Just The Person I loved Before diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo. Beberapa buku lain seperti Thousand Sheets,Marriage by Arrangement, Run To You, dan Love Story diterbitkan secara self publish.

Pengalaman menulis di platform menulis
Novel Just The Person I Loved Before merupakan salah satu karyanya yang di-publish pertama kali melalui Wattpad (WP). Yang kemudian dicetak menjadi buku dan diterbitkan di penerbit Mayor. Mbak Olly mengatakan bahwa menulis di WP menyenangkan dan mudah.
WP menjadi salah satu wadah Mbak Olly menulis draft cerita. Dari draft kasar yang belum melalui proses penyuntingan itu Mbak Olly justru mendapatkan banyak manfaat. Sebagian besar pembacanya memberikan koreksi baik salah ketik maupun isi cerita melalui kolom komentar. Hal ini sangat membantunya dalam melakukan self-editing. Selain itu komentar-komentar tersebut juga memberikan energi untuk terus semangat menulis.

Menulis buku adalah proses kreatif
Berbeda dengan pabrik yang bekerja untuk menghasilkan suatu produk. Menulis tidaklah demikian. Sehingga Mbak Olly menyebutnya sebagai proses kreatif.
Mengawali dengan membuat premis, terciptalah Sissy Amelia berusia 14 tahun yang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Bram, kakak dari Nita sahabatnya. Sayang sekali perasaannya tersebut tidak berbalas. Bram hanya menganggap Sissy tak lebih dari seorang remaja  manja yang menyebalkan dan memberi pengaruh buruk pada Nita.
Kebencian itu tumbuh bersemi hingga mereka dewasa. Setiap pertemuan tidak pernah terlewati dengan sebuah pertengkaran. Yang akhirnya membuat Sissy memutuskan untuk move on dari Bram.
Menulis novel pun membutuhkan riset. Meski sebagian besar merupakan khayalan dari penulis. Tapi Mbak Olly mengumpulkan banyak informasi untuk tulisannya, Salah satunya untuk membuat karakternya hidup.
Diceritakan bahwa tokoh Bram merupakan seorang dokter. Sebuah profesi yang jauh diluar kemampuan Mbak Olly yang pernah menjadi engineer. Kesulitan tersebut bukanlah halangan yang tidak bisa ditaklukan. Melalui sebuah wawancara dengan kawan yang berprofesi dokter mbak Olly mendapatkan informasi. Meski hanya sedikit dan dirasa kurang untuk digunakan sebagai bahan tulisan. Namun mbak Olly memiliki trik khusus yaitu mendeskripsikan karakter Bram sebagai seorang dokter melalui sudut pandang Olly yang tidak memiliki latar belakang medis. Lebih seperti kesan dari seorang dokter dimata orang awam
Menurut saya ini merupakan trik yang cukup cerdas. Kita tahu bahwa profesi dokter bukan profesi sembarang. Ilmunya pun khusus dan sulit yang tidak mudah dipahami. Bagi saya menulis itu harus memiliki 2 kemampuan pemahaman. Yang pertama adalah pemahaman untuk diri sendiri. Yang berisi tentang pengetahuan asli dengan bahasa-bahasa khusus seperti dokter berarti harus mengetahui istilah-istilah medis. Yang kedua adalah menyampaikan pemahaman pertama agar lebih mudah dipahami. Misalnya ketika menulis tentang seorang pasien mengalami gejala appendicitistidak banyak yang mengetahui istilah medis tersebut sehingga perlu menyederhanakan bahasa agar lebih mudah dipahami seperti usus buntu.  

Mainstream? Why not?
Menulislah apa yang kamu suka. Mbak Olly pun menggunakan hal serupa hampir disemua karyanya. Dan tema percintaan adalah yang paling mudah ditulis. Sehingga proses menulis pun mengalir dan sangat dinikmatinya. Sebuah profesi tidak akan menyenangkan jika tidak dinikmati, bukan?
Tema ini memang sangat banyak sekali. Saking banyaknya hampir semua genre pasti menyelipkan sisi percintaan, meski sedikit. Bahkan novel dengan tema yang cukup berat seperti karya Dan Brown saja memberikan sentuhan asmara pada pemainnya. Atau novel sejarah karya Langit Kresna Hariadi yang berjudul Gajah Mada juga membuat seorang tokoh fiksi yang sedang jatuh cinta.
Tidak perlu takut membuat cerita pasaran kata Mbak Olly. Ide boleh sama tapi cara menulis, sudut pandang dan banyak elemen lain yang membuat hasilnya berbeda. Kalau Mbak Olly menyebutnya, pede aja.
Ada banyak sekali buku-buku bagus di luar sana. yang mendatangkan popularitas bagi penulisnya. Bahkan dari kejeniusan penulis tersebut karakter fiktif yang diciptakan mampu hidup dalam kenangan pembaca. Namun keahlian tersebut hanya memberikan sebagian dampak saja. kepribadian penulislah yang mampu membuat semua itu terjadi. Mereka percaya bahwa karya mereka mampu memberikan manfaat pada pembaca.

Kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi?

Yang Unik Dari Aksi Mahasiswa

02.52 0 Comments
Dua hari ini panasnya luar biasa. Ditambah kecepatan angin yang terus bertambah saat matahari bergerak naik. Kadang bikin oleng saat sedang berkendara dengan motor.
Rupanya saya tidak sendiri menikmati terik matahari yang menyengat dan hembusan angin yang kuat. ada ribuan orang yang melupakan aktivitas alam tersebut. Merelakan matahari membakar kulit mereka dan membiarkan keringat bercucuran. Aksi Mahasiswa.
Demi apa?
Demi sebuah keadilan yang telah  menjadi permainan baru bagi beberapa oknum tidak bermoral.
Demi rakyat yang terjajah di negeri yang merdeka.
Demi negara yang adil dan makmur
Demi tanah air tercinta, Indonesia
Menggerakkan masa sebesar itu bukan perkara mudah. Apalagi dilakukan serentak diseluruh negeri. Meski semangat generasi muda mereka sama tapi tanpa tujuan yang jelas, aksi seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Tentu saja hal ini mengingatkan saya pada 12 tahun yang lalu. Benar 12 tahun lalu. Tepatnya tahun 2007 saat saya baru pertama kali menyandang gelar mahasiswa. Memang tidak se-fenomenal saat mahasiswa berhasil meruntuhkan orde baru pada tahun 1998. Tapi saat itu adalah kali terakhir  saya mendengar sebuah gerakan masal dan serentak di Indonesia selain musim mudik lebaran.
Tahun ini pun tak ada bedanya dengan 12 tahun lalu. Tujuan utama bukanlah menggulingkan rezim penguasa saat ini. Tetapi mengajukan protes dan peninjauan kembali atas kebijakan yang sudah dibuat pemerintah.
Dibalik aksi heroik tersebut, rupanya menyimpan beberapa hal unik yang sayang sekali untuk dilewatkan.
Sebelum itu, saya akan berbagi kisah unik saya 12 tahun lalu.
Seorang anak desa yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi bergensi disebuah kota penyangga ibukota. Adalah saya yang diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur undangan.
Boleh jadi saya sedang beruntung. Karena beberapa bulan setelah diterima, kejadian hari ini pun terjadi saat itu. Ditambah lagi, sebelum berangkat ke perantauan mendeklarkan diri dihadapan orang tua untuk menjadi demonstran, minimal satu kali seumur hidup. Sampai saat ini saya masih terharu mengingatnya. Jenis haru yang menggelitik lebih tepatnya.
Datanglah hari itu.
Waktu itu kuliah pagi. Dan satu per satu kawan sekelas keluar. Bahkan Ketua BEM Mahasiswa Tingkat Bersama (TPB) mengajak dengan lantang untuk terlibat dalam aksi tersebut. Sebelum perkuliahan dimulai dan dosen belum datang tentu saja. Dulu seluruh mahasiswa tingkat satu IPB digabung. Kuliah bahkan organisasi kemahasiswaan pun ada sendiri.
Lantas beberapa teman segeng pada berbisik untuk ikutan. Galau tingkat tinggilah saat itu. Antara berangkat tapi belum pamit orang tua atau tetap tinggal dan kuliah seperti biasa.
Karena kadar grusak grusuk saya yang masih level amatir. Kegalauan itu pun memuncak, Sampai gemetar saat ingin angkat tangan untuk ikut bergabung.
Tapi Tuhan mengabulkan doa bapak ibu.
Ponsel polyponic saya bergetar.
Muncul nama bapak disana.
Belum selesai mengucap kata ‘halo’ sebuah nasehat panjang bergema. Intinya adalah cukup lakukan kewajiban sebagai mahasiswa. Tugasnya apa? Belajar tentu saja. Ya … meski ada kewajiban lain yang menurut bapak saya hanya sebatas fardhu kifayah. Yang gugur saat orang lain sudah melakukannya.

Dan kegalauan itu berakhir sudah. Saya duduk manis mendengarkan dosen menjelaskan tentang struktur kalimat. Benar, itu bagian dari mata kuliah bahasa Indonesia. Mungkin aneh didengar, bahwa mahasiswa kehutanan mendapat kuliah bahasa Indonesia. IPB waktu itu memang seperti itu. tentu saja saat ini sudah berbeda.

Kembali pada aksi mahasiswaInilah beberapa potret unik yang berhasil diabadikan.

Demo sekaligus curhat
Deritanya mahasiswa itu panjang. Setiap bulan harus sedia mi instan dan promag biar nggak sakit. Atau setiap malam harus ketakutan karena dihantui mantan. 

Sumber gambar dari ig @agusbryant

Sumber gambar dari ig @tribunjambi
Sumber gambar dari ig @febiuinsuka

Foto yang Instagramable
Memangnya cuma nongkrong di kafe aja yang bisa foto-foto. Momen langka seperti ini pun harus didokumentasikan dengan epic.
Sumber gambar dari ig @fahmi_muhlis




Sumber gambar dari ig @fahmi_muhlis

Seragaman seperti ibu-ibu arisan

Umum diketahui kostum wajib saat aksi adalah almamater kampus. Selain sebagai identitas juga biar gampang nyarinya pas hilang. Nah kalau mahasiswa di Malang ini menunjukan persatuan. Dari mana asal kampusmu, apapun warna kulitmu, kita menyatu dalam kehitaman. Maksudnya baju berwarna hitam. 
"Maaf ku Tak pakai baju hitam. tapi aku pakai payung hitam kok. Sama aja kan?"

Sumber gambar dari ig @fahmi_muhlis














Apresiasi yang sebesar-besarnya untuk mahasiswa sebagai perwakilan dari generasi muda. Yang dengan lantang dan berani menyuarakan hati rakyat kecil yang tidak lagi tahu identitasnya.
Yang bingung meminta perlindungan saat diri merasa terancam
Yang bingung mencari pertolongan saat sawah-sawah mereka dialih fungsikan
Yang bingung mencari pengobatan saat ujian sakit datang
Bahkan kebingungan-kebingungan lain yang menambah berat beban hidup. Ya … nasib dadi wong cilik

Sumber gambar dari ig @cakrawalapemuda
Mahasiswa itu tidak sendiri. Dunia pun melakukan aksi yang sama. Aksi untuk mendorong para penguasa diseluruh penjuru dunia untuk segera bertindak. Melakukan aksi nyata terhadap perubahan alam yang semakin hari kian memburuk.
Semoga peluh mereka berbuah hasil. Amin


Sumber gambar dari ig @bbcindonesia

Sumber gambar dari ig @focusbabyhippo

Sumber gambar dari ig @zoebarnard

Follow Us @soratemplates