Tampilkan postingan dengan label Rebound. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rebound. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2019

Rebound : Kamus Killa

14.39 0 Comments
Semesta berkonspirasi. Sejujurnya ungkapan itu kadang terdengar sangat menggelikan. Sebuah ungkapan yang dipakai untuk menyederhanakan frasa takdir Tuhan. Tapi baiklah, apa salahnya menggunakannya sesekali.
Coba kita lihat sejauh mana konspirasi itu.
Matahari bersinar cukup terik. Namun hujan semalam mampu menahan sengatan sinarnya. Ditambah embusan angin pagi ini yang sedikit lebih kencang dari biasanya. Tentu hal ini menambah kesempatan untuk menangkal matahari yang tersenyum diatas langit.
Pukul enam pagi, Surabaya sudah benar-benar menyingkirkan malam. Cahaya bintang kecil benar-benar dikalahkan oleh bintang utama.
Kehidupan manusia pun benar-benar sudah aktif. Lihat saja, jalan-jalan protocol sudah seperti lahan parkir. Semua kendaraan tumpah ruah. Saling berebut untuk lebih dulu lewat. Bunyi klakson sahut bersahutan tak berirama, hanya menulikan telinga saja.
Sekali lagi konspirasi itu ada.
Menggelar tabir untuk menghalau pengaruh buruk jalanan pada seseorang yang sedang menunggu.
“Mbak Ki, ada customer pake credit card.” Lisa melongokkan kepalanya melalui pintu manager.
“Aku udah hand over-an. Emang Pak Wahyu kemana?”
“Udah dicariin tapi nggak ketemu. Minta tolong deh mbak, kasian customernya udah nunggu dari tadi.”
Untuk transaksi non tunai memang mengharuskan setiap manager turun tangan. Karena harus menggunakan swiep card yang hanya dipegang oleh manager.
“Yaudah. Tapi habis ini kamu cari Pak Wahyu, ya.”
Dengan terpaksa Killa mengikuti Lisa. Menunda sebentar waktunya untuk membereskan barang-barangnya sebelum pulang. Masih ada cukup banyak waktu sampai Satya datang menjemputnya.
Killa sudah menukar seragamnya dengan sebuah dress berwarna hitam. Tinggal memoles sedikit make up untuk menutupi wajah lelahnya. Begadang memang sudah biasa dilakukannya. Meski terbiasa wajahnya tidak berbohong setelah semalaman tidak tidur.
“Ciee seragaman.” Lisa kembali melongokkan kepalanya ketika Killa sedang memoles kan lipstick di bibir.
Killa merapatkan bibir atas dan bawahnya. “Bagus nggak?”
“Cantik banget.” Lisa tersenyum mengagumi salah satu atasannya itu. “Mau kondangan mbak?”
“Mana ada kondangan jam segini.” Killa memasukkan lipstick kedalam pouch berikut cermin bergambar bola basket.
“Ketemu camer, ya?”
“Hus! Jangan ngarang deh.”
“Habis rapi banget.” Lisa menarik lagi kepalanya, pegel. Menegakkan dirinya dan berbalik pergi.
Killa mencangklong sling bag putihnya. Melangkah keluar tapi hanya berdiri diam. Kepalanya teringat ucapan Lisa tentang calon mertua.
Mungkinkah?
Satya tidak memberitahunya akan pergi kemana. Ia hanya bilang ingin menghabiskan waktu libur bersama Killa.
Mungkinkah?
“Lupa bilang. Mas Satya udah nunggu dari tadi.”
“Ohh … makasih ya.”
Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Apa yang special? Karena sepanjang hidupnya Killa tetap merasakan. Bahkan saat dia memutuskan untuk menjauh dari cinta, jantungnya justru lebih mudah berdetak ketika ada lawan jenis mencoba mendekatinya. Hanya berdetak saja tidak ada rasa lain yang mengikuti.
Dengan Satya sedikit berbeda. Tidak , ada banyak sekali yang berbeda.
Sebelum jantung itu bisa berdetak idak beraturan ada rasa lain yang lebih dulu sampai. Yang mampu melilit perutnya tapi bukan karena dia lapar atau sakit. kemudian dia akan menjadi orang paling dungu, yang tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada hal benar yang bisa dia lakukan.
Pun sekarang.
Killa kembali mengeluarkan kaca, memastikan bahwa riasan wajahnya sudah rapi. Ahh … Killa melupakan rambutnya. Saat bekerja hanya ada satu model rambut jadi tidak membuatnya kesulitan. Saat ini dia tidak tahu akan membiarkan rambutnya di gerai atau digelung rapi.
Ini bukan kencan apalagi mengunjungi calon mertua seperti kata Lisa
Killa terus merapalkan banyak mantra untuk membuatnya lebih rileks.
Tempo hari saat pergi piknik, Killa tidak perlu melakukan hal aneh seperti ini. dia hanya berpenampilan seperti yang dia inginkan. Hanya saja kesungguhan yang Satya ucapan merubah keadaan.
Killa tidak menjawab kejadian itu terjadi lebih cepat dari dugaannya. Dan Ia sama sekali tidak memiliki persiapan. Tapi gesture tubuh yang ditunjukkan cukup membuat Satya yakin bahwa penglihatannya menangkap sebuah persetujuan.
Mata memang memiliki kemampuan luar biasa. Bisa menangkap jawaban yang tidak bisa indera lain terima. Juga bisa menyampaikan apa yang tidak mampu bibir ucapkan.
Pintu terbuka.

Nampaklah sosok yang membuat Killa salah tingkah. Slim pants warna khaki dengan kemeja hitam yang lengannya dilipat rapi sampai ke siku dan sepatu sneakers warna senada. Memangnya pilot harus selalu terlihat menarik di setiap kesempatan? Kenapa tidak jadi model saja. Untung Killa hanya meneriakkan ocehan tresebut dalam kepala.
Damn! He looks hot
Andai putri mendapat kesempatan ini mulutnya akan lebih liar dalam berucap. Melupakan lembaga sensor apalagi undang-undang ITE. Semua kata akan keluar tanpa melalui proses seleksi. Orang akan jengah mendengarnya. Itu sebabnya Killa bersyukur putrid tidak ada. Tapi Lisa ada dan melihatnya. Mulut paling berbahaya kedua setelah putri.
“Hey, Sorry lama.”
“Women take a longer time.”
Satya membukakan pintu. Killa gelagapan karena tidak terbiasa. Biasanya dia yang memberikan pelayanan pada banyak orang. Dan Satya tahu, sangat tahu. membaca Killa tak lagi susah baginya. Kamus Killa sudah terekam jelas hingga di luar kepala.
Hanya saja Satya kesulitan mengendalikan nalurinya seagai seorang laki-laki. Penampilan Killa membuatnya sedikit gemetar. Killa mengika rambutnya sedemikian rupa hingga leher jenjangnya itu terekspose sempurna. Dress hitam dengan bentuk kerah rendah memberikan sudut pandang terbaik untuk mengagumi ciptaan Tuhan.
Dibalik kesempurnaannya, Satya tetap laki-laki biasa. Yang merasa setiap wanita terkaku menarik untuk dilihat saja. kali ini Satya harus mengeluarkan semua benteng pertahanannya agar hari ini tertap berjalan seperti biasa. Dia harus banyak bergerak agar tidak terpengaruh.
Meski dalam hati Satya juga mengutuk pada semesta yang memberi dukungan. Mungkin lebih baik hari ini hujan deras, badai kalau bisa sehingga Killa akan memilih mengenakan celana panjang dan sweeter dibanding blouse yang panjangnya hanya sampai lutut. Meski ini pakaian yang paling terbuka yang pernah Killa kenakan, tetap saja alarm peringatan Satya menyala.
pinterest
Baca sebelumnya : First date

Rumah-rumah dengan halaman yang luas. Pagar tinggi yang pasti didalamnya terdapat pos satpam atau mungkin anjing galak. Khas orang kaya. Jalannya pun lebar meski di dalam komplek perumahan.
Pertanyaannya adalah mengapa harus melewatinya? Ahh … sekarang kan lagi banyak café-café keren yang berada di dalam komplek. Satya kan anak sosmed pasti tahu tempat-tempat yang happening untuk sedekar duduk dan menikmati secangkir kopi
Tapi tunggu, rumah besar, halaman luas. Killa seperti pernah melewati area ini. cukup lama sehingga ia harus mengorek ingatannya yang muncul tenggelam. Mungkin juga salah, jadi Killa menajamkan kembali.
“Sat, tujuan kita ada disekitar sini?”
“Kamu pernah kesini?”
“Sepertinya.” jawab Killa ragu-ragu.
“Aku tidak ingat pernah mengajakmu kemari.”
Satya mengarahkan mobilnya memasuki halaman salah satu rumah. Dengan halaman luas, pagar tinggi tapi tanpa pos satpam dan anjing galak seperti yang Killa pikirkan.
“Ini rumah kamu?”
“Sekarang aku heran kalau kamu pernah kemari.”
“Catering! Iya, aku pernah antar mama kesini. Gazebo yang dihias dengan serba putih, acara lamaran.” Killa menuding Satya dengan mata yang membuka lebar.
“Benar. Acara lamaran adikku, Diar. Tapi aku tidak ingat pernah melihatmu datang. Cuma ada Tante Ayu yang ngobrol sama ibu.”
“Tante?”
“Kamu berharap aku memanggil Tante Ayu dengan panggilan mama?” Satya tersenyum menggoda.
“Bukan, maksudku. Semua pelanggan mama memanggilnya Bu Ayu bahkan anak SMP pun sama. Kamu?”
“Sekarang aku paham maksud Tante Ayu.” Satya mendengkus. “Kamu tidak lihat bahwa hubunganku dengan tante ayu cukup akrab?”
Killa menggeleng.
“Lain kali kamu bisa memperhatikan. Sekarang kita masuk, sepertinya ibu sudah menunggu kita untuk sarapan.”
“Sarapan? Ibu kamu?”
“Ya … aku sudah bilang akan mengenalkanmu pada keluargaku kan?”
Killa menggeleng.
“Sekarang kamu tahu. Yuk!”
Satya sudah mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban. Bagaimana mungkin sepagi ini rumahnya kosong. Bahkan mobil Diar ada di rumah. Mobil ayahnya juga masih ditempat yang sama ketika dia pergi pagi tadi.
“Kamu duduk dulu. Aku panggil ibu dulu.”
Killa menunggu di ruang tamu. Melihat halaman rumah berikut garasi mobil, ruang tamunya termasuk kecil. Hanya berisi dua sofa berwarna coklat, sebuah meja kecil dan sebuah vas bunga. Killa baru sadar tidak ada foto keluarga disana. Karena hampir semua dindingnya terbuat dari kaca yang ditutup gorden dua lapis. Tapi ada sebuah partisi yag terbuat dari kayu, mungkin awalnya ruang tamu ini luas kemudian diberi sekat untuk pembatas. Secara keseluran ruang tamu ini sangat nyaman dan hangat. Seperti mencerminkan kehidupan penghuninya.
Pintu depan terbuka.
Seorang wanita masuk. Masih mengenakan piyama dengan karakter Winnie the pooh. Ditangannya ada sebuah tas jinjing yang penuh barang. Berbagai jenis makanan dan minuman.
“Eh ada tamu. Cari …” Hendak mengajak bersalaman tapi Diar menggantungkan hanya tangan diudara. “Killa? Shakilla Andriana?”

Killa lebih dulu menjabat tangan Diar.
“Betul.” Killa menjawab dengan bingung sekaligus heran. Wanita yang ada dihadapannya saat ini baru pertama kali ditemui tapi sudah mengetahui nama lengkapnya.
“Kerja di restoran kan?”
Killa hanya mengangguk semakin tidak mengerti.
“Ya ampun akhirnya.” Dia tersenyum lega. “Aku Diar, adiknya Mas Satya. Udah ketemu Ibu? Tunggu bentar ya aku panggil dulu.”
Tercengang? Pasti. Setengah linglung malah.
Menghadapi orang dengan berbagai macam karakter sudah biasa bagi Killa. Sikap profesionalnya membuatnya selalu siap dalam berbagai situasi. Hanya hari ini saja keadaan berjalan diluar kendalinya.
“Bu !!! Ada pacarnya Mas Satya.”
Seruan Diar itu mustahil tidak ditangkap oleh Killa. Meski sudah berada di dalam rumah, suaranya terdengar seperti lolongan serigala. Keras dan panjang. Membuat Killa semakin bersemu.
“Ya ampun! Lagi pada disini toh? Terus tamunya dianggurin gitu?”
“Kamu itu. anak gadis kok suaranya kaya kebo minta kawin. Nggak ada sopan santunnya.”
“Aku emang minta dikawinin, Bu.”
“Hus diem kamu! Rapiin ini mejanya. Ibu mau nemuin temannya masmu.”
“Pacar, Bu.”
“Kok kamu ngatur? Mas mu aja Cuma bilang teman.”
“Iya, mas?”
Satya hanya bisa tertawa melihat interaksi dua wanita pertama dalam hidupnya, Ibu dan Diar.
“Ahh Mas Satya. Nggak gentle. Sama ibu aja nggak berani, gimana mau ketemu orang tuanya.”
Satya kembali tertawa. Kemudian duduk dan mengambil emping melinjo.
“Mas Satya ngapain masih disini?” Diar mengambil mlinjo yang sudah separuh dimakan Satya. “Ibu itu galak lho kalau sama calon mantunya. Ingat nggak waktu Rasyid pertama kali kesini? Yang paling banyak nanya itu ibu lho.”
Diar menarik paksa Satya. Menyeretnya agar menyusul ibu yang sedang menemui Killa. Sementara Satya malas mengikuti adiknya.
Aksi tarik menarik itu berhenti ketika Ibu masuk bersama Killa.
“Diar!!!” Tegur ibu dengan suara tertahan. Sementara anak gadisnya hanya tertawa seperti tidak merasa bersalah.
pixabay

Acara sarapan yang cukup siang pun berlangsung. Menu yang disajikan pun sesuai dengan permintaan Satya.
“Gimana rasanya, Killa? Tante tidak terlalu pintar masak tapi Satya maksa minta dibuatkan gado-gado.”
Pertanyaan itu datang ketika mulut Killa baru saja dipenuhi sepotong lontong dan daun selada. Tidak enak hati, Killa buru-buru menelannya.
“Enak kok Tante. Rasanya masih sama enaknya dengan yang Satya bawa dulu.”
Sendok berisi potongan tempe goreng pun tertahan beberapa detik sebelum akhirnya masuk kedalam mulut ibu.
“Sudah berapa lama kerja di restoran?”
Satya hendak menjawab tetapi disaat bersamaan ponselnya bordering. Kelihatannya penting sehingga dia meminta izin untuk menerima panggilan.
“Tahun ini genap delapan tahun.”
Begadang membuat Killa sangat kelaparan. Namun, ia urung menambah porsi karena ibu sepertunya sedang tertarik untuk berbicara dengannya. Ketiadaan Satya membuatnya harus menjawab setiap pertanyaan. Mungkin ketika nanti pulang dia bisa melanjutkan untuk mengisi perutnya.
“Sudah pernah pacaran berapa kali?”
“Ibu…” Diar menegur dengan merendahkan suaranya.
Killa tersenyum sopan. “Belum pernah.”
“Tuh dengar, Diar. Nggak usah pacaran dulu kalau mau nikah.”
Diar menatap heran pada ibunya. Wanita panutannya itu benar-benar bersikap diluar kebiasaan. Dia justri khawatir Killa akan mundur pelan-pelan mendapati calon mertuanya semenyeramkan ini.
“Di, bukannya kamu tadi mau buat mojito ya? mana? Keluarin dong.”
“Ohh iya. Tunggu aku ambil dulu.”
Diar pun menyusul kakaknya ke belakang. Tidak untuk menerima telpon melainkan menyiapkan minuman yang akan dia buat sendiri.
Pixabay

“Jadi selama ini kamu belum pacaran ya. kalau laki-laki yang pernah dekat, ada?”
Killa tidak tahu bahwa topik pribadi ini akan berlanjut. Untuk pertama kalinya seseorang bertanya padanya. Bahkan Satya sendiri tidak pernah. Dan itu adalah satu bagian kecil dari dirinya yang ingin sekali disembunyikan. Jika memang bisa dihapus maka Killa akan merelakannya dengan senang hati
 “Kamu tidak perlu menjawabnya kalau tidak berkenan.” Ibu mendorong ke tengah meja piringnya yang sudah kosong. “Ayo nambah lagi. Ini permintaan khusus dari Satya lho.”
“Sejujurnya tante kaget kamu tidak pernah pacaran.” Ibu melanjutkan.
Killa hanya bisa memandang dengan penuh tanya.
“Kita pernah bertemu sebelumnya,” Ibu meletakkan sendok diatas piring dan menegakkan duduknya.  “Harusnya kamu ingat karena kamu jauh lebih muda dari tante. Tentu kamu memiliki ingatan yang cukup tajam.”
Killa semakin bingung dengan pembicaraan ini.
“10 tahun lalu keponakan tante melangsungkan acara lamaran. Rian, Adrian Pranata.”
Killa tidak berani mengangkat kepalanya. Wajahnya tertunnduk menatap piring yang tinggal berisi beberapa potong sayuran yang sudah berlumuran saus kacang. Ada medan magnet besar disana. Sehingga apapun yang terjadi diluar sana tidak mampu membuatnya berpaling.
Dalam diam Killa mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ibunya Satya. Mengulik setiap kisah menjadi potongan-potongan adegan hanya untuk mengingatkannya. Bagian paling kelam dalam hidupnya kini nampak jelas dimatanya. Berputar silih berganti seperti sebuah rekaman yang diputar ulang.
Sakit. perih.
Luka itu kembali tersayat. Irisan yang pelan dan begitu dalam. Membiarkan darah menetes-netes. Merembes menembus tiap lapis jaringan dalah hatinya. memenuhi rongga dada hingga membuanya terhimpit. Sesak, tak mampu bernapas.
Tuhan, tak cukupkah selama ini tersiksa dengan luka menganga? Tak cukupkah selama ini membuatku menderita dengan bayang rasa bersalah?
Sekelebat gambaran wajah Papa tertangkap ingatannya. Laki-laki yang sedang tidur dengan tenang dengan sinar kehidupan yang baru saja pergi.
Papa
Killa menulikan telinga. Pertahanan terakhir dalam diri membuatnya kebas dengan semua rasa. Dia hanya sesosok raga yang kehilangan jiwa. Dia ingin memohon pada Tuhan agar mempercepat waktunya.
Tapi Tuhan mengabaikannya. Sekerasa apapun memohon tidak akan dikabulkan. Karena Tuhan menyayanginya. Bukan itu yang Killa butuhkan. Maka Tuhan mengiriminya pertolongan.
“Wah lagi asik banget ngobrolnya. Tapi maaf harus kupotong.” Ibu dan Killa bersamaan menatap Satya. “Tiba-tiba ada panggilan terbang sore ini. Mungkin sebaiknya aku antar kamu pulang sekarang.”
“Benar,” Ibu memandang lekat Killa yang mematung dihadapannya. “sebaiknya kamu antar pulang sekarang. Kelihatannya Killa sedang enak badan.”
Satya berjalan mendekat hingga berdiri disamping Killa. “Kamu sakit?”
Sebuah dengungan menabrak pendengaannya. Tepukan lembut dilengannya menarik kembali jiwanya yang melayang. Senyum terbaik yang bisa Killa berikan saat ini meski dengan paksaan. “Sedikit pusing.”
Setelah berpamitan, Satya segera mengantar Killa pulang.


Senin, 30 September 2019

FIRST DATE

15.10 0 Comments
“Kita beneran masuk kedalam?”
Satya hanya tersenyum dan menginjak pedal gas melewati pintu masuk setelah.
Rabu kesebelas akhirnya membawa Killa dan Satya pergi bersama. Bisa dikatakan ini adalah first date mereka. Dan Satya memilih sebuah taman buah dan bunga sebagai lokasi mereka menghabiskan waktu bersama.
“Kurasa tempat in yang paling sesai dengan kita” kata Satya.
Mereka sudah berada di dalam lokasi.
Angin gunung yang sejuk menyapa. Menyeimbangkan mentar yang bersinar cukup terik. Karena bukan peak season maka tak banyak pengunjung. Selain mobil pribadi yang mendominasi ada sedikit kendaraan besar yang menonjol.  Dua buah bis baru saja lebih dulu datang membawa rombongan sekolah.
“Naik kereta api tut … tut … tut …”
Suara seorang wanita memandu anak-anak yang berjalan berbaris kebelakang menyerupai barisan gerbong kereta. Dengan suaranya yang lembut mengajak anak-anak keci yang memakai seragam olahraga untuk bernyanyi bersama.
Sebagian besar anak-anak memegang bahu teman yang ada didepannya saat berjalan. Hanya ada satu anak yang memegang pinggang temannya. Dan anak yang pinggangnya dipegang itu merasa geli sehingga mempercepat langkahnya dan membuat kereta anak-anak itu terputus.
“Keretanya jangan sampai terputus ya … “ Seru si Ibu Guru tersebut.
Barisan kereta itu pun berlalu. Meninggalkan Satya dan Killa  yang sedang terpana. Keduanya kembali melangkah dalam diam. Keduanya sedang asik dengan isi kepala masng-masing.
Gerbong kereta itu meninggalkan tawa anak-anak yang menggema dikepala Killa dan Satya. Bagaimana pun juga mereka adalah manusia dewasa normal. Yang memiliki naluri untuk hidup berkeluarga. Namun, meski mereka sedang melakukan pendekatan, tidak ada yang berani untuk membawa kejadian barusan kedalam percakapan mereka meski sebagai candaan.
“Kamu tadi bilang, bahwa tempat ini sangat cocok dengan kita.” Killa membuka pertanyaan ketika mereka sedang menyiapkan bekal yang sudah dibawa.
“Entahlah.” Satya membuka lipatan tikar yang didesain khusus untuk dibawa bepergian sehingga muat dimasukkan kedalam tas ransel. “Kita terlalu sering bersinggungan dengan nuansa manusia.”
Killa berhenti mengeluarkan kotak-kotak berisi makanan. “Nuansa manusia?”

“Kamu bekerja di restoran/ setiap saat bertemu manusia, dikelilingi benda-benda buatan manusia. Satu-satunya yang tidak dibuat manusia mungkin hanya daging ayam yang kalian masak.”
“Manusia tidak bisa buat daun selada dan daun bawang.”
“Bisa jadi.”
Keduanya pun tertawa.
“Terus kalau kamu?”
Satu peningkatan yang Nampak jelas dari Killa adalah dia sudah berinsiatif. Seperti sekarang. Memulai percakapan untuk menghilangkan kekosongan. Hal yang mulai biasa satya rasakan. Hal yang membuat Satya tambah yakin akan keberhasilan hubungan mereka. Bahwa Killa berperan aktif didalamnya. Tidak pasif seperti sebelum-sebelumnya.
“Aku?  apa ya?” Satya merapatkan bibir dan menggerakkannya sedikit miring. “Rasanya sopir sepertiku hanya dikelilingi buatan manusia. Kecuali penumpang yang hanya kutahu namanya.”
“Dan pramugari cantik.” Killa menambahkan.
Sayangnya Satya seperti mendapat kesempatan emas untuk menggoda Killa. Dan sedikit tes.
“Waktu kamu bilang pramugari cantik, aku mendengar sedikit rasa cemburu. Sepertinya.”
“Hah? Cemburu? Mana mungkin.”
Killa merasa terpojok dan salah tingkah sendiri. Dia memang tidak merasa cemburu saat mengucapkannya. Dia hanya menambahkan karena Satya tidak menyebutkannya.
Satya tidak bisa untuk tidak terbahak melihat tingkah Killa. Pipinya yang bulat itu memerah. Gadis introvert yang cemburu itu benar-benar menggemaskan.
“Kru kabin kami memang sebagian besar perempuan. Tapi ada juga yang laki-laki.”
Alas sudah dibentangkan. Kotak-kotak makanan sudah dikeluarkan. Minuman ringan berpindah kedalam gelas. Killa membuat mojito tanpa alkohol. Rasanya benar-benar menyegarkan. Campuran daun mint, lemon, dan soda benar-benar pas diminum di tengah padang rumput hijau seperti ini.
“Kamu benar. Tempat ini sangat cocok dengan kita.” Killa sudah menghabiskan minumannya dan sekarang sedang mengisinya kembali.
“Padang rumput, pohon-pohon, kupu-kupu, suara burung. Kita terlalu sibuk bekerja. Sampai lupa bahwa ada hal lain yang bisa kita nikmati.”
Killa memandang lepas kedapan. Melewati barisan perdu yang berdiri di sela-sela rumput hijau. Di salah satu sudut tanah lapang tersebut dipenuhi sekumpulan anak-anak sedang bermain dipandu gurunya. Tawa riang mereka benar-benar lepas. Meski hanya memandang dari kejauhan spectrum bahagia itu meluas hingga menghampiri Killa.
“Buka hanya kita. Tapi anak-anak kecil itu juga merasa ini tempat yang cocok untuk mereka.”
Killa mengangguk setuju dengan ucapan Killa.
“Tempat seperti ini memang sangat cocok untuk keluarga mengahabiskan waktu. Mungkin lain kali aku bisa mengajak Mama dan Keenan kemari. biar anak itu bisa melihat hal lain selain gedung-gedung pencakar langit.”
Berlibur bersama keluarga
Batin Satya bergemuruh mendengar Killa menyebut kata keluarga. Selain orang tuanya, Satya selalu iri melihat keluarga kecil, Rian, sepupunya. Bukan iri dalam hal negative. Lebih pada motivasi, bahwa suatu saat dia juga bisa memilikinya sendiri.
Killa duduk dengan kedua kaki diluruskan saling menyilang. Rambutnya di biarkan digerai bebas tanpa ikatan seperti yang sering kali Satya lihat. Tajuk pohon yang besar itu melindungi dari sengatan matahari yang semakin panas. Tapi Satya merasakan kenyamanan saat melihatnya. Seperti kenyamanan saat ia sedang ditengah ayah ibu atau saat bersama keluarga kecil Rian.
“Ki … “
Killa menoleh.

“Mau ketemu ibuku, nggak?”

TERLALU INDAH

14.59 0 Comments
Satya melangkah ringan memasuki rumah. Mungkin kalau dilihat menggunakan kacamata remaja geraknya seperti sedang mengikuti sebuah jingle atau mungkin American pop yang ceria. Ada sedikit lompatan dalam langkahnya. Dengan lambaian tangan untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Andaikan hari ini terjadi saat Satya masih remaja maka itulah yang sedang kita saksikan. Sayangnya hari ini Satya sudah dipenghujung usia 34 tahun sehingga tidak ada yang berbeda dengan langkahnya. Hanya ada sedikit tambahan dari wajahnya yang sumringah dan goresan senyum yang enggan pergi dari bibirnya.
“Sudah selesai acara santunan anak yatimnya?”
Ibu menghentikan langkah Satya tiba-tiba. Membuat keceriaan di wajah anaknya berubah menjadi raut mendung terbelalak karena terkejut.
“Ibu! Bikin kaget aja.” Satya mengelus dadanya untuk lebih tenang. “Iya, sudah selesai. Anaknya suka sekali dengan gado-gado ibu. Enak katanya.”
Ibu menerima rantang pink yang sudah kosong. hanya matanya tak lepas menyelidik kedalam diri anaknya.
“Dari tadi ibu disini. Memangnya kamu nggak lihat?”
“Ohh ya? kok aku bisa nggak lihat ya?” Satya menggaruk kepala untuk membuatnya terlihat sedang berpikir. Meski semua actingnya itu tidak cukup berhasil. Membuatnya terlihat seperti remaja salah tingkah.
Mungkin benar. Karena sebuah suara yang merdu itu masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Aku tidak punya hak untuk melarang
Kalimat itu memiliki banyak arti. Apakah Satya boleh mendekatinya lagi? atau justru itu sebuah awal hubungan baru mereka yang bisa disederhanakan dengan pacaran?
Pacaran?
Tidakkah Satya terlalu tua untuk menggunakan kosakata tersebut?
“Satya masuk ya, Bu. Mau mandi, gerah.”
Ibu membiarkan anak lelakinya itu pergi. meski dikepalanya menyimpan curiga atas ekspresi seseorang yang terlampau janggal setelah melakukan kegiatan amal.

Pinterest

“Pulangnya siang amat, Ki? Kami nunggu kamu dari tadi. Mama siapan sarapan buat kamu ya?” Ayu sedang merapikan kabinet yang di dapur. Mumpung hari ini sedang tidak ada pesanan jadi semua perlengkapan memasak yang tidak terpakai bisa disimpan kembali.
“Kila udah sarapan. Laper banget soalnya. Maaf ya, Ma?”
“Oh iya. Nggak apa-apa. Yaudah kamu langsung bersih-bersih aja.”
Kejutan apa lagi ini? atau pendengaran Ayu sudah mengalami penurunan fungsi sehingga sudah tidak terlalu jelas mendengar.
“Barusan suara kakak?” Keenan berdiri menyandar pada kitchen set setelah Killa masuk kedalam kamar.
“Kamu juga dengar kan? Jadi bukan telinga Mama yang bermasalah kan?”
Keenan menggeleng untuk meyakinkan meski semakin tidak terlihat yakin tanggapannya itu untuk pertanyaan ayu yang mana.
D. Aryasatya   : Udah sampai rumah?
Sebuah pesan masuk ketika Killa sudah berada di dalam kamar
Shakilla A.       : Sudah. Sekitar 10 menit yang lalu.
D. Aryasatya   : Rencana kamu apa setelah ini
Killa tersenyum membaca pesan kedua Satya dan langsung menuliskan jawabannya.
Shakilla A        : Belum tahu. mungkin mau baca modul untuk persiapan workshop
D. Aryasatya   : Workshop? Ohh … untuk promosi kamu ya?
Surya tersenyum menerangi bumi. Membiarkan kupu-kupu terbang berkejaran. Menghinggapi setiap kuncup yang bermekaran. Mengambil sari bunga yang terlalu manis dibiarkan hingga layu. Lalu membiarkan anak-anak kecil berlari mengejarnya. Membuat senyum bahagia orang yang melihatnya.
Keindahan dan kecerian taman bunga itu masih kalah dengan kecerian di wajah killa. Seperti langit selepas hujan, sangat bersih dan cerah. Seperti itu lah Killa yang hari-harinya lebih banyak dilewati dengan bermuram sendu.
Semesta sedang berbahagia. Benih cinta yang ditebarkannya bersemi indah di tengah padang. Tidak selamanya kegersangan yang miskin tidak mampu memberikan energi tumbuh. Keindahan cinta akhirnya kembali bersmayam dalam jiwa Killa.
Kalau cinta begitu indah, mengapa tak kau hadirkan sejak dulu?
Percakapan yang terjadi antara Killa dan Satya berlanjut. Dan lebih banyak mengisi waktu luang keduanya. Meski sama-sama sebuk dan memiliki ritme kerja yang berbeda, tak memberi peluang bagi keributan untuk menyelinap.
Topik pembicaraan seperti tidak pernah habis. Saling menceritakan keseharian, Killa dengan persiapan promosi jabatan dan Satya dengan perjalanannya diatas langit. Bahkan pernah membicarakan hal remeh seperti warna kesukaan lalu mengaitkannya dengan kepribadian masing-masing.
Satya senang, kali ini tidak perlu usaha cukup keras untuk membuat Killa menjadi dirinya sendiri. Killa yang banyak bercerita, Killa yang semangat dengan beban kerja yang semakin berat, Killa yang tidak lagi kebingungan harus bersikap.
Memang hanya komunikasi melalui udara yang bisa mereka lakukan. Saat Satya sedang libur, Killa bekerja. Begitu sebaliknya. Foto dan rekaman video menjadi salah satu yang menjembatani mereka untuk bertatap muka. Video call? Ini pun jarang sekali, lagi-lagi kesibukan yang menjadi penyebabnya.

Tidak perlu ada ikrar untuk menyatakan kedektaan mereka. Seperti sungai, mengalir melewati apa saja. Tidak perlu memikirkan akan menemui apa atau berakhir dimana, tidak sekarang. Karena cinta mereka terlalu indah untuk dibesarkan dalam rencana dan lupa cara menikmati.

Minggu, 29 September 2019

Shakilla Andriana

21.25 24 Comments
Shakilla memiliki nama kecil Killa. Lahir dan besar di Surabaya 17 Mei 1988. Selama 18 tahun tinggal bersama orang tuanya. Dengan Papanya yang bekerja menjadi salah satu direktur di sebuah perusahaan milik negara sementara ibunya membuka usaha catering rumahan. Memiliki seorang adik laki-laki yang terpaut usia 5 tahun, Keenan Andaraksa.
Killa tumbuh menjadi gadis yang sangat menarik. Perpaduan wajah jawa ayahnya dan minang ibunya, menguatkan aura gadis pribumi yang dimilikinya. Kulit kuning langsat dengan bentuk wajah bulat lonjong seperti telur ayam kampong. Dengan bola mata hitam legam meski sedikit mengantuk.
Untuk ukuran orang Indonesia, Killa termasuk jangkung. Tingginya hampir mencapai angka 165 cm. Postur badannya padat berisi. Sedikit berlebih untuk masuk kedalam stereotype wanita langsing Indonesia. Tapi jika dilihat menggunakan Body Mass Index Killa termasuk normal.

Pinterest

Pendidikan
Sejak sekolah dasar termasuk siswa yang cerdas. Selalu masuk kedalam 10 besar siswa terbaik dikelas. Sering mewakili sekolah dalam mengikuti perlombaan. Pernah menjadi peserta termuda dalam lomba karya ilmiah remaja tingkat sekolah menengah pertama.
Menjadi lulusan terbaik dari salah satu sekolah bergengsi, SMA Negeri 2 Surabaya. Bahkan mendapat kesempatan menjadi mahasiswa ITS pada jurusan Informatika tanpa melalui tes.  Meski jurusan tersebut adalah impiannya sejak kecil tapi Killa menolaknya. Dan memilih mendaftar di salah satu kampus negeri di bogor tanpa memilih jurusan. Alasannya hanya Killa dan Tuhan yang tahu.
Tentu saja mendapat tentangan dari kedua orang tuanya, terutama Papa. Bukan Killa kalau tidak bisa membuat orang tuanya menyetujui kehendaknya. Salah satu kelebihannya adalah merayu dan merajuk, Meski ketika dewasa semuanya sirna tak berbekas. Maka dengan penjelasan panjang dengan analogi-analogi yang hanya dirinya sendiri yang mengerti, papa dan mama pun akhirnya merestui putri pertama mereka pergi merantau.

Hobi
Killa tidak memiliki kesukaan khusus. Meski jenis golongan pemilik IQ diatas rata-rata Killa bukan seseorang yang kesehariannya bercengkerama dengan buku. Dia membaca jika ingin. Bacaannya pun seputar bacaan-bacaan ringan seperti teenlit, chiclit, novel-novel young adult. Seri Harry Potter yang fenomenal tidak pernah diliriknya, meski seluruh filmnya habis ditonton. Novel berat bagi Killa dan hanya sekali ia baca, The Twilight Saga. Itu pun membutuhkan waktu satu bulan untuk menyelesaikan satu buku. Berikan buku-buku Dan Brown atau Agatha Chrysti maka Killa akan dengan cepat tertidur.
Seperti kebayakan orang, Killa juga suka menyukai Film. Apa aja dia tonton. Film lokal sampai Hollywood. Drama Korea bahkan film India. Baginya orang India itu cerdas. Karena hanya dengan menyanyi dan menari maka persoalan serumit apapun akan menemukan jalan keluarnya. Meski yang pertama kali selesai adalah persoalan hati. Masalah hidup lain tentu masih menunggu dan tidak akan selesai dengan gerak tari dan olah vocal.
Hanya saja sebagian film tersebut ditontonnya disinggasana terbaik alias kamar pribadi. Jangan heran koleksi VCD dan DVD miliknya memenuhi salah sutu sudut kamarnya. Semua film yang dibintangi Zac Effron ditontonnya. Meski Killa mengaku kecewa dengan acting Zac saat di film Baywatch. Cowok mesum, julukan yang Killa berikan usai menonton  Filmnya.
The Quenn of Mager, julukan yang Keenan berikan untuk Killa. Meski Keenan lebih sering menyebutnya pemalas. Karena Killa bisa 24 jam hanya berdiam diri dikamar. Tanpa perlu keluar walau untuk memenuhi hasrat perutnya, makan.
Mama akan melakukan demo menggunakan TOA untuk mengeraskan suara, mengajukan protes atas tindakan absurd Killa remaja. Berbeda ketika Killa melakukannya saat dewasa. Ketukan pelan yang dilakukan Mama hanya untuk memastikan anak gadisnya masih hidup. Dan amukan yang biasa Mama lakukan berubah menjadi tatapan sedih dan prihatin. Saat seperti itu mama akan duduk dimeja makan sambil menyiangi sayur toge. Ditemani papa yang duduk sambil membaca buku. didalam hati merapalkan banyak doa untuk kebaikan putrinya.

Pekerjaan
Menjadi seorang sarjana adalah perjuangan berat dan berliku. Dengan kecerdasan yang tidak diragukan lagi Killa lulus dengan nilai pas-pasan. Mencengangkan banyak orang. meski kedua orang tuanya tidak merasa demikian. Mereka sangat bersyukur putrinya bisa lulus kuliah. Tidak perlu berprestasi atau mendapat jaminan pekerjaan dari perusahaan terbaik, bisa menyelesaikan pendidikan dengan tuntas bagi Papa dan Mama itu sudah cukup.
Tidak masalah menjadi orang tua yang menenggelamkan harapan atas anak. Tidak mengapa putrinya hanya menjadi orang biasa. Asal Killa bisa kembali menjadi Killa yang dulu, yang akan menghabiskan sebagian waktu senggangnya dikamar, yang bisa papa dengar rajukannya setiap saat.
Namun Killa yang dulu tidak akan kembali. Killa adalah Killa yang saat ini. Seorang manager restoran yang memutuskanuntuk merantau,  tinggal terpisah dari orang tua.
Meski mama menolak keras dan memaksa Killa untuk pulang, Papa hanya meminta Mama untuk ikhlas dan membiarkan. Selama Killa masih menjawab telepon, Papa yakin anak gadisnya baik-baik saja. Meski hati kecilnya mengatakan tidak. Tapi apalagi yang bisa orang tua lakukan selain mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Dimata kru dan rekan kerja, Killa adalah seorang introvert garis keras. Dia tidak akan bicara bila tidak ditanya. Ekspresi yang pernah orang lihat hanya wajah datar atau memberenggut dengan kerutan dikening dan helaan nafas dalam yang lebih sering terdengar. Namun hasil kerjanya selalu mendekati sempurna. Hanya satu kekurangan Killa dimata mereka, menjadi orang pertama yang mengetahui kesalahan. Killa pernah tersenyum tentu saja meski hanya senyum simpul yang hampir tidak perlu menggerakkan otot bibir. Dan hanya orang istimewa yang mendapatkan senyumya seperti customer, Store Manager dan Satya.

PS :
Semua narasi diatas adalah fiktif. Apabila ditemukan kesamaan fisik dan sifat bahkan tempat hanya kebetulan semata. Dibuat untuk karakter dalam kisah berjudul Rebound. Gambar hanya pemanis, tidak untuk membatasi imaginasi. 


Minggu, 22 September 2019

KATA HATI 3

13.27 0 Comments
Killa berjalan bersisian. Disamping kanannya ada Satya yang tingginya cukup membuatnya mendongak saat berbicara. Lebar langkah mereka sama. Meski bukan disengaja tapi terlihat keduanya saling menyamakan langkah agar tetap sejajar.
“Aku naik mobilku sendiri.” Ucap Killa saat sudah berada di tempat parkir. “Aku tidak bisa selalu meninggalkan mobil setiap kita bersama.” Killa mengatakan terlebih dahulu ketika melihat Satya akan berbicara. Ya, Killa tahu Satya akan memintanya untuk meninggalkan mobil dan semobil dengannya. Ia juga tidak bisa mengatakan alasan yang sama saat Keenan menanyakan mobilnya. Terlihat seperti dibuat-buat, meski tidak selalu demikian.
Seperti tidak berpengaruh apa-apa, Satya justru meraih pergelangan tangannya dan menariknya mendekati mobil merahnya yang selalu meraih perhatian gadis belasan tahun.
“Kita akan makan disini.” Satya membuka pintu bagasi. Dan membiarkannya tetap terbuka sehingga bisa dijadikan tempat makan. Kemudian menarik sebuah tas dan menarik rantang piknik berwarna pink.
Wajar saja kalau Killa harus bengong melihatnya. Dia sendiri bahkan tidak bernah berpikir untuk memabawa bekal. Sementara peluangnya menyiapkan makanan dari rumah sangat besar. Ingat! Mama Killa memiliki usaha catering.
Satya tahu Killa terkejut. Mungkin tidak percaya lebih tepatnya. Tapi ya, memang seunik itulah rencana yang Satya rancang semalaman. Meski ini hanya sebagian kecil karena rencana besarnya tidak bisa terlaksana karena kelancangan ide yang terlampau tidak lazim, olahraga.
“Aku sengaja dan tidak sengaja menyiapkan ini.” Satya tersenyum. “Sengaja untuk membawa bekal ituu benar. Tidak sengajanya karena kebetulan ibuku yang memasaknya jadi aku tidak perlu beli diluar. Kebetulan kedua adalah menunya yang sangat cocok untuk dimakan setelah lari. Gado-gado.”
Satya membuka rantang berwarna merah jambu tersebut. Disambut dengan berbagai jenis sayuran rebus seperti wortel, toge dan kentang. Dilapis kedua ada bumbu kacang, telur rebus dan tempe goreng. Sudah bisa ditebak isi lapis ketiga, potongan lontong.
“Gimana? Terlalu berat untuk menu sarapan?”
Killa tertawa mendengarnya. Andai Satya tahu bahwa semua makanan tidak perlu melewati proses seleksi untuk bisa dinikmati Killa.
Killa tidak pernah menyadari bahwa tawa renyah itu sangat Satya nikmati. Bagaimana mulut itu terbuka, menampakkan sebagian gigi Killa. Kemudian kelopak matanya akan menyipit. Sungguh Satya merasa tersanjung bisa melihatnya lagi.
“Terlalu sayang untuk dilewatkan.” balas Killa.
Keduanya pun langsung menyiapkan gado-gado masing-masing kedalam piring melamin. Satya mengambil lontong terlebih dahulu disusul sayur rebus, telur rebus, potongan tempe. Kemudian menyiramnya dengan saus kacang. Tidak lupa menambahkan dua sendok sambal.
“Ah iya.” Satya batal menambahkan sambel. “Sepertinya aku meninggalkan krupuk diatas meja.” Kalimat ini lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
Karena Killa lebih tertarik dengan potongan sayur rebus sehingga mengambil dalam jumlah banyak. Kemudian mengambil beberapa potong lontong, telur rebus dan tempe goreng baru menyiramnya dengan saus kacang.
Diawal makan seperti ini keduanya memilih diam. Menikmati setiap suapan. Percampuran antara saus kacang yang sengaja dibuat tidak terlalu halus dengan sayur rebus yang tidak terlalu matang sehingga masih crunchy.
Keduanya sangat menikmati menu tradisional tersebut. Dalam hati Killa memuji bahwa gado-gado ini enak sekali. Mamanya memang punya usaha catering tapi menu-menu tradisional jawa bukan spesialisasinya. Bisa tapi bukan yang outstanding. Jadilah menu seperti ini jarang diminta pelanggan. Tapi kalau masakan Minang, jangan ditanya lagi. disanalah letak keistimewaan masakan Ayu sehingga pelanggannya tidak pernah hanya sekali pesan.
“Kamu suka lari juga?” Killa meletakkan piring kosong disampingnya.
“Aku suka semua olahraga.”
“Bukan karena latah mengikuti trend lifestyle?”
“Ehm … lebih tepatnya trend yang mengikutiku?” Satya tertawa bercanda. “Memang suka. Ditambah dengan tuntutan profesi juga. Umum sekali bukan bahwa profesi sepertiku dituntut untuk memiliki stamina yang baik. Olahraga salah satu caranya.”
“Termasuk makan gado-gado?” Satya tertawa lagi.
“Bukan, bukan. ini benar-benar kebetulan. Pas ibu bikin gado-gado untuk sarapan. Makanya aku datang terlambat karena harus nunggu semuanya siap.”
Killa hanya senyum-senyum. Entah apa yang membuatnya merasa sebuah kehangatan menjalar ditubuhnya. Membawa partikel hemoglobin memenuhi pembuluh diwajahnya. Memasak menu sarapan untuk keluarga. Entah seperti apa rasanya yang jelas terasa menyenangkan.
“Sebenarnya bukan lari. Aku lebih suka renang. Cuma karena kurang fleksibel jadi jarang kulakukan.”
Killa mengangguk-angguk paham. Dia tidak bisa renang lebih tepatnya tidak suka olahraga. Tapi seperti Satya bilang, ini kebutuhan. Kebutuhannya untuk tetap memiliki emosi yang stabil.
“Bukan aku tidak percaya takdir.” Ucap Killa setelah keheningan diantara mereka. “Aku hanya menyesal tidak bersungguh-sungguh mengejar takdir. Apa yang lebih manusia sesali selain membiarkan takdir terjadi tanpa sebuah usaha?”
Killa mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung. Dia tahu Papa juga Mama tidak menyesal atas kehidupannya dulu hingga saat ini. sekecil apapun bagi mereka Killa sangat membanggakan. Dan hal itu mendatangkan sesal yang luar biasa besar bagi Killa karena dia pernah membuat mereka kecewa.

“Boleh aku mengusahakan kamu untuk menjadi takdirku, Killa?”

Follow Us @soratemplates